“Shall we dance ?”
Alright…lately I’m about crazy in wedding thingy. Not marriage. Just a wedding. Well…I’m ready yet for that anyway.
Semua ini udah berlangsung kira – kira 2 – 3 minggu. White stiletto, peach pink roses, white lily, baby blue wedding dress, white tuxedo, beach wedding party, tap tango dance, and so on. Saya nggak ngerti kenapa tiba – tiba kepikiran tentang pesta pernikahan. Apakah karena sepupu saya ada yang mau nikah? Atau malah karena abis nonton Breaking Down ? Anyway…to be honest satu hal yang bikin saya iri dari film itu adalah “WHITE STILETTO BELLA SWAN” ! For God shakin’…saya nggak iri dia punya suami vampire yang ganteng atau sahabat semacho Jacob, saya cuma pengen sepatunya aja !
Pembahasan tentang film itu nggak sampai keluar XXI aja, tapi sampai masuk ke dalam satu mata kuliah saya. Bukan kuliah tentang “perkawinan”, tetapi tentang “riset pemasaran dan periklanan”. Nggak nyambung memang, tapi saya suka dengan dosen yang menginspirasi sehingga bisa memasukkan banyak hal dalam kuliahnya. Saat itu beliau bilang begini, “untuk apa kalian punya pacar kalau nggak bisa ngasih nilai tambah ? I mean begini, bayangkan hubungan kalian adalah jurnal kas. Ada alur keluar dan alur masuk. Kalau kalian kerjanya cuma ngertiin pasangan doang, yakin deh jurnal kas kalian bakal defisit”.
Kontan sekelas langsung ketawa. Buncahan komentar nyinyir meramaikan kuliah itu. Otak saya ikutan nyinyir, “itu pasangan atau akuntan, kok itung – itungan amat ?”. Di mulut saya ketawa tapi hati saya balik nyinyir, “yakin mau nerima pasangan apa adanya tanpa mendapat “sesuatu” apa pun ?”
Well…here bukan maksudnya materialistis. Butuh makan dan kehidupan yang layak itu udah pasti, tapi apakah “love you just the way you are” saat ini udah nggak laku ? Atau mungkin maknanya yang berbelok ? “Just the way you are” yang dulu mengacu pada pribadi, tapi “just the way you are” yang sekarang arahnya ke dompet.
Saya jadi ingat obrolan dengan teman sambil nunggu hujan reda. Saya iseng nanya, “gimana caranya lo tahu pasangan atau seseorang adalah orang yang tepat buat lo ?”. Sambil membebaskan asap rokoknya, ia cuma jawab, “simpel, Ta, saat lo benar – benar ingin hidup dengan dia”. Teman saya yang lain jawab begini, “karena gue sadar dia nerima gue apa adanya”.
Sounds “blah” sih…tapi kalau dipikir – pikir mungkin ada benarnya juga. Real couple itu yang mau nerima di saat susah dan senang. Perhatiin aja ikrar pernikahan di setiap agama, pasti nggak jauh – jauh dari janji setia menemani di kala sakit dan sehat. We only need a friend to dance in the rain. No matter orangnya kayak gimana, as long as he / she is a good dancer in the rain, kita pasti akan menikmati hujan itu.
Sama halnya seperti tweet seorang teman saya, “raining, remembering me when i accompanied you”. Dia nggak peduli hujannya bagaimana, mungkin saat itu dia basah kuyup, tapi yang jadi fokusnya adalah “accompanied” – nya. Menemaninya. Mungkin ini juga alasan Tuhan untuk menciptakan kita berpasang – pasangan. Dia nggak mau kita merasa sendiri saat Dia menciptakan kelabu. Dia nggak mau kita kedinginan saat air tercurah begitu banyak dari langit. Yang terpenting, Dia nggak mau kita meratapi saat seharusnya bersyukur. Coba bandingkan berapa sering kita mengeluh ada hujan dibandingkan kita harus bersyukur ?
Sayangnya Tuhan begitu absolut untuk seenak hati mengganti – ganti partner dansa kita. When the ground is a same dance floor, belum tentu partner dansa kita adalah orang yang selalu sama. Kadang dipasangkan dengan orang yang menyebalkan. Kerjaannya ngeluh terus kayak saya. Kadang juga dipasangkan dengan yang lihai melangkah makannya kita nggak ngerasa basah kuyup. Mungkin maksud Tuhan biar kita memilih, mana yang asyik di ajak hujan – hujanan. Dan yap…wedding adalah waktu kita bilang, “God, I think he / she is my partner”.
Saya nggak tahu banyak tentang wedding atau pun marriage. Tapi dengar lagu – lagu tentang wedding dan atmosfirnya, rasanya saat wedding adalah keputusan kita di hadapan Tuhan untuk menjadikan seseorang itu partner kita. Teman hujan – hujanan.
Dari sini saya sadar kalau gagal jangan diartikan jatuh, makannya terasa sakit. Saya mulai bilang kalau gagal artinya kamu kehujanan sendirian. Kamu hanya butuh istirahat untuk bisa sembuh lagi. Kalau kamu jatuh dan sakit, kesannya fatal. Ada yang patah di sana. Ada yang rusak sehingga mungkin nggak bisa diperbaiki.
Masalahnya, kalau istirahatnya kelamaan yah bakalan males ke depannya. Coba deh kalau sakit dibawa tidur terus, pasti mau mulai aktivitasnya lagi males, kan ? Ya kayak saya ini, habis kehujanan sendirian terlalu lama istirahat. Mau beraktivitas lagi males. Jangankan untuk beraktivitas, ibaratnya mau mulai pakai baju aja udah lupa caranya. Nah, gimana mau nari lagi ? Tapi ya udah lah yah…mungkin memang kata Tuhan masih sakit dan belum boleh kena hujan lagi kali. ( yang kalimat terakhir adalah pembenaran :D ).
0 comments: