Life After 5 Years

2:49 AM Tameila 3 Comments

Kalau orang bilang “Time is Money”, saya bakalan bilang “Time is Uncountable”. Jam yang biasa kita pakai atau nempel di dinding bukan lah waktu yang sesungguhnya. Waktu yang sesungguhnya adalah ketika saya sadar sudah sejauh mana saya tumbuh, berkembang, berubah, terbang, jatuh, bangkit, berlari, dan melesat. Detik, menit, dan jam hanya aksesoris yang mengingatkan kalau waktu nggak bisa mundur, maka lahir lah pepatah “the show must go on”.

Waktu juga rasanya kurang adil kalau disamakan dengan uang. Karena hari ini Rp 40.000,- saya nggak ada apa – apanya dibandingkan kebersamaan yang berlangsung selama 4 jam. Okay, it was supposed to be 5 hours, tapi yang namanya Indonesia jam karet menduduki posisi teratas untuk hal yang patut dimaklumi. Dan saya nggak setuju kalau each hour moment itu dihargai dengan Rp 10.000,-. Definitely no !

Untuk ukuran sebuah reuni 4 jam mungkin waktu yang singkat. Mendengar angka 4 mungkin beberapa orang bakalan teriak, “hell yeah..gw dapet apaan dari 4 jam ? Sebentar banget !”. Kalau aja ada orang yang ngomong gitu depan hidung saya sekarang, dengan senang hati saya mau kok berprofesi jadi dukun 1 menit demi nyempot air ke mukanya. Then I’ll say...”poor you !”.

Poor them ?

Ya ! Kasihan mereka yang menganggap 4 jam adalah waktu yang sebentar dan mengeluh nggak dapat apa – apa. Mau bukti ? Yepp..saya bersedia jadi bukti hidup kalau reuni 4 jam udah mampu ngasih banyak hal, mulai dari surprise kecil sampai yang bisa bikin teriak dalam hati, “anjeeeng, jadi selama iniiii....”. Hauahahaa...but that’s fact ! And with my whole love..I’m gonna tell some facts yang bikin otak gw lagi – lagi yelling “gila ! Gila ! Gila !”.

5 tahun mungkin waktu yang sebentar. Ada beberapa juga itu adalah waktu yang lama. Biasanya yang bilang lama adalah dua orang atau lebih yang selama 5 tahun nggak pernah ketemu. Prolognya, “iihh..ya ampuun..udah lama banget nggak ketemu. Berubah lo ya sekarang”. Bisa ditebak, kalau cewek diiringi dengan cipika – cipiki. Kalau cowok, berbagi rokok atau paling banter tepuk – tepuk dengan gaya jantan mereka.

But no matter ritual apa yang mengiringi prolog itu, biasanya perubahan yang pertama kali bakalan diulas adalah perubahan penampilan. Yang dulunya layu, jadi subur, atau kebalikannya. Yang dulunya tanning ( well..saya nggak mention “kulit gelap” ya..ups ! I just did it ! ), simsalabim jadi bening. Yang dulunya setinggi tongkat, tumbuh jadi sepanjang tiang. So many changes happened. Kesannya physicly banget, ya ? Memang benar. Manusiawi bukan ketika seseorang dinilai dari fisiknya dulu ? Lahir lebih mudah dideteksi daripada batin, right ?

Lima menit berikutnya perubahan status mulai diendus. Cara nyinggungnya juga macem – macem, misalnya “eh gila, lo udah married ? Bini / laki lo siapa ? Orang mana ? Udah punya anak ?” atau “eh siapa cowok / cewek lo sekarang ?”. Kalau yang udah punya pasangan, jawabannya begini “cewek / cowok / laki / bini gue si bla bla bla...anak gue bla bla bla” dan mendongeng lha mereka tentang kehidupan romantismenya. Buat yang single ( no jomblo ), biasanya jawab sambil cengengesan ( entah itu ketawa miris, nggak peduli, atau keduanya ) “cowok / cewek mana ? Kagak punya gue”. Epilognya ? Ada yang “nakal” minta kenalan, mengalihkan pembicaraan, atau malah curhat. Just like what I did.

Actually saya agak jengah kalau dibilang curhat ya. Eventhough kenyataannya yang saya lakukan adalah curhat, saya nggak mau dibilang ini curhat. ( Pokoknya nggak mau ! ). Saya lebih senang dibilang sharring. Berbagi. Dan menyenangkan rasanya ketika kita melakukannya dengan seorang mantan yang sudah lama nggak ketemu, nggak ngobrol, dan hmm..bisa dibilang “cerai” – nya dulu agak absurd. Heheheheee... :D

Saat anak – anak asyik askutikan dan beberapa lainnya kumpul dengan gank mereka waktu SMP, saya asyik berbagi ( bukan curhat ) dengan..emm..mantan. ( to be honest agak nggak enak sebenarnya nyebut dia mantan, jadi sebut saja dia adalah teman – memang sekarang kenyataannya begitu, bukan ? ). Surprisingly...kita nggak pernah seterbuka ini sebelumnya. Sambil duduk di atas lantai dan dia memainkan kameranya, meluncur lah berbagai cerita. Mulai dari kegoblokan jaman masih pacaran dulu, masa “pencarian” masing – masing, sampai dia cerita tentang hubungannya sekarang dan saya cerita tentang err...( agak males nyebutnya ) hubungan yang terakhir.

To be honest..saya nggak punya kata – kata yang tepat untuk menggambarkan betapa kita akrabnya saat itu. It felt like “lo cerita sama temen yang ngerti lo. Tanpa lo harus banyak ngomong dia ngerti apa yang lo rasain dan memberikan feedback yang lo harapkan. Dan luar biasanya, teman itu udah lama banget nggak ketemu sama lo”. Saya nggak tahu ungkapan barusan apakah cukup untuk menggambarkan perasaan saya saat itu apa belum. Saya nggak peduli. Yang pasti waktu adalah saksi abstrak kita.

Waktu pula lah yang akhirnya memberikan jawaban setelah 6 tahun kalau “pria-di-balik-helm” itu adalah dia. Ya, dia si mantan, dia si teman berbagi malam itu, dia si “pria-di-balik-helm”. Singkat cerita begini, dulu saya pernah penasaran sama cowok yang cuma senyum dari balik helmnya. Adalah Arief yang dulu main ke rumah diiringi dengan seorang teman yang nggak mau turun dari motor dan nggak mau lepas helm. Dulu sih saya dikenalin dengan “teman-berhelmnya” itu siapa gitu namanya. Dan saat itu dia cuma senyum dari balik helm. Alasannya dulu Arief bilang temannya pemalu. Dan malam ini saya dapat jawaban jujurnya. Sesungguhnya, bukan malu, tapi memang “pria-helm” itu hanya ingin main ke rumah saya, tanpa harus saya mengetahuinya. Jadi sudah ada kesepakatan sebelumnya di antara mereka berdua. For shake ! Bloody idiot ! Konyol abis, dan kontan saya langsung menjerit nggak karuan. Unexplained deh saat kita tahu jawaban asli dari silly little secret yang selama 6 tahun di keep dalam – dalam. Pasalnya saya saat waktu dulu terkagum – kagum sama senyum di balik helm itu ( believe it or not, I wrote it in my diary ) dan ternyata orang itu adalah DIA. *sigh*

Penampilan udah dibahas, status juga udah diulas. Mulai beranjak ke selanjutya adalah perubahan sikap. For some people yang dulunya “preman”, ada yang masih melestarikan kegarangannya. Tapi nggak sedikit juga yang udah insyaf. Atau beberapa yang dulunya enerjik abis, jadi semakin enerjik atau jinak – melunak. Biasanya yang jinak – melunak ini udah pada married atau memang dari sononya udah trained well kejiwaannya. ( kok sounds rude, ya ? ).

Salut saya hujani buat seorang teman yang tadi pas reunian bawa anak. Demi segala boneka saya yang udah nggak dijadiin korban main “ibu – ibuan”, saya nggak kebayang di umur segini udah punya dua anak. Ngasuh mereka. Dan emm..dengan berbagai ritual keibuan yang harus dijalankan. Nggak kebayang deh. Makannya tadi seneng banget pas makan lihat seorang teman yang dengan sabar mengasuh anaknya. Sumpah lucu abis anaknya. Sampai saya nggak nafsu makan, alih – alih sibuk ngegendong dan nyiumin bocah itu. Dan lihat ibunya ? WOW ! Saya masih salut dengan dia. Saya nggak bilang menikah dini adalah prestasi yang membanggakan, tapi menjadi seorang ibu di umur 20 ( di saat teman – teman lo sibuk cari pasangan, mengejar obsesi, dan melebarkan telapak tangan demi menggenggam dunia, tapi dia malah berusaha sebaik mungkin membangun pondasi kuat untuk anak – anaknya ) adalah sesuatu yang luar biasa.

Ada lagi teman saya yang sebentar lagi mau jadi bapak. Dengan polosnya saat evaluasi tadi dia bilang, “eh do’ain ya...seminggu lagi lo pada bakalan jadi om dan tante. Bini gue bentar lagi melahirkan”. Hati saya langsung mencelos. Dari binar matanya, saya tahu dia bangga. Dari “Amien” – nya yang sepenuh hati saat kami mendo’akan untuk kelancaran persalinan istrinya dan keshalihan anaknya nanti, saya percaya dia adalah seorang yang bertanggung jawab atas pilihan yang ditempuhnya di umurnya sekarang.

Ya, semuanya memang pilihan. Pilihan untuk berubah menjadi seperti apa, pilihan untuk menempuh jalur hidup yang mana, dan pilihan untuk menjadi siapa. Waktu hanyalah atribut dari Tuhan sebagai alarm bahwa kita nggak boleh diam, stagnan, dan jalan di tempat. Bukan kah orang yang beruntung adalah orang – orang yang menjadi lebih baik setiap harinya ? Dan bagi saya, ke – “lebih baik” – an itu nggak dinilai dari seberapa bergengsi kerjaan kamu, seberapa oke pasangan kamu, dan seberapa perlente penampilan kamu. Alright...mungkin 3 hal barusan bisa menjadi tolak ukur, tapi saya yakin orang akan lebih appreciate sama kamu ketika kamu responsible, proud, and stand for what you believed and choosed.

Thanks for all friends yang malam ini secara tidak langsung memberikan banyak pelajaran buat saya lebih dari apa yang saya tulis. Syukur pada Tuhan yang menyelipkan sepenggal hikmah di Ramadhan ini.

And there it was...life after 5 years. Temaram lampion, petikan gitar, gelas minuman, dan blitz kamera yang menyaksikan kehidupan kami sebagai hasil dari proses selama 5 tahun. Pilihan, perubahan, dan janji konsistensi di atasnya. Ya, 3 hal itu lah yang nggak bisa dibeli oleh Rp 40.000,-.

Menyenggol sedikit tentang perubahan saya 5 tahun terakhir ini..emm..that’s a secret. Hanya Tuhan yang tahu betul apa yang benar – benar berubah dalam diri saya. Karena tak jarang saya pun nggak sadar kalau telah berubah. Menjadi lebih baik kah ? Atau saya tergolong orang yang merugi menjadi lebih buruk ? Hope I wasn’t there, God ! At least, setidaknya saat ini saya sudah berani untuk mengobrol langsung dengan dia ( dulunya saya bukan nggak berani, tapi sumpah mati kutu ). Bukan si dia yang berbagi dengan saya saat akustikan. Tapi dia yang terlibat dalam perbincangan :

“Eh, lo inget gak, ini kan ring back tone lo waktu kelas 2 SMP dulu”, cerocos saya saat “Mungkin Nanti” – nya Peter Pan dikumandangkan.

“Iya, tah ?” si dia diam sejenak. “Ah, inget aja lo”, lanjutnya diiringi senyum.

“Iya lah..( lalu sambil ditelan hiruk pikuk ) gue kan inget terus tentang lo”.

Hell yeah ! How can I forget you ? Kalau lo adalah orang yang pertama kali ngasih pelajaran untuk ikhlas menyayangi seseorang tanpa pamrih. Lo yang bikin gue ngerti kesabaran menanti akan berbuah hal manis. Lo salah satu yang bikin gue yakin kalau suatu hari waktu akan menunjukkan yang sebenarnya. Lo adalah nama yang sering gue tulis di buku diary jaman SMP. Lo adalah orang pertama yang gue janjiin bakal gue terus sayang eventhough nantinya akan berwujud sayang yang berbeda. Dan dari semuanya ( baik yang kesebut atau pun tidak ), lo adalah cinta pertama gue. (agak geli gimanaaa gitu emang ya nyebut “cinta pertama” di umur segini, tapi bukan kah arti “cinta” saat kita masih lugu itu menyenangkan untuk dikenang ? Lucu untuk ditertawakan. Asyik untuk diingat kembali. Manis untuk dijadikan pelajaran).

Sesapan terakhir Nescafe Original menyadarkan saya kalau baru saja saya berubah menjadi anak SMP yang ababil. Lantunan Adhitya Sofyan – “Reality” menarik saya kembali ke masa kini sesuai dengan judulnya. Kembali menjadi Gita Meina Amalia. Gadis berumur 20 tahun. Duduk bersandar pada dua bantal empuk di tengah sejuknya AC kamar. Berkaos kaki, kaca mata, daster, laptop di pangkuan, dan headset di telinga.

“But every time I try to catch I stumble and I fall

How do I begin to finish this never ending fairy tale

I need to get back to reality”


Okay okay, sir ! I’m here ! I’m back to the earth !

N.B : Sesuai dengan do’a sepupu saya tadi yang dengan baik hati mengantarkan saya pulang, “mudah – mudahan reuni 5 tahun lagi semuanya masih pada lengkap ya. Udah pada bawa anak”. Amien ! Mudah – mudahan Tuhan membimbing kita semua kepada jalan yang benar. Dengan kemurahan – Nya, Dia membagi kekuatan – Nya untuk kita supaya sturggle di pilihan terbaik yang telah ditunjukkan – Nya pada kita. Dan Dia selalu menjaga kedamaian hati kita agar tetap saling menyayangi meski terpisahkan oleh ruang dan waktu.


You Might Also Like

3 comments:

  1. mantaph...
    like this 1000x klw bsa,,,
    hehehee

    good luck bwt rencana 5 thun k depan,,
    qta berdoa bersama-sama untuk mempererat tali silaturahmi...

    n semoga bwt 5 thun yg akan tdk ad lg yg TDK DTG n tdk ad lg yg TDK BYR...hehehehe

    good luck my sista...
    :D

    ReplyDelete
  2. LUCUNYA...... aku belajar sudut pandang yang lain dari matamu ............. menyenangkan skali ... (^_^)

    ReplyDelete