"Everything is a process"
Nggak seperti biasanya, untuk nulis postingan ini saya perlu berulang kali bikin file baru. Ctrl + N. Ctrl + A. Delete. Ctrl + N. Ctrl + A. Delete. Terus sampai akhirnya saya sadar kalau yang membuat saya susah nulis adalah saya sedang tidak jujur. I am keeping a secret and I won’t let it free. Padahal saya tahu, esensi setiap saya menulis adalah saatnya jujur pada diri sendiri. Saya tahu itu, but why don’t I do that ?
Sometimes we know what we’re doing but we don’t know what really is. For some cases, nggak jarang saya dengar orang bilang, “pengen aja”. And then I wonder, “apa bener they just wanna do that ? Apa nggak ada alasan lain ?” Selama yang saya pelajari di komunikasi dan buku – buku yang memenuhi otak saya, nggak ada ceritanya orang melakukan sesuatu tanpa motif. Sampai akhirnya keluar teori motivasi, bukan ?
Mama sering mencibir saya kalau saya bilang, “nggak apa – apa, pengen aja”. Sukanya serangan balik beliau adalah”gimana sih ? Orang kok nggak tahu apa yang dilakuin”. Sialnya serangan balik itu selalu berhasil bikin saya introspeksi diri, “apa iya selama ini gue nggak tahu apa yang gue lakukan ?” Ujung – ujungnya galau, “sebenernya gue mau apa ya ?”
Galau.
Jaman dulu rasanya kata – kata itu hanya cocok untuk orang – orang yang kena serangan balik dari Mama. Orang – orang yang nggak tahu apa yang sedang dan akan dilakukannya. Nowadays si “galau” cocok disandingkan di berbagai keadaan. Saat kita sedang iri dengan orang, mudahnya bilang jiwa lagi “galau”. Saat kita sedang berantem dengan pacar, tweet langsung pakai hashtag “#galau”. PDKT yang nggak kunjung maju, status FB langsung roman – romannya “galau”. Kesepian dan nggak tahu mau ngapain, langsung YM temen dan bilang “sedang galau”.
All I know tentang feeling satu ini adalah judul lagu dari Titi DJ yang lagi galau juga kayaknya. Nikah – cerai – nikah – eehh cerai lagi. But woops ! I won’t discuss her marriage thingy here. Sorry gossipers ! :D
Couple days di Jogja bulan lalu dengan Mama menyadarkan saya kalau galau adalah situasi di mana kita memang nggak tahu mau apa. She said that it only happens when you loose your principe. You don’t know what you stand for and what you wanna be. Then you never ever realize what choice that you take and what step that you make.
I think she’s all right. Hal tersebut sama seperti yang diungkapkan ibunya Little Jenny dalam film Gossip Girl. Intinya ibu Little J bilang kalau semua keputusan yang kita ambil dalam hidup ini related with what are you wanna be. Suddenly saya jadi ingat banyak orang yang bertanya begini saat liburan, “elo kan anak komunikasi, kok ngajar di SLB ? Emang ada hubungannya ?”
Ya. Apa ngajar di SLB ada hubungannya dengan kuliah saya ?
For the first time saya ignore esensi pertanyaan itu. Saya anggap hanya kebingungan mereka yang nggak tahu passion saya ke mana. But hey ! Passion shows what we stand for right ? Voila ! Galau deh..padahal awalnya saya “sembah” banget sama kedudukan kepala redaksi majalah, tapi kenapa sekarang ngajar di SLB ? Kenapa nggak magang di majalah atau surat kabar ? At least di dunia media. Why ?
Yeah...when I took a look deep inside my self, saya nggak punya cukup alasan untuk magang di media. Bukan berarti saya udah nggak ngejar kerja di majalah. Tentu tidak ! Kerjaan itu masih jadi dream job – nya saya. Tapi kalau iseng bikin list, saya lebih punya alasan kuat untuk magang atau jadi guru bantu di SLB. Buktinya, saya niat abis bikin materi ngajar, bikin RPP meski pada akhirnya nggak sesuai sama di lapangan, jalan di bebatuan dengan heels 5 atau 8 cm, and more. Untuk magang di majalah, I have no any program at all.
And yes, lagi – lagi ini cara keren Tuhan untuk membuat saya ngerti kalau kita benar – benar tahu mau ngapain, semuanya akan mudah. Nggak cuma itu, kita pun nggak akan galau. Karena apa ? Karena kita punya alasan kuat mau apa, sebagai siapa, dan kenapa.
Lantas apa makna “the reason is no reason” – nya saya waktu seorang bertanya, “elo kenapa sih selalu inget apa yang gue omongin ?” Hmm...for that case sometimes happens with everyone. Nggak selamanya kita butuh alasan untuk sayang dengan seseorang, bukan ? Untuk perhatian bahkan gobloknya rela aja disakitin. Kalau ditanya, “ya gue kan sayang sama dia”. Just it.
Kalau inget pelajaran Psikologi Komunikasi, kata – kata di atas jadinya no sense. No offense buat siapa pun yang sedang mencintai tanpa alasan dan sedang berbahagia atau sakit karenanya, but hey we do have reason actually ! Sadar atau nggak, alasan itu sebenarnya ada tapi kadang kita nggak melihatnya. Makannya nggak aneh kalau love with no reason sometimes ended up with heart breaking. Karena apa ? Karena mereka udah nggak tahu lagi mau mempertahankan apa then yap..game over begitu aja. Kalau ditanya kenapa, jawabannya “udah flat, nggak kayak dulu” atau “so many things change and I can’t stand for it”. Really ? Padahal kata dosen saya, as long as we do have reason, hambatan dan rintangan itu cuma kayak kerikil yang biasa dilangkahin heels saya setiap pagi. Dan nightmare lah endingnya kalau kita nggak tahu alasan apa yang membuat harus bertahan di sana. Bukan kah kita pun tersiksa kalau datang ke suatu acara tapi nggak tahu mau ngapain ? Lebih baik pulang dari pada bertahan di sana, bukan ? Dan dosen saya juga bilang, saat kita mencintai seseorang pasti ada alasannya. Entah uang, kenyamanan, prestise, etc. Yang pasti nggak mungkin orang nggak punya alasan. Kucing aja nggak mungkin nyamperin kita dan bilang “meong” kalau nggak ada maunya, bukan ?
Subuh membimbing bulan untuk beristirahat. Matahari membiarkan sabit meninggalkan langit Serang. Slow but sure I know it’s all about process. Seperti kata suhu piano saya, Ferry Kaizen, “everything is a process”. Yap..he’s all right. Dan tampaknya bab I dari buku yang saya baca pun sepakat dengan si guru kalau “menjadi manusia bukan lah menjadi, but it’s about figuring out”. And I think it’s a part of process, right ? Memahami adalah belajar, belajar adalah proses, dan proses itu membuktikan alasan kita untuk melakukan sesuatu cukup worth it nggak dipertahankan. Kalau worth it dilanjutin sampai memenuhi target, kalau nggak better for us to move on. ‘Cause simply, everybody’s changing and it always has a reason whether we see or we don’t.
Bulan Ramadhan adalah proses detox diri. Yang jelek dibuang, yang bagus dpelihara. Nggak cuma itu juga, bulan Ramadhan jadi bulan belajar buat saya. Belajar masak dong yah tentunya kalau nggak mau kena kultum menjelang buka puasa dari nyokap. Belajar bahasa isyarat dari murid – murid yang istimewa. Belajar piano dari si guru yang setengah pesulap. Belajar manage temen – teman buat reunian. Belajar sabar karena berat badan tak kunjung turun padahal udah puasa. Belajar mandiri karena udah bisa bawa motor sendiri. Semuanya punya alasan masing – masing dan worth it nggaknya sudah pasti worth it. To be honest saya nggak mau buang waktu untuk hal – hal yang nggak worth it. And we all do that, don’t we ?
0 comments: