Perfect Packaging

6:54 PM Tameila 0 Comments

Pagi tadi saat saya bangun tidur, luar biasa sakitnya badan ini. Malamnya saya pulang jam 2 usai menonton konser amal yang digelar oleh FK UGM. Nama charity concert itu LUMINA, yang kepanjangannya kalau nggak salah “Lets Save Our Motherhood …..” ( isilah titik – titik itu sendiri ). Meski saya lupa tagline – nya apa, kalimat panjang itu secara proaktif mengajak kita untuk mendonor darah. Berdasarkan penelitian, memang ketersediaan darah di Indonesia masih kurang dari yang dibutuhkan. Mereka, ibu hamil, pasien gagal ginjal, and those who need blood, masih kesusahan untuk mendapatkan supply darah.

Konser amal itu dimeriahkan oleh Frau sebagai pembuka, lalu Abdul and The Coffee Theory dan yang terakhir adalah Afgan. To be honest, saya merasa kurang puas menikmati Abdul and The Coffee Theory. Secara waktu itu dengan uang Rp 15.000,- saya bisa orgasme nonton D’Cinnamons, tapi yang ini saya bayar Rp 125.000,- cuma mendekati klimaks doang. Bagaimana pun juga, uang sudah berubah jadi tiket. Saya nggak mau misuh – misuh sementara ketiga teman kost saya fly so high waktu Afgan keluar dengan T-Shirt putih dibalut blazer hitamnya.

Outer

Well I thought panitia LUMINA saved the best for the last. Mereka cukup tricky ketika mengeluarkan Afgan di akhir, yang mana pada akhirnya juga membuat saya tahu kalau mayoritas audiens di sana sebenarnya mau lihat cowok berkaca mata itu. Yap, they are Afganisme. Actually nama itu bagi saya totally konyol. It seems like saya mendengar sebuah negara di Timur sana, Afganistan.

Saya punya teman seorang penggila Korea, okay lebih tepatnya K – Pop. Sebut saja nama boyband itu Super Junior ( gw nggak berani lagi bilang mereka adalah cowok cantik yang nari – nari dengan baju ketat..opps ! Did I do it again ? :D ). Teman saya ini kalau udah liat apa pun yang mengindikasikan Super Junior, bawaannya jerit – jerit. Yeah…sama halnya kayak Afganisme semalam. Lucu juga lihat lautan perempuan jerit – jerit nggak karuan padahal si Afgan cuma diem dan senyum di atas panggung. Sumpah, iris telinga saya, waktu itu si Afgan diem. Berdiri. Nggak nyanyi. Cuma mandangin audiens. Okay…he was smiling. Tapi ooohh Gooodd..itu semua nggak sebanding dengan jeritan perempuan yang udah kayak dikejar – kejar deadline diskon 90% di Centro ! For Shake !

Iseng saya nanya sama mbak sebelah kenapa dia teriak – teriak. Dengan semangatnya, dia bilang “Gitaaa…kamu lihat dong, itu ganteng banget. Putih. Lesung pipinya..aduuuhh..suaranya juga manis. AFGAAAAANNN !” Ya, benar, right after that dia teriak – teriak lagi. At that time, saya mikir kalau ternyata untuk jadi artis di Indonesia, at least bisa punya banyak penggemar, nggak harus pinter. Cukup jadi putih, tinggi, berbaju bagus, postur oke, then wuuuzzz…yakin deh mereka butuh kaca mata hitam untuk bisa menikmati indahnya jalanan Malioboro.

Sebenarnya agak nggak adil juga kalau saya membicarakan Afganisme doang. Toh pada akhirnya pun saya sadar, saat saya melihat si Abdul tampil, saya yang jerit – jerit kayak orang gila. Baru inget kalau mbak sebelah saya juga sempat nanya kenapa saya jerit – jerit. Waktu itu saya jawab, “lihat deh mbak, dia lucu banget. Tembem. Endut. Suaranya bagus lagi. Gilaaa…looks so mature gitu !”

Nah, jadi sebenarnya untuk melejit di Indonesia itu harus yang berpostur oke atau yang “berlebih” dikit pun masih diterima ? Atau mungkin lebih tepatnya pertanyaan saya seharusnya adalah “What should we be to be liked, to be adored, and to be loved, sampai akhirnya ada orang yang bilang “maaannn..perfecto !” ?”

Inner

Siangnya saya iseng – iseng buka Kaskus. Padahal harusnya saya bikin paper The Management of Uncertainty and Anxiety, tapi toh kayaknya si bule Perancis teman sekelompok juga udah keduluan BT kemarin, jadi yeah maaf ini kalau saya jadi kebawa males juga ngerjainnya ( -- yang ini alibi saudara – saudara. Menyalahkan keadaan adalah cara terbaik untuk tidak merasa bersalah sebagai pemalas. Hehe… :D ).

Saya nemu salah satu thread yang mengkomparasikan antara “cewek” dan “wanita”. The point of that thread adalah membahas mana “betina” yang pantes diperistri mana yang cuma pantes dijadiin pacar. Dari listnya, saya merasa kok kalau jadi istri nggak harus sempurna, ya ? I mean, dari semua komentar yang ada di sana almost said that being wife nggak harus glamour ( bahkan nggak usah cantik – cantik amat supaya aman ), tapi lebih kepada inner beauty, such as pinter ngatur uang, berpikiran dewasa, bahkan rajin beribadah. Beda dengan indikator “pacar”, dia harus lah cantik ( supaya bisa dibanggain ke teman – teman alasannya ), menarik, pokoknya it’s all about appearance.

Dari sini ego saya sebagai manusia muncul, then I ask to my self, “mungkin nggak sih suatu hari nanti gue dapet suami yang ganteng, kaya, rajin ibadah, pinter, bla bla bla”. Yang pasti, agaknya Tuhan di atas sana malah menertawakan saya. Lha wong gimana mau dapat suami yang sesempurna itu, kalau sayanya aja masih begini ? Tumbuh nggak ke atas tapi ke samping, shalat di akhir waktu, pakai baju masih sembrono, ngomong seenak jidat, mikir masih suka mesum, pokoknya jauh dari ukuran sempurna.

Tapi yang namanya saya, nggak mau dong disalahkan gitu aja. Nah jeleknya saya, saya selalu cari excuse. Excuse saya saat ini adalah “toh nggak ada manusia yang sempurna, bukan ? Jadi apa sebenarnya someone in perfect packaging itu nggak ada ?”

Ada. Ya, mereka ada. Mereka yang sempurna itu ada, tapi sayangnya nggak akan pernah bisa dimiliki. Entah ini maksud Tuhan baik atau emang selo “ngerjain” hamba – Nya, yang pasti saya positive thinking aja sama Yang Punya Segalanya kalau apapun yang pernah Dia “cicip” – kan untuk hamba – Nya semata – mata untuk ngasih pelajaran.

Saya jadi ingat kata – kata seorang teman yang waktu itu sedang marahin saya. Waktu itu dia bilang begini, “cowok yang lo anggap sempurna dunia – akhirat itu hobinya selingkuh. Alim, pinter, tapi hobinya ngoleksi cewek !” Ouch ! That hurts but that’s true. Someone perfect yang pernah saya miliki memang seperti itu. Pokoknya pas saya temuin ke orangtua saya, udah deh bakalan jadi mantu idaman. Tapi nyatanya toh nggak seperti yang didambakan, bukan ?

Yap, life is not a fairytale. It’s not always ended up by happy ending. Hidup ini memang sama kayak film yang punya twist, tapi bedanya hidup terasa lebih sering dapet twist yang nggak diharapkan. Entah kehilangan, kekalahan, kecurangan, dan apa pun itu. Atau malah mungkin sebenarnya it’s balance, tapi kitanya aja sebagai manusia yang jarang sadar kalau kebahagiaan adalah twist itu sendiri ? Seringnya mungkin malah cuma dianggap selingan yang toh pada akhirnya juga sad ending.

Sebagai pecinta fairy tale, sudah semestinya saya sadar kalau pangeran berkuda putih itu nggak bakalan ada. Cowok yang berperut kotak – kotak, mata biru berbinar, senyum tersungging dari bibir tipis, aroma musk, dan badan tegap cuma ada di film doang. Yang ada cuma pria yang mencoba untuk memenuhi kebutuhannya. Kok nyinyir banget ya kedengarannya ? Tapi memang benar kok, apalah artinya cinta kalau bukan kebutuhan ? Toh memang cinta adalah kebutuhan itu sendiri. Kebutuhan untuk dilindungi, disayangi, dihormati, dilayani, dinafkahi, dipatuhi, diberi, apapun itu. Nggak usah sok idealis cinta itu suci dan bukan kebutuhan, sadar tidak sadar cinta itu afeksi yang dari dulu oleh Eyang Maslow sialnya udah ditempatkan sebagai salah satu kebutuhan manusia. Nah, sekarang tinggal kitanya yang mau bagaimana cara memenuhi kebutuhan itu dan dengan sesuatu yang seperti apa ?

Teman saya sering menyindir saya begini, “ah pantes lo kelamaan jomblo, lo sih nyari yang ada apanya, bukan apa adanya”. Lho memangnya saya salah kalau mencari seseorang itu punya apa ? Saya perempuan, butuh seorang imam yang bisa menanggung hidup saya dunia – akhirat. I mean not as a spoiled childish woman, tapi seorang pria memang harus punya leadership, kerjaan yang settle, responsibility at least untuk dirinya sendiri deh. Kalau untuk ngurus diri sendiri aja nggak becus, bagaimana mau ngurusin saya nanti ? Atau malah fungsi istri adalah mengurusi pria karena mereka nggak bisa ngurus dirinya sendiri ?

Tuh kan…ujung – ujungnya balik lagi ke pertanyaan, “sebenarnya saya mau memuaskan kebutuhan ini dengan apa dan bagaimana ?” Well…sampai saat ini saya udah tahu mau yang seperti apa, tapi kok saat dipikir – pikir cara untuk memenuhinya agak berat juga, ya ? Kenapa ? Yeah rasanya “benda pemuas” saya ini terlalu sempurna. Harus ini, harus itu, tapi kalau saya disuruh untuk menjadi ini – itu supaya dapat yang sempurna kok agaknya males. Rasanya kayak nanti bakalan nggak dicintai apa adanya. BLAH !

Lucu juga kalau inget – inget all stories about wedding. Gini – gini juga saya itu pelipur lara orang – orang galau, makannya banyak koleksi cerita mereka yang dalam masa “pencarian”. Mostly mereka, yang sekarang udah menikah or at least sedang merasa bersama orang yang benar, pada akhirnya kembali atau bersama dengan orang yang nggak sempurna. Saya suka jahil godain mereka begini, “katanya nggak mau sama yang A”, “katanya kalau dia B lo begini….”, apa pun itu deh yang membuat mereka harus menjilat ludahnya sendiri. Kalau sedang sial, saya pun kena boomerang, paling sering diejek gini, “manaaa dulu yang katanya Mr. Right ? Yang katanya “the one you’ve been searching for selama ini”…mana ?”

Kalau sudah begitu, saya cuma bisa bilang “kampret” dan berkali – kali menyadarkan diri that was such a good dream yang nggak akan pernah jadi kenyataan saat saya membuka mata. Bangun dari tidur. Menghadapi realita. The perfect one cuma ada di dalam mimpi dan nggak akan pernah ada di kehidupan nyata. Kadang kita nemunya kan fisiknya oke, tingkahnya amit – amit. Seringnya nemu yang innernya oke, luarannya mikir dua kali. Jujur aja deh…sebagai manusia, pikiran untuk komparasi dan menyelaraskan luar – dalam pasti pernah melintas, bukan ?

Padahal bukan kah dari dulu kita sudah tahu kalau di dunia ini tidak ada yang sempurna ? Kesempurnaan hanya milik Tuhan dan memang hanya Dia yang patut dikatakan sempurna. Bahkan Daniel Radcliffe pun yang selama ini saya stempel sebagai the perfect guy ternyata nggak sempurna. From looks we all know that he’s so damn perfectly sexy ( apa mungkin cuma kata saya doang ? ), but his attitude ? Eits…nanti dulu. Maka dari itu, saya suka labil kalau ditanya begini sama teman, “lo mau, Ta, punya suami kayak Daniel Radcliffe ?”

Mau dari atas...

dari samping...

meskipun dari belakang...

apalagi dari depan...

HE'S PERFECTLY CHARMING !!!

Do I ? Apakah saya benar – benar mau menghabiskan hidup dengan pria sesempurna Daniel Radcliffe ? Well…I don’t think so. For me…kesempurnaan itu cuma dalam mimpi and when I hold that in my reality, it means a warning to feel lose. Ketika kita menginginkan sesuatu atau seseorang yang sempurna secara tidak langsung memaksa kita untuk sempurna juga, padahal everything and everyone has its own limit. Kalau ketinggian capek juga ngejarnya. Bukannya nggak mau usaha, tapi mungkin Tuhan sudah memporsikan demikian untuk kita. Mungkin yang seharusnya ditingkatkan bukan usaha untuk sempurnanya, tapi bersyukurnya supaya bisa merasa sempurnya.

Simply said, “the perfect packaging probably just too good to be true”.

You Might Also Like

0 comments: