Easy Come, Easy Go
“Gue males banget deh mau rapat,” keluhku, “gue rapat nggak, ya ?”
“Rapat, Ta,”
“Aaaahhh...males banget,” balasku meringis, “kasih gue satu alasan kenapa gue harus rapat ?”
“Komitmen,” jawabnya singkat dan mantap.
Dahiku mengernyit.
Kalau boleh izin, coba saya mau ikat rambut dan menegakkan duduk dulu. Kok tumben amat kayaknya topik ngedumel saya kali ini agak berat. Setelah lama nggak nulis, ujug – ujug mau “nyampah” tentang komitmen. Do I really know “commitment” ? Setelah sadar sudah berkepala dua dan mencoba untuk flash back, ternyata sudah banyak komitmen yang saya jalani, baik yang lunas terbayar hingga kredit macet di tengah jalan.
Teman – teman saya sering bilang, “yang penting itu komitmen kalian” atau sering juga misuh – misuh,”ah, gimana sih jadi orang nggak komit banget !”. Saya nggak mau kalah dong ikut – ikutan melafalkan kata “komitmen”. Jurus sakti itu saya keluarkan waktu regenerasi HMJ saya. Dengan mantapnya saya bilang, “kami ( ketua HMJ dan saya ) butuh komitmen kalian dan orang yang satu visi – misi dengan kita. Kehadiran kalian lah yang membuktikan komitmen kalian di sini”.
Saya pernah baca status Facebook seorang teman jurnalis yang cukup kritis. Kurang lebih inti statusnya adalah “sesempit itu kah sebuah komitmen diartikan dengan sebuah kehadiran ?”. Hmm...kalau saya yang ditanya gitu, simple answer saya bakalan balas, “itu nanya apa nyindir ?” Karena jujur deh, most of us selalu mengaitkan komitmen itu sendiri dengan keberadaan fisik kita di suatu lingkungan, mau kelompok kek, organisasi kek, bahkan di kelas sekalipun. Berapa orang sih yang menilai komitmen itu dari sumbangsih pemikiran yang keren daripada sekedar nongol and constribute nothing ? Cukup kah dengan kelihatan hidungnya, ada suaranya, dan ikutan haha – hihi, disebut “ada” ?
Saya nggak bilang diri saya ini brankas ide – ide jitu solutif. Justru saya juga sering datang rapat dan kerjaannya cuma bikin konsentrasi orang – orang buyar. Ngelenong nggak karuan. Ngajakin ngegosip. Terkadang saat mood sedang tak setubuh saya lebih baik mingkem ( syukur – syukur sih ada cemilan yang bisa dimakan ). Kalau sudah begitu, saya cukup tahu diri berada di golongan orang yang useless. Jadinya pas ditanya atau diminta pendapat cuma jawab sekenanya. Itu pun nggak nolong dan nggak mutu.
Lucu juga jadinya kalau komitmen diartikan sebatas kehadiran fisik. Nah, kalau gitu gimana dong jadinya teman – teman saya yang long distance relationship ? Apa yang mereka yang LDR – an itu menganggap pacarnya sebenarnya nggak ada ? Atau saat mereka merasa bahagia memiliki seseorang sebenarnya cuma sugesti aja ? Toh kenanya mereka “berhubungan” dengan SMS, BBM, Twitter, pokoknya media. Bukan dengan orang. Makannya di kalangan teman – teman saya, LDR suka jadi jokes yang agak parah. Kalau hati nggak setebal baja, jaminan deh malam – malamnya pasti nanya gini ke pacarnya, “sayang, kamu nggak macem – macem kan di sana ?” #tsaaaahhh ~.~”
Sayangnya nggak sedikit juga yang sayonara duluan sebelum komitmen itu lunas, bahkan sebelum memulai komitmen. Awalnya janji mau maju bersama ( kayak kampanye petinggi – petinggi negara gitu, kan ), berkonstribusi secara fisik dan psikologis, siap berkorban, dan segambreng bumbu – bumbu manis lainnya. Atau saat kita memulai komitmen dengan seseorang. Di awal janji mau setia, ngajaga, blah blah blah. Ada seorang teman yang bilang begini juga, “biar jauh kan yang penting modalnya percaya. Selama dia bisa dipercaya, ya tandanya dia masih komit sama gue”. Tapi ujung – ujungnya tetap aja mereka galau kalau dinyinyirin gini sama saya, “yakin di sana dia makan berdua sama temennya ? Yakin pamit kerja nggak jemput sana – sini dulu ?”.
Makannya saya salut dengan mereka yang mampu membayar habis cicilan komitmen. Apapun bentuk komitmennya, mereka keep in track untuk melunasi tagihan itu. Euforia atau semangat “menjaga” itu nggak ada habisnya meski mereka tetap harus beristirahat di tengah jalan. Walau pun mereka mengeluh “capek” atau “gila, gue udah nggak kuat”, tapi toh ujung – ujungnya itu semua cuma keluhan manusiawi yang sesaat.
Kalau tanya saya, “Git, kalau komitmen lo gimana ?” Wah saya bakalan balik nanya, “komitmen apa, ke mana, dan ke siapa dulu nih ?” Jujur – jujuran aja, satu komitmen yang dari dulu nggak pernah berhasil dibayar lunas adalah diet. Nggak tau setan apa yang selalu bikin saya ngutang sama yang namanya “diet”. Hari ini janji mau makan serat, eh yang dimasukin lemak. Malamnya janji besok sore mau lari di GSP, eh malah nangkring di coffee shop.
Sebenarnya nggak hanya sama yang namanya “diet”, oknum D lainnya yang sering saya khianati adalah “dompet” dan “deadline”. Wajar anak kost hidupnya agak miris di akhir bulan, tapi agak nggak wajar kalau tengah bulan auranya udah kere. Tapi itu lah saya. Setoran awal bulan sukanya bikin kalap kalau udah nginjek lantai toko buku. Janji cuma beli satu buku yang harganya nggak lebih dari 50.000, pas keluar dari toko tengok plastik d dalamnya udah ada 2 – 3 buku. Nggak usah tanya pengeluarannya berapa, yang pasti habis itu saya berjanji untuk irit sepanjang tiga minggu ke depannya.
Janji juga untuk nggak menjadi last minute person. Sejujurnya I’m already sick being the one who finish something in very very very last minute. Tapi Gusti Rabbi, nggak tau kenapa saya kok pinternya kalau udah mepet deadline ? Padahal saya sering berdo’a, “ya Allah...mbok ya ide tuh datangnya jangan tengah malam. Ini orang – orang pada istirahat saya kok malah masih melototin komputer. Mata udah perih, leher pada sakit, punggung bengkok, kenapa wangsitnya baru datang ?”
Mungkin kalau saya jadi Tuhan, saya bakalan bilang begini kalau ada hamba yang sekurang ajar saya, “heh elu udah syukur gue kasih ilham buat nugas. Sekarang ngaca dulu, komitmen lo dengan gue saat lo masih seonggok daging mana ? Apa lo udah menjalankan komitmen lo untuk patuh saat gue tiupkan ruh waktu itu ? Ngaca wooooyy..jangan nuntut aja bisanya”.
Tapi untungnya Tuhan saya baik banget. Dia nggak suka ngelabrak saya, bahkan kalau telat menjalankan perintah – Nya, saya masih aja dikasih kemudahan. Dia selalu punya cara keren untuk mengingatkan, “hello, kamu punya komitmen lho dengan Aku. Ayo ingat janjimu dulu di perut ibumu. Ayo ingat dua kalimat yang selalu kamu lafalkan usai sujud. Ayo ingat bacaan yang selalu kamu ucapkan usai memberi dua salam ke malaikat di kanan – kirimu. Ayo ingat bisikan tekad yang selalu kamu ikrarkan dalam hati. Itu semua janjimu pada – Ku, bukan ?”
Cara – Nya menagih janji bermacam – macam. Ada yang diingatkan dalam bentuk kehilangan sebagai tanda karena tidak bisa komit dititipkan sesuatu. Ada juga yang ditambah rejekinya sebagai rambu konsistensi komitmennya. Wah kalau begini jadinya, saya sadar saat saya kehilangan sesuatu nggak seharusnya nyalahin orang lain atau ngambek sama Tuhan.
Seringnya saya ngomel kenapa saat udah benar – benar berkomitmen, eh malah diambil, dijauhkan, dipisahkan gitu aja. Kesannya kayaknya Tuhan mempermainkan tekad kita, bukan ? Udah mau setia sama satu orang, eh ketahuan belangnya. Udah mau komit sama satu instansi, eh ketahuan bobroknya. Udah mau dealing sama satu janji, eh ada aja yang bikin ragu untuk bilang “oke”.
Untungnya masih ada malaikat yang mau ngebisikin saya, “ngaca dulu, Ta, komitmen kamu sebesar apa ? Udah baik ? Udah konsisten ? Introspeksi diri dulu kali, kalau udah ngerasa oke mungkin ini yang terbaik dari Tuhan. Dia tahu komitmen itu sesuatu yang berat dan Dia juga tahu kapasitas kamu. Mungkin Dia nggak mau kamu membuang waktu dan pikiran dengan komitmen yang nggak berguna nantinya. Dia pun melindungi kamu dari golongan yang nggak konsisten dengan janjinya. Jadi sebelum lebih jauh kamu terikat, lebih baik Dia memisahkannya lebih dulu dari kamu. Mungkin juga karena Dia tahu kamu nggak punya daya untuk keluar dari sana saat sudah tercebur”.
Wah kalau begitu nggak semestinya juga dong ya saya menyesal nggak bisa komitmen sama diet, dompet, dan deadline ? Mungkin Tuhan begitu paham saya nggak bisa mikir dan tidur saat kelaperan. Dia pun tahu seberapa jatuh cintanya saya sama buku, jadi sah – sah aja seharusnya saya gesek kartu debet di kasir. Tuhan juga pengertian kesibukan saya, so wajar lah kalau paper kelarnya satu jam sebelumnya atau digarap larut malam. Hauahahaa...keluar deh ini self defense – nya. Tapi toh kita harus mengembalikan semuanya ke Tuhan, bukan ? ( yang ini pembenaran lagi, saudara – saudari..hehe..)
Eh, tapi kalau saya mau mendengarkan baik – baik si malaikat ini, nggak seharusnya saya masih bertanya – tanya kenapa ada orang yang datang dan pergi seenaknya ke hati orang. Mungkin ini caranya Tuhan menguji hati kita dengan mereka. Cukup kuat untuk berkomitmen apa nggak. Karena Tuhan tahu diri kita dan mana yang terbaik, saat menurut – Nya nggak match ya dijauhin deh orang itu dari kita. Harusnya mulai sekarang saya yakin Tuhan itu cuma nggak mau kita buang waktu di tempat dan bersama orang yang salah. Jadi, yeah...kalau kalian menemukan orang yang easy come – easy go ke kehidupan kalian, yakin aja orang itu nggak bisa berkomitmen dengan kalian. So simple, tapi bisa bikin iris urat nadi juga sih sebenarnya. Eeeaaaaa~ *giggling*
0 comments: