“Sebagaimanamesti – Nya”
Saya pikir diskriminasi cuma ada di buku. Biasanya tercatat
dalam kajian LGBT (lesbian, gay, bisexual, transgender), buruh, keagamaan,
pokoknya hal – hal kritis, termasuk keberadaan kaum difabel. Ya, saya kira
semuanya hanya fenomena di atas kertas, bukan di atas bumi. Hanya saja untuk malam
ini bulan sabit jadi saksi saya kalau diskriminasi itu memang ada. Mungkin tidak
seekstrim itu, tapi apa yang saya lihat barusan adalah secuil bentuk pelecehan.
Bukan hanya
bulan sabit, tenda kuning dan seamparan tikar yang bisu pun menyaksikannya. Mereka
melihat dua pria itu bercanda yang melecehkan kami. Siapa kami ? Saya dan Arief. Usai mengunjungi
galeri seni di Sangkringan, kami menghabiskan malam di emperan Jalan Kaliurang.
Niatnya hanya melepas dahaga, tapi malah asyik ngobrol ini – itu. Seperti yang
sudah saya bilang, di Jogja itu lebih mahal pengamennya daripada makanannya,
jadilah empat – lima pengamen datang.
Saya tidak
peduli seberapa berisik nyanyian mereka, selama mereka bisa menjaga sikap saya
juga nggak mangkel kok ngeluarin uang
gopek atau seribu. Tapi saya nggak
suka kalau mereka mulai ikut masuk ke dalam percakapan saya dan teman saya. Tadi
saat saya sedang asyik – asyiknya cerita ini – itu dengan Arief, saya mencuri
pandang ke arah dua pengamen terakhir. Sebelum keluar tenda mereka menirukan
cara saya dan teman saya berkomunikasi. Kalau caranya sopan, it’s okay. But this
? Saya tahu mereka tidak memahami kami, dan tiruannya adalah serupa dengan
tawanya yang merendahkan.
Bingung.
Apa yang salah ketika saya berkomunikasi dengan tangan ? Tak lazim ? Apa
bedanya dengan orang – orang kinestetik yang kalau berkomunikasi harus
menggerakkan anggota tubuhnya ?
Selesai menyaksikan adegan tadi, saya jadi
berpikir kalau nanti akan menyekolahkan anak di sekolah inklusi. Apa itu
sekolah inklusi ? Singkatnya, sekolah ini menerima anak – anak berkebutuhan
khusus (ABK) supaya mereka bisa bergaul dengan anak – anak regular (normal). Mbak
Dina, si interpreter yang manis, bilang kalau program sekolah inklusi diadakan
agar ABK bisa hidup di lingkungan sosial sebenarnya. Jadi mereka tak hanya
bergaul dengan ABK saja, mereka mampu untuk bergabung dengan yang lainnya juga.
Awalnya
saya bingung untuk apa sekolah ini diadakan. I mean, kalau untuk ABK – nya jelas
berpengaruh, tapi apa untungnya untuk anak – anak normal ? Mbak Dina menarik
senyumnya dan menjawab, “supaya mereka
paham kalau di dunia ini ada perbedaan. Supaya mereka tahu kalau ada orang –
orang yang tidak seperti mereka”.
Memang benar,
sulitnya kita menerima perbedaan bukan karena perbedaan itu bertolak belakang
dengan pribadi. Tapi lebih kepada sejak kecil kita hanya dikenalkan satu hal,
sedangkan untuk hal lainnya dianggap salah, jelek, tidak wajar, atau tidak
normal. Normal ? Ya, sadar atau tidak sejak kecil kita ditanamkan pemikiran
bahwa yang normal itu adalah bagus dan yang tidak normal itu jelek. Yang normal
itu yang seperti apa ? Yang sempurna.
Kemarin
pagi saat berada di kelas Biopsikologi saya berpikir kalau kata yang pertama
dipahami oleh seorang anak bukan lah “Mama”, tetapi “sempurna”. Sialnya, “sempurna”
dimaknai dengan segala sesuatu yang ”normal”. Untuk hal – hal yang tidak “normal”
artinya “tidak sempurna”. Makannya tak heran kalau beberapa anak difabel pada
awalnya sulit menerima diri mereka yang mengalami kekurangan. Jangankan anak
difabel, anak – anak pada umumnya yang orang tuanya bercerai saja sulit untuk
menerima kenyataan. Mengapa ? Karena selama hidup ini kita selalu dihadapkan
dengan hal – hal ideal. Sedikit orang tua yang mau menunjukkan ada kemungkinan –
kemungkinan buruk terhadap anak –anaknya.
Cerita salah
satu narasumber di kelas itu lah yang mendorong kesimpulan di atas. Bapak itu
seorang tuna netra. Beliau bercerita saat ia mulai mengetahui dirinya tuna
netra enggan lagi untuk bermain dengan teman – temannya. Padahal sebelum ia
tahu dirinya tuna netra, ia selalu mandi di kali, main bola, dan lainnya. Tapi
setelah ibunya bilang kalau ia tidak bisa melihat sedangkan teman – teman yang
lain bisa, ia nggak mau lagi keluar rumah. Ia sedih. Ia menyendiri. Ia tak mau
bertemu dengan orang lain karena merasa beda.
Nah,
benar kan kalau memang sejak kecil kita itu selalu dikenalkan dengan hal – hal yang
ideal. Ini harusnya begini, itu harusnya begitu. Nggak pernah dulu saya
diajarkan atau diberi tahu kalau kemungkinan A dalam B, atau kemungkinan B
dalam A. Nggak pernah. Entah ini hanya orang tua saya atau kalian juga, tapi
kejadian malam ini membuat saya berpikir kalau sudah saatnya anak – anak dikenalkan
dengan perbedaan. Diberitahu kalau nggak selamanya hidup itu berjalan “sebagaimanamestinya”,
tapi hidup itu berjalan “sebagaimanamesti – Nya”. “Mesti” milik Tuhan, bukan
milik kita.
Makannya
saya senang waktu di galeri seni sore tadi banyak anak – anak. Saya tahu mereka
belum mengerti apa – apa, tapi mereka melihat apa – apa di sana. Mungkin mereka
nggak ngerti kenapa teman – teman DAC tadi berbicara lewat tangan, tapi mereka
melihat. Setidaknya sejak kecil mereka tahu kalau berbicara dengan mulut itu
memang sesuatu yang normal, tapi bukan berarti sempurna. Sempurna adalah ketika
mereka bisa berkomunikasi lewat apa pun, karena sempurna adalah memanfaatkan
segala pemberian Tuhan untuk bisa terus dekat dengan – Nya dan ciptaan –
ciptaan – Nya.
Gita.. jadi km dan temanmnu ngobrol pakai bahasa Isyarat (tangan). wah. mau donk belajar. dari dulu pingin belajar itu :)
ReplyDelete-davina-