Day 3 : Tenses and ...... (speechless)

2:29 PM Tameila 0 Comments

Rasanya saya terlalu takabur kalau setiap hari nggak ngucap syukur sama Yang Punya Segalanya. Dari hari pertama sampai kemarin saya selalu dikasih kemudahan. Alhamdulillah juga semakin hari anak – anak dan guru – gurunya semakin welcome. Memang saya belum kenal semuanya, tapi saya yakin dan terus mencoba sedikit – sedikit untuk mengenal mereka. Beberapa masih agak jaim dengan saya, namun nggak sedikit juga yang menyapa dan ngaja kenalan duluan. So far mata pelajaran yang pegang saat ini adalah TIK dan bahasa Inggris. Awalnya saya pengen juga pegang IPS, tapi saya akhirnya menampar diri sendiri. Saya merasa teralu rakus untuk memegang banyak pelajaran. Kalau terlalu banyak pun saya khawatir nanti pada akhirnya nggak maksimal dan nggak fokus.

Hari Rabu, 20 Juli 2011 saya datang agak terlambat. Saya lirik jam tangan, jam setengah delapan saya baru naik becak. Alright...well...estimasi saya sampai sekolah 07.40. Ramalan saya nyaris tepat, karena saya sampai di sekolah pukul 07.38. Biasanya di depan gerbang dan di halaman banyak anak – anak. Suasananya ramai. Ada yang masih jajan, jalan masuk ke sekolah, atau beberapa orangtua yang sibuk membujuk anaknya untuk masuk kelas. Tapi saat itu nggak. Di lapangan hanya ada anak – anak yang sedang pelajaran olahraga, sedangkan ruang guru ? Fyuhh...Alhamdulillah untung mereka pun baru bubar morning briefing ( even I didn’t see the headmaster ).

I catched a teacher then I asked pak Mahar. Again...the same answer...dia belum datang ! Bingung lha saya...kan kemarin saya janjiannya dengan dia. But how come saat guru – guru mau masuk tapi dia belum datang ? Untungnya saya sudah punya jadwal dan RPP ! Yihaaa..langsung saya cari pak Cecep dan saya lihat dia sedang gotong – gotong papan triplek. Guedeee banget. Karena saya nggak mau bikin dia rempong, langsung aja saya minta kunci ruang komputer. Setelah kunci ruang komputer saya dapatkan, saya langsung masuk dan menyiapkan beberapa komputer.

Lucu melihat mereka yang kebingungan ada saya di sana. Mungkin aneh kali ya, ini cewek mau ngapain dan nongol dari mana. Untungnya sedikit – sedikit saya sudah bisa bahasa isyarat ( thanks Mas Umar, Okky, Arief, and also Fikri ), jadi untuk kenalan dengan mereka nggak begitu sulit. Mereka yang kebingungan adalah Neneng, Akip, Bian, Trisna, dan Rizky. Mereka semua adalah tuna rungu dan tuna wicara, hanya saja kalau Rizky normal. Dia hanya mengalami keterlambatan perkembangan otak, jadi lambat untuk menyerap materi pelajaran.

Sepanjang pelajaran TIK saya lebih banyak ngobrol dengan mereka daripada mendampingi untuk menyelesaikan tugas. Nggak boleh sih sebenarnya kayak begini, tapi kelimanya menarik bagi saya. Dan dari sana pun saya tahu ternyata Bian baru saja pulang dari Makassar usai mengikuti kompetisi desain tingkat nasional di sana. Hmm...boleh juga prestasi mereka. Sayangnya agak miris ketika saya tanya sudah sejauh mana pelajaran bahasa Inggris mereka. Mereka nggak tahu yang namanya present tense ! Oh My God..bagaimana nanti ujian mereka ?

Hal di atas memang terbukti saat pelajaran bahasa Inggris berlangsung. They just learned about to be ! Entah siapa yang harus disalahkan, tapi saya jadi khawatir sendiri. Seketika saya memikirkan ujian akhir mereka. Bagaimana mau mengidentifikasi teks – teks, ekspresi, dan tenses, kalau to be saja baru diajarkan. Saya tengok jadwal pelajaran mereka, hati saya mencelos. Bahasa Inggris hanya dua jam selama seminggu. Can you imagine ? Sedangkan untuk UAN nanti paling tidak mereka harus menguasai empat jenis teks. Sedih. Miris. Tapi hal ini membuat saya menjadi bersemangat. Sepulangnya dari sekolah hari itu, otak saya dipenuhi ide – ide dan rancangan pelajaran bahasa Inggris nantinya akan bagaimana. Pokoknya, obsesi saya adalah setidaknya mereka menguasai dua tenses dan dua jenis teks dari saya. Pokoknya harus ! Mbuh piye cara ne !

You Might Also Like

0 comments: