“Hello there ! I’m naked here !”
“I'm bare naked, And I
just can't take it..I'm getting jaded no I just can't fake it anymore 'cuz I'm
bare naked”, itulah yang terngiang – ngiang di kepala saya waktu diskusi
sore tadi, lagu Barenaked - nya Jennifer Love Hewitt.
I’m naked. You’re naked. We’re naked. Again…untuk kesekian
kalinya saya ditelanjangi oleh ilmunya seorang teman.
“Kita (seperti) orang
telanjang”
Tema diskusi sore itu adalah
Kriptografi. Dengan kapasitas otak yang pas – pasan, mudahnya bagi saya
kriptografi adalah penyandian pesan sehingga menjadi kode – kode yang hanya
bisa dipecahkan oleh kunci. Nah apa kuncinya ? Kuncinya bermacam – macam. Ada istilahnya
bahkan believe it or not ada pula rumusnya. Intinya kriptografi dulu digunakan
untuk menyampaikan pesan rahasia, namun sekarang jadi lebih canggih
diaplikasikan di dunia komputer.
Saya nggak akan ngejelasin secara
rinci apa itu kriptografi. Selain karena saya menolak mentah – mentah rumus
kriptografi waktu diskusi, saya pun lebih memilih apa sih manfaatnya ilmu
kriptografi. Terlalu modernis ? Biarin, saya memang manusia oportunis yang
hidup di jaman modern. Nggak mau ngelakuin sesuatu kalau nggak menguntungkan
(bagi saya) dan nggak ada manfaatnya (bagi saya). Egois ? Memang.
Jadi sesuatu yang bernama kriptografi
ini ternyata dekat dengan kehidupan kita. Kalian pasti tahu YM, yeah..minimal
tahu lah apa itu e – mail. Yang kuper banget nggak tau, “http” pasti tau lha ya
? Kalau masih nggak tau juga buru deh ke warnet terus ngobrol sama operatornya.
Back to topic…bukti kedekatan kita dengan kriptografi adalah melalui aktivitas
chatting. Saat kita mengetik kata “hi” di YM, maka YM akan mengubahnya menjadi
kode – kode sehingga nanti baru di – decode
oleh akun seberang sehingga mereka bisa membaca “hi” dari kita. Di tengah
proses encode – decode inilah si
kriptografi bekerja. Supaya pesan kita ini nggak dibaca oleh orang lain, maka
pesan itu dipecah menjadi kode dan hanya lawan bicara kita lah yang bisa
membacanya. Mungkin yang lebih pantes ngejelasin mekanismenya adalah anak ilmu
komputer atau TI atau SI atau siapa pun jagoan komputer. Ilmu saya masih
seujung kelingking, bahkan untuk mengukir kukunya pun belum mampu.
Di tengah tanya – jawab, teman saya
(biasa saya sapa Bang Ai) menatap saya. Entah tatapan peringatan, mengancam,
atau bahkan sindiran, sambil berkata, “ilmu kriptografi ini sudah ada sejak 20
tahun lalu dan sempat digunakan waktu Queen Mary hendak membunuh Queen
Elizabeth”, dia diam sejenak, “makannya sekarang hati – hati kalau pakai
Twitter”.
Saya diam. Nyengir nakal, sambil
kurang ajarnya bertanya, “lho apa hubungannya dengan Twitter ?”
Sebenarnya saya tahu kalau pakai
Twitter itu nggak boleh sembarangan. Selain karena orang bisa “membaca” diri
kita, nggak sedikit juga ditemukan “huru – hara” dari socmed itu. Terlepas dari
“huru – hara” tingkat “rumah tangga” maupun negara, yang pasti saya belum
nangkap apa hubungannya diri kita di dunia maya dengan kriptografi.
Bang Ai cuma senyum. Simpel senyumnya.
Tak ada 5 centi lebih, tapi jawabannya menancap mungkin sampai bagian terdalam
otak saya.
“Apa pun yang kamu masukkan ke
internet itu akan diubah menjadi kode. Kode – kode itu mungkin nggak semua
orang bisa baca, tapi untuk orang yang bisa membacanya maka dia akan bisa
mengidentifikasi kamu. Kamu bisa diketahui suka warna pink mungkin bukan dari
secara eksplisit kamu bilang suka warna pink. Orang bisa tau kamu suka warna
pink mungkin dari background blog kamu” dia mengambil nafas sejenak, “kalau dia
sudah bisa membaca kamu, maka dia tau kelebihan dan kekurangan kamu. Nah,
kekurangan kamu inilah yang nantinya akan digunakan untuk membunuh kamu. Mungkin
nggak lewat kamu langsung, tapi bisa lewat orang – orang yang berinteraksi
dengan kamu di dunia maya”.
Saya diam membiarkan otak saya
memproses dan menyerap kalimat demi kalimat si Abang. Tanpa diminta ia
menambahkan, “ketika memasuki dunia maya, kita ini telanjang. Semua orang bisa
melihat kita. Semua orang bisa memiliki kita. Sekarang, tinggal bagaimana kita
menjaga diri kita”.
Be Wise
Setelah otak saya mengerti yang si
Abang maksud, saya lantas bertanya lagi, “untuk apa sih Bang kita tahu tentang
begituan ? Toh siapa gue sampe orang mau stalking gue ? Even ada juga mau
ngapain ? Nggak ada yang spesial dari diri gue”.
Si Abang senyum lagi, tapi kali ini
diikuti seringai kecil. “Dek, kamu harus mikir kalau yang berinteraksi denganmu
di dunia maya bukan kamu aja. Oke, mungkin untuk saat ini kamu bukan siapa –
siapa, tapi siapa yang tahu kalau ada yang benci dengan kamu dan ingin
menghancurkan kamu ?”
Saya diam. Masih menatapnya dengan
tatapan sama, tatapan minta lebih banyak penjelasan.
“Mungkin kamu nggak mati secara
fisik, tapi di dunia maya kamu mati. Reputasi kamu hancur dan itu untuk jangka
panjang secara tidak langsung akan berpengaruh ke kehidupan nyata kamu. Atau mungkin
ada musuhku (si Abang menunjuk dirinya) yang ingin menghancurkan aku. Mereka nggak
mungkin ngebunuh aku secara langsung, bisa aja mereka ngebunuh aku lewat kamu.”
Saya masih diam. Masih dengan
tatapan yang sama. Dia diam. Bernafas sejenak, mungkin lelah dibrondong
pertanyaan – pertanyaan bodoh saya.
“Wow ! Keren, Bang !” Tiba – tiba saya
tersadar ilmu ini begitu kerennya. Nilai kekerenannya pun bertambah saat diam –
diam saya menghubungkannya dengan ilmu komunikasi, ilmu yang saya pelajari. “Tapi
mungkin kriptografi ini cocok untuk pertahanan negara ya, Bang ?”
“Eh jangan salah, keamanan negara
itu tingkat makro. Kalau kamu perhatikan, perusahaan – perusahaan juga pakai
ini. Kalau nggak pakai ini, wah…bisa kebobolan data – datanya,” tenaganya mulai
pulih, ia memutar bola matanya sejenak, “emm…kamu tahu, data saat ini menjadi
sesuatu yang sangat penting, baik data mentahan atau pun bukan. Jadi, contoh
kecilnya, kalau web perusahaan udah dibobol itu harus hati – hati, artinya
mereka sudah diserang”
Saya diam. Tak memberi komentar apa
– apa. Namun tampaknya ia bisa membaca tatapan “terus – apa – ngefeknya – buat –
gue” di mata saya, akhirnya ia melanjutkan, “Mungkin kamu sekarang belum
merasakan dampaknya, tapi coba deh nanti ke depan. Kalau kamu nge – tweet sembarangan,
orang bisa tahu kamu ada di mana, apa kebiasaan kamu, dan bagaimana kondisi
kamu. Mereka dengan sangat mudah bisa melacak kamu. Memangnya kamu nyaman kalau
semua orang tahu kamu gimana dan ada di
mana ?”
Saya menggeleng cepat. “Nggak lah !”
“Nah itu dia”
Tapi buru – buru saya bantah, “tapi
kan Bang apa yang kita Tweet belum tentu sesuai dengan keadaan kita. I think
nggak semua Tweet itu sesuai dengan pikiran dan hati kita, sometimes I tweet
just because I want to say it, not because that’s me, like really my situation
and my self”.
Ia menghela nafas, “memang benar,
nggak selamanya apa yang kamu Tweet itu diri kamu. Makannya ketika kamu masuk
ke dunia maya, kamu itu telanjang. Semua orang bisa lihat kamu, tergantung kamu
menjaga diri. Menjaga diri di sini termasuk ke dalam bagaimana kamu Tweet, foto
– foto yang kamu upload, status yang kamu buat, bahkan sampai link apa aja yang
kamu buka”, ia diam lagi sejenak, “intinya kamu harus punya jiwa social engineer. Jiwa itulah yang bikin
kamu bijak menggunakan internet, nggak seenaknya. Klise memang, tapi internet
itu seperti dua mata pisau. Kalau kamu nggak pintar memainkan pisau itu, maka
internet nggak ada manfaatnya sama sekali buat kamu, malah bisa balik nusuk
kamu. Bijak lah menggunakan internet, bukan hanya untuk melindungi diri kamu,
tapi juga orang – orang yang kamu sayangi”.
Oke, baiklah Abang ! Sore ini kamu
berhasil menelanjangi saya bulat – bulat. Kamu melucuti keegoisan saya, baik
secara pribadi maupun keilmuan. Secara pribadi, kamu mematahkan pemikiran saya
yang, “gue yang ngenet ya terserah gue dong mau ngapain. Siapa diri gue di
dunia maya ya terserah gue. Gue mau ngapain dan jadi apa bukan urusan lo”. Sombong
? Memang. Saya nggak pernah berpikir apa yang saya lakukan di dunia maya akan
benar – benar berdampak di dunia nyata, karena saya tahu dunia maya itu bohong
jadi untuk apa mempercayai kebohongan, apalagi menyeretnya ke dunia nyata. Tapi
ternyata saya salah, semuanya itu berhubungan bahkan sangat terikat. Apa yang
saya lakukan di dunia maya pasti akan berdampak ke dunia nyata, bahkan dari hal
yang nggak pernah saya sadari, misalnya memilih video kemudian menguploadnya ke
blog atau Facebook.
Secara keilmuan pun kamu berhasil
membuat saya kedinginan. Ilmu yang selama ini saya dapatkan ternyata belum ada
apa – apanya. Terlalu angkuh rasanya saya kini berdiskusi tentang kuliah iklan
dan PR dengan teman – teman di sana. Lewat diskusi sore itu, betapa rapuhnya
kuliah saya, misalnya PMI, manajemen branding, perencanaan strategis, marketing
PR, sampai produksi iklan. Ternyata strategi iklan online, rencana campaign di dunia maya, sampai behavior pengguna
internet mereka (anak ilmu komputer) bisa membacanya. Saya kira hanya anak
komunikasi yang bisa mendeteksi ini, taunya saya ketipu. Ya, inilah yang sempat
disinggung di kuliah filsafat komunikasi tadi, yakni “keegoisan dalam keilmuan.
Semua ilmu merasa dirinya yang paling benar dan unggul”.
Inilah cara luar biasa Tuhan
menjawab keluhan saya di kelas filsafat komunikasi tadi. Memang Dia itu Maha
Mendengar saat saya berkata dalam hati, “buat apaan sih tabel – tabel itu (saat
itu di kelas muncul sejumlah tabel lengkap dengan panahnya yang memetakan
keilmuan dan kajian ilmu komunikasi. Garis – garis itu menghubungkan ilmu
komunikasi dengan ilmu lainnya, seperti ekonomi, sosial, politik, kultur, dan
psikologi), wong bikin batasan penelitian komunikasi aja susah kenapa harus
dibumbui dengan perspektif – perspektif lain ?” Di kelas itu saya menutup diri
terhadap ilmu lain. Kalau dibilang pesimis, saya sudah merasa keberatan dengan
ilmu saya lalu untuk apa saya tambahkan dengan ilmu lain. Dari sisi optimis,
saya sudah merasa cukup melihat fenomena dengan satu ilmu saya.
Tapi memang manusia itu nggak patut
sombong, apalagi merasa lengkap dan sempurna. Yang bisa dilakukan cuma
bersyukur apa yang telah didapat dan jangan berhenti belajar dari ciptaan –
ciptaan – Nya. Diskusi satu jam setengah cukup membuktikan bahwa saya nggak
boleh pesimis dengan sulitnya ilmu saya, karena ada ilmu lain yang sebenarnya
akan meringankan kesulitan itu. Saya pun nggak boleh terlalu optimis, karena
sesungguhnya ilmu saya tidak bisa dipakai secara tunggal untuk memecahkan
sebuah permasalahan atau hanya sebatas membaca fenomena.
Mengingat semuanya saling
melengkapi, perlahan saya mulai setuju kalau ilmu saya ini rentan. Rentan secara
individu pembelajarnya, rentan juga secara ilmunya. Syukur- syukur kalau
individu pembelajarnya yang kayak saya cuma satu ya saya ini. Nah kalau lebih
dari satu bisa repot. Yang ada nanti sarjana ilmu komunikasi berotak sempit
semua. Nggak terbuka dengan ilmu baru dan nggak mau bekerja sama untuk
menyelesaikan masalah. Kalau rentan secara ilmunya saya nggak bisa bicara
panjang. Saya ini belum sarjana, tapi cuma mau ngomong kalau ilmu saya bisa
dipelajari semua orang jadi besar kemungkinan kalau esensinya akan mengalami
pergeseran.
Ah, ngomong apa sih kamu, Ta ?
Sarjana aja belum udah ngiritik ilmu sendiri. Ngaca dulu, baru boleh dandanin
orang lain. Jangan nyuruh orang lain lari, tapi sendirinya nggak pernah mau
jalan. Jangan bilang A, tapi sendirinya B. Kalau kena semprot orang baru deh
tau rasa !
0 comments: