Sejarah

9:13 PM Tameila 0 Comments

Suatu hari teman saya bertanya, “ngapain sih lu baca tentang sejarah ? Sejarah itu…emmm..ngebosenin tau. Lo cuma dibohongin”.
                Saya senyum, tepatnya memberi seringai nggak peduli karena saya tahu dia sedang nyinyir. “Dude, dengan gue tahu sejarah gue jadi bisa lebih ngehargain yang gue punya sekarang. Gue nggak gampang ngejudge, gue pun jadi bisa melihat permasalahan dari berbagai perspektif”.
                “Iya, tapi kan itu ilmu kolot. Udah bertahun – tahun yang lalu. Lagian nggak ada yang bener kali dari sejarah. Semuanya subjektif. Kita semua ditipu”.
                Saya diam. Bukan karena tembakannya, tapi seketika saya ingat ucapan guru sejarah SMA yang bilang, “sejarah itu bukan ilmu pasti. Kebenarannya bersifat subjektif, artinya akan selalu berubah jika ditemuka bukti – bukti baru”.
                Sekarang saya tersenyum, mengangguk – angguk, dan ingin terjun lebih dalam memahami sejarah.

Dulu

Tidak bermaksud apa – apa, tapi seorang teman yang lain pernah bercerita perihal stigma wanita Sunda di mata pria Jawa. Katanya, ada anggapan – anggapan negatif, misalnya wanita Sunda itu boros atau pemalas, di mata pria Jawa. Saya nggak mempermasalahkan benar – tidaknya, tapi yang mengganggu saya adalah kok bisa sih mereka punya pemikiran kayak gitu.

Mungkin di jaman modern gini udah nggak banyak lagi yang mikir begitu, tapi percaya lah hasil investigasi terselubung saya menemukan beberapa orang masih memegang anggapan ini. Asumsi awal saya adalah pria Jawa melihat perilaku (kebiasaan) wanita Sunda. Tapi kalau dipikir – pikir lagi agaknya nggak adil bagi wanita Sunda. Bukannya membela suku sendiri nih, tapi berasa ada missing link aja di sana. Saya belum bisa terima wanita Sunda dipandang begini dengan pria Jawa.

Telusur punya telusur akhirnya secara nggak sengaja saya nemu sendiri penyebabnya. Saat say abaca “Bilangan Fu” – nya Ayu Utami, stigma itu muncul akibat dari perang Bubat jamannya kerajaan Majapahit dan kerajaan Padjajaran. Kalau kalian masih ingat cerita romantisme berdarah raja Majapahit dan putri Padjajaran, pasti kalian pun ingat cerita perang Bubat. Alhasil semenjak perang Bubat meletus hubungan Jawa – Sunda memburuk, bahkan secara nggak langsung ya sampai sekarang ini.

Setelah tau benang merahnya, akhirnya saya cuma bisa ketawa. Ternyata ini ada hubungannya dengan dendam nenek moyang dulu. Gila ya, siapa yang kasihnya tak sampai, siapa yang kena getahnya.

Ada lagi yang bikin saya makin jatuh cinta sama sejarah. Saat siang pembekalan KKN tadi, saya ngobrol dikit dengan teman yang jago wayang. (anyway dia juga ngedalang lho !). Pembicaraan sampai pada titik di mana saya bertanya, “kenapa sih, bang, versi cerita rakyat itu beda – beda ? Apa karena kebiasaan menutur orang jaman dulu ?”

(kebiasaan menutur : kebiasaan orang jaman dulu yang menceritakan kembali ilmu pengetahuan, perintah raja, atau apa pun yang ditulis dalam naskah kepada masyarakat luas, biasanya di pasar atau di mana saja yang ada kerumunan orang)

Bang Rudi, si jago dalang ini nganggung mantep. “Betul. Selain itu, memang ada kepentingan politik juga di belakangnya”.

“Kepentingan politik ?”

“Iya. Kan yang dulu boleh menulis hanya orang – orang dalam pemerintahan. Itupun hasil perintah raja. Jadi apa pun yang dikeluarkan dari kerajaan bisa jadi sudah dimanipulasi oleh kerajaan”.

Saya diam. Otak saya mulai bekerja, tanpa sadar saya meracau, “wah, kalau gitu berarti agenda setting dan framing udah ada dong dari jaman dulu ?”

“Memang”.

“Jadi, kalau gitu naskah – naskah yang dihasilkan nggak ada bedanya dong dengan konten media saat jaman Soeharto ? Karena raja atau pemerintahan campur tangan untuk urusan konten. Gitu dong, Bang?”

“Lha ya memang begitu,” Sang Dalang tersenyum, “framing itu memang sebenarnya sudah ada dari dulu”.

Saya diam. Melongo. Jadi memang benar sejarah nggak pernah benar, saya dibohongi dong selama ini ? gerutu saya dalam hati sambil berlalu kembali ke bangku semula.

Sekarang

Tapi mau gimana pun juga saya adalah orang yang percaya kalau setiap ilmu pasti ada gunanya. Meskipun ngerasa udah dibohongin sama sejarah, saya tetap mau belajar dia. Makin didalami saya semakin mengerti mengapa sejarah berbohong. Tapi semakin dia bohong saya makin cinta. Dari sini pun akhirnya saya maklum dengan teman lain yang udah “perang dingin” sama saya selama sebulan.

Dia sih nggak ngaku udah marah sama saya, tapi biar bagaimana juga kondisi pertemanan kita sebulan kemarin bisa dibilang krisis. Berlebihan ? Mungkin, tapi itu lah yang saya rasakan. 

Entah keceplosan atau memang berniat menyindir, dia menyalahkan saya atas kondisi sebulan kemarin. Katanya saya yang udah memporak – porandakan semangatnya, entah istilah barusan berlebihan atau tidak yang pasti saya merasa bersalah. Awalnya dia nggak mau bahas, tapi setelah saya paksa akhirnya dia mau cerita juga. Kami tarik mundur waktu kebersamaan kita sampai pada di mana penyebab itu muncul.

Nggak usah dibahas penyebabnya apa, yang pasti dengan flash back itu saya bisa lebih maklum kenapa sebulan yang lalu dia mendiamkan saya. Tapi sayakan egonya tinggi, nggak mau disalahkan begitu aja. Saya balik serang dia dengan bombardir argumen ujung – ujungnya dia yang melunak, “iya sih salah gue juga”.

Nah kan ! Kalau sudah begini saya bisa bersorak menang. Dengan jumawanya saya melolong dalam hati, “tuh kan ini semua bukan salah gue, tapi salah lo. Salah lo. Salah lo. Salah lo”. Saya merasa paling bersih dan tidak “merusak” dia. Padahal seharusnya saya nggak boleh gini. Di saat saya sedang belajar sejarah semestinya saya paham kalau saya punya andil meletuskan “perang dingin” sebulan lalu. Baik di pihak benar atau salah, saya nggak berhak ngehakimin teman saya salah dan saya benar.

Sejarah “perang dingin” kita nggak ada hubungannya dengan kasih tak sampainya Hayam Wuruk – Diah Pitaloka, tapi siapa yang berani jamin kalau “perang dingin” kita nggak akan berdampak sampai ke anak – cucu ? Bukannya berlebihan, tapi dari sini saya seharusnya sadar kalau saya itu bagian dari sejarah orang. Meskipun diposisikan di tempat paling rendah atau “nggak-ngaruh-sama-sekali” sebaiknya saya bertingkah lebih hati – hati. Bukan kah salah satu output memahami sejarah adalah berperilaku bijak di saat ini ? Yang saya lakukan malah seenak hati. Pura – pura nggak peduli dan ngerasa paling bersih dari dosa. Kalau ingat omelan mama, dia selalu bilang, “kapan mau berhenti jejimprakan ?”

Ya, jejimprakan, perilaku serampangan, seenak diri, lompat sana – sini kayak monyet nggak pernah mikir kalau jejaknya akan membekas di kehidupan orang lain, baik secara nyata dan permanen maupun yang sesaat dan dihapus waktu.

You Might Also Like

0 comments: