The Interpreter

11:17 PM Tameila 0 Comments

Karena media lagi rame ngiritik FPI yang melarang konser Lady Gaga, saya mau ikut – ikutan ngiritik juga deh. Tapi tenang guys, saya nggak akan ngiritik FPI atau pun mengkritisi konser Lady Gaga. Selain karena saya bukan penggemar Lady Gaga, I don’t give a thing juga sih dengan FPI. Di sini saya cuma bingung sama pendidikan negara ini. Lucu sekaligus miris lho dengar SLB (Sekolah Luar Biasa) tapi gurunya nggak pada bisa bahasa isyarat. Aneh bin ajaib, tapi begini lah adanya.

                Keheranan ini mungkin nggak akan menjadi – jadi kalau tadi nggak diskusi dengan Pak Broto dan Tama. Tama yang saat ini sedang menjadi pelatih pantomim bilang kalau guru – guru SLB nggak semuanya bisa bahasa isyarat. Mereka mengajar dengan cara verbal jadi membiasakan murid – muridnya yang tuna rungu untuk membaca gerak bibir. Ada guru yang mampu berbahasa isyarat hanya dua orang. Itu pun masih terbata – bata.

                Seketika saya jadi ingat pengalaman waktu mengajar dulu. Memang benar guru – guru di sana waktu itu minim sekali kemampuan bahasa isyaratnya, bahkan saya rasa pak kepala sekolahnya pun nggak bisa. Bukannya mendiskreditkan, tapi kok saya ngerasa menjadi guru SLB adalah pilihan terakhir di dunia ini, ya ? Bukan kah seharusnya menjadi guru itu butuh niat yang total daripada hanya sekedar mentransfer ilmu ?
                Pertanyaan saya itu akhirnya dijawab oleh Pak Broto. Beliau bilang, “jelas aja gurunya nggak bisa bahasa isyarat. Wong di kuliah PLB (Pendidikan Luar Biasa) ndak diajari bahasa isyarat. Yang mereka pelajari hanya karakteristik anak – anaknya saja dan bagaimana membuat bahan ajar”.

                Oalaah...jadi begitu toh ? Pantas saja guru – guru di tempat saya ngajar dulu semuanya pesimis. Mereka nggak yakin kalau murid – muridnya punya kemampuan yang sama dengan murid – murid yang bisa mendengar. Bahkan saya pernah dibilangin begini sama seorang guru, “udah lah bu Gita ngajarin mereka nggak bisa dipaksa. Nggak usah muluk – muluk untuk jadi pinter, bisa ngurus diri sendiri aja udah syukur”.

                Tuhan, apa jadinya murid – murid saya kalau gurunya saja sudah pesimis begitu ? Bagaimana bakat mereka akan berkembang kalau gurunya saja sudah memandang mereka sebelah mata ?

                Sedih. Miris. Saya menggumam, “kok bisa ya pak kayak begitu ? Padahal kan seharusnya mereka bisa bahasa isyarat. Waktu saya ngajar juga kompetensi anak SMA diturunin jadi SMP, padahal soal – soal UAN – nya setaraf dengan SMA. Kenapa begitu ya, pak ?”

                Pak Broto hanya tersenyum, lalu menjawab, “jelas aja sistem pendidikan mereka (anak – anak SLB) nggak sesuai, wong yang nyusun aja orang normal. Mana ngerti keadaan anak – anak tuli”.
                Iya sih benar juga. Saya pernah ngobrol dengan salah seorang guru dan melihat RPKPS (lupa kepanjangan dari apa, tapi intinya rencana pengajaran) kelas X. Waktu melihat itu, rasanya ingin istighfar. Kok mereka direndahkan banget kayaknya. Bagaimana tidak, materi – materi yang ada di sana itu pantasnya diajarkan untuk anak – anak SD, bukan SMA ! Saat saya bertanya mengapa begitu rendah standarnya, lagi – lagi sang Guru menjawab dengan pesimisnya, “yah mau gimana lagi bu Gita. Keadaan mereka begitu, kalau nanti dikasih yang susah – susah nggak bisa nangkep”.

                Is it true ? Absolutely not ! Buktinya saya ngajar bahasa Inggris kelas XII struktur kalimat mereka ngerti tuh. Saya suruh hafalan anggota keluarga dan anggota tubuh mereka bisa tuh. Tinggal si gurunya aja yang yakin anak – anaknya bisa nangkep atau nggak. Kalau gurunya aja pesimis, ya gimana ilmunya mau nyampe. Yang namanya ngajar itu nggak cuma ngasih tau, tapi kamu harus benar – benar membuat orang itu paham. Makannya nggak aneh waktu tadi Arief, salah satu anggota DAC,cerita sama saya pengalamannya belajar bahasa Inggris di SMA dulu. Ia bilang gurunya lebih banyak bicara secara oral dan menulis. Dia dan teman – temannya nggak ngerti lantas lebih memilih tidur di kelas. Ya wajar mereka begitu, lha mereka nggak bisa dengar. Mau ngomong sampai ubanan juga tetap aja nggak akan ngerti apa yang dijelaskan. Ironisnya, saat semua orang tua wali dikumpulkan si guru malah menyalahkan anak – anaknya yang nggak mau belajar. Padahal coba balik lagi ke diri si guru, siapa yang salah dan tidak memahami audiensnya di sini ?

                Berbicara soal memahami teman – teman yang tuna rungu membuat saya tak ada hentinya menemukan hal – hal baru. Selain saya jadi lebih sadar betapa pincangnya sistem pendidikan negara ini, saya pun jadi lebih sensitif untuk melihat lawan bicara. Seperti sore ini, tiba – tiba saya diminta jadi interpreter untuk teman – teman DAC yang akan tampil di UAJY (Universitas Atma Jaya Yogyakarta). Saya diminta untuk jadi penerjemah karena mereka tidak mengerti apa yang diucapkan selama acara. Ini untuk pertama kalinya saya berbicara bahasa isyarat di depan umum.

                Malu ? Jelas. Takut ? Banget. Nolak ? NO ! Saya nggak mau ngecewain teman – teman DAC dan Pak Broto yang mempercayai saya saat itu. Kalau mereka saja percaya bisa mengerti dari kegagapan bahasa isyarat saya, mengapa saya harus pesimis merasa tidak yakin bisa menerjemahkan pembicaraan kepada mereka ? Kalau Fani saja dengan manisnya bilang, “kamu pasti bisa”, mengapa saya harus berpikir “saya tidak bisa” ? Kalau Arief saja dengan semangatnya bilang, “jangan malu. Ayo belajar ! Jelek nggak apa – apa, namanya juga belajar”, kenapa saya harus merasa minder di depan teman – teman DAC ?

                Ya, saya minder di hadapan teman – teman DAC. Bukan di hadapan tamu yang normal. Saya malu dengan perasaan tidak mampu untuk membuat mereka mengerti. Untungnya mereka begitu baik. Setiap kata – kata yang saya terjemahkan secara alfabet, mereka mengoreksinya dengan bahasa isyarat yang benar. Usai menerjemahkan, saya berjalan lemas menghampiri Pak Broto, “pak saya tadi jelek banget, ya ? Mereka pasti nggak ngerti apa yang saya terjemahin”.

                Pak Broto tertawa, “nggak apa – apa. Mereka pasti ngerti kok, tandanya ada yang ngangguk – ngangguk. Meski nggak menutup kemungkinan mereka nggak ngerti dan cuma menghargai kamu”.

                DEG ! Sumpah, saya nggak pernah mikir segitunya. Kalau memang benar anggukan – anggukan itu sekedar menghormati saya, bagaimana dengan murid – murid saya dulu ? Apakah mereka benar – benar memahami apa yang saya ajarkan ? Atau kah pertanyaan – pertanyaan yang mereka ajukan, kegembiraan mendapat reward karena menjawab dengan benar, dan mengerjakan tugas hanya untuk membahagiakan saya yang tak mampu mengerti mereka ? Kalau begini terus mau sampai kapan anak – anak difabel hidup mandiri ? Mau sampai kapan mereka tidak dianggap menyusahkan bahkan tidak berguna ? Salah mereka ? Bukan. Salah Tuhan ? Bukan. Salah kita lah yang enggan memahami mereka sebagaimana mereka berusaha keras untuk menginterpretasi gerak bibir kita.

You Might Also Like

0 comments: