“Es geht dir nichts an" (It’s not your bussiness)

9:11 PM Tameila 0 Comments


Semua ini berawal dari kejadian beberapa waktu lalu. Suatu saat di mana seseorang bilang kalau saya udah nggak peduli lagi dengannya. Did I ? Saya nggak ngerti kenapa dia bisa bilang begitu. Yang pasti waktu itu dia cuma bilang, “lo kenapa sih, Ta ? Sering ngilang, ngejauh, terus pergi. Jadi unreachable.” 

Hmm...menarik. Namun sebenarnya saya nggak ke mana – mana. Andai matanya lebih terbuka.

                Perubahan ini bukan tanpa dasar. Ada asap ada api, bukan ? Jadi sama halnya dengan “unreachable” ini, pasti ada penyebabnya. Singkat kok jawabannya, “you intiminate my life too deep”. That’s the answer. Kamu terlalu masuk dan terlibat dalam kehidupan saya. Mungkin salah saya juga awalnya kenapa membiarkan kamu berenang sampai menyelam di sana. But still, you need to realize that you’re diving in my life.

                Susah memang untuk mengenyahkan orang yang udah terlalu banyak terlibat dengan hidup kita. Di sini saya nggak bermaksud untuk membuang teman, tapi nggak enak lho rasanya kalau hidup kita terlalu dicampuri sama orang lain. Percaya lah setiap orang pasti punya sisi yang nggak diceritain sama orang lain, bahkan sama ibunya sendiri. Jadi kalau misalnya posisi kita cuma pacar atau bahkan teman biasa just please appreciate that boundary.

                Mungkin ini juga yang bikin teman lunch saya ketawa garing saat ngobrol begini :

                “Lo sama siapa sekarang ?” tanya saya penasaran.

                “Ada, Ta, anak 2011,” jawabnya singkat.

                “Wow, mana fotonya ?” dia menyerahkan ponsel, “ih cantik. Ajak atuh yuk main”.

                “Lo juga ajak punya lo, ya ?”

                “Gue ?” saya nyengir, “ajak siapa ? Nungguin gue lama kali”.

                “Lo sama siapa sekarang ?”

                Saya menggeleng. “Nggak sama siapa – siapa”.

                “Muka lo jutek”.

                “Serius ???”

                Teman saya nyengir.

                “Nggak tahu. Masih risih aja kalau ada cowok yang ngomongnya aneh – aneh gitu”.

                “Biarin aja kali, Ta. Mungkin gitu cara mau kenalnya”.

                “Ogah ah, risih”.

               “Kalau gue jadi cowoknya, gue bakalan bilang ‘ya elah mau kenalan aja pelit’”
 
                Saya nggak terima dong, jadinya saya bales, “mending pelit daripada ngumbar – ngumbar buka diri”.

                Teman saya ketawa garing.

                End. Percakapan selesai.

                Saya jadi ingat perkataan teman saya yang lain. Dia bilang begini, “kalau temanan ya temanan aja. Alasan gue nggak mau nge – gank adalah gue nggak mau repot ngurusin hidup orang lain. Begitu pun gue nggak mau hidup gue diribetin sama orang lain. Ingat ya, Ta, semakin dekat lo dengan orang lain, maka orang itu akan terlibat lebih dalam sama lo. Lo juga sama, secara tidak langsung akan terlibat lebih mendalam dengan dia”.

                Salah kah ?

                Nggak !

                Fenomena di atas terbukti kok, bukan hanya common sense atau pandangan subyektif. Coba kalau kalian penasaran bisa baca dua teori komunikasi, namanya “Social Penetration Theory” dan “Communication Privacy Theory”. Social penetration theory itu bilang semakin kita dekat (istilah di sana “intimidate”) dengan orang, maka orang tersebut akan disclosure (membuka dirinya). Dengan demikian, sudah pasti toh kalau kita akan terlibat lebih dalam dengan mereka. Teori yang kedua, communication privacy theory, sekilas saya baca kalau setiap orang itu pasti “milih – milih” untuk membuka dirinya. Kalau nggak nyaman ya orang akan cenderung diam atau menghindar.

                Menemukan dua teori komunikasi di atas setidaknya membuat saya agak tenang. Ditambah dengan obrolan di bawah temaram dengan cewek kece lain. Orangnya sejenis dengan saya. Mirip banget and we do appreciate our privacy. Dia menghormati batasan – batasan keterlibatan dirinya di saya dan saya pun sama. Saya akan angkat tangan kalau dia bilang, “Ta, enough. I can handle it by myself”. We do it karena kita masing – masing percaya kalau bisa menyelesaikan masalah sendiri tanpa melakukan hal bodoh. Bagi kami, sejauh salah satu dari kami nggak melakukan kegoblokan dan ngga merugikan orang lain so it gonna be “there you go”.

                Tapi mungkin saya juga salah karena nggak semua orang seperti kami. Mungkin ada orang yang sangat baik dan mau peduli dengan hidup saya. Mungkin saya yang nggak bisa mensyukuri “tangan – tangan Tuhan” tersebut. Jadi lah saya disebut “cuek”, “nggak pedulian”, “nggak solid”, dan sejenisnya. Peduli kah saya ? Peduli. Karena bagaimana pun saya adalah makhluk sosial yang sakit hatinya kalau dibilang “Ta, lo sumpah cuek banget. Nggak punya perhatian sama sekali. Nggak peka”.

                Sakit lho. Sakit. Tapi masih pantas kah saya bilang sakit sedangkan dia lebih sakit dari saya ?

                Siapa pun kalian yang membaca ini, kalian tetap lah teman saya. Tetap lah menjadi sosok – sosok Tuhan yang saya cintai. Namun sadari lah kalau setiap orang punya sisi – sisi yang enggan untuk dimasuki oleh orang lain. Bukan berarti kalian tidak lagi dipercaya, tetapi mungkin kalian bukan orang yang tepat. Kita tidak bisa menyenangkan semua orang, kan ? Jadi mungkin inilah yang membuat saya enggan untuk memaksa orang untuk cerita sama saya kalau saya merasa “di sana bukan ranah gue”.

                Saya tahu rasanya hidup diintimidasi orang. Hidup di – stir orang. Hidup di bawah bayang – bayang orang. I’ve been there for years and I just wanna live my life now. I’m gonna let yours, so just let mine too. Ketika kita ingin jalan bergandengan tangan, bukan berarti tubuh kita menempel terus, bukan ? Kita berteman, kita berbagi, kita bersama, kita saling membantu, kita saling menyemangati, namun akan semakin indah jika kita pun saling menghormati. Menghormati mimpi. Menghormati pendapat. Menghormati keputusan. Menghormati garis yang semestinya tidak kamu lewati.

                I love you my friend. Sampai kapan pun, apa pun, di mana pun, you’re my still my best rockin’ friend. Ever ! I just want to make you understand that I’m gonna fly by my own wings. Don’t be worry, I won’t let you alone. Bukan kah akan menyenangkan sesekali terbang bersama kembali sepulang dari perantauan kita masing – masing, kawan ?

                #nomention

You Might Also Like

0 comments: