Perpustakaan Milan (MIPA Selatan)

11:01 AM Tameila 0 Comments

Hallo Tuhan,

Kamu lihat cowok lucu di depanku ini ? Matanya sipit, kulitnya putih meski tak seputih bengkuang, dan poninya membuat aku harus mengintip untuk dapat menangkap sinar matanya. Aku lihat dia sejak awal masuk tempat ini. Sebuah ruang persegi panjang yang di dalamnya banyak buku. Aku suka buku, terlebih desain lemarinya yang mengingatkanku pada sebuah film sihir. Harry Potter.

Hai Raqib,

Kamu dengar kan kalau Indah tadi memanggilnya Alex. Sedikit bocoran, katanya TOEFL dia 600. Wow! Bagiku yang hanya bisa cas – cis – cus Inggris untuk mengumpat, skor segitu cukup membelakkan mata. Lebih lanjutnya Indah bilang juga dia pintar. Lebih pintar dari cowok yang aku temui di kantin pagi tadi, Pandu namanya.

Hey ‘Atid,

Mungkin kini kamu mulai menggoyang pena dan membuka buku amalanku. Kamu mulai menorehkan dosa “zina pandangan” di sana. Tapi tak apa, aku terima itu. Tak salah kamu mencatatnya, karena aku pun tak bisa mengalihkan pandangan ini. Apa dayaku untuk melempar tatap ke buku Communication and Culture kalau si Alex masih asyik dengan dunia kimianya di pojok sana ? Aku suka pria yang punya dunianya sendiri. Dari sana lah aku bisa menilai seberapa besar passion – nya untuk hidupnya.

Oh ghost,

Alex kini duduk di depanku. Semakin lama semakin lucu memerhatikannya. Aku anggap ia sedang meracau. Ia menggumamkan beberapa istilah kimia yang tak aku mengerti. Aku pun tak paham apa yang kini merasuki alam sadarnya. Di hadapannya buku – buku tebal dan aku intip ada sebuah grafik atau apa pun itu lambang kimia. Meski payah dalam IPA, aku masih ingat kok lambang itu. Dan oh...ternyata dia baca tentang Biological Process or something like that. Sini sini lebih dekat, lihat tangannya kian lincah garis sana – sini di atas kertas. Aku semakin berdosa karena tidak menyelesaikan tugasku, dan memperpanjang pandangan dosa ini. Tapi kamu setan, aku menikmatinya.

Wahai waktu,

Semakin aku diam dan memerhatikannya, semakin aku penasaran dibuatnya. Menit terbuang akhirnya aku mendengar desahnya. Keningnya mulai berkerut dan poninya tak beraturan. Goresannya semakin tak menentu. Ekspresi wajahnya pun tak secerah tadi. Perlu kah aku menyapanya ? Sekedar menyapa atau melontarkan pertanyaan bodoh. Toh aku rasa pernah mengenalnya dulu meski lupa di mana. Lagipula aku pun tak peduli jika ia menganggapku perempuan bodoh dari fakultas atau bahkan universitas antah berantah. Aku penasaran. Aku rasa pernah mengenalnya. Aku lupa. Aku penasaran. Aku ingin bertanya.

Aku ingin coba. Telapak tanganku mulai basah. Nafasku mulai berat. Detak jantungku mulai tak beraturan. SHIT ! Kenapa jadi salah tingkah begini ?!

Ah, dia mulai membuka MacBook – nya. Apa yang ia lakukan ?

Aku harus berani bertanya. Tanya sekarang atau pulang dengan penasaran. Tanganku basah. Bibirku kering. Jantungku berdegup kencang. Dan....

Dear Jupiter,

Akhirnya aku berani menyapanya. Agak konyol awalnya tapi aku tak peduli. Yang pasti, kini rasa penasaranku telah terobati. Benar aku pernah mengenalnya dulu. Namanya Alex dan lewat EDS (English Debate Society) lah aku mengenalnya. Setelah melewati tebak ini – itu berujung lah penasaranku juga akhirnya. Awalnya aku tebak dia pernah mengikuti lomba di UI, tapi bukan. Lomba bussiness challange, bukan juga. Sampai dia menyebut EDS saat semester satu baru lah kami sama – sama menyeringai. Ekspresinya...mata sipitnya...tawanya...ah Alex..akhirnya aku tahu kapan mengenalmu.

Ya Allah,

Lega sudah rasanya hati ini. Tak ada lagi tanda tanya, tak ada lagi penasaran. Dia kembali asyik dengan dunianya. Saat ku intip apa yang digoreskannya tadi ternyata rumus. Apa pun itu bentuknya aku tak peduli. Kini dia tenggelam lagi dengan rumus, buku, laptop, dan pemikirannya. Mungkin tak berpikir, ia sedang berimajinasi. Dengar lah karena ia kembali meracau. Dan apakah ini berarti waktunya aku pun kembali ke niat awalku ? Tugas. Tugas. Tugas.

*Ctrl + N*

You Might Also Like

0 comments: