Ekspektasi
Salah satu dosen favorit saya selalu mengajukan satu
pertanyaan sebelum memulai kuliah perdananya. Pertanyaannya begini, “apa yang kalian
harapkan dari kuliah ini?”
Saya sih paling seneng kalau sudah ditanya begitu. Tandanya saya
bebas mengharapkan apa saja. Saya berharap kalau dosen akan lebih aplikatif,
isi kuliahnya nggak melulu ceramah, dan tugasnya nggak banyak. Nah, jeleknya
kalau harapan itu nggak terpenuhi saya menyalahkan si dosen. Padahal kalau
lebih dewasa dikit, mungkin ada kesalahan saya di sana. Mengapa saya menaruh
harapan terlalu tinggi pada dosen itu ? Mengapa saya nggak introspeksi diri ?
Mungkin juga toh saya yang salah menempatkan harapan atau mungkin harapan itu
sendiri yang salah ?
Ada yang bilang kalau “hidup nothing to lose” itu lebih
mudah dan nggak ada beban. Hidup begini adalah hidup penuh dengan keikhlasan
dan menerima apa yang digariskan oleh Tuhan. Cukup tahu diri sama Yang Di Atas,
jadi nggak minta macam – macam. Kalau pun punya permintaan dan nggak dikabulin,
ya udah ikhlas terima apa adanya.
Dalam berbagi dengan sesama pun nggak pernah pamrih. Mereka adalah
orang – orang yang selalu memberikan yang terbaik dan nggak berharap untuk
dibalas. Mereka percaya kalau Tuhan lah yang akan membalas. Baiknya lagi,
mereka bahkan terkadang lupa kalau Tuhan akan membalas kebaikan mereka. Jadi ya
punya kebaikan itu dibagikan secara cuma – cuma. Orang – orang kayak gini juga yang biasanya
men – service semua orang, artinya
dia menjadi sosok yang diharapkan oleh semua orang. Bagus sih, tapi saya jadi
mikir, apakah harapan orang – orang itu sama dengan harapan kita ? Dan karena
saya orangnya opportunis, apakah dengan memenuhi semua harapan itu memberikan
keuntungan kepada saya ?
Hal ini mengingatkan saya waktu jadi guru bantu di SLB
Serang. Saya masih ingat waktu kepala sekolahnya bilang begini, “wah mbaknya
dari UGM. Kalau gitu bisa dong ya ngajarin guru – gurunya bahasa asing. Nanti anak
– anaknya juga ajarin aja mbak bahasa Jerman” (si bapak kepala sekolah
mandangin CV saya) “disusun aja deh mbak rencana mengajarnya, hari ini keliling
sekolah dulu aja liat anak – anaknya”.
Saya memang berpengalaman untuk mengajar anak – anak, tapi
ya nggak bahasa Jerman juga. Lebih dari itu, saya belum pernah sebelumnya
mengajar anak – anak tuna rungu lha kok sekarang ngedadak disuruh ngajar bahasa
Jerman. Dari sini saya sadar kalau dalam diri setiap manusia pasti ada secuil
harapan orang lain di sana. Tinggal kita lah yang memilih mau memenuhi atau
tidak.
Karena saya sudah berkomitmen untuk jadi guru bantu di sana,
ya mau tidak mau saya harus memenuhi harapan itu. Jam tidur memang jadi
berkurang, belum lagi cari bahan ini – itu. Mikir keras bagaimana menciptakan
suasana kelas yang menyenangkan bagi anak – anak tuna rungu. Noted ya, anak
tuna rungu. Bukannya mendiskreditkan, tapi itu nggak semudah kita berinteraksi
dengan anak berpendengaran.
Alhamdulillah, karena saya cinta sama perkerjaan ini, waktu
satu bulan setengah rasanya nggak cukup. Meskipun bapak kepala sekolah sangat
nuwun – nuwun, saya merasa belum memberikan yang terbaik. Jangankan bahasa
Jerman, bahasa Inggris yang saya ajarkan pun mereka masih saya anggap jauh dari
target saya. Biar begitu, mama selalu mengingatkan saya untuk bersyukur. Kata beliau,
“nggak usah ngoyo. Dengan begini pun
kamu udah nolong mereka, yah setidaknya selingan dari guru – guru yang udah tua”.
Yes, I’ve done my best for them. Saya puas. Saya bahagia.
Tapi entah mengapa lain ceritanya saat seorang teman saya
kemarin tiba – tiba protes karena pribadi saya yang berubah. Saya membuatnya
tidak nyaman dan yah..intinya saya tidak sesuai yang dia harapkan. Tapi toh
sebenarnya saya nyaman dengan “kebaruan” ini. Nggak “baru” malah, karena saya
merasa tidak ada yang berubah.
Berhari – hari saya mikir harus kah saya merubah diri
menjadi seperti yang dia harapkan ? Akhirnya saya banyak nanya ke orang – orang
sekitar. They have no problem with that, dan bahkan ada yang bilang saya nggak
berubah. See ?
Memang Tuhan itu Maha Menjawab kegalauan hamba – hamba –
Nya. Saat kuliah Perencanaan Strategis kemarin mata saya jadi lebih terbuka. Saya
memang tahu kita nggak bisa ngebahagian semua orang, tapi dengan kuliah itu
saya jadi lebih sadar kalau ada sisi – sisi setiap orang yang nggak bisa
dijamah. Sisi – sisi itu nggak bisa saya penuhi, dan seharusnya orang – orang pun
mengerti “sisi – sisi saya”. Bagian – bagian di mana saya ingin dimengerti juga
dan mungkin tak usah disentuh oleh mereka.
Egois ya kedengarannya ? Memang. Memang saya bukan manusia “nothing
to lose”. Saya bukan manusia yang bisa menyenangkan semua orang. I love my self
more indeed, and so what ? Pada akhirnya saya sadar kalau hanya segelintir
orang yang mau menerima diri saya. Bukan diri saya, tapi diri kita, karena saya
pun belum tentu bisa menerima kalian seutuhnya. Tinggal pintar – pintar kita
lah menaruh harapan ke setiap orang. Jangan terlalu besar, nantinya kecewa. Jangan
juga terlalu kecil, nantinya kita melecehkan. Secukupnya. Bukan kah Tuhan pun
tidak suka yang berlebihan ?
Di awal Mei ini, mungkin saatnya saya merapikan harapan –
harapan saya, baik kepada orang tua, teman – teman, dosen, diri sendiri, bahkan
Tuhan. Saya harus ngaca dulu manusia seperti apa yang pantas mengharap apa. Saya
pun harus pintar membaca objek yang saya titipkan harapan saya. Kalau kata
orang jaman dulu, “jangan asal ngedo’a, nanti kalau kesampaian bisa kualat”. Ya,
doa, harapan, ekspektasi, impian. Semuanya sama. Semuanya tidak bisa berwujud
secara absolut dari diri kita. Ada campur tangan orang lain di sana, tapi ada
pula bagian dari orang lain pun yang nggak bisa kita campuri untuk memenuhi
harapan kita.
0 comments: