Ekspektasi

8:54 PM Tameila 0 Comments


Salah satu dosen favorit saya selalu mengajukan satu pertanyaan sebelum memulai kuliah perdananya. Pertanyaannya begini, “apa yang kalian harapkan dari kuliah ini?”

Saya sih paling seneng kalau sudah ditanya begitu. Tandanya saya bebas mengharapkan apa saja. Saya berharap kalau dosen akan lebih aplikatif, isi kuliahnya nggak melulu ceramah, dan tugasnya nggak banyak. Nah, jeleknya kalau harapan itu nggak terpenuhi saya menyalahkan si dosen. Padahal kalau lebih dewasa dikit, mungkin ada kesalahan saya di sana. Mengapa saya menaruh harapan terlalu tinggi pada dosen itu ? Mengapa saya nggak introspeksi diri ? Mungkin juga toh saya yang salah menempatkan harapan atau mungkin harapan itu sendiri yang salah ?

Ada yang bilang kalau “hidup nothing to lose” itu lebih mudah dan nggak ada beban. Hidup begini adalah hidup penuh dengan keikhlasan dan menerima apa yang digariskan oleh Tuhan. Cukup tahu diri sama Yang Di Atas, jadi nggak minta macam – macam. Kalau pun punya permintaan dan nggak dikabulin, ya udah ikhlas terima apa adanya.

Dalam berbagi dengan sesama pun nggak pernah pamrih. Mereka adalah orang – orang yang selalu memberikan yang terbaik dan nggak berharap untuk dibalas. Mereka percaya kalau Tuhan lah yang akan membalas. Baiknya lagi, mereka bahkan terkadang lupa kalau Tuhan akan membalas kebaikan mereka. Jadi ya punya kebaikan itu dibagikan secara cuma – cuma.  Orang – orang kayak gini juga yang biasanya men – service semua orang, artinya dia menjadi sosok yang diharapkan oleh semua orang. Bagus sih, tapi saya jadi mikir, apakah harapan orang – orang itu sama dengan harapan kita ? Dan karena saya orangnya opportunis, apakah dengan memenuhi semua harapan itu memberikan keuntungan kepada saya ?

Hal ini mengingatkan saya waktu jadi guru bantu di SLB Serang. Saya masih ingat waktu kepala sekolahnya bilang begini, “wah mbaknya dari UGM. Kalau gitu bisa dong ya ngajarin guru – gurunya bahasa asing. Nanti anak – anaknya juga ajarin aja mbak bahasa Jerman” (si bapak kepala sekolah mandangin CV saya) “disusun aja deh mbak rencana mengajarnya, hari ini keliling sekolah dulu aja liat anak – anaknya”.
Saya memang berpengalaman untuk mengajar anak – anak, tapi ya nggak bahasa Jerman juga. Lebih dari itu, saya belum pernah sebelumnya mengajar anak – anak tuna rungu lha kok sekarang ngedadak disuruh ngajar bahasa Jerman. Dari sini saya sadar kalau dalam diri setiap manusia pasti ada secuil harapan orang lain di sana. Tinggal kita lah yang memilih mau memenuhi atau tidak.

Karena saya sudah berkomitmen untuk jadi guru bantu di sana, ya mau tidak mau saya harus memenuhi harapan itu. Jam tidur memang jadi berkurang, belum lagi cari bahan ini – itu. Mikir keras bagaimana menciptakan suasana kelas yang menyenangkan bagi anak – anak tuna rungu. Noted ya, anak tuna rungu. Bukannya mendiskreditkan, tapi itu nggak semudah kita berinteraksi dengan anak berpendengaran.
Alhamdulillah, karena saya cinta sama perkerjaan ini, waktu satu bulan setengah rasanya nggak cukup. Meskipun bapak kepala sekolah sangat nuwun – nuwun, saya merasa belum memberikan yang terbaik. Jangankan bahasa Jerman, bahasa Inggris yang saya ajarkan pun mereka masih saya anggap jauh dari target saya. Biar begitu, mama selalu mengingatkan saya untuk bersyukur. Kata beliau, “nggak usah ngoyo. Dengan begini pun kamu udah nolong mereka, yah setidaknya selingan dari guru – guru yang udah tua”.

Yes, I’ve done my best for them. Saya puas. Saya bahagia.

Tapi entah mengapa lain ceritanya saat seorang teman saya kemarin tiba – tiba protes karena pribadi saya yang berubah. Saya membuatnya tidak nyaman dan yah..intinya saya tidak sesuai yang dia harapkan. Tapi toh sebenarnya saya nyaman dengan “kebaruan” ini. Nggak “baru” malah, karena saya merasa tidak ada yang berubah.

Berhari – hari saya mikir harus kah saya merubah diri menjadi seperti yang dia harapkan ? Akhirnya saya banyak nanya ke orang – orang sekitar. They have no problem with that, dan bahkan ada yang bilang saya nggak berubah. See ?

Memang Tuhan itu Maha Menjawab kegalauan hamba – hamba – Nya. Saat kuliah Perencanaan Strategis kemarin mata saya jadi lebih terbuka. Saya memang tahu kita nggak bisa ngebahagian semua orang, tapi dengan kuliah itu saya jadi lebih sadar kalau ada sisi – sisi setiap orang yang nggak bisa dijamah. Sisi – sisi itu nggak bisa saya penuhi, dan seharusnya orang – orang pun mengerti “sisi – sisi saya”. Bagian – bagian di mana saya ingin dimengerti juga dan mungkin tak usah disentuh oleh mereka.

Egois ya kedengarannya ? Memang. Memang saya bukan manusia “nothing to lose”. Saya bukan manusia yang bisa menyenangkan semua orang. I love my self more indeed, and so what ? Pada akhirnya saya sadar kalau hanya segelintir orang yang mau menerima diri saya. Bukan diri saya, tapi diri kita, karena saya pun belum tentu bisa menerima kalian seutuhnya. Tinggal pintar – pintar kita lah menaruh harapan ke setiap orang. Jangan terlalu besar, nantinya kecewa. Jangan juga terlalu kecil, nantinya kita melecehkan. Secukupnya. Bukan kah Tuhan pun tidak suka yang berlebihan ?

Di awal Mei ini, mungkin saatnya saya merapikan harapan – harapan saya, baik kepada orang tua, teman – teman, dosen, diri sendiri, bahkan Tuhan. Saya harus ngaca dulu manusia seperti apa yang pantas mengharap apa. Saya pun harus pintar membaca objek yang saya titipkan harapan saya. Kalau kata orang jaman dulu, “jangan asal ngedo’a, nanti kalau kesampaian bisa kualat”. Ya, doa, harapan, ekspektasi, impian. Semuanya sama. Semuanya tidak bisa berwujud secara absolut dari diri kita. Ada campur tangan orang lain di sana, tapi ada pula bagian dari orang lain pun yang nggak bisa kita campuri untuk memenuhi harapan kita.

You Might Also Like

0 comments: