Perang Dingin : Part. 1
Ada yang unik dari kost – an saya. Ilustrasinya gini deh,
kalian pernah nggak sih punya sesuatu yang benar – benar milik kalian tapi
kalian malah nggak punya kuasa sama sekali sama sesuatu itu ? Ya, kami
merasakannya. Kami punya WiFi, tapi kami nggak punya kuasa sama router dan
segala macemnya sama sekali.
Gimana bisa
? Bisa dong ! Cuma di kost – an saya yang kejadiannya seperti ini. Jangan kalian
pikir WiFi ini fasilitas dari kost – an. Wowww ! No no no ! Sesuatu yang
seharusnya jadi fasilitas ini malah kita sediakan sendiri. Tiga tahun yang lalu
kita swadana untuk pemasangan internet. Agak mahal sih sekitar satu jutaan gitu
deh karena waktu itu kita iuran seratus ribu dengan jumlah 13 kamar. Jadi 13
juta – an, toh ?
Terlepas
dari seberapa harganya kita bayar itu. Kita rela bayar bukan karena nggak
ngerti.
Memang sih kita nggak ngerti sepenuhnya, tapi waktu itu lebih kepada
kita nggak mau repot dan..yeah..si empunya kost – an “terlihat” (perhatikan “TERLIHAT”,
ya !) masih memiliki kredibilitas. Jadi nggak ada salahnya kita mempercayakan
hal ini ke dia. Kita percaya dia akan memberikan pelayanan yang terbaik.
As time
goes by per bulan kita dipungut biaya yang bervariasi. Tapi di sini saya mau
general – in kalau kita paling sering kena pungutan Rp60.000,- dan terakhir
kemarin Rp65.000,-. Selama ini (SELAMA TIGA TAHUNAN : 3 x 12 BULAN = 36 BULAN)
kita pikir memang bayarannya sekitar 800 ribuan. Karena coba kalian hitung
Rp60.000 x 13 = Rp840.000,-, bukan ? Nah, amazing – nya ternyata bayaran WiFi
kost – an saya itu flat, yaitu Rp712.000,-. Lantas ke mana perginya si
Rp128.000,- itu ?
Begini ceritanya...
As time
goes by (lagi) internet kost – an mulai ngadat. Sering sebenarny kejadian
seperti sekarang, bedanya kali ini kita udah nggak sabar. Selain karena owner –
nya nggak tanggap, di sini nggak ada transparasi. Logikanya gini deh, kan itu
WiFi kita yang pasang harusnya kita tahu dong nomor pinnya (nomor apa lah itu
istilahnya saya lupa, yang pasti sejenis nomor identitasnya), tapi ini nggak. Kita
nggak tahu nomor itu jadinya susah kalau lagi ada trouble. Sialnya entah kenapa
si mas owner nggak mau ngasih nomor itu. Su’udzonnya kita sih biar tagihan
sebenarnya nggak ketahuan, tapi ya udah lha kita nggak mau memperpanjang itu.
Akhirnya
saat ini kita berinisiatif sendiri untuk nge – handle segalanya, mulai dari
ngedatangin mas teknisi sampai pembelian router. Simpel kelihatannya, but the
fact is not. Di sini lah letak “memiliki tapi tak terasa memiliki” itu muncul. Kita
nggak bisa masuk ke ruangan di mana router itu ada. Untuk masuknya dibutuhkan
strategi karena yang jaga kost –an agak resek. Kenapa saya sebut resek ? Karena
memang resek. Pengen tahu urusan yang bukan bagiannya.
Sudah dua
hari kami menyusun banyak strategi sampai akhirnya pas pulang tadi saya kaget
kalau ada empat tulisan peraturan baru di kostan, yaitu :
1.
Pintu garasi jangan lupa dikunci
2.
Kalau nggak bisa dikunci tolong membangunkan dan
minta bantuan
3.
Pintu garasi digrendel pukul 22.00
4.
Pintu samping digrendel pukul 23.00
Saya sih
cuek sebodok amat, tapi karena anak – anak ngebahas jadi kepikiran juga. Apalagi
salah satu anak kostan bilang, “wah mbaknya sekarang udah frontal. Dia sudah
berani menunjukkan perilaku kontranya ke kita secara terang – terangan”. Mulai lah
anak – anak berlomba membagi pengalaman “frontal” tadi. Saya sih diam aja
karena pertama nggak begitu peduli dengan ke – “frontal” – an si penjaga kost –
an, kedua saya nganggepnya biasa aja, ketiga saya sering di – “frontal” – in tapi
saya bales. So there’s nothing deal with it.
By the
way ngomong – ngomong frontal, selesai rapat saya jadinya ngerasa kok sekarang
jadi kayak perang dingin, ya ? Di muka masih “permisi – permisi mbak”, tapi di
balik itu kita punya aksi untuk mem – push satu sama lain. Saya nggak biang ini
nggak baik. Cuma lucu aja ngebayanginnya kalau harus perang dingin atau adu
strategi dengan si mbak beranak umur tiga tahunan ini. Dia memang di back up
sama owner – yang – nggak – tanggap itu, tapi yang kita hadapi di depan muka
kan si mbaknya. Sorry to say, she’s not educated well tapi kok ribet banget mau
mengambil hak kita di sini, yaitu urusan WiFi.
Mungkin
sebenarnya yang kita hadapi bukan hanya si mbaknya, tapi si owner – yang –
nggak – tanggap ini juga. Oh ya, satu lagi. Sepasang ayah dan anak yang tak
lain tak bukan adalah sepupu sii owner – yang – nggak – tanggap. Mereka berdua
tidak boleh dilupakan karena mempengaruhi kelancaran misi kami dalam merebut
WiFi ini.
Lucu sih
kalau saya pikir – pikir. Karena ini adalah sesuatu yang simpel dan kalau
difrontalin juga beres. Tapi untungnya masih ada anak baik di kost – an saya
yang tahu luhurnya nilai “nuwun – nuwun”.
Kalau saya sendirian, udah saya frontalin aja itu orang, “itu kan WiFi gue. Gue
yang beli, gue yang masang, duit gue, gue juga bayar di sini. Susah amat gue
mau urusnya ? Lo juga nggak ngapa – ngapain kalo ada masalah !”
Tapi, Git, cara itu nggak bisa.
Ya, cara itu nggak bisa. Saya
berpikir cara itu nggak bisa ditempuh bukan karena si owner – yang – nggak –
tanggap bukan saingan saya. Tidak. Saya merasa cara itu nggak bisa ditempuh
karena saya nggak mau melukai perasaan teman – teman kost – an yang masih
menjunjung tinggi nilai “nuwun – nuwun”.
Jadinya ya saya balik lagi, “ya udah lha”.
Yeah...ya
udah lha..hal itu nggak masalah selama nggak ada peraturan “BATAS MANDI JAM
23.00”. Kalau ada ? Hmm...bisa ditebak nasib saya yang masih sering mandi
tengah malam.
0 comments: