Perang Dingin : Part. 1

11:16 PM Tameila 0 Comments


 Ada yang unik dari kost – an saya. Ilustrasinya gini deh, kalian pernah nggak sih punya sesuatu yang benar – benar milik kalian tapi kalian malah nggak punya kuasa sama sekali sama sesuatu itu ? Ya, kami merasakannya. Kami punya WiFi, tapi kami nggak punya kuasa sama router dan segala macemnya sama sekali.

                Gimana bisa ? Bisa dong ! Cuma di kost – an saya yang kejadiannya seperti ini. Jangan kalian pikir WiFi ini fasilitas dari kost – an. Wowww ! No no no ! Sesuatu yang seharusnya jadi fasilitas ini malah kita sediakan sendiri. Tiga tahun yang lalu kita swadana untuk pemasangan internet. Agak mahal sih sekitar satu jutaan gitu deh karena waktu itu kita iuran seratus ribu dengan jumlah 13 kamar. Jadi 13 juta – an, toh ?

                Terlepas dari seberapa harganya kita bayar itu. Kita rela bayar bukan karena nggak ngerti. 
Memang sih kita nggak ngerti sepenuhnya, tapi waktu itu lebih kepada kita nggak mau repot dan..yeah..si empunya kost – an “terlihat” (perhatikan “TERLIHAT”, ya !) masih memiliki kredibilitas. Jadi nggak ada salahnya kita mempercayakan hal ini ke dia. Kita percaya dia akan memberikan pelayanan yang terbaik.

                As time goes by per bulan kita dipungut biaya yang bervariasi. Tapi di sini saya mau general – in kalau kita paling sering kena pungutan Rp60.000,- dan terakhir kemarin Rp65.000,-. Selama ini (SELAMA TIGA TAHUNAN : 3 x 12 BULAN = 36 BULAN) kita pikir memang bayarannya sekitar 800 ribuan. Karena coba kalian hitung Rp60.000 x 13 = Rp840.000,-, bukan ? Nah, amazing – nya ternyata bayaran WiFi kost – an saya itu flat, yaitu Rp712.000,-. Lantas ke mana perginya si Rp128.000,- itu ?

                Begini ceritanya...

                As time goes by (lagi) internet kost – an mulai ngadat. Sering sebenarny kejadian seperti sekarang, bedanya kali ini kita udah nggak sabar. Selain karena owner – nya nggak tanggap, di sini nggak ada transparasi. Logikanya gini deh, kan itu WiFi kita yang pasang harusnya kita tahu dong nomor pinnya (nomor apa lah itu istilahnya saya lupa, yang pasti sejenis nomor identitasnya), tapi ini nggak. Kita nggak tahu nomor itu jadinya susah kalau lagi ada trouble. Sialnya entah kenapa si mas owner nggak mau ngasih nomor itu. Su’udzonnya kita sih biar tagihan sebenarnya nggak ketahuan, tapi ya udah lha kita nggak mau memperpanjang itu.

                Akhirnya saat ini kita berinisiatif sendiri untuk nge – handle segalanya, mulai dari ngedatangin mas teknisi sampai pembelian router. Simpel kelihatannya, but the fact is not. Di sini lah letak “memiliki tapi tak terasa memiliki” itu muncul. Kita nggak bisa masuk ke ruangan di mana router itu ada. Untuk masuknya dibutuhkan strategi karena yang jaga kost –an agak resek. Kenapa saya sebut resek ? Karena memang resek. Pengen tahu urusan yang bukan bagiannya.

                Sudah dua hari kami menyusun banyak strategi sampai akhirnya pas pulang tadi saya kaget kalau ada empat tulisan peraturan baru di kostan, yaitu :

1.       Pintu garasi jangan lupa dikunci
2.       Kalau nggak bisa dikunci tolong membangunkan dan minta bantuan
3.       Pintu garasi digrendel pukul 22.00
4.       Pintu samping digrendel pukul 23.00

                Saya sih cuek sebodok amat, tapi karena anak – anak ngebahas jadi kepikiran juga. Apalagi salah satu anak kostan bilang, “wah mbaknya sekarang udah frontal. Dia sudah berani menunjukkan perilaku kontranya ke kita secara terang – terangan”. Mulai lah anak – anak berlomba membagi pengalaman “frontal” tadi. Saya sih diam aja karena pertama nggak begitu peduli dengan ke – “frontal” – an si penjaga kost – an, kedua saya nganggepnya biasa aja, ketiga saya sering di – “frontal” – in tapi saya bales. So there’s nothing deal with it.

                By the way ngomong – ngomong frontal, selesai rapat saya jadinya ngerasa kok sekarang jadi kayak perang dingin, ya ? Di muka masih “permisi – permisi mbak”, tapi di balik itu kita punya aksi untuk mem – push satu sama lain. Saya nggak biang ini nggak baik. Cuma lucu aja ngebayanginnya kalau harus perang dingin atau adu strategi dengan si mbak beranak umur tiga tahunan ini. Dia memang di back up sama owner – yang – nggak – tanggap itu, tapi yang kita hadapi di depan muka kan si mbaknya. Sorry to say, she’s not educated well tapi kok ribet banget mau mengambil hak kita di sini, yaitu urusan WiFi.

                Mungkin sebenarnya yang kita hadapi bukan hanya si mbaknya, tapi si owner – yang – nggak – tanggap ini juga. Oh ya, satu lagi. Sepasang ayah dan anak yang tak lain tak bukan adalah sepupu sii owner – yang – nggak – tanggap. Mereka berdua tidak boleh dilupakan karena mempengaruhi kelancaran misi kami dalam merebut WiFi ini.

                Lucu sih kalau saya pikir – pikir. Karena ini adalah sesuatu yang simpel dan kalau difrontalin juga beres. Tapi untungnya masih ada anak baik di kost – an saya yang tahu luhurnya nilai “nuwun – nuwun”. Kalau saya sendirian, udah saya frontalin aja itu orang, “itu kan WiFi gue. Gue yang beli, gue yang masang, duit gue, gue juga bayar di sini. Susah amat gue mau urusnya ? Lo juga nggak ngapa – ngapain kalo ada masalah !”

                Tapi, Git, cara itu nggak bisa.

                Ya, cara itu nggak bisa. Saya berpikir cara itu nggak bisa ditempuh bukan karena si owner – yang – nggak – tanggap bukan saingan saya. Tidak. Saya merasa cara itu nggak bisa ditempuh karena saya nggak mau melukai perasaan teman – teman kost – an yang masih menjunjung tinggi nilai “nuwun – nuwun”. Jadinya ya saya balik lagi, “ya udah lha”.

                Yeah...ya udah lha..hal itu nggak masalah selama nggak ada peraturan “BATAS MANDI JAM 23.00”. Kalau ada ? Hmm...bisa ditebak nasib saya yang masih sering mandi tengah malam.

You Might Also Like

0 comments: