Eclipse Symphony
Setengah melamunkan senyummu di tengah hujan. Cukup lah rasanya untuk menyinari perjalanan yang gelap. Langit sedang tidak bersahabat. Percuma mengharapkan bintang, kini hujan menguasai singgasana.Tampaknya sudah hampir satu tahun tak bertemu. 15 Mei 2011, menjadi pertama dan terkahir kalinya aku melihatmu. Hingga akhirnya kini, 02 Maret 2012, kita bertemu lagi diselimuti melodi bulan.
Waktu Lunar kamu menggesek cello itu. Sekali tampil kamu duduk di pojokkan bersenggama dengan drum dan recorder. Ah, ya, ke mana recordermu ? Malam ini pun aku tak melihatmu menggesek senar. Sayang...padahal kamu tampak mempesona dengan instrumen itu. Aku masih ingat tatkala kamu menggeseknya lalu dengan (sok) lihai diputarnya cellomu. Saat itu kamu tertawa lepas karena menyadari ada nada yang salah. Tapi kamu masih tenang. Kamu tertawa dan itu lah yang membuat kamu terlihat berbeda dari pemain lainnya.
Lunar. Bulan. Eclipse. Gerhana. Ada bulan di dalamnya.
Kita selalu dipertemukan di tengah melodi bulan. Dalam Eclipse ini aku tidak berandai kamu menyadariku. Bisa apa jadinya kamu tahu aku ada. Ah, tapi apa mungkin itu terjadi kalau aku tak menitipkan sepenggal kekaguman pada temanku ? Beda halnya dengan aku, yang langsung tahu itu adalah kamu. Sosok berkemeja merah panjang yang keluar dari tirai hitam. Muncul paling akhir setelah setiap pemain siap di hadapan partiturnya masing – masing.
Kali ini kamu berbeda. Meski kemejamu masih dikeluarkan, tak ada lagi plester di wajah, kancing kemeja atas yang terbuka, rambut berantakan, dan langkah santai. Jujur, malam ini kamu lebih berwibawa. Dengan tenang kamu menaiki panggung. Dengan rendah hati kamu tersenyum kepada penonton. Dengan santai kamu menggiring nada - nada cello, biola, gitar, piano, drum, clarinet, saxophone, dan flute, agar tetap pada alurnya.
Kamu ingat video permainan cello – mu yang akhirnya menjadi hadiah ulang tahun ke – 20 – ku kemarin ? Kamu pasti lupa 10 bulan yang lalu sahabatku pernah memintamu untuk memainkan sebuah lagu lewat cello. Entah itu cello milikmu atau bukan, tapi itu terabadikan dalam sebuah video. Betapa terharunya aku kalau videomu adalah kado dari sahabatku. Bukan. Bukan kamu. Tapi melodi darimu. Betapa berterimakasihnya aku pada Tuhan telah memberikan sahabat seperti mereka. Orang – orang yang bisa membahagiakan dan membuatku selalu bersyukur dengan cara yang sederhana.
Satu malam sebelum Eclipse menggelar kenangan ini, aku bertanya pada sahabatku. Awalnya hanya iseng, tapi akhirnya menjadi tantangan bagi diriku untuk menguji perasaanku padamu. Pertanyaannya simpel, “eh si yoseph masih ma ceweknya gak?”. Jawabannya juga simpel, “ga punya cewe mah dia, boong aja. Galau ga pny cewe juga nih dia akhir2 ini. Haha.” Masih tidak percaya, akhirnya aku meyakinkan dan jawabannya “gak punya cewek diaaa”.
Flat. Datar. Itu lah yang aku rasakan. Emoticon titik dua dan kapital D mungkin temanku artikan sebagai kebahagiaan karena kamu sedang tidak dengan siapa – siapa. Tapi aku tidak peduli. Karena aku mengagumimu saat kamu sendiri atau telah berpasangan. Tapi, apa benar kekaguman itu masih ada ?
Jam shift di tempatku bekerja hari itu sengaja aku majukan. Mengetahui pintu ditutup pukul 18.45, membuat aku agak tergesa menunaikan kewajiban maghrib. Dengan dandan seadanya dan tanpa persiapan, aku menancapkan gas menuju LIP. Satu harapanku, aku tidak akan terjatuh di jalan hingga akhirnya terlambat masuk ke ruangan.
Rupanya Tuhan mendengar do’aku. Aku sampai tepat waktu. Aku duduk dan akhirnya bisa melihatmu lagi. Pertama kamu hadir tanpa membopong cello agaknya sedikit aneh bagiku karena pertama kali aku mengetahuimu lewat cello. Alih – alih cello, kamu mendekap lembaran – lembaran partitur. Entah partitur atau bukan, kamu pun menggenggam sebuah tongkat. Tongkat kah namanya? Entah lah, aku tak peduli.
Kamu memunggungi penonton. Kamu memunggungiku. Kamu menghadap pemain. Kamu mengangkat tangan. Kamu mengayunkan tongkat. Kamu tersenyum. Kamu mengawasi setiap pemain. Kamu mengendalikan nada. Kamu bergoyang bersama melodi. Kamu tenggelam dalam panggung. Kamu berbalik. Kamu tersenyum. Kamu mengangguk. Kamu turun panggung. Kamu lenyap di balik pintu.
Aku duduk. Aku menggenggam tangan sahabatku. Aku mengatur nafas. Aku mengendalikan detak jantung. Aku terpana. Aku memandangi setiap gelombang rambutmu. Aku terhanyut arus melodi. Aku tersenyum. Aku tepuk tangan. Aku mengendalikan perasaan. Aku merelakanmu ditelan pintu.
Dari enam belas lagu yang dimainkan, ternyata tujuh di antaranya kamu yang menggubah.
“Arranger : Yosef Adicita”
Aku orang awam. Aku tak mengerti nada. Aku tak mengerti melodi. Aku memang bisa memainkan Minuet, tapi aku tak cukup sabar untuk menekuni Entertainer. Aku sedikit mampu bermain dengan tuts, tapi aku tak cukup ahli untuk memutarkan satu lagu. Tapi aku sangat menikmati Eclipse. Tidak semua orang memang bakat bermusik, tapi aku percaya semua orang mencintai musik.
Aku kehilanganmu selama pementasan. Kamu tak lagi banyak hadir di panggung seperti dulu. Menggotong cello, menggenggam recorder, atau pun menabuh drum. Kamu bukan lagi pemain, kini kamu seorang conductor. Kamu tidak lagi memproduksi nada, kini kamu memimpinnya. Kamu tidak lagi menghadapku, kamu membelakangiku. Hal – hal inilah yang akirnya membuat aku meyakinkan diri bahwa kekaguman itu telah sirna. Tidak. Tidak sirna. Tetapi berkurang.
Aku merasa ada yang kurang. Aku merasa ada sesuatu yang hilang sampai akhirnya sinar lampu panggung memberikan jawabannya. Seringaimu. Bukan senyum, tapi seringai. Dan tatkala seringai itu terbit lagi diwajahmu, aku yakin perasaan 10 bulan yang lalu masih ada. Aku masih mengagumimu. Dengan caraku. Dengan kadarnya. Dengan alasannya.
Kamu yang menggesek cello. Kamu yang menabuh drum. Kamu yang meniup recorder. Kamu yang menatap partitur. Kamu yang mengayun tongkat. Kamu yang bergoyang. Refleksi dirimu masih sama bagiku. Kesanmu masih sama di mataku.
Eclipse pun berakhir. Satu lagu tambahan yang mungkin telah kamu siapkan untuk penonton usai dimainkan. Satu per satu penonton meninggalkan ruangan. Ada yang menghampiri temannya dan mengucapkan selamat. Ada yang keluar agar dapat bernafas lebih rakus. Aku masih duduk. Dari baris ketiga dari belakang aku menatapmu. Masih dari jauh seperti dulu, tapi tak ada lagi pandang yang saling bertemu. Meski aku yakin kamu telah lupa, bahkan tidak tahu siapa aku. Tapi aku masih ingat seringaimu di mini konser dulu saat matamu menangkap pandanganku.
Di luar langit gelap. Tak ada bintang, bulan pun sepotong. Ia pun tampaknya lebih memilih berselimut awan, biar hujan yang memberi hormat pada Eclipsemu.
Lunar. Bulan. Eclipse. Gerhana. Lunar Eclipse. Gerhana Bulan.
“Meski tampilnya sebentar semoga berkesan di hati kalian”.
Begitulah si MC tadi berkata. Dua jam untuk sebuah gerhana ? Itu lama. Tapi dua jam untuk membulatkan tekad menghampiri dan menjabat tanganmu rasanya lebih lama. Aku tidak menghardik keberanianku. Mungkin belum saatnya aku berkomunikasi secara langsung denganmu. Atau entah mungkin kesempatan itu tak pernah ada karena aku tak pernah membuatnya. Tapi demi hujan yang menurunkan malaikat dari langit, semoga mereka membawanya kembali ke langit untuk disampaikan pada – Nya bahwa ingin sekali waktu dalam hidupku kamu sadar aku ada. Bukan dalam pertemuan yang diatur oleh sahabatku. Tapi sebuah pertemuan yang diatur oleh Sang Pemilik Bulan dan Gerhananya. Dan kalau pun waktu itu tak ada, aku harus menerima bahwa memang kapasitasku hanya mampu mengagumimu. Tak akan lebih. Karena aku mungkin tak pernah berani untuk mendekatimu. Tak akan kurang. Karena aku tak pernah berusaha mengenalmu lebih dalam lewat dunia maya. Sudah janjiku untuk tidak mengenal dirimu lewat jejaring sosial atau sejenisnya. Aku ingin Bulan yang melakukannya.
Lunar. Bulan. Eclipse. Gerhana. Lunar Eclipse. Gerhana Bulan.
Mungkinkah aku akan melihat pendar seringaimu lagi ?

0 comments: