31HariMenulis
More Than That
Buat apa aku bercerita pada Tuhan kalau Dia
yang menyusun semuanya?
Buat apa aku mengadu pada Tuhan kalau Dia
yang mengizinkan semuanya?
Buat apa aku mengeluh pada Tuhan kalau Dia
yang menyebabkan semuanya?
Untuk sadar. Untuk ikhlas. Untuk tahu,
kalau hal yang hakiki adalah milik-Nya. Bukan milikmu, meski kamu mati-matian
menjaganya.
Jadi malam ini, boleh kah aku sedikit
meracau, Tuhan? Biarkan aku mabuk dan dibawanya angan ini ke langit ketujuh.
Sederhana, supaya aku menyadari bahwa cintaku pun masih milik-Mu.
Ini bukan cerita tentang pengorbanan. Masih
kalah menariknya dari Romeo and Juliet. Nggak ada apa-apanya dibanding Siti
Nurbaya. Ini cerita sederhana tentang sesuatu yang tidak diungkapkan.
Setahuku, bahasa cinta ada berbagai macam.
Termasuk kah bahasa cintaku kepadanya? Ada kah satu dari sekian kategori itu?
Aku pernah dengar kalau cinta adalah hal
universal setelah musik. Ah, kami tidak suka musik. Terlalu bingar dan rumit
memahami cinta lewat musik. Lebih baik kami diam. Maka aku diam. Nah, dari
sananya aku pikir dia pun bisa memahami, diamku adalah cinta. Tapi rasanya
tidak. Untuk urusan yang satu ini, ia ingin disuarakan. Atau bahkan
diteriakkan?
Sayang, seribu sayang, kalau bahasa cintaku
bukan lah verbal, tapi isyarat. Aku komunikasikan lewat tatap, sentuh, dan
gerak tubuh. Maaf kalau aku tak bisa mengeja cinta untukmu, tapi sedikit
inginku kamu untuk percaya kalau aku lebih dari sekedar melafalkan cinta. Aku
mengimaninya, sayang.
“I
won’t say those words, then take them back”.
Itu alasanku yang termuat dalam lagu
Backstreet Boys – More Than That.
Aku enggan menjadi sosok yang datang dan
pergi. Berucap dan menjilat.
Tidak.
Mungkin masih butuh waktu untuk membuat
yakin ini semua.
Akhirnya, waktu itu habis. Diambil
oleh-Nya.
0 comments: