Day 2 : The other side of God’s gifts

1:52 PM Tameila 0 Comments

Saat ini saya harus banyak – banyak berterima kasih dengan seorang teman bernama Linda. Dewi yang berhasil saya tarik dari jurusan pendidikan Bahasa Indonesia universitas setempat dengan sabarnya berhasil membantu saya menyusun RPP. Hey yeah ! Akhirnya saya tahun bentukan RPP itu seperti apa. Yang saya buat memang nggak sesuai standar, karena memang rencanya RPP gadungan ini cuma untuk pegangan saya selama mengajar di SLB saja.

Seharian sepanjang tanggal 19 Juli 2011 kemarin rasanya banyak sekali hal yang bikin saya salut, bengong, bahkan pengen nangis. Saat itu saya berangkat jam 7.18. Iseng menghitung waktu perjalanan, ternyata untuk menempuh sekolah itu dibutuhkan kurang lebih 10 – 15 menit. Sesampainya di sekolah, saya masih bengong – bengong nih. Cari pak Mahar ternyata belum datang, tapi untungnya ada pak Cecep ( oh iya, si bapak yang kemarin saya kira namanya pak Tab ternyata namanya pak Cecep ). Ngobrol – ngobrol alhasil saya nanti diminta untuk ngisi kelas keterampilannya. Dan saya juga baru tahu, kalau keterampilan di sini itu bukan menggambar, karawitan, atau jenis kesenian seperti saya di SD – SMA dulu. Ternyata keterampilan di sini adalah pelajaran komputer ( TIK ). Well...I took it then.

Sebelum masuk ke kelas TIK, ada si ibu yang baik banget, namanya bu Puji. Saya diminta untuk nemenin di kelasnya dia. SD kelas 3. Hmm...okay. it’s interesting to be tried. Selama saya berusaha menajajari langkahnya menuju kelas, dia banyak cerita kondisi sekolah ini. Kalau saya rangkum, keluhan mereka semuanya sama, which is kurangnya tenaga pengajar. Saya jadi wondering sendiri, ke mana lulusan PLS ( Pendidikan Luar Sekolah ) dari universitas setempat ? Anyway untuk kasih judgement juga nggak adil, karena saya sendiri udah 6 bulan nggak pulang. So I left that question behind.

Jangan bayangkan anak – anak SD kelas 3 di sini seperti kelas 3 pada umumnya. Bahkan untuk anak kelas 6 pun, rasanya lebih cocok ditempatnya di kelas 4. Maaf banget but that’s true. Ada anak lucu namanya Adam. He’s supposed to be in 3rd grade but he is not able to write anything even just follow the points to create an alphabet. So what do they do in the class ? Here you go to imagine...Bayangkan seorang guru yang harus memegang 3 anak autis dan 5 anak tuna grahita. Boro – boro mau fokus menyampaikan satu materi, alih – alih si ibu kerepotan duluan ngurusin 3 anak yang autis.

Saat itu ada satu kejadian yang sumpah bikin saya pengen nangis. Ketika saya sedang asyik berkenalan dengan 5 anak yang tuna grahita, masuk lah seorang anak lelaki. Hasil menguping menyebutkan kalau namanya adalah Fiqi. Saat saya berbalik ke belakang dan melihatnya, nyess...hati saya langsung...hhh...I was so speechless at that time. Nggak tahan lihat betapa sabar si bapak menyuruh Fiqi duduk di bangku dan membuka bukunya. Terlihat dari sorot matanya si bapak itu sabaaaar banget. Bu Puji juga nggak kalah sabarnya. Belum lagi ada 2 anak, Seno dan Dhita, yang sangat berbanding terbalik. Seno nggak mau diam. Bak ! Buk ! Bak ! Buk ! Begitu lah kerjaannya selalu pukul – pukul meja. Berbeda dengan si cantik Dhita yang so quite. Sepanjang jam pelajaran dia cuma bolak – balik bukunya tanpa mengerti apa yang dibukanya sambil menatap lurus ke saya atau entah titik mana. Tapi waktu saya untuk mengamati tingkah mereka tidak lama, sampai jam istirahat saya sibuk meladeni Adam yang bersemangat menunjukkan gambar apelnya pada saya. Oh Adam...andai kamu bisa berhenti memasukkan jempol tanganmu ke mulut, mungkin di akhir jam bu Puji tidak akan memarahimu, sayang ! J

The break always takes 30 minutes ( but sometimes it could be more than that ). Selama 30 menit itu adalah saat – saat saya mati kutu. Memang seharusnya saya SKSD ( sok kenal sok dekat ) dengan para senior, karena kata sepupu saya juga yang tua – tua memang pada jaim. Tapi saat itu saya belum membaca celah. Mereka sibuk membicarakan si RPP dan hal – hal tentang kurikulum yang saya nggak mengerti. Untungnya, ada bu Leni ( wali kelas SMP ) yang bilang, “Bu...bu guru...katanya pinter komputer, ya ? Ibu diminta untuk ngisi kelasnya pak Cecep sekarang”.

Wow ! I was so exited ! Langsung aja saya tanya di mana ruangan komputer dan bergerilya cari pak Cecep. Dan saat itulah finally saya menemukan pak Mahar ! ( for shake...where have you been, sir ? -_________-“ ) awalnya pak Cecep agak bingung tapi akhirnya dia mempercayakan 7 siswa SMP ke saya. Dan jangan bayangkan juga mereka satu angkatan. Mereka terdiri dari kelas X, XI, dan XII. Keajaiban lain dari pendidikan Indonesia, bukan ? Tiga angkatan dalam satu kelas ? How come they learn the materials ? Saya masih inget nama – nama mereka. Ada si cantik Baby, Retno yang manis di kursi rodanya, Apri dan Angga yang ceria, Lita yang pendiam, Devi yang bersemangat saat saya ajari Bold – Italic – Underline, dan Azdi yang suka gambar mobil. Ketujuhnya memiliki ciri khas masing – masing dan nggak susah untuk menghafalkan mereka.

Bahan pelajaran mereka berbeda, misalnya Baby, Apri, dan Angga yang sudah bisa excel diberi tugas mengetik excel. Lita, Devi, dan Retno masih mengetik di Word. Dan Azdi malah lebih asyik gambar – gambar dan bermain warna di Paint. Iseng – iseng sambil mereka bekerja saya mengamati. Ternyata mereka nggak seterbelakang yang saya kira. Seperti Azdi, meski tangannya hanya memiliki beberapa jari, ternyata dia cukup mahir mengoperasikan beberapa fitur di komputer. Dia juga pintar gambar, cepat menangkap, dan saya yakin kalau diberi perhatian khusus dia jago untuk mendesain. Baby dan Retno memang agak kesulitan untuk mengetik. Tapi dengan segala keterbatasannya, saya yakin mereka mampu untuk menghasilkan ketikan yang tak kalah bagus dengan orang kebanyakan. Apri dan Angga pun sama. Mereka cukup pintar dan cepat mengerti ( terlepas dari keterbatasan pendeknya memori dan nggak mau diemnya ). Sedangkan Lita dan Devi adalah anak – anak yang mau belajar dan nggak pernah ngeluh meski pun berkali – kali salah. ( I hope both you can use “shift” + the arrows now to block the sentence, girls ! J ) Now I see..untuk belajar dan meng – upgrade diri mereka nggak sesulit yang saya bayangkan sebelumnya.

Banyak ngobrol dan mau melihat lebih dekat membuat saya tahu lebih banyak. Benar kata Sherina dalam lagunya, “Lihat segalanya lebih dekat...Dan kau bisa menilai lebih bijaksana...”. Mereka nggak se – “kurang” yang saya bayangkan. Salut sama semangat mereka untuk belajar hal – hal baru. Bahkan jika dibandingkan dengan anak – anak yang normal, effort mereka untuk tahu dan mencoba memahami hal – hal baru lebih besar. Mungkin karena mereka sadar dengan kekurangan mereka makannya mereka nggak segan – segan untuk memberikan effort lebih saat mempelajari hal – hal baru. Dan dari Adam saya belajar untuk menghargai dan bangga sejelek apa pun hasil karya kita.

Apakah manusia harus diberi kekurangan dahulu untuk mengeluarkan effort terbaiknya ? Apakah kita harus berada di belakang dahulu untuk menghargai bagaimana pun itu karya kita ? Saya jadi teringat pelajaran DKV dulu. Saya ini termasuk orang yang gaptek dengan desain grafis. Lebih baik menghadapi Microsoft Word dari pada Photo Shop atau Corel Draw deh. Dan saya ingat betapa bangganya saya saat berhasil membuat desain produk dari Microsoft Word lalu dipindah ke Corel Draw. Bayangkan, BIKIN AMPLOP DI MICROSOFT WORD TERUS POLANYA SATU – SATU DI COPY – PASTE KE COREL DRAW ! Jujur sebagai anak Ilmu Komunikasi UGM saya malu. But that’s fact and I’m not even shy with that until now ! I am proud of that silly achievement !

Di sisi lain terkadang saya malah galau dengan hasil ketikan tugas. Saya tahu saya lebih mampu untuk bikin makalah atau karangan indah saat menugas. Tapi saat saya bertanya ke diri saya, “seberapa sering kamu bangga dengan hasilnya ? Seberapa besar kebanggan itu dibanding kamu bikin tugas – tugas DKV dengan segala kebegoan kamu ?” Malu untuk jujur, tapi saya harus mengakui kalau saya jarang sekali bangga dengan hasil ketikan saya tersebut. Rasanya setelah selesai mengetik, langsung aja dikumpulin dan lupa apa yang udah diketik. Padahal kalau dipikir – pikir si otak bekerja nggak kalah kerasnya saat menaklukkan Photo Shop dan Corel Draw. Saya sadar kalau kurang menghargai apa yang saya lakukan. Semuanya saya anggap “ya sudah lah” dan pretend kalau itu adalah hal – hal biasa. Tapi seandainya saya mau lebih legowo, mungkin saya bisa lebih bersyukur bisa ngerjain PMI 2 jam sebelumnya, menyelesaikan paper jurnal 30 menit sebelumnya, dan all assignments yang amat sangat mepet deadline ( khususnya semester kemarin ). Semuanya bukan dijadikan sebuah keharusan dan kelumrahan anak komunikasi dalam mengerjakan tugas. Bukan. Karena coba hitung, nggak banyak anak yang dapat nilai bagus dari tugas take home yang...errr...I can’t explain how much it was ! Belum lagi kalau tugas itu selesai digarap saat mepet deadline, mata panas sekaligus berair, leher sakit, hidung berlendir, dan mood nggak karuan. Kalau dipikir – pikir being last minute person memang jelek, tapi itu juga salah satu anugerah yang harus disyukuri, bukan ? ( teteuuup...nggak mau disalahin kalau ngerjain tugas keburu – buru itu nggak baik. Hehehe... ).

NB : Dua quote lucu dari si Linda :

1. Kalau guru udah masuk, kelas itu milik gurunya, bukan milik kepala sekolah atau pemerintah !” à saat saya sesorean harus bagaimana mengajar di kelas.

2. “Motivasi itu gampang kalau dibaca, kalau dilakuin susah. Belum tentu ngomong panjang lebar tapi didengerin.” à dan ketika itu saya sadar kalau ada hal lain yang mudah diucapkan tapi susah untuk dilakukan selain “ikhlas”.

Fyuhhh....:D

You Might Also Like

0 comments: