Day 1 : The thing called RPP
Okay, here’s the thing. Libur 2 bulan bagi mahasiswa ( nggak kali ya, bagi saya doang ) itu ibarat pelangi di musim kemarau. Indah gitu kelihatannya berwarna, tapi kering. Yup ! Gimana nggak kering kalau rekening stuck di angka Rp20.000,00 dan nggak nambah – nambah jadi enam atau tujuh digit ? Tapi beberapa mahasiswa jaman sekarang kan udah pinter ( mudah – mudahan saya satu diantaranya ) alias banyak akal. Mereka nggak rela si dompet “puasa”, maka dari itu ada beberapa temen saya yang magang, jadi part timer, freelance, atau apa pun itu untuk mengisi waktu liburan. Alibi awalnya sih untuk ngisi liburan, tapi percaya deh kalau didesak – desak hal itu pun mereka lakukan untuk memenuhi kebutuhan finansial ! hauahaha....
Teman – teman saya ada yang magang jadi PR, front desk perusahaan atau bank, di bagian marketing, doing kind of adv project, banyak deh. Saya nggak mau kalah dong. I also do something for my holiday. Saya jadi guru SDLB. Kedengarannya memang tak sekeren mereka, tapi nggak sedikit juga yang bilang pilihan magang saya ini seru kok. Anyway...nggak sepenuhnya juga dibilang magang. Karena di otak saya kalau magang itu kerja di perusahaan, tapi kalau jadi guru namanya PPL ( to be honest kepanjangannya saya lupa ). Ah..whatever.
Dan keseruan itu pun dimulai pada Senin, 18 Juli 2011 sekitar jam 08.00. Dengan girang dan bangga, saya pakai rompi batik yang masih bau toko karena belum di cuci. Lengkap dengan celana kain warisan Mama sebagai bawahan, saya berangkat menuju Sekolah Khusus Negeri 01 Kota Serang. Jaraknya nggak jauh kok. Cuma modal Rp7.000,00 untuk ongkos becak dua kali udah sampai di sana. Sebelum masuk aja saya udah miris lihatnya. Saya cari – cari di mana sekolahannya nggak keliatan karena ketutupan sama gedung SD regular. Ternyata sekolahnya masuk ke gang. Nggak jauh masuk ke dalamnya, tapi kalau nggak jeli kita nggak akan tahu kalau di sana ada dua sekolah yang berbeda. Ajaibnya, sekolah ini nggak cuma satu sekolah, tapi terdiri dari SD, SMP, dan SMA. Dengan gedung yang nggak begitu besar, mereka bisa rangkap tiga sekolah. Wow ! Gimana nggak ajaib itu pendidikan di Indonesia ?
Setelah berhasil nemuin ruang kepala sekolah, saya nunggu di sana. Cukup lama, bahkan yeah..quite long and waste time. Karena bagi saya lebih baik saya dapat arahan bla bla bla dari guru – guru yang ada di sana dari pada bengong dalam ruangan bernuansa hijau ukuran 3 x 3 itu. Tapi untungnya ada 2 -3 guru yang ngajak ngobrol. Alhamdulillah mereka welcome dan nggak kikuk ngobrol sama saya.
Kejutan pertama pun dimulai.
Selang beberapa lama masuk lah si pak kepsek dengan seorang ibu. Awalnya saya wondering dia adalah salah satu wali orangtua murid atau yeah..kind of an ordinary guest. Tapi ternyata setelah pak Mahar ( wali kelas untuk SMA kelas XII ) bilang si ibu itu berasal dari puskur ( pusat kurikulum ), saya nggak heran saat si ibu membrondong saya dengan berbagai pertanyaan.
Basicaly, semua pertanyaannya standar. Sampai pada satu pertanyaan yang bikin saya ngek – ngok. Begini bunyinya, “kenapa kamu pilih sekolah ini ? Memangnya apa yang bisa kamu kasih ke sekolah ini ? Bapak sebagai kepala sekolah jangan mau gitu aja. Jangan sia – siain mbaknya ini. Lumayan dia orang yang berilmu. Dia harus bisa kasih sesuatu ke sekolah ini, misalnya mengajari guru – guru marketing, melobi, atau komunikasi. Jadi kalian win – win solution. Kalau mbaknya ini butuh sekolahan ini, mbaknya juga harus ada timbal baliknya dong”.
Errrr.....ga to the lau..GALAU ! Ya, saat itu saya galau. Saya tidak berpikir sejauh ini. Sejak di Jogja yang ada di otak saya cuma mau bantu mereka karena mereka kekurangan tenaga pengajar. Saya nggak nyiapin program kerja atau rancangan pencapaian atau apa pun itu yang sempat di-mention sama si ibu. Parahnya, saya pun nggak sempat membayangkan untuk juga mengajarkan guru – gurunya ! Dan di saat itu lah ruangan kepsek seketika berubah jadi ruang sauna. Panas. Gerah. Hareudang. Beringsang. Sumuk. Hot. And what so ev it called ! Saya langsung keringetan dan berjanji untuk ke depannya kalau hari pertama kerja setidaknya punya visi, misi, dan NGGAK PAKAI BAJU DOUBLE ( rangkap, berompi )! – antisipasi melancarkan peredaran darah kalau – kalau galau mendadak lagi.
Untungnya nggak lama ( tapi tetep aja kerasanya lama banget ) si ibu keluar ruangan lagi. Dia minta berkas dan sesuatu bernama data – data ke kepseknya. Setelah kerempongan akibat berkas – berkas selesai, baru lah si kepsek menghadapi saya. Dan demi apa pun, saya lebih nervous menghadap si ibu Puskur tadi daripada si bapak Kepsek ini. Dia belum terlalu tua, tapi kaku. Mungkin bukan kaku, tapi kikuk. Karena dia jujur baru kali ini ada yang mau PPL di sana. Okay, I could take that, sir ! -___________-“ karena ngobrol juga udah pendek – pendek dan rasanya dia udah bingung untuk apa lagi saya duduk di ruangannya, saya pamit dan minta izin ketemu pak Mahar. I thought he’s the right one to talk. Selain dia emang wali kelas untuk SMA, dia juga salah satu guru yang nyambung saat ngobrol dengan saya tadi. And so..bisa ditebak dengan sotoynya saya keliling sekolahan cari si bapak berkaca mata itu.
Kejutan kedua datang.
Nunggu pak Mahar keluar ruangan untungnya nggak selama nunggu pak Kepsek tadi. Begitu pak Mahar keluar, langsung aja saya nyerocos minta dibimbing dan persiapan untuk besok. Saya tahu dia bingung, dan kebingungannya menambah kegalauan saya saat dia bilang, “hmm...kalau gitu kamu bisa ngajar IPA. Ya. Kamu nanti besok ngajar IPA aja, ya ?”
APAAA ?!?! BAPAAK..IPA SMA ?! Demi program ngajar yang nanti akan saya susun, rumus fisika yang saya inget aja cuma Q1 = Q2, pak !
Tapi bukan saya kalau nggak pinter ngeles..hehe..Saya pasang tampang sok serius dan bilang, “hmm...gimana kalau besok saya lihat bapak ngajar aja dulu ? Jadi setidaknya saya tahu metode yang biasa digunakan dan anak – anaknya gimana”.
“Ooh..boleh – boleh. Mbaknya bisa lihat anak – anaknya besok penjas dulu. Atau nanti bisa lah tukeran dengan kelasnya pak Tab ( guru keterampilan ). Nanti ngobrol – ngobrol dulu aja dengan anak – anaknya. Pendekatan. Besok siapin aja mau ngobrol apa. Gimana ?”
Bingo ! Selamaaaatt ! ( setidaknya untuk sementara tidak jadi guru IPA ).
Malam ini saya senyum – senyum sendiri membayangkan kejutan apa lagi yang akan saya dapat esok. Di tengah lamunan itu, SMS dari salah satu teman yang kuliah di jurusan pendidikan masuk. Inti pesannya berbunyi, “kalau jadi guru harus sabar dan legowo. Kalau itu udah ada, ke sananya enak”.
Saya mengangkat alis. Sabar, oke. Mungkin maksudnya adalah saya harus banyak memaklumi. Tapi legowo ? Apakah untuk menjadi rendah hati semudah untuk bermaklum ria ? Saya pikir – pikir lagi, legowo macam apa yang dimaksudnya sampai saat ini belum juga ketemu. Apa mungkin maksudnya saya jangan menjadi guru yang “pintar sendiri” ? Yang tidak mau mendengarkan apa kata muridnya, yang selalu menganggap dirinya paling benar. Kalau memang itu maknanya, berarti esensi dari legowo itu adalah jangan pernah berhenti belajar, bukan ? Jangan berhenti belajar mengerti orang, belajar membaca situasi, belajar bereaksi terhadap kejutan – kejutan baru, belajar beradaptasi, belajar hal yang tak penting untuk kita tapi penting untuk memajukan orang lain, belajar dari yang lebih tua atau muda, dan sebagainya.
Saya jadi ingat ucapan fasilitator penelitian saya kemarin. Dia bilang, “guru dan murid tak ada bedanya. Mereka sama – sama belajar. Murid belajar materi yang dikasih sama gurunya, sedangkan gurunya belajar cara bagaimana agar si murid ngerti”. Hhh...andai semua guru atau dosen se – welcome itu. Mungkin diskusi di kelas bakalan asyik dan nggak ada yang namanya tidur di kelas. Tapi yeah...it’s all not the teacher’s or lecturer’s fault. Kalau nggak ada dukungan dari murid dan infrastrukturnya juga susah, bukan ? Tapi terlepas dari gimana kondisi di kelas, kalau si “legowo” itu nggak keluar malam ini, mungkin saya lupa untuk terus belajar selama liburan. Untuk tetap baca – baca buku bahasa Jerman dan mengingat – ingat materi kuliah komunikasi sekaligus mengaplikasikannya. Mungkin saya akan asyik melahap novel dan film, pergi jalan – jalan, dan apa pun itu yang sedikit pun nggak akan meng-upgrade diri saya.
Ya, sudah saatnya saya tahu dan tegas mau apa, mau ngapain, mau jadi apa, dan mau dapat apa ke depan setelah check list semester kemarin terpenuhi. Waktu kita tidak banyak, bukan ? 24 jam rasanya cuma habis di depan laptop mandangin Microsoft Word atau modar – mandir di dunia maya atau habis di jalan dan ke sana – kemari berpacu dengan deadline ini – itu. Kalau semuanya terus berada di awang – awang, gimana jadinya kalau nanti si ibu Puskur nagih RPP ( rencana pelaksanaan pembelajaran ) saya lagi ? hehehe...
0 comments: