“Hello there ! I’m naked here !”

12:22 AM Tameila 0 Comments

I'm bare naked, And I just can't take it..I'm getting jaded no I just can't fake it anymore 'cuz I'm bare naked”, itulah yang terngiang – ngiang di kepala saya waktu diskusi sore tadi, lagu Barenaked - nya Jennifer Love Hewitt.

I’m naked. You’re naked. We’re naked. Again…untuk kesekian kalinya saya ditelanjangi oleh ilmunya seorang teman.

“Kita (seperti) orang telanjang”

Tema diskusi sore itu adalah Kriptografi. Dengan kapasitas otak yang pas – pasan, mudahnya bagi saya kriptografi adalah penyandian pesan sehingga menjadi kode – kode yang hanya bisa dipecahkan oleh kunci. Nah apa kuncinya ? Kuncinya bermacam – macam. Ada istilahnya bahkan believe it or not ada pula rumusnya. Intinya kriptografi dulu digunakan untuk menyampaikan pesan rahasia, namun sekarang jadi lebih canggih diaplikasikan di dunia komputer.

Saya nggak akan ngejelasin secara rinci apa itu kriptografi. Selain karena saya menolak mentah – mentah rumus kriptografi waktu diskusi, saya pun lebih memilih apa sih manfaatnya ilmu kriptografi. Terlalu modernis ? Biarin, saya memang manusia oportunis yang hidup di jaman modern. Nggak mau ngelakuin sesuatu kalau nggak menguntungkan (bagi saya) dan nggak ada manfaatnya (bagi saya). Egois ? Memang.

Jadi sesuatu yang bernama kriptografi ini ternyata dekat dengan kehidupan kita. Kalian pasti tahu YM, yeah..minimal tahu lah apa itu e – mail. Yang kuper banget nggak tau, “http” pasti tau lha ya ? Kalau masih nggak tau juga buru deh ke warnet terus ngobrol sama operatornya. Back to topic…bukti kedekatan kita dengan kriptografi adalah melalui aktivitas chatting. Saat kita mengetik kata “hi” di YM, maka YM akan mengubahnya menjadi kode – kode sehingga nanti baru di – decode oleh akun seberang sehingga mereka bisa membaca “hi” dari kita. Di tengah proses encode – decode inilah si kriptografi bekerja. Supaya pesan kita ini nggak dibaca oleh orang lain, maka pesan itu dipecah menjadi kode dan hanya lawan bicara kita lah yang bisa membacanya. Mungkin yang lebih pantes ngejelasin mekanismenya adalah anak ilmu komputer atau TI atau SI atau siapa pun jagoan komputer. Ilmu saya masih seujung kelingking, bahkan untuk mengukir kukunya pun belum mampu. 

Di tengah tanya – jawab, teman saya (biasa saya sapa Bang Ai) menatap saya. Entah tatapan peringatan, mengancam, atau bahkan sindiran, sambil berkata, “ilmu kriptografi ini sudah ada sejak 20 tahun lalu dan sempat digunakan waktu Queen Mary hendak membunuh Queen Elizabeth”, dia diam sejenak, “makannya sekarang hati – hati kalau pakai Twitter”.

Saya diam. Nyengir nakal, sambil kurang ajarnya bertanya, “lho apa hubungannya dengan Twitter ?”

Sebenarnya saya tahu kalau pakai Twitter itu nggak boleh sembarangan. Selain karena orang bisa “membaca” diri kita, nggak sedikit juga ditemukan “huru – hara” dari socmed itu. Terlepas dari “huru – hara” tingkat “rumah tangga” maupun negara, yang pasti saya belum nangkap apa hubungannya diri kita di dunia maya dengan kriptografi.

Bang Ai cuma senyum. Simpel senyumnya. Tak ada 5 centi lebih, tapi jawabannya menancap mungkin sampai bagian terdalam otak saya.

“Apa pun yang kamu masukkan ke internet itu akan diubah menjadi kode. Kode – kode itu mungkin nggak semua orang bisa baca, tapi untuk orang yang bisa membacanya maka dia akan bisa mengidentifikasi kamu. Kamu bisa diketahui suka warna pink mungkin bukan dari secara eksplisit kamu bilang suka warna pink. Orang bisa tau kamu suka warna pink mungkin dari background blog kamu” dia mengambil nafas sejenak, “kalau dia sudah bisa membaca kamu, maka dia tau kelebihan dan kekurangan kamu. Nah, kekurangan kamu inilah yang nantinya akan digunakan untuk membunuh kamu. Mungkin nggak lewat kamu langsung, tapi bisa lewat orang – orang yang berinteraksi dengan kamu di dunia maya”.

Saya diam membiarkan otak saya memproses dan menyerap kalimat demi kalimat si Abang. Tanpa diminta ia menambahkan, “ketika memasuki dunia maya, kita ini telanjang. Semua orang bisa melihat kita. Semua orang bisa memiliki kita. Sekarang, tinggal bagaimana kita menjaga diri kita”.

Be Wise

Setelah otak saya mengerti yang si Abang maksud, saya lantas bertanya lagi, “untuk apa sih Bang kita tahu tentang begituan ? Toh siapa gue sampe orang mau stalking gue ? Even ada juga mau ngapain ? Nggak ada yang spesial dari diri gue”.

Si Abang senyum lagi, tapi kali ini diikuti seringai kecil. “Dek, kamu harus mikir kalau yang berinteraksi denganmu di dunia maya bukan kamu aja. Oke, mungkin untuk saat ini kamu bukan siapa – siapa, tapi siapa yang tahu kalau ada yang benci dengan kamu dan ingin menghancurkan kamu ?”
 
Saya diam. Masih menatapnya dengan tatapan sama, tatapan minta lebih banyak penjelasan.

“Mungkin kamu nggak mati secara fisik, tapi di dunia maya kamu mati. Reputasi kamu hancur dan itu untuk jangka panjang secara tidak langsung akan berpengaruh ke kehidupan nyata kamu. Atau mungkin ada musuhku (si Abang menunjuk dirinya) yang ingin menghancurkan aku. Mereka nggak mungkin ngebunuh aku secara langsung, bisa aja mereka ngebunuh aku lewat kamu.”

Saya masih diam. Masih dengan tatapan yang sama. Dia diam. Bernafas sejenak, mungkin lelah dibrondong pertanyaan – pertanyaan bodoh saya.

“Wow ! Keren, Bang !” Tiba – tiba saya tersadar ilmu ini begitu kerennya. Nilai kekerenannya pun bertambah saat diam – diam saya menghubungkannya dengan ilmu komunikasi, ilmu yang saya pelajari. “Tapi mungkin kriptografi ini cocok untuk pertahanan negara ya, Bang ?”

“Eh jangan salah, keamanan negara itu tingkat makro. Kalau kamu perhatikan, perusahaan – perusahaan juga pakai ini. Kalau nggak pakai ini, wah…bisa kebobolan data – datanya,” tenaganya mulai pulih, ia memutar bola matanya sejenak, “emm…kamu tahu, data saat ini menjadi sesuatu yang sangat penting, baik data mentahan atau pun bukan. Jadi, contoh kecilnya, kalau web perusahaan udah dibobol itu harus hati – hati, artinya mereka sudah diserang”

Saya diam. Tak memberi komentar apa – apa. Namun tampaknya ia bisa membaca tatapan “terus – apa – ngefeknya – buat – gue” di mata saya, akhirnya ia melanjutkan, “Mungkin kamu sekarang belum merasakan dampaknya, tapi coba deh nanti ke depan. Kalau kamu nge – tweet sembarangan, orang bisa tahu kamu ada di mana, apa kebiasaan kamu, dan bagaimana kondisi kamu. Mereka dengan sangat mudah bisa melacak kamu. Memangnya kamu nyaman kalau semua orang tahu kamu gimana dan ada di  mana ?”

Saya menggeleng cepat. “Nggak lah !”

“Nah itu dia”

Tapi buru – buru saya bantah, “tapi kan Bang apa yang kita Tweet belum tentu sesuai dengan keadaan kita. I think nggak semua Tweet itu sesuai dengan pikiran dan hati kita, sometimes I tweet just because I want to say it, not because that’s me, like really my situation and my self”.

Ia menghela nafas, “memang benar, nggak selamanya apa yang kamu Tweet itu diri kamu. Makannya ketika kamu masuk ke dunia maya, kamu itu telanjang. Semua orang bisa lihat kamu, tergantung kamu menjaga diri. Menjaga diri di sini termasuk ke dalam bagaimana kamu Tweet, foto – foto yang kamu upload, status yang kamu buat, bahkan sampai link apa aja yang kamu buka”, ia diam lagi sejenak, “intinya kamu harus punya jiwa social engineer. Jiwa itulah yang bikin kamu bijak menggunakan internet, nggak seenaknya. Klise memang, tapi internet itu seperti dua mata pisau. Kalau kamu nggak pintar memainkan pisau itu, maka internet nggak ada manfaatnya sama sekali buat kamu, malah bisa balik nusuk kamu. Bijak lah menggunakan internet, bukan hanya untuk melindungi diri kamu, tapi juga orang – orang yang kamu sayangi”.

Oke, baiklah Abang ! Sore ini kamu berhasil menelanjangi saya bulat – bulat. Kamu melucuti keegoisan saya, baik secara pribadi maupun keilmuan. Secara pribadi, kamu mematahkan pemikiran saya yang, “gue yang ngenet ya terserah gue dong mau ngapain. Siapa diri gue di dunia maya ya terserah gue. Gue mau ngapain dan jadi apa bukan urusan lo”. Sombong ? Memang. Saya nggak pernah berpikir apa yang saya lakukan di dunia maya akan benar – benar berdampak di dunia nyata, karena saya tahu dunia maya itu bohong jadi untuk apa mempercayai kebohongan, apalagi menyeretnya ke dunia nyata. Tapi ternyata saya salah, semuanya itu berhubungan bahkan sangat terikat. Apa yang saya lakukan di dunia maya pasti akan berdampak ke dunia nyata, bahkan dari hal yang nggak pernah saya sadari, misalnya memilih video kemudian menguploadnya ke blog atau Facebook.

Secara keilmuan pun kamu berhasil membuat saya kedinginan. Ilmu yang selama ini saya dapatkan ternyata belum ada apa – apanya. Terlalu angkuh rasanya saya kini berdiskusi tentang kuliah iklan dan PR dengan teman – teman di sana. Lewat diskusi sore itu, betapa rapuhnya kuliah saya, misalnya PMI, manajemen branding, perencanaan strategis, marketing PR, sampai produksi iklan. Ternyata strategi iklan online, rencana campaign di dunia maya, sampai behavior pengguna internet mereka (anak ilmu komputer) bisa membacanya. Saya kira hanya anak komunikasi yang bisa mendeteksi ini, taunya saya ketipu. Ya, inilah yang sempat disinggung di kuliah filsafat komunikasi tadi, yakni “keegoisan dalam keilmuan. Semua ilmu merasa dirinya yang paling benar dan unggul”.

Inilah cara luar biasa Tuhan menjawab keluhan saya di kelas filsafat komunikasi tadi. Memang Dia itu Maha Mendengar saat saya berkata dalam hati, “buat apaan sih tabel – tabel itu (saat itu di kelas muncul sejumlah tabel lengkap dengan panahnya yang memetakan keilmuan dan kajian ilmu komunikasi. Garis – garis itu menghubungkan ilmu komunikasi dengan ilmu lainnya, seperti ekonomi, sosial, politik, kultur, dan psikologi), wong bikin batasan penelitian komunikasi aja susah kenapa harus dibumbui dengan perspektif – perspektif lain ?” Di kelas itu saya menutup diri terhadap ilmu lain. Kalau dibilang pesimis, saya sudah merasa keberatan dengan ilmu saya lalu untuk apa saya tambahkan dengan ilmu lain. Dari sisi optimis, saya sudah merasa cukup melihat fenomena dengan satu ilmu saya.

Tapi memang manusia itu nggak patut sombong, apalagi merasa lengkap dan sempurna. Yang bisa dilakukan cuma bersyukur apa yang telah didapat dan jangan berhenti belajar dari ciptaan – ciptaan – Nya. Diskusi satu jam setengah cukup membuktikan bahwa saya nggak boleh pesimis dengan sulitnya ilmu saya, karena ada ilmu lain yang sebenarnya akan meringankan kesulitan itu. Saya pun nggak boleh terlalu optimis, karena sesungguhnya ilmu saya tidak bisa dipakai secara tunggal untuk memecahkan sebuah permasalahan atau hanya sebatas membaca fenomena.

Mengingat semuanya saling melengkapi, perlahan saya mulai setuju kalau ilmu saya ini rentan. Rentan secara individu pembelajarnya, rentan juga secara ilmunya. Syukur- syukur kalau individu pembelajarnya yang kayak saya cuma satu ya saya ini. Nah kalau lebih dari satu bisa repot. Yang ada nanti sarjana ilmu komunikasi berotak sempit semua. Nggak terbuka dengan ilmu baru dan nggak mau bekerja sama untuk menyelesaikan masalah. Kalau rentan secara ilmunya saya nggak bisa bicara panjang. Saya ini belum sarjana, tapi cuma mau ngomong kalau ilmu saya bisa dipelajari semua orang jadi besar kemungkinan kalau esensinya akan mengalami pergeseran.

Ah, ngomong apa sih kamu, Ta ? Sarjana aja belum udah ngiritik ilmu sendiri. Ngaca dulu, baru boleh dandanin orang lain. Jangan nyuruh orang lain lari, tapi sendirinya nggak pernah mau jalan. Jangan bilang A, tapi sendirinya B. Kalau kena semprot orang baru deh tau rasa !

You Might Also Like

0 comments: