“Sebagaimanamesti – Nya”

10:44 PM Tameila 1 Comments

Saya pikir diskriminasi cuma ada di buku. Biasanya tercatat dalam kajian LGBT (lesbian, gay, bisexual, transgender), buruh, keagamaan, pokoknya hal – hal kritis, termasuk keberadaan kaum difabel. Ya, saya kira semuanya hanya fenomena di atas kertas, bukan di atas bumi. Hanya saja untuk malam ini bulan sabit jadi saksi saya kalau diskriminasi itu memang ada. Mungkin tidak seekstrim itu, tapi apa yang saya lihat barusan adalah secuil bentuk pelecehan.

                Bukan hanya bulan sabit, tenda kuning dan seamparan tikar yang bisu pun menyaksikannya. Mereka melihat dua pria itu bercanda yang melecehkan kami.  Siapa kami ? Saya dan Arief. Usai mengunjungi galeri seni di Sangkringan, kami menghabiskan malam di emperan Jalan Kaliurang. Niatnya hanya melepas dahaga, tapi malah asyik ngobrol ini – itu. Seperti yang sudah saya bilang, di Jogja itu lebih mahal pengamennya daripada makanannya, jadilah empat – lima pengamen datang.

                Saya tidak peduli seberapa berisik nyanyian mereka, selama mereka bisa menjaga sikap saya juga nggak mangkel kok ngeluarin uang gopek atau seribu. Tapi saya nggak suka kalau mereka mulai ikut masuk ke dalam percakapan saya dan teman saya. Tadi saat saya sedang asyik – asyiknya cerita ini – itu dengan Arief, saya mencuri pandang ke arah dua pengamen terakhir. Sebelum keluar tenda mereka menirukan cara saya dan teman saya berkomunikasi. Kalau caranya sopan, it’s okay. But this ? Saya tahu mereka tidak memahami kami, dan tiruannya adalah serupa dengan tawanya yang merendahkan.

                Bingung. Apa yang salah ketika saya berkomunikasi dengan tangan ? Tak lazim ? Apa bedanya dengan orang – orang kinestetik yang kalau berkomunikasi harus menggerakkan anggota tubuhnya ?

                 Selesai menyaksikan adegan tadi, saya jadi berpikir kalau nanti akan menyekolahkan anak di sekolah inklusi. Apa itu sekolah inklusi ? Singkatnya, sekolah ini menerima anak – anak berkebutuhan khusus (ABK) supaya mereka bisa bergaul dengan anak – anak regular (normal). Mbak Dina, si interpreter yang manis, bilang kalau program sekolah inklusi diadakan agar ABK bisa hidup di lingkungan sosial sebenarnya. Jadi mereka tak hanya bergaul dengan ABK saja, mereka mampu untuk bergabung dengan yang lainnya juga.

                Awalnya saya bingung untuk apa sekolah ini diadakan. I mean, kalau untuk ABK – nya jelas berpengaruh, tapi apa untungnya untuk anak – anak normal ? Mbak Dina menarik senyumnya dan menjawab, “supaya mereka paham kalau di dunia ini ada perbedaan. Supaya mereka tahu kalau ada orang – orang yang tidak seperti mereka”.

                Memang benar, sulitnya kita menerima perbedaan bukan karena perbedaan itu bertolak belakang dengan pribadi. Tapi lebih kepada sejak kecil kita hanya dikenalkan satu hal, sedangkan untuk hal lainnya dianggap salah, jelek, tidak wajar, atau tidak normal. Normal ? Ya, sadar atau tidak sejak kecil kita ditanamkan pemikiran bahwa yang normal itu adalah bagus dan yang tidak normal itu jelek. Yang normal itu yang seperti apa ? Yang sempurna.

                Kemarin pagi saat berada di kelas Biopsikologi saya berpikir kalau kata yang pertama dipahami oleh seorang anak bukan lah “Mama”, tetapi “sempurna”. Sialnya, “sempurna” dimaknai dengan segala sesuatu yang ”normal”. Untuk hal – hal yang tidak “normal” artinya “tidak sempurna”. Makannya tak heran kalau beberapa anak difabel pada awalnya sulit menerima diri mereka yang mengalami kekurangan. Jangankan anak difabel, anak – anak pada umumnya yang orang tuanya bercerai saja sulit untuk menerima kenyataan. Mengapa ? Karena selama hidup ini kita selalu dihadapkan dengan hal – hal ideal. Sedikit orang tua yang mau menunjukkan ada kemungkinan – kemungkinan buruk terhadap anak –anaknya.

                Cerita salah satu narasumber di kelas itu lah yang mendorong kesimpulan di atas. Bapak itu seorang tuna netra. Beliau bercerita saat ia mulai mengetahui dirinya tuna netra enggan lagi untuk bermain dengan teman – temannya. Padahal sebelum ia tahu dirinya tuna netra, ia selalu mandi di kali, main bola, dan lainnya. Tapi setelah ibunya bilang kalau ia tidak bisa melihat sedangkan teman – teman yang lain bisa, ia nggak mau lagi keluar rumah. Ia sedih. Ia menyendiri. Ia tak mau bertemu dengan orang lain karena merasa beda.

                Nah, benar kan kalau memang sejak kecil kita itu selalu dikenalkan dengan hal – hal yang ideal. Ini harusnya begini, itu harusnya begitu. Nggak pernah dulu saya diajarkan atau diberi tahu kalau kemungkinan A dalam B, atau kemungkinan B dalam A. Nggak pernah. Entah ini hanya orang tua saya atau kalian juga, tapi kejadian malam ini membuat saya berpikir kalau sudah saatnya anak – anak dikenalkan dengan perbedaan. Diberitahu kalau nggak selamanya hidup itu berjalan “sebagaimanamestinya”, tapi hidup itu berjalan “sebagaimanamesti – Nya”. “Mesti” milik Tuhan, bukan milik kita.

                Makannya saya senang waktu di galeri seni sore tadi banyak anak – anak. Saya tahu mereka belum mengerti apa – apa, tapi mereka melihat apa – apa di sana. Mungkin mereka nggak ngerti kenapa teman – teman DAC tadi berbicara lewat tangan, tapi mereka melihat. Setidaknya sejak kecil mereka tahu kalau berbicara dengan mulut itu memang sesuatu yang normal, tapi bukan berarti sempurna. Sempurna adalah ketika mereka bisa berkomunikasi lewat apa pun, karena sempurna adalah memanfaatkan segala pemberian Tuhan untuk bisa terus dekat dengan – Nya dan ciptaan – ciptaan – Nya.

You Might Also Like

1 comment:

  1. Gita.. jadi km dan temanmnu ngobrol pakai bahasa Isyarat (tangan). wah. mau donk belajar. dari dulu pingin belajar itu :)

    -davina-

    ReplyDelete