Agama ? Siapa Peduli ?!

7:59 AM Tameila 0 Comments

Kemarin seharian menghabiskan waktu untuk berdiskusi. Tidak baca apa – apa untuk UTS ( padahal UTS tinggal 2 hari lagi ! rrrr…. ) tapi malah ngobrol ngalor – ngidul sama teman – teman di JMF. Awalnya merasa useless duduk di mushala dan tidak memegang text book perkuliahan ( emang biasanya dibaca, ya ? haha… ). Pas udah mau pulang ditahan sama seorang mbak – mbak. Katanya mau diajak diskusi sama kemuslimahan dari *** ( salah satu komunitas Islam yang cukup besar di Indonesia, bahkan di dunia – kata mereka sih ). DENG !!! Langsung lah merinding badan saya. Jujur, saya itu agak merinding apa nggak gimana gitu sama komunitas – komunitas Islam yang mengkhususkan dirinya pada kelompok – kelompok tertentu. Soalnya saya mikir, kalau memang Islam itu semuanya saudara buat apa ada banyak kelompok Islam ini – itu ? Toh pada akhirnya tujuan mereka sama, bukan ? Mempertahankan eksistensi Islam ( atau apalah sejenisnya ), berdakwah, dan serentetan goal yang basicnya itu sama. So ? Yang masih saya bingungkan kenapa banyak kelompok Islam yang bermacam – macam padahal tujuan dan orientasi mereka sama ?

Hhmm..biarlah..suka – suka mereka mau membentuk kelompok seperti apa. That’s their right. Next…setelah merasa merinding disko dan dag – dig – dug mau ketemu sama kemuslimahan dari ***, akhirnya tekad saya untuk cepat pulang ke kost kalah. Saya tetap duduk dan ikut diskusi dengan mereka. Mereka datang. Saya berhadapan dengan mereka. Saya mulai filter minded ( bukan open minded biar nggak seenaknya dicekokin ! ). Ternyata mereka mengangkat masalah judicial review UU no 1/PNPS/1965 tentang Penyalahgunaan dan atau Penodaan Agama yang sudah diundangkan melalui UU no 5/1969. Latar belakang dari masalah ini sih katanya UU itu melanggar kebebasan beragama karena menurut mereka ( beberapa LSM dan tokoh ) beragama adalah HAM jadi terserah orang – orang kepercayaannya mau seperti apa. Jadi, UU ini mesti diuji coba lagi.

Yang saya tangkap dari diskusi kemarin itu secara garis besar mereka ( kemuslimahan *** ) bilang kalau UU ini diuji coba lagi maka Islam akan ternoda. Akan semakin banyak lagi aliran – aliran Islam yang nggak karuan ke mana kiblatnya, siapa nabinya, siapa Tuhannya, apa kitabnya, dan segambreng kelengkapan keagaman lainnya. Karena apa ? Karena kalau UU ini sampai dihapus penistaan agama akan semakin legal. ”Wong ada UU ini aja udah banyak penistaan agama, gimana kalau UU ini dihapus ?” kata salah satu dari mereka saat itu. Mereka juga bilang kalau bukan hanya Islam yang terancam akan hal ini tapi juga Kristen Protestan, Katholik, Hindu, Budha, dan Kong Hu Chu. So what they wanna do ? Mereka bilang mau menyuarakan ( baca : orasi ) masalah ini. Intinya mereka mau mengangkat masalah ini ke publik. Dan tindak lanjutnya ? Ingin mengumpulkan banyak tanda tangan sebagai tanda bahwa ada penolakan terhadap judicial review ini. Lalu banyak lagi follow up yang akan mereka lakukan ( saya tidak hafal karena sibuk memperhatikan slide yang mereka buat. Backgroundnya cantik – cantik..hehe.. ).

Satu hal yang saya kagumi dari mereka. Kekuatan mereka dalam mempengaruhi kami ( pendengarnya ) terasa begitu kuat. Bahasanya lunak, tidak ngotot, tapi mereka pintar memainkan dalam kata – kata sehingga ada beberapa dari kami ( kecuali saya ) mulai mengangguk – anggukan kepala dan langsung setuju. Yeah..kalau ingat kuliah Teori Komunikasi sih tergolong dalam rhetoric tradition ( yihaa...Mbak Hermin maaf ya kalau penggolongannya salah J). Saat mereka minta komentar dari kami awalnya saya nggak mau ngomong apa – apa tapi pita suara ini gatal kalau tidak bersuara. Akhirnya saya angkat tangan dan bicaralah. Saya bilang kalau kita cuma orasi doang buat apa ? Toh petinggi – petinggi yang mengurusi ini nggak dengar. Mereka sanggah dengan dalih paling tidak publik tau. Oke, kalau kita orasi, akan kah orang – orang yang lalu lalang mendengar ? Mereka sanggah dengan alasan paling tidak yang lewat itu aware dengan masalah ini ( intinya menyadarkan masyarakat ). Oke, kalau itu tujuannya, apa yang lewat itu bakalan tertarik sama yang kita suarakan ? Most of people kan kalau lihat yang orasi paling cuma nanya ada apa, mempermasalahkan apa terus ujung – ujungnya cuma ”Oohh..” atau komentar dikit lalu udah lupa. Benar nggak sih ? Karena sepanjang saya nafas 18 tahun lebih beberapa bulan di Indonesia itu paling cuma segelintir orang aja yang akhirnya memberikan perhatian lebih pada demo atau orasi atau sejenisnya lah. Atau sayanya saja yang kurang pengalaman ?

Then...they asked my solution. Saya bilang, kalau memang keenam agama di Indonesia merasa terancam mengapa kita nggak gerak sama – sama aja ? Biar sekalian petinggi – petinggi atau pihak – pihak yang mempermasalahkan UU ini tuh melek. Sekalian aja gitu enam agama gerak biar nggak hanya Islam yang dipandang sensi terhadap masalah ini. Toh tadi kan katanya bukan hanya Islam yang terancam. Bukankah kalau kita bersatu akan lebih kuat ? Jadi mengapa harus bergerak sendiri – sendiri ? Kenapa harus masing – masing ?

Tau ekspresi mereka gimana ?? Yang satu mengangguk – angguk sebagai tanda menghormati dan menghargai pendapat saya, bukan karena setuju ( karena kelihatan dari wajahnya. Berbeda kan wajah yang setuju dan wajah yang hanya menghargai, bukan ?. Yang satunya lagi memandang saya dengan freak ( dari ubun – ubun saya yang tertutup jilbab sampai kaos kaki saya yang waktu itu warnanya dekil hina dina). Aneh. Agak gimana gitu. Jujur saya nggak nyaman dilempar pandangan seperti itu. Lalu mereka diam. Tidak komentar. Malah mengalihkan pembicaraan. Beda banget sama salah satu mbak – mbak yang waktu itu juga komentar dan komentarnya berpihak pada ***. Mereka langsung membahas dan memperbincangkannya. Sedangkan saya ? ZIIIINGGG ! Mereka diam. Nggak dibahas. Nggak ditanggapi.

Zzzztt...SEBEL !!! Memangnya salah apa opini saya itu ? Bukannya bener kalau enam agama menolak kenapa kita nggak bergerak sama – sama. Tujuan kita satu, bukan ? Mempertahankan agama kita masing – masing supaya nggak dinodai. Memperkuat pagar dan batasan antara orang yang beragama benar sesuai jalurnya, orang yang beragama aneh, bahkan dengan yang atheis sekali pun ! Lalu kalau goal kita satu kenapa harus berjuang sendiri – sendiri ? Kita semua berbeda bukan berarti tidak bisa satu. Ya, kan ? Katanya Indonesia itu berbeda tapi tetap satu. Masalah agama itu masalah keyakinan. Semua yang memegang keyakinan wajib membela keyakinannya kalau diusik atau diganggu gugat. Semuanya wajib peduli. Karena keyakinan adalah prinsip. Yeah...kecuali buat follower yang kalau ada apa – apa ngikut aja kerjaannya.

Terus satu lagi yang masih kebayang – kebayang sama saya sampai sekarang. Tayangan mereka tentang masalah UU ini tuh soundnya serem banget. Seakan – akan kita tuh mau diterkam dari kanan – kiri – atas – bawah. Memang benar masalah UU ini tuh ancaman tapi apakah harus didesain seperti itu untuk sosialisasinya ? Menurut saya seperti itu malah akan menggambarkan Islam itu penentang, seram, radikal, dan hal – hal yang bikin saya merinding. Katanya Islam cinta damai. Katanya Islam penuh cinta. Katanya Islam itu baik. Tapi kenapa sosialisasinya begituuu ? Haduuuhh..meskipun gambarnya bagus – bagus kan nyeremin jadinya. Gimana mau narik simpati orang – orang yang apatis pada masalah ini kalau kesan pertamanya aja udah nyeremin ? Bukankah akan lebih menarik kalau dikemas dengan cantik, menarik, penuh dengan kedamaian, tanpa melepaskan inti permasalahan yang akan diangkat ? ( oke, berasa mengaplikasikan materi Komunikasi Pemasaran Terpadu ). Jadi jangan dulu membakar emosi umat tapi sentuhlah dulu hati umatnya agar tergugah. Kalau gini terus caranya Islam akan tetap dianggap agama yang radikal dan menyeramkan, bukan ?

Tapi terlepas dari itu semua ada pelajaran yang dapat saya petik. Kalau tidak selamanya kita melakukan hal yang kita anggap nggak berguna itu akan menjadi tidak berguna. Tuhan akan selalu memberi manfaat dari setiap hal yang kita kerjakan. Tergantung bagaimana kita menarik hikmah dari aktifitas kita tersebut. Tergantung apakah kita bersikap positif, negatif, atau bahkan apatis. Filter minded dan mau belajar hal – hal baru ternyata hal yang menyenangkan. Banyak bertemu orang. Banyak berdiskusi. Banyak bertanya. Banyak mendengar. Banyak memahami. Bukankah alam pun lebih banyak mendengarkan dari pada meminta ? Tuhan memang selalu punya cara bagi hamba – Nya untuk mengerti sesuatu yang belum dipahaminya.

NB : Mungkin masalah judicial review ini udah basi. Jadi mohon koreksinya yaa...

You Might Also Like

0 comments: