Tak Cukup dengan Mata
Niatnya mau ngerjain tugas Sejarah Ilmu Komunikasi dan Media, tapi entah mengapa bingung mau mulai dari mana. Otak saya memang sudah terbiasa kerja mepet deadline atau saya yang membiasakannya ? Entahlah..semuanya selalu hanya akan menjadi sebuah niat kalau deadline belum di depan mata. Banyak alasannya. Nggak mood. Bingung mau mulai dari mana ( seperti saya sekarang ). Atau malah nggak tahu apa yang mau ditulis gara – gara kurang fokus. Pokoknya akhir dari serangkaian kegiatan “cuma niat” tadi itu pasti berujung pada Facebook atau YM. Gejala ini hanya menyerang saya atau banyak orang ? Nggak adil juga jadinya kalau nyalahin FB, YM, Skype, dan antek – anteknya. Mereka nggak menggoda saya, sayanya saja yang kurang kuat iman. Tapi bukan Gita namanya kalau nggak cari pembenaran. Pembenaran saya adalah, “Kan lewat FB atau YM bisa ngobrol sama orang. Siapa tahu dapat inspirasi buat nambah – nambahin tulisan. Dari pada nyampah yang nggak jelas ?” And you know ? Pembenaran itu manjur 85% pada saya. 15% - nya ? Tebak sendiri ! :D
Lama – lama jadi mikir ( akhirnya otak ini bisa mikir juga ) kalau pengaruh FB, YM, dan para sahabatnya itu kuat juga terhadap kinerja para mahasiswa. Ciee..nggak niat sok rajin atau sok menganalisis tapi ini pengalaman diri sendiri. Amazingnya hal ini ternyata bukan cuma saya yang merasakan. Beberapa ( hampir semuanya ) teman saya pun sama desperatenya mengalahkan godaan setan dari FB / Twitter / YM / Skype / lalala~ saat udah keep on fire ngerjain tugas. Gayanya aja keren pas pertama nyalain laptop. Dengan optimis akan menyelesaikan tugas dalam 1 – 2 jam. Semua ide yang ada di otak pasti bakalan ngalir. Pokoknya tugas kelar, senyum lebar, lalu senang – senang. 1 menit..5 menit…15 menit…30 menit…bisa dihitung berapa lama kita tahan dari godaan chatting dan lainnya. Empat jempol deh buat teman saya yang murni hanya membuka website penunjang materi tugasnya dan Microsoft word ! Tapi syaratnya hal ini dilakukan sebelum mepet deadline dan nggak pake begadang sampe mata beler ! :D
Bagi saya semua media itu sama. Mereka semua bisu dan yang berbicara tetap manusia. Majalah, TV, iklan, blog, pamflet, dan lainnya, hanya lah bibir kedua dari seseorang. Jadi saya agak lucu juga suatu waktu pernah membaca tulisan ( kalau nggak salah poster seminar atau apalah ) yang bunyinya, “Ketika Media Berbicara”. Hahaha…Dan besar kecil efek media pun bagi seseorang menurut saya sama. Mau itu TV, buku murahan, bulletin Jum’atan, internet sekalipun nggak akan berpengaruh pada suatu individu kalau orang tersebut nggak mempercayainya. Misalnya aja gossip kiamat 2012. Kalau orangnya nggak percaya, ya tetap aja yang ibadah akan terus ibadah karena – Nya dan yang doyan maksiat akan terus maksiat. Tapi anehnya ada tuh temen saya begitu kiamat 2012 booming di media, dia jadi taubat (Alhamdulillah ! :) ) – meski ujung – ujungnya sekarang “agak” ngawur lagi. Mungkin dia terpengaruh karena otaknya “kosong” kali, ya ? Makannya pas media “gatel” teriak – teriak kiamat 2012 dia ikutan “ngegaruk”. Halah…tapi nggak ngefek juga. Toh makin ke sini makin banyak aja yang nggak beres. Ironisnya juga berita kiamat itu sekarang hampir nggak tercium lagi. Lalu ke mana buku – buku tentang kiamat 2012 yang sebesar ganjalan pintu itu ?
Kitab suci adalah sebuah media penuh cinta yang tidak cukup dibaca dengan mata, tapi dengan hati juga. Ketika kita hanya menggunakan mata untuk membacanya, maka yang akan dihasilkan tak jauh beda dengan membacakan lima sila Pancasila. Ketika kita hanya melihatnya dengan mata, maka yang ada di otak kita kitab suci tak lebih dari sebuah buku. Karena apa ? Karena pada dasarnya, semua kitab suci isinya sama. Peringatan, ancaman, reward dari Tuhan karena kepatuhan hamba – Nya, hukum – hukum, dan lain sebagainya. Lalu apa yang membedakan jika kita membacanya dengan hati ? Beda. Hasilnya bukanlah membaca, namun bernyanyi. Kita menyanyikan informasi dari Tuhan pada alam. Kita mendendangkan perintah dan ancaman – Nya. Kita mengalunkan sebuah kabar gembira dari Tuhan. Hal ini akan membuat kita bisa lebih dekat dengan – Nya kalau kita belum bisa menjadi seorang yang alim. Seorang yang selalu menjaga dirinya dari segala dosa dan melakukan banyak amalan.
Bukankah kita lebih mudah mengingat lagu dari pada bacaan teks dalam buku ? Dengan mengingat lagu, setidaknya kita ingat dengan penyanyinya, bukan ? Bukan kah setiap makhluk punya cara tersendiri untuk mengingat Tuhannya ? Lalu mengapa kita tidak mulai mengingatnya dengan cara bernyanyi ? Dengan cara menghibur diri, dunia, dan Tuhan agar tidak merasa dilupakan. Tuhan memang tidak perlu kita, tapi sesungguhnya Dia pencemburu ketika kita lupa kepada – Nya. Bernyanyi lah untuk mengingat – Nya. Buat lah sebuah kegembiraan yang manis tatkala kita rindu cinta – Nya. Bukan kah kita selalu merasa gembira ketika merindukan seorang yang dicinta ?
Kitab suci adalah media massa dari Tuhan. Untuk memahaminya tidak butuh analisis. Tidak butuh pemikiran serius. Hanya dibutuhkan hati yang terbuka dan otak yang jernih. Sebuah keikhlasan dari makhluk yang tak memiliki daya apapun. Sebentuk makhluk yang haus informasi akan dunia dan kehidupan yang lebih baik. Tapi mengapa kita masih jarang merinding lalu menangis saat membaca kitab suci ? Mengapa kita masih kurang merasa kecil ketika berhadapan dengan – Nya ? Bahkan saat berhadapan dengan – Nya, tak jarang kita merasa bahwa kita adalah kita, dan Tuhan sudah sepatutnya menjadikan kita seperti ini karena usaha – usaha yang telah kita lakukan. Mungkin kita terlalu sibuk dengan urusan dunia. Terlalu risau dengan bisingnya dunia. Terlalu gelisah akan tertinggal karena sibuknya manusia. Terlalu khawatir dengan masa depan. Tapi sayangnya kita jarang khawatir akan hati ini yang merasa tidak gembira usai membaca “surat cinta” dari – Nya. Kapan terakhir kali kita menangis saat melantunkan kalimat – kalimat – Nya ?
Lama – lama jadi mikir ( akhirnya otak ini bisa mikir juga ) kalau pengaruh FB, YM, dan para sahabatnya itu kuat juga terhadap kinerja para mahasiswa. Ciee..nggak niat sok rajin atau sok menganalisis tapi ini pengalaman diri sendiri. Amazingnya hal ini ternyata bukan cuma saya yang merasakan. Beberapa ( hampir semuanya ) teman saya pun sama desperatenya mengalahkan godaan setan dari FB / Twitter / YM / Skype / lalala~ saat udah keep on fire ngerjain tugas. Gayanya aja keren pas pertama nyalain laptop. Dengan optimis akan menyelesaikan tugas dalam 1 – 2 jam. Semua ide yang ada di otak pasti bakalan ngalir. Pokoknya tugas kelar, senyum lebar, lalu senang – senang. 1 menit..5 menit…15 menit…30 menit…bisa dihitung berapa lama kita tahan dari godaan chatting dan lainnya. Empat jempol deh buat teman saya yang murni hanya membuka website penunjang materi tugasnya dan Microsoft word ! Tapi syaratnya hal ini dilakukan sebelum mepet deadline dan nggak pake begadang sampe mata beler ! :D
Bagi saya semua media itu sama. Mereka semua bisu dan yang berbicara tetap manusia. Majalah, TV, iklan, blog, pamflet, dan lainnya, hanya lah bibir kedua dari seseorang. Jadi saya agak lucu juga suatu waktu pernah membaca tulisan ( kalau nggak salah poster seminar atau apalah ) yang bunyinya, “Ketika Media Berbicara”. Hahaha…Dan besar kecil efek media pun bagi seseorang menurut saya sama. Mau itu TV, buku murahan, bulletin Jum’atan, internet sekalipun nggak akan berpengaruh pada suatu individu kalau orang tersebut nggak mempercayainya. Misalnya aja gossip kiamat 2012. Kalau orangnya nggak percaya, ya tetap aja yang ibadah akan terus ibadah karena – Nya dan yang doyan maksiat akan terus maksiat. Tapi anehnya ada tuh temen saya begitu kiamat 2012 booming di media, dia jadi taubat (Alhamdulillah ! :) ) – meski ujung – ujungnya sekarang “agak” ngawur lagi. Mungkin dia terpengaruh karena otaknya “kosong” kali, ya ? Makannya pas media “gatel” teriak – teriak kiamat 2012 dia ikutan “ngegaruk”. Halah…tapi nggak ngefek juga. Toh makin ke sini makin banyak aja yang nggak beres. Ironisnya juga berita kiamat itu sekarang hampir nggak tercium lagi. Lalu ke mana buku – buku tentang kiamat 2012 yang sebesar ganjalan pintu itu ?
Para “penggoda” tugas di atas itu kan masuk dalam media massa ( kalau salah, nampaknya saya kurang memperhatikan kuliah Komunikasi Massa :( ) dan saya mengartikan kalau media massa itu sebuah perantara untuk menyebarkan informasi pada khalayak umum yang menyangkut kepentingan mereka. Then, pertanyaan saya kalau kitab suci itu media massa bukan ? Karena toh di dalamnya menyangkut seluruh aspek kehidupan manusia. Dari sana kita bisa mengerti bagaimana menyikapi hidup ini, apa saja arti tanda – tanda yang alam berikan pada kita, bahkan sampai apa saja yang akan terjadi di dunia ini. Tidak. Tidak hanya itu. Asal mula kita, dunia, dan alam lain pun ada di sana. Peringatan dan ancaman pada kita juga ada di sana lengkap dengan hukumannya kalau kita “nakal” dalam hidup ini. Hukum – hukum yang sebenarnya cukup adil ada di sana juga. Bahkan sebuah kehidupan yang lebih baik pun dipaparkan dengan jelas plus step – stepnya.
Tapi anehnya, kenapa pengaruh kitab suci tidak sehebat media massa pada umumnya ? Padahal kitab suci adalah perantara Tuhan dengan kita. Kita, semua, makhluknya yang ada di dunia ini. Perantara kita dengan Dzat yang Maha Tahu. Sebuah media yang menginformasikan berita dari Sang Komunikator yang tahu segalanya. Tapi kenapa pengaruhnya tidak sebesar koran, majalah, TV, atau yang lainnya, dalam mempengaruhi pola pikir seseorang ? Mengapa hanya segelintir pihak saja yang terusik ? Apakah karena Tuhan tidak berwujud nyata seperti komunikator dalam media massa sehari – hari ? Tapi kita semua percaya pada Tuhan, bukan ? Kita percaya kalau semua yang diucapkan – Nya adalah benar dan hanya orang – orang yang tertutup hatinya lah yang akan mengkritik. Lalu apakah yang dinamakan kepentingan hanya diartikan sebagai hal – hal yang duniawi saja ?
Kitab suci adalah sebuah media penuh cinta yang tidak cukup dibaca dengan mata, tapi dengan hati juga. Ketika kita hanya menggunakan mata untuk membacanya, maka yang akan dihasilkan tak jauh beda dengan membacakan lima sila Pancasila. Ketika kita hanya melihatnya dengan mata, maka yang ada di otak kita kitab suci tak lebih dari sebuah buku. Karena apa ? Karena pada dasarnya, semua kitab suci isinya sama. Peringatan, ancaman, reward dari Tuhan karena kepatuhan hamba – Nya, hukum – hukum, dan lain sebagainya. Lalu apa yang membedakan jika kita membacanya dengan hati ? Beda. Hasilnya bukanlah membaca, namun bernyanyi. Kita menyanyikan informasi dari Tuhan pada alam. Kita mendendangkan perintah dan ancaman – Nya. Kita mengalunkan sebuah kabar gembira dari Tuhan. Hal ini akan membuat kita bisa lebih dekat dengan – Nya kalau kita belum bisa menjadi seorang yang alim. Seorang yang selalu menjaga dirinya dari segala dosa dan melakukan banyak amalan.
Bukankah kita lebih mudah mengingat lagu dari pada bacaan teks dalam buku ? Dengan mengingat lagu, setidaknya kita ingat dengan penyanyinya, bukan ? Bukan kah setiap makhluk punya cara tersendiri untuk mengingat Tuhannya ? Lalu mengapa kita tidak mulai mengingatnya dengan cara bernyanyi ? Dengan cara menghibur diri, dunia, dan Tuhan agar tidak merasa dilupakan. Tuhan memang tidak perlu kita, tapi sesungguhnya Dia pencemburu ketika kita lupa kepada – Nya. Bernyanyi lah untuk mengingat – Nya. Buat lah sebuah kegembiraan yang manis tatkala kita rindu cinta – Nya. Bukan kah kita selalu merasa gembira ketika merindukan seorang yang dicinta ?
Kitab suci adalah media massa dari Tuhan. Untuk memahaminya tidak butuh analisis. Tidak butuh pemikiran serius. Hanya dibutuhkan hati yang terbuka dan otak yang jernih. Sebuah keikhlasan dari makhluk yang tak memiliki daya apapun. Sebentuk makhluk yang haus informasi akan dunia dan kehidupan yang lebih baik. Tapi mengapa kita masih jarang merinding lalu menangis saat membaca kitab suci ? Mengapa kita masih kurang merasa kecil ketika berhadapan dengan – Nya ? Bahkan saat berhadapan dengan – Nya, tak jarang kita merasa bahwa kita adalah kita, dan Tuhan sudah sepatutnya menjadikan kita seperti ini karena usaha – usaha yang telah kita lakukan. Mungkin kita terlalu sibuk dengan urusan dunia. Terlalu risau dengan bisingnya dunia. Terlalu gelisah akan tertinggal karena sibuknya manusia. Terlalu khawatir dengan masa depan. Tapi sayangnya kita jarang khawatir akan hati ini yang merasa tidak gembira usai membaca “surat cinta” dari – Nya. Kapan terakhir kali kita menangis saat melantunkan kalimat – kalimat – Nya ?
Eh ? Udah 1000 kata ? Andai ini adalah tugas sejarah. Hahaha…Yah..niat cuma niat, tapi nggak apa – apa yang penting udah ada niat dari pada nggak ada sama sekali. ( selalu mencari pembenaran ).
0 comments: