KLOP !

7:48 AM Tameila 2 Comments


Banyak orang yang bingung dengan bacaan saya. Mereka bilang bacaan saya terlalu “berat”. Saya sendiri seringnya balik bingung. Berat dari mananya ? Wong bacaan saya ini nggak beda dengan mereka. Novel. Komik. Majalah cewek. Malah kadang – kadang saya ngantongi brosur – brosur ndak jelas.

Seringnya orang – orang bilang bacaan saya “berat” setelah mereka melihat judul buku yang sedang saya bawa. Misalnya kayak kemarin, saat acara penerimaan KKN saya mpobong buku Puthut EA, judulnya “Makelar Politik”. Langsung deh salah satu teman saya mukanya asem banget.

“Berat e, Ta, bacaanmu. Wis tema e politik, kowe mbaca ning bus. Ra pusing po ?”

Saya yang udah sering ditanya begitu Cuma senyum dan geleng – geleng kepala. Buat apa dijawab, toh pada akhirnya si penanya pun ndak butuh penjelasan. Dia hanya butuh kepastian apakah saya pusing atau nggak baca buku di dalam mobil.

Keesokan harinya kami, cewek – cewek unit KKN saya, berdiskusi tentang beberapa penulis. Sejumlah penulis disebutkan, misalnya Fira Basuki, Dewi Lestari, Djenar Maesa Ayu, Moammar Emka, sampai Okky Madasari. Mayoritas dari penulis – penulis yang diomongkan adalah penulis favorit saya. Sebagian yang lain biasa saja, bahkan meskipun buku mereka best seller saya ndak membacanya.

Saat saya bilang, “gue nggak baca buku – bukunya Dewi Lestari. Laskar Pelangi aja gue nggak baca,” teman – teman saya keningnya berkerut berjamaah. “Piye toh, Ta ? Kamu kan suka baca buku, kok buku – buku bagus begitu ndak kamu baca?”

Saya cuma ketawa. Ya mau gimana lagi, saya lebih tertarik menonton film Laskar Pelangi, dibanding baca bukunya. Saya juga kehilangan hasrat baca buku – bukunya Dewi Lestari karena teman saya terlalu mengagung – agungkan si penulis. Pasalnya saya takut nggak objektif lagi menilai buku itu bagus atau nggak.

Saya memang bukan kritikus buku, tapi saya sebagai pembaca punya hak toh untuk menilai apa pun yang akan saya konsumsi ini bagus atau tidak. Makannya saya cenderung mencari buku – buku dari penulis yang kondang dilahannya sendiri, misalnya Nawal El – Saadawi, Okky Madasari, Puthut EA, Seno Gumira, Nh. Dini, dan sebagainya. Mereka itu penulis – penulis yang nggak banyak diekspos oleh media, kalau pun diperbincangkan hanya di kalangan orang – orang tertentu.

Bukannya saya mau sok ekslusif, tapi semakin sedikit dibicarakan orang saya semakin “aman” untuk mengonsumsi mereka. Saya lebih senang jatuh cinta pada sesuatu atau seseorang dengan cara saya sendiri. Makannya saya suka agak malas kalau mau beli buku atau nonton film tapi udah banyak diceritain sebelumnya sama orang lain. Saya pikir, kalau begitu untuk apa saya nonton dan baca bukunya. Dengar aja langsung dari spoiler. Ceritanya dapat, waktu saya bias digunakan untuk mengonsumsi yang lainnya.Yang tidak ada spoiler – nya.

Tapi sebenarnya alasan mendasar saya mencintai penulis – penulis itu adalah mereka punya kaca mata dengan dua lensa berbeda. Itulah yang membuat mereka seksi di mata saya. Mereka bias mengubah hal – hal klise menjadi potret nyata lewat tulisannya. Ibarat lukisan, mereka itu mampu mewarnai objek – objek dengan warna lain sehingga biar pun setiap pelukis objeknya sama tapi warna mereka itu berbeda.
Manalah saya paham kalau ternyata ada sisi lain dari upacara bendera yang setiap Senin diselenggarakan kalau bukan dari tulisannya Puthut EA. Mana mungkin saya mengerti kalau diri saya ini terlalu jumawa kalau bukan dari opini – opininya Samuel Mulya. Impossible juga saya mau mengubah stigma negatif saya ke cewek perokok kalau bukan dari novelnya Ratih Kumala.

Mungkin kalian akan pikir otak saya ini seperti kertas kosong  yang ditulisi oleh orang – orang itu dan kemudian manut. No ! Otak saya ini seperti kertas HVS yang punya dua sisi. Saat membaca buku – buku mereka sebelah sisinya sudah tertulis. Sudah terisi. Nah, kenapa saya bisa jatuh cinta dengan mereka karena sisi kosong itu saat diisi oleh tulisan – tulisan mereka ternyata “klop” dengan sisi satunya. Sisi yang sudah saya tulisi sendiri. Bukankah kita selalu bias jatuh cinta dengan hal – hal yang “klop” dengan diri kita ? Jadi ketika ada gayung bersambut antara sisi tulisan saya dan tulisan mereka, maka di sana lah saya jatuh cinta.
Saya yakin hal ini nggak hanya terjadi pada saya. Nggak juga sebatas dalam memilih bahan bacaan. Kalian pun pasti merasakannya, baik dalam memilih media sampai seseorang yang cintanya ingin kalian konsumsi. Jujur – jujuran deh, kita nggak akan “klop” sama orang yang nggak sesuai dengan kita, bukan ? Harus diingat juga, “sesuai” di sini bukan berarti sama dengan pribadi kita tapi lebih kepada hal – halnya yang udah kita standarkan. Kita formatkan. Kita tuliskan dalam pikiran sebelumnya.

Makannya bohong kalau ada orang pacaran bilang, “aku terima kamu apa adanya”. Lah ! Prek ! Bukan karena saya jomblo, tapi yakinlah “aku terima kamu apa adanya” itu cuma pertanda kalau kualifikasi pacarnya sesuai dengan “hal – hal yang telah tertulis di sisi sebelah kertas HVS tadi”. Saat bertemu si pacarnya itu kebetulan “klop”. Sama dengan isi kertas sisi sebelahnya. Cocok deh.

Mungkin saya lupa membahas some excuses di sini. Sebuah sikap mentolerir segala kekurangan dalam diri seseorang. Wah, kalau berbicara masalah toleransi saya ndak berani. Kenapa ? Lha gimana mau ngebacot masalah toleransi kalau saya masih enggan mengonsumsi cerita – cerita dari para spoiler. Itu kan tandanya saya nggak bias memaklumi si spoiler. Mungkin maksud mereka baik, menceritakan sekilas tapi sayanya yang nggak punya toleransi untuk memaklumi mereka. Jadi bawaannya BT kalau mau baca buku atau nonton tapi udah diceritain duluan.

Bukan pula kapasitas saya untuk menulis tentang toleransi, karena saya pun sampai sekarang belum menemukan orang yang tulisannya pas dengan sisi HVS yang telah saya tulis. Ada saja kekurangannya atau tidak idealnya sehingga hubungannya mandeg di tengah jalan. Kadang udah cocok, eh pas finishing saat menulis ketemu nggak cocoknya. Berhenti lagi deh. Sampai akhirnya saat ini belum ada yang tulisannya cocok dengan “sisi HVS sebelah saya”.

Ngerti maksudnya paragraf di atas ?

Nggak ngerti juga ndak apa – apa. Tulisan ini bukan untuk dimengerti kok, karena saya ndak menyediakan sisi sebelah yang kosong untuk kalian cocokan.

You Might Also Like

2 comments:

  1. nahh ini tulisannya nitip di laptopku kan waktu ituu?.. hhe
    *Juni*

    ReplyDelete
  2. then you're the first reader, Choky ucapkan terima kasih
    *cium Juni* :)

    ReplyDelete