Fashion is Compulsion
Okay. Hari ini ada lagi jadwal yang nggak terlaksana. Bukan nggak terlaksana, tapi lebih tepatnya enggan untuk dilaksanakan. Bolos latihan siaran. Buat Mbak Tia, BIG SORRY ya nggak bisa datang. Buat Edo, BIG THANKS yang udah rela nebengin tapi nggak jadi. Hehehe…Tapi emang nonton film satu ini nggak pernah bikin saya bosan. Mau ditonton berapa kali juga saya tetap mau kok nonton sampai habis. Bahkan sekarang sampai hafal adegan – adegannya. Film itu judulnya “The Devil Wears Prada”. Film yang dimainkan oleh Bagi sebagian orang yang sudah menonton filmnya, mungkin akan menganggap film ini adalah film metropop seperti yang lainnya. But for me ? It’s different. Memang fashion nggak banyak dibahas dalam film ini, tapi ada nilai penting dari fashion yang dapat saya ambil di dalamnya. It’s about how we look at fashion by its self. Andrea Sachs (
Tempat kerjanya men
untut Andrea untuk mengubah penampilannya, bahkan mengubah dirinya sendiri. Sebelum menjadi asisten editor majalah Runaway, she looks so old school. Penampilannya standar banget atau mungkin jauh di bawah garis kewajaran dalam berpakaian ( menurut karyawan majalah Runaway ). Awalnya Andrea tidak ambil pusing dengan penampilannya yang dianggap kuno ini. Baginya, kredibilitas jauh lebih penting dari apa yang dia kenakan. And finally ? TING ! Dia nggak bertahan dalam waktu yang lama. Andrea sadar kalau dia harus mengubah penampilannya agar orang sekantor ( at least bosnya ) “memandang” dirinya. Dia mulai coba memakai baju, high heels, jaket, rompi, syal, topi, kaca mata, dan seabrek barang fashion lainnya yang bermerek. Tak butuh waktu lama bagi Andrea untuk menyulap dirinya as a fashionable assistant. Tapi saat itu juga dia mulai kehilangan jati dirinya. Siapa dirinya sekarang ? Ke mana pribadinya yang dulu bisa mengambil keputusan ? Mengapa jepretan kamera menjadi lebih berarti dibanding duduk santai di café bersama teman – teman dan pacarnya ? Bagaimana bisa perhelatan gaun jadi lebih diutamakan dari pada ulang tahun pacarnya ? Dan yang terkonyol bagi Andrea, bagaimana bisa high heels menjadi lebih menarik dibanding sebatang pena ?
Mungkin hal ini juga dialami oleh kita. Di lingkungan kampus, tempat kerja, atau bahkan di lingkungan keluarga saat sedang kumpul – kumpul dengan keluarga besar. Lingkungan ini menuntut kita untuk berpakaian atau setidaknya berdandan menjadi bukan yang diri kita sendiri. Ada beberapa orang yang memang berhasil mempertahankan gaya mereka. Mereka tidak mengubah gaya dan jati diri mereka. Tapi toh tidak sedikit juga yang menjadi follower, bukan ? Mereka rela menghabiskan uang bahkan yang terparah mengubah dirinya agar bisa diterima oleh lingkungannya. Sebegitu pentingnya kah sebuah fashion ? Well…seperti yang dikatakan oleh salah satu teman Andrea di film itu, “fashion bukan kegunaan. Aksesoris hanyalah sepotong ikonografi yang dipakai untuk ekspresikan identitas individual.” Artinya, fashion adalah sebentuk komunikasi non – verbal yang mengisyaratkan siapa diri kita, bagaimana kita ingin diperlukan, dan penilaian seperti apa yang pantas kita sandang.
Terlepas dari itu semua, sadar atau tidak, penampilan pun banyak menipu. Tak jarang bukan kita tertipu oleh penampilan orang lain ? Simpel saja…banyak orang di sekitar kita yang tampaknya sangat biasa, tapi dia memiliki keistimewaan yang bisa membuat mata kita terbelalak. Ada juga yang high class dandanannya tapi there’s nothing inside. Tidak. Bukan nothing. Tapi less. Rasanya tidak adil kalau mengatakan nothing, karena pada dasarnya setiap manusia memiliki kemampuan dalam dirinya. Yang membedakan adalah kemampuan itu diasah atau tidak. Seperti semua ibu – ibu yang punya pisau di dapurnya. Apakah pisau itu bisa menyulap sebuah bawang menjadi makanan lezat atau tetap menjadi bawang hingga membusuk. Tapi tidak sedikit juga yang berpenampilan oke, ditunjang oleh ability – nya yang awesome. Ya, mereka lah orang – orang yang bisa menyeimbangkan antara kecantikan luar dan kecantikan dalam. Bagi saya, kecantikan tidak hanya untuk perempuan. Tapi kecantikan adalah sesuatu yang ada dalam diri seseorang yang dapat menarik perhatian orang lain dan sekitarnya.
Then ? Apakah salah bagi kita semua kalau mau mengikuti fashion ? Setidaknya menempelkan satu jenis item yang sedang “in” di masyarakat ke tubuh ini agar dianggap tidak ketinggalan jaman. Apakah fashion hanya sebatas berpakaian ? Atau gaya hidup ? Atau kalian punya definisi lain dari fashion itu sendiri ? Semuanya yang menentukan diri kita. Kita yang menentukan diri ini pantas diperlakukan seperti apa oleh orang lain. Kita lah yang menentukan seperti apa orang harus memandang kita. Kita juga yang menentukan seberapa besar penilaian orang yang akan diberikan kepada kita. Cantik tidak hanya dari luar. Cantik juga tidak cukup dari dalam. Tuhan menciptakan semuanya selaras. Harus seimbang agar terlihat indah. Agar terlihat cantik. Sebagaimana Dia menciptakan bunga mawar yang cantik dengan duri – durinya yang tajam. Ya, duri itu adalah sisi kecantikan lain dari bunga mawar agar ia tidak sembarang dipetik oleh manusia. Hanya manusia yang bisa menghargai kecantikan mawar lah yang dapat memetik dan memiliki kecantikan mawar itu sendiri.
Jadi teringat pesan mama di sela – sela telefon beberapa waktu lalu. Pesan beliau yaitu, “mahal belum tentu enak. Bagus belum tentu cocok. Jadi diri kamu sendiri dan tetap pada yang kamu yakini benar.” Ya, sekali lagi mama menginspirasi saya. And good job, Lauren Weisberger ! You made such a nice story with beautiful values inside ! :)
0 comments: