31HariMenulis

More Than That

11:08 PM Tameila 0 Comments

Buat apa aku bercerita pada Tuhan kalau Dia yang menyusun semuanya?

Buat apa aku mengadu pada Tuhan kalau Dia yang mengizinkan semuanya?

Buat apa aku mengeluh pada Tuhan kalau Dia yang menyebabkan semuanya?

Untuk sadar. Untuk ikhlas. Untuk tahu, kalau hal yang hakiki adalah milik-Nya. Bukan milikmu, meski kamu mati-matian menjaganya.

Jadi malam ini, boleh kah aku sedikit meracau, Tuhan? Biarkan aku mabuk dan dibawanya angan ini ke langit ketujuh. Sederhana, supaya aku menyadari bahwa cintaku pun masih milik-Mu.

Ini bukan cerita tentang pengorbanan. Masih kalah menariknya dari Romeo and Juliet. Nggak ada apa-apanya dibanding Siti Nurbaya. Ini cerita sederhana tentang sesuatu yang tidak diungkapkan.

Setahuku, bahasa cinta ada berbagai macam. Termasuk kah bahasa cintaku kepadanya? Ada kah satu dari sekian kategori itu?

Aku pernah dengar kalau cinta adalah hal universal setelah musik. Ah, kami tidak suka musik. Terlalu bingar dan rumit memahami cinta lewat musik. Lebih baik kami diam. Maka aku diam. Nah, dari sananya aku pikir dia pun bisa memahami, diamku adalah cinta. Tapi rasanya tidak. Untuk urusan yang satu ini, ia ingin disuarakan. Atau bahkan diteriakkan?

Sayang, seribu sayang, kalau bahasa cintaku bukan lah verbal, tapi isyarat. Aku komunikasikan lewat tatap, sentuh, dan gerak tubuh. Maaf kalau aku tak bisa mengeja cinta untukmu, tapi sedikit inginku kamu untuk percaya kalau aku lebih dari sekedar melafalkan cinta. Aku mengimaninya, sayang.

I won’t say those words, then take them back”.

Itu alasanku yang termuat dalam lagu Backstreet Boys – More Than That.

Aku enggan menjadi sosok yang datang dan pergi. Berucap dan menjilat.

Tidak.

Mungkin masih butuh waktu untuk membuat yakin ini semua.

Akhirnya, waktu itu habis. Diambil oleh-Nya.

You Might Also Like

0 comments: