Day 4 & 5 : Just for Laugh
Saya lupa judul di atas sudah pernah dipakai atau belum untuk tulisan saya. Tapi yang pasti saya nggak lupa dengan murid – murid baru saya. Di kelas X ada Rasman ( I think he’s the leader there ), Rita, Didin, dan ya ampun gobloknya saya lupa 3 lagi siapa. Mereka semua sebenarnya 7 orang, tapi satu si spesial ini agaknya kurang tepat kalau ditempatkan di SMA. Namanya Pricil. Kalau pertama kali ketemu dia, mungkin kita bakalan kewalahan. I’ve been there when she was uncontrolled ! Untungnya ada Rasman. Memang kata pak Tab Pricil ini quite complicated. Sudah tuna rungu dan tuna wicara, she can’t control her emotion. Kata Rasman, Pricil suka ngamuk dan kalau sudah ngamuk apapun akan dilempar, dipukul, and she’s gonna scream out loud. Oh ya jangan lupa...she’s gonna run away too. Still. Lari yang nggak bisa dikontrol !
Di kelas VII saya kenalan dengan yang namanya Cita. She’s so smart but yeah..sayangnya dia pun tak jauh beda dengan Pricil. Dia nggak bisa ngontrol emosinya, but so far she’s so sweet and nice. Saat masuk ke kelasnya, dia adalah satu – satunya murid yang menyapa saya dengan “Good morning, bu guru !” Hwaaa...saya terharu banget disapa seperti itu dengan senyum di pipi gembilnya. Teman sekelas Cita adalah Zikri dan Umam. Meski nggak bisa berbicara dan mendengar, Umam anak yang komunikatif. Saya nggak bisa diam sebentar karena selalu diajak ngobrol dengannya. Dengan semangat Umam selalu berisyarat untuk mengobrol dengan saya. Kalau saya tidak mengerti, Zikri hanya tertawa dan membantu saya untuk menerjemahkannya. Padahal Zikri pun sama, tak bersuara atau pun mendengar. Tapi itu lah hebatnya murid – murid saya. Mereka selalu punya cara untuk menyampaikan sesuatu dan tak pernah menyerah sebelum saya benar – benar mengerti. Saya jadi malu. Saya saja yang bisa berbicara secara verbal dan normal terkadang cepat give up kalau ngomong sama orang yang lemot. Seringnya saya malah menghentikan komunikasi dan memilih untuk nggak membuat orang itu mengerti. Alih – alih ngedumel sendiri di hati. Tapi mereka ? Mereka selalu berusaha untuk mengerti apa yang mereka maksud.
Hal itu pun terjadi saat saya masuk ke kelas VI. Di sana ada Arbi, Edfa, Ratih, Nurul, dan Irfan. Sayangnya Irfan nggak bisa bergabung dengan keempat temannya. Bu Iin bilang Irfan mengalami keterlambatan sehingga kalau dicampur dengan keempat temannya dia nggak bisa menangkap pelajaran. Pak Tab juga bilang kalau kemampuan abstraksi Irfan kurang. Kalau belajar MTK dia butuh sesuatu real untuk dihitung. Kalau belajar benua, dia butuh globe. Intinya, dia nggak bisa mengabstrakkan sesuatu. Saya jadi wondering sendiri, bagaimana nanti saat dia belajar akar dan kuadrat ? Bodohnya, tiba – tiba saya kepikiran, bagaimana jadinya anak itu kalau sedang belajar biologi ? Hmm..okay..lupakan !
Siang 21 Juli 2011 saya memberikan penugasan untuk anak kelas XII. Saya kasih selembar fotocopy – an yang berisi sejumlah verb, adverb, adjective, dan noun untuk mereka hafalkan. Ada beberapa yang excited, bingung, dan langsung ketawa, “wah...bu saya kan susah untuk mengingat. Bagaimana mau belajarnya ?” Awalnya saya ikut ketawa dan menyuruh dia untuk berusaha sedikit demi sedikit, tapi nggak lama saya sadar kalau kata – kata Rizky barusan memang kekurangannya. That’s the reason why he’s in here. Saat kembali masuk ke kelas VI, anak – anak langsung kembali ke bangkunya. Begitu pun Irfan yang langsung menjauh dan memisahkan diri dari teman – temannya. Sempat tidak enak dengan Irfan. Saya khawatir dia merasa saya membedakannya, tapi wajah Irfan yang ceria dan sangat ikhlas memisahkan diri membuat saya agak tenang. Sempat saya coba untuk menggabungkan Irfan dengan keempat temannya, dia malah menyingkir. Seperti sudah tahu kalau rasanya tidak mungkin ia disetarakan dengan teman – temannya. Tapi saya sama sekali nggak menangkap kekecewaan di matanya. Dari kejauhan dia memang tampak memandangi saya yang sedang menunjukkan gambar peta pada Arbi, Ratih, Nurul, dan Edfa, tapi dia tetap tersenyum dan tertawa lalu kembali menekuni buku IPS sambil bergantian memandangi globe. Yang saya tangkap dari matanya seakan dalam hati ia berkata, “yeah..it’s not a big deal I need to sit here. I don’t have to be there to know about the world. I need this globe to understand. Besides, I still can play with them in the break time. I know, I’m different”.
Kalau sedang istirahat, saya suka memperhatikan mereka. Mereka tampak nyaman dengan keterbatasan ( yang menurut saya adalah sebuah kekurangan ). Ya, they’re all comfort with them self. Mereka nggak pernah malu untuk jujur kalau nggak bisa sesuatu. Misalnya saat latihan baris berbaris tanggal 22 Juli 2011. Ada Bian yang selalu salah. Kalau disuruh hadap, dia malah diam. Disuruh jalan di tempat, malah hormat. Disuruh berhenti malah tetap jalan di tempat. Was he mad with all his faults ? No. Dia malah ketawa dan dengan jujurnya bilang pakai bahasa isyarat, “lha maaf..saya kan nggak bisa dengar, jadi salah terus. Ayo tunjukkan contoh supaya saya bisa lihat dan nggak salah”. Dia nggak kesal. Nggak juga menyalahkan orang lain dari kesalahannya itu. Kalau saya jadi dia, mungkin yang bakalan saya bilang, “kamu sebagai pemimpin harusnya di depan dong. Udah tau saya nggak bisa dengar, kenapa kasih komandonya malah di belakang ?” See the difference ? Saya lebih menyalahkan oranglain atas kesalahan saya daripada introspeksi kekurangan diri saya.
Ada juga Rita yang mundur nggak mau jadi pemimpin regu perempuan karena memang memiliki keterbatasan dalam verbal. Komandonya tidak selancar Lita, jadi dia menyerahkan kepemimpinan pada Lita. Padahal Rita di regunya adalah yang paling tua, dan seyogyanya yang paling tua adalah ketuanya, bukan ? But she really knows her limitation. She can’t speak as well as Lita. Dia nggak mau regunya saat kemah nanti kalah hanya karena komandonya yang nggak jelas. Oh girl...you realize me how to accept my self just the way I am. She also realized me untuk nggak ngoyo dengan kekurangan yang saya miliki.
Yes..they are right. Baik Bian, Rita, Rizky, dan mereka semua mengajarkan saya untuk bisa dan mau menertawakan diri sendiri. Menerima kekurangan dan nggak ngoyo untuk mengubahnya. Bukan berarti nggak berusaha untuk jadi lebih baik, tapi ada sesuatu yang nggak bisa kita ubah di dunia ini, bukan ? Seperti keadaan orangtua, kondisi fisik, siapa teman dan pasangan hidup, tempat kuliah, kerja, dan lainnya. Semua itu sudah digariskan dari Yang Di Atas kalau kita nanti begini dan begitu. Misalnya saya, mungkin udah dari sananya jarum timbangan nggak bisa di bawah 58 kg. Tapi ngoyo untuk diet dan bla bla bla..hasilnya ? Yah tetap aja. Udah takdir kali dianugerahkan tubuh sesehat ini.
Memang benar ada pepatah jangan nyerah dengan keadaan atau takdir. Hal ini pun dilakukan oleh Bian, Rita, dan teman – temannya. Still. Tetap mereka nggak ngoyo untuk mengubah apa yang tidak bisa mereka ubah, makannya mereka belajar bahasa isyarat untuk bisa berkomunikasi. Mereka sekolah untuk bisa setara dengan teman – teman yang lain. Alright..here’s the thing..saya baru sadar kalau mereka never try so damn - hard to change what they can’t change. They just make it better and never ask to be perfect. It also realizes me to be proactive, not to be reactive. Nggak melulu nyalahin Tuhan, bokap – nyokap, lingkungan, pemerintah, bahkan benda – benda mati yang suci dan tidak berdosa. Dengan sendirinya mereka mengubah apa yang menurut mereka nggak baik atau mereka nggak suka. Misalnya Pricil, saat saya terlalu banyak memberikannya pengertian, dia menarik telunjuk saya lalu memasukkannya ke mulut saya. Tanda saya harus diam. Atau saat saya tidak jelas memberikannya perintah, dia menyentuh dagu saya lalu menariknya ke bawah. Dia ingin saya bicara. Oh My Pricil...it was so simple way but mean so much for me. Simpel tapi mengajarkan banyak hal pada saya.
Saya jadi nggak perlu banyak omong lagi di rumah kalau menginginkan sebuah perubahan. Just do it ! Saya juga mulai belajar mengurangi mengeluh kalau ada hal yang nggak saya suka. Pelan – pelan saya jalan dan lakukan sendiri untuk mengubahnya menjadi lebih baik. Setidaknya menjadi sesuai yang saya mau. Dan yang terpenting, saya mulai mau menertawakan kesalahan saya and make it better with my own fun way. It doesn’t need to be hate. Kenapa saya jadi lupa kalau kitab saya mengajarkan bahwa manusia adalah tempatnya salah ? Kenapa saya pun lupa kalau Tuhan punya hak veto untuk mengubah dan tidak mengubah apa pun di dunia ini ? Toh semuanya memang milik – Nya, bukan ? Saya hanya mengontrak yang kadang lupa atau ngaret bayar tagihan ibadah kepada – Nya. Supaya kontrakan saya diperpanjang dan dikasih furniture bagus, saya harus rajin bayar tagihan. Iya memang benar, bagaimana mau dapat sesuatu yang bagus kalau nggak ada usaha ? Dia juga mengajarkan kalau setiap umat – Nya dipersilahkan untuk mengubah nasibnya, bukan ? Mengubahnya menjadi lebih baik dan tetap ingat kalau Dia adalah pemegang final resultnya. Voila ! That’s what makes kita nggak ngoyo yang ngga wajar !
Tapi tapi tapi eh tapi..bagaimana dengan mereka yang nggak berusaha kok hidupnya bisa enak banget ? Yeah...mungkin itu udah rizkinya aja. Tuhan Maha Adil dan mudah – mudahan itu selalu terpatri dalam hati kita. Kalau sedang lupa, inget aja itu tandanya kita harus berusaha ( meski mungkin akhirnya agak maksa ). Kayak saya ini, mau kelihatan langsing sukanya sok beli baju yang kecil. Pas dipakai nggak bisa nafas ! Atau sok nggak makan malam, ujung – ujungnya nggak bisa tidur karena kelaparan. Parahnya, saya suka sok milih baju gelap supaya kelihatan ramping dan tinggi, padahal dalam hati pengen banget pakai baju cerah. Sekalinya lihat cewek gendut lain pakai baju cerah and she’s okay, saya ruwet sendiri ! hauahaha...wajar lha ya jadi manusia punya rasa iri. Tapi mudah – mudahan irinya nggak mengotori hati, alih – alih bikin semangat untuk bisa jadi lebih kurus.
BUT THE QUESTION IS...
“Emang badan lo bisa, Git, sekecil Selena Gomes ?”
HAUAHAHA ! NGGAK ! KENAPA ? YANG ADA BADAN DIA NGGAK AKAN BISA SEGEDE GUE ! ( lho emosi...hauahahaaa....).
0 comments: