Minoritas
Perasaan itu muncul tepat sepasang mahasiswa masuk lalu duduk tak jauh dari saya. Si perempuan dengan cekatan mengambil katalog, membukanya, lalu menuliskan kode di selembar kertas. Sedangkan si laki – laki tanpa menghiraukan tatapan saya langsung duduk berseberangan kemudian tenggelam di balik surat kabar daerah.
Mereka bukan tipe mahasiswa masa kini. Penampilannya sangat cocok dikatakan “biasa”, bahkan tak ada yang spesial. Tapi mereka mampu membuat saya merasa iri. Iri ke ulu hati hingga ingin menangis.
Semuanya berawal dari soal ujian tengah semester kelas Komunikasi Seni dan Tradisi. Soalnya mudah, sangat mudah malah. Kami disuruh untuk investigasi langsung terkait artefak sejarah yang ada di masyarakat. Tugasnya standar, kami diminta untuk menjelaskan sejarahnya, fungsinya di masa lalu dan masa kini, serta apa yang hendak dikomunikasikan.
“Anak SMP juga bisa bikin ginian”, itulah komentar sombong saya saat membaca soal pertama kali.
Setelah diendapkan beberapa hari, akhirnya tergerak juga untuk mencari bahan. Lebih tepatnya semua karena batas waktu yang kian mendekat. Dari sini saya mulai bingung apa yang harus ditulis dan dikaji. Masa iya saya mau wawancara stupa atau patung ?
Awalnya sempat terpikir untuk menulis tentang candi atau cerita rakyat saja. Sumbernya lebih mudah, banyak penuturnya, dan studi pustakanya pun beragam. Tapi setelah dipikir – pikir kok kurang menantang, ya ? Selo nih orang ? Memang. Right after tugas produksi iklan memang niatnya saya dedikasikan untuk garap tugas ini. Akhirnya long term memory saya mencantolkan diri ke sebuah skripsi di rak FIB. Skripsi yang menceritakan tentang serat tatakrama.
Adalah Yunus, anak Sastra Indonesia yang baru saja menunaikan kewajiban skripsinya, dewa penolong saya untuk ngacak – ngacak skripsi di perpustakaan FIB. Lebih dari itu, dia yang ngajarin saya untuk terjun langsung ke museum, cari bahan literatur, dan berkutat dengan debu perpustakaan cari buku. Dia juga teman diskusi yang menelanjangi saya dengan ilmunya hingga saya malu sendiri jadi orang Indonesia.
Gimana nggak malu, hobinya nyinyir ke pemerintah tapi saat ditanya tentang kerajaan Majapahit nggak bisa jawab. Padahal kerajaan itu secara nggak langsung cikal bakal pemerintahan saat ini. Ngaku suka baca novel – novel sejarah Indonesia, tapi disodorin naskah kuno nggak bisa baca. Bagi saya hal ini memalukan. Kenapa ? Saya tahu kebudayaan dan sejarah beberapa negara, tapi coba kasih saya soal tentang sejarah Indonesia mungkin lebih baik saya minta bukunya West & Turner untuk direview deh.
Perasaan itulah yang akhirnya membuat saya ingin mempelajari bahasa Jawa. Pertamanya nggak yakin, apakah ini benar – benar kepengen atau hanya kebawa euphoria tugas uts. Tapi menghabiskan sejam di depan Pakualaman dan berteman kopi di bawah pohon bringin seolah memberi hidayah betapa tak tahu apa – apanya saya sama Indonesia. Saya sih nggak peduli dengan pemerintahannya yang “yah-mau-gimana-lagi”, saya peduli dengan Indonesianya. Indonesia as a country, not an institution or whatev you name it.
Kok sok nasionalis banget, Ta ?
Well, actually saya sendiri pun udah punya stigma negatif sama kata “nasionalis”. Selain sering dijadikan alasan untuk demo (- no offense), kata yang seharusnya nggak ditempeli atribut apapun selain “cinta murni ke tanah air” sekarang udah jadi brand partai (- no offense lagi). Jadi niat untuk belajar bahasa Jawa ini muncul tiba – tiba aja. Bisa dibilang hidayah mungkin, tapi saya lebih suka sebagai langkah kecil untuk tahu siapa, apa, dan bagaimana tanah kelahiran saya.
Saya pun berpikir, kalau saya bisa bahasa Jawa bukan hanya mampu mengenal sejarah Indonesia (dari naskah kuno), tapi hidup saya akan lebih mudah. Selama tiga tahun kuliah di Jogja, memperhatikan mereka yang bisa bahasa Jawa agaknya hidupnya mudah dan urusan lancar, apalagi kalau masalah tawar menawar di pasar. Hal ini sebenarnya sudah terjadi di depan hidung sejak awal kuliah, tapi sayanya yang nggak mau buka mata. Pikiran saya dulu adalah, “nggak apa – apa kok nggak bisa bahasa Jawa, toh ada bahasa Indonesia, bahasa yang semua orang ngerti. Selama kita ramah dan tahu sopan – santun pasti urusan lancar”.
Pikiran hanyalah pikiran. Nggak akan terbuka dan berubah kalau belum kena batunya. Ternyata hari ini pikiran saya itu salah. Terbukti dari kejadian di perpustakaan museum Sonobudoyo siang ini. Masih ingat tentang sepasang mahasiswa yang super biasa di atas tadi ? Ya, pasangan super biasa itu dengan luar biasanya bikin saya pengen nangis dan sesegera mungkin belajar bahasa Jawa.
Seharusnya saya lah yang pertama kali keluar dari ruangan pengap penuh naskah kuno itu. Tapi kenyataan terkadang berbanding terbalik dengan “seharusnya”. Mereka keluar lebih dulu karena mereka lebih cepat selesai, sialnya bahan yang mereka dapatnya lebih banyak dari saya. Oh ya satu lagi, mereka mendapatkan akses yang lebih daripada saya. Mereka bisa dapat naskah versi digital dan saya tidak ! GOSH !
Saya adalah tipe orang yang percaya kalau kedekatan komunikasi interpersonal mampu memudahkan hidup. Jadi asumsi saya kemudahan dan kelancaran mereka itu didapatkan dari ketiganya yang bercakap akrab dengan bahasa Jawa. Jujur saat itu saya merasa minoritas. Kami berempat dan hanya saya yang tidak mengerti perbincangan mereka. Mereka cekikikan, diskusi, melobi sampai akhirnya si perempuan dapat naskah versi digitalnya. Saya ? Keringetan, kepala nyut – nyutan baca indeks yang bahasa Jawa semua, hidung gatal berhadapan dengan buku berdebu dan tebal.
Lebih mirisnya, saat bapaknya bilang, “gimana mbak ketemu ndak ? Memang cari naskah opo toh ?”
“Serat Widya Kirana, pak. Di sini nggak ada sejarahnya, cuma informasi tentang kitabnya,” saya diam sejenak. Pasang tampang melas.
“Yo kui kitab e. Baca langsung aja, mbak,” si bapak nyengir, entah nyengir ramah, ngejek, atau sisa bahagia abis becanda dengan sepasang mahasiswa tadi.
Dengan tampang melas maksimal saya cuma menggeleng, “saya nggak bisa bacanya, pak. Saya nggak ngerti aksara Jawa, tapi saya tertarik dengan serat”
“Lho, mbak e piye. Katanya tertarik tapi ndak bisa huruf Jawa. Dari mana toh ?”
“Fisip, pak, saya bukan anak FIB”
“Oalah, kira aku mbaknya anak FIB. Ya iki aku sodorin kitab e. Yo susah mbak kalau ndak bisa bacanya. Semuanya ada di sana. Saya juga belum pernah baca serat itu,” si bapak diam mandangin muka saya yang banjir keringet, “maaf yo mbak ndak bisa bantu”, akhirnya.
“Oh, ndak apa – apa, pak”, buru – buru saya senyum supaya nggak dihujani tatapan prihatin, “nanti saya minta tolong teman anak Sastra Nusantara aja buat bantu bacain”
Si bapak cuma senyum – senyum.
Nggak lama masuk lagi dua orang laki – laki. Sama dengan sepasang mahasiswa sebelumnya. Super biasa tapi cekatan membuka katalog. Nulis ini – itu, ngobrol ini – itu tentang naskah, dapat naskah, buka kitabnya, dibaca, nulis, dapat bahan, dan pulang.
Sedetik saya mengasihani diri sendiri. Wong sudah kuliah 3 tahun di Yogya masih aja nggak bisa bahasa Jawa, malah Sundanya makin kental. Ibaratnya saya ini gagal belajar budaya tempat saya menuntut ilmu. Padahal bahasa adalah unsur komunikasi yang paling dekat dan akrab di telinga, tapi tiga tahun masih aja nggak bisa. Saya nggak tuli, tapi kenapa tiga tahun nggak mau membuka telinga untuk memahami bahasa Jawa. Saya nggak buta, tapi kenapa nggak mau melihat kebudayaan Jawa. Saya nggak bisu, tapi kenapa nggak mau sedikit latihan ngomong Jawa.
Sejurus kemudian saya seperti menyalahi salah satu prinsip yang saya pegang, “di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung”, dan itulah yang tak jarang membuat saya merasa sebagai minoritas. Terlalu cuek dengan sekitar untuk seharusnya bagaimana dan seperti apa. Kadang egois memaksakan menjadi diri sendiri sampai akhirnya malah asing dengan lingkungan. Maunya diterima apa adanya tapi sedikit memperhatikan orang – orang.
Seharusnya nggak begitu, bukan ? Jangan maunya dimengerti aja, tapi apakah kita sebagai makhluk hidup yang seharusnya beradaptasi. Dikasih otak sama Tuhan bukan untuk ngakalin yang nggak bisa diubah, tapi memfleksibelkan diri. Bukan kita, tapi saya. Emang dasarnya nggak mau rugi, dari dulu selalu ngakalin suasana biar sesuai dengan yang dimau. Sekarang baru kena batunya saat nggak bisa ngubah lingkungan, tapi harus mau melunakkan pikiran kalau, “belajar bahasa Jawa itu penting, apalagi untuk urusan tawar – menawar”. Okay, kalau gitu lets find the teacher ! *ikatkepala*
0 comments: