“Es geht dir nichts an" (It’s not your bussiness)
Semua ini berawal dari kejadian beberapa waktu lalu. Suatu saat
di mana seseorang bilang kalau saya udah nggak peduli lagi dengannya. Did I ?
Saya nggak ngerti kenapa dia bisa bilang begitu. Yang pasti waktu itu dia cuma bilang,
“lo kenapa sih, Ta ? Sering ngilang, ngejauh, terus pergi. Jadi unreachable.”
Hmm...menarik. Namun
sebenarnya saya nggak ke mana – mana. Andai matanya lebih terbuka.
Perubahan
ini bukan tanpa dasar. Ada asap ada api, bukan ? Jadi sama halnya dengan “unreachable” ini, pasti ada penyebabnya.
Singkat kok jawabannya, “you intiminate my life too deep”. That’s the answer. Kamu
terlalu masuk dan terlibat dalam kehidupan saya. Mungkin salah saya juga
awalnya kenapa membiarkan kamu berenang sampai menyelam di sana. But still, you
need to realize that you’re diving in my life.
Susah memang
untuk mengenyahkan orang yang udah terlalu banyak terlibat dengan hidup kita. Di
sini saya nggak bermaksud untuk membuang teman, tapi nggak enak lho rasanya
kalau hidup kita terlalu dicampuri sama orang lain. Percaya lah setiap orang
pasti punya sisi yang nggak diceritain sama orang lain, bahkan sama ibunya
sendiri. Jadi kalau misalnya posisi kita cuma pacar atau bahkan teman biasa
just please appreciate that boundary.
Mungkin
ini juga yang bikin teman lunch saya
ketawa garing saat ngobrol begini :
“Lo
sama siapa sekarang ?” tanya saya penasaran.
“Ada,
Ta, anak 2011,” jawabnya singkat.
“Wow,
mana fotonya ?” dia menyerahkan ponsel, “ih cantik. Ajak atuh yuk main”.
“Lo
juga ajak punya lo, ya ?”
“Gue ?”
saya nyengir, “ajak siapa ? Nungguin gue lama kali”.
“Lo
sama siapa sekarang ?”
Saya menggeleng.
“Nggak sama siapa – siapa”.
“Muka
lo jutek”.
“Serius
???”
Teman
saya nyengir.
“Nggak
tahu. Masih risih aja kalau ada cowok yang ngomongnya aneh – aneh gitu”.
“Biarin
aja kali, Ta. Mungkin gitu cara mau kenalnya”.
“Ogah
ah, risih”.
“Kalau
gue jadi cowoknya, gue bakalan bilang ‘ya elah mau kenalan aja pelit’”
Saya nggak
terima dong, jadinya saya bales, “mending pelit daripada ngumbar – ngumbar buka
diri”.
Teman saya
ketawa garing.
End. Percakapan
selesai.
Saya jadi
ingat perkataan teman saya yang lain. Dia bilang begini, “kalau temanan ya
temanan aja. Alasan gue nggak mau nge – gank adalah gue nggak mau repot
ngurusin hidup orang lain. Begitu pun gue nggak mau hidup gue diribetin sama
orang lain. Ingat ya, Ta, semakin dekat lo dengan orang lain, maka orang itu
akan terlibat lebih dalam sama lo. Lo juga sama, secara tidak langsung akan
terlibat lebih mendalam dengan dia”.
Salah kah
?
Nggak !
Fenomena
di atas terbukti kok, bukan hanya common
sense atau pandangan subyektif. Coba kalau kalian penasaran bisa baca dua
teori komunikasi, namanya “Social
Penetration Theory” dan “Communication
Privacy Theory”. Social penetration
theory itu bilang semakin kita dekat (istilah di sana “intimidate”) dengan orang, maka orang tersebut akan disclosure (membuka dirinya). Dengan demikian,
sudah pasti toh kalau kita akan terlibat lebih dalam dengan mereka. Teori yang
kedua, communication privacy theory,
sekilas saya baca kalau setiap orang itu pasti “milih – milih” untuk membuka
dirinya. Kalau nggak nyaman ya orang akan cenderung diam atau menghindar.
Menemukan
dua teori komunikasi di atas setidaknya membuat saya agak tenang. Ditambah
dengan obrolan di bawah temaram dengan cewek kece lain. Orangnya sejenis dengan
saya. Mirip banget and we do appreciate our privacy. Dia menghormati batasan –
batasan keterlibatan dirinya di saya dan saya pun sama. Saya akan angkat tangan
kalau dia bilang, “Ta, enough. I can handle it by myself”. We do it karena kita
masing – masing percaya kalau bisa menyelesaikan masalah sendiri tanpa
melakukan hal bodoh. Bagi kami, sejauh salah satu dari kami nggak melakukan
kegoblokan dan ngga merugikan orang lain so it gonna be “there you go”.
Tapi mungkin
saya juga salah karena nggak semua orang seperti kami. Mungkin ada orang yang
sangat baik dan mau peduli dengan hidup saya. Mungkin saya yang nggak bisa
mensyukuri “tangan – tangan Tuhan” tersebut. Jadi lah saya disebut “cuek”, “nggak
pedulian”, “nggak solid”, dan sejenisnya. Peduli kah saya ? Peduli. Karena bagaimana
pun saya adalah makhluk sosial yang sakit hatinya kalau dibilang “Ta, lo sumpah
cuek banget. Nggak punya perhatian sama sekali. Nggak peka”.
Sakit lho.
Sakit. Tapi masih pantas kah saya bilang sakit sedangkan dia lebih sakit dari
saya ?
Siapa pun
kalian yang membaca ini, kalian tetap lah teman saya. Tetap lah menjadi sosok –
sosok Tuhan yang saya cintai. Namun sadari lah kalau setiap orang punya sisi –
sisi yang enggan untuk dimasuki oleh orang lain. Bukan berarti kalian tidak lagi
dipercaya, tetapi mungkin kalian bukan orang yang tepat. Kita tidak bisa
menyenangkan semua orang, kan ? Jadi mungkin inilah yang membuat saya enggan
untuk memaksa orang untuk cerita sama saya kalau saya merasa “di sana bukan
ranah gue”.
Saya tahu
rasanya hidup diintimidasi orang. Hidup di – stir orang. Hidup di bawah bayang –
bayang orang. I’ve been there for years and I just wanna live my life now. I’m
gonna let yours, so just let mine too. Ketika kita ingin jalan bergandengan
tangan, bukan berarti tubuh kita menempel terus, bukan ? Kita berteman, kita
berbagi, kita bersama, kita saling membantu, kita saling menyemangati, namun
akan semakin indah jika kita pun saling menghormati. Menghormati mimpi. Menghormati
pendapat. Menghormati keputusan. Menghormati garis yang semestinya tidak kamu
lewati.
I love
you my friend. Sampai kapan pun, apa pun, di mana pun, you’re my still my best
rockin’ friend. Ever ! I just want to make you understand that I’m gonna fly by
my own wings. Don’t be worry, I won’t let you alone. Bukan kah akan
menyenangkan sesekali terbang bersama kembali sepulang dari perantauan kita
masing – masing, kawan ?
#nomention
0 comments: