The Interpreter
Karena media lagi rame ngiritik FPI yang melarang konser
Lady Gaga, saya mau ikut – ikutan ngiritik juga deh. Tapi tenang guys, saya
nggak akan ngiritik FPI atau pun mengkritisi konser Lady Gaga. Selain karena
saya bukan penggemar Lady Gaga, I don’t give a thing juga sih dengan FPI. Di sini
saya cuma bingung sama pendidikan negara ini. Lucu sekaligus miris lho dengar
SLB (Sekolah Luar Biasa) tapi gurunya nggak pada bisa bahasa isyarat. Aneh bin
ajaib, tapi begini lah adanya.
Keheranan
ini mungkin nggak akan menjadi – jadi kalau tadi nggak diskusi dengan Pak Broto
dan Tama. Tama yang saat ini sedang menjadi pelatih pantomim bilang kalau guru –
guru SLB nggak semuanya bisa bahasa isyarat. Mereka mengajar dengan cara verbal
jadi membiasakan murid – muridnya yang tuna rungu untuk membaca gerak bibir. Ada
guru yang mampu berbahasa isyarat hanya dua orang. Itu pun masih terbata –
bata.
Seketika
saya jadi ingat pengalaman waktu mengajar dulu. Memang benar guru – guru di
sana waktu itu minim sekali kemampuan bahasa isyaratnya, bahkan saya rasa pak
kepala sekolahnya pun nggak bisa. Bukannya mendiskreditkan, tapi kok saya
ngerasa menjadi guru SLB adalah pilihan terakhir di dunia ini, ya ? Bukan kah
seharusnya menjadi guru itu butuh niat yang total daripada hanya sekedar
mentransfer ilmu ?
Pertanyaan
saya itu akhirnya dijawab oleh Pak Broto. Beliau bilang, “jelas aja gurunya nggak bisa bahasa isyarat. Wong di kuliah PLB
(Pendidikan Luar Biasa) ndak diajari bahasa isyarat. Yang mereka pelajari hanya
karakteristik anak – anaknya saja dan bagaimana membuat bahan ajar”.
Oalaah...jadi
begitu toh ? Pantas saja guru – guru di tempat saya ngajar dulu semuanya
pesimis. Mereka nggak yakin kalau murid – muridnya punya kemampuan yang sama
dengan murid – murid yang bisa mendengar. Bahkan saya pernah dibilangin begini
sama seorang guru, “udah lah bu Gita
ngajarin mereka nggak bisa dipaksa. Nggak usah muluk – muluk untuk jadi pinter,
bisa ngurus diri sendiri aja udah syukur”.
Tuhan,
apa jadinya murid – murid saya kalau gurunya saja sudah pesimis begitu ?
Bagaimana bakat mereka akan berkembang kalau gurunya saja sudah memandang
mereka sebelah mata ?
Sedih. Miris.
Saya menggumam, “kok bisa ya pak kayak
begitu ? Padahal kan seharusnya mereka bisa bahasa isyarat. Waktu saya ngajar
juga kompetensi anak SMA diturunin jadi SMP, padahal soal – soal UAN – nya setaraf
dengan SMA. Kenapa begitu ya, pak ?”
Pak Broto
hanya tersenyum, lalu menjawab, “jelas
aja sistem pendidikan mereka (anak – anak SLB) nggak sesuai, wong yang nyusun
aja orang normal. Mana ngerti keadaan anak – anak tuli”.
Iya sih
benar juga. Saya pernah ngobrol dengan salah seorang guru dan melihat RPKPS
(lupa kepanjangan dari apa, tapi intinya rencana pengajaran) kelas X. Waktu melihat
itu, rasanya ingin istighfar. Kok mereka direndahkan banget kayaknya. Bagaimana
tidak, materi – materi yang ada di sana itu pantasnya diajarkan untuk anak –
anak SD, bukan SMA ! Saat saya bertanya mengapa begitu rendah standarnya, lagi –
lagi sang Guru menjawab dengan pesimisnya, “yah
mau gimana lagi bu Gita. Keadaan mereka begitu, kalau nanti dikasih yang susah –
susah nggak bisa nangkep”.
Is it
true ? Absolutely not ! Buktinya saya ngajar bahasa Inggris kelas XII struktur
kalimat mereka ngerti tuh. Saya suruh hafalan anggota keluarga dan anggota
tubuh mereka bisa tuh. Tinggal si gurunya aja yang yakin anak – anaknya bisa
nangkep atau nggak. Kalau gurunya aja pesimis, ya gimana ilmunya mau nyampe. Yang
namanya ngajar itu nggak cuma ngasih tau, tapi kamu harus benar – benar membuat
orang itu paham. Makannya nggak aneh waktu tadi Arief, salah satu anggota
DAC,cerita sama saya pengalamannya belajar bahasa Inggris di SMA dulu. Ia bilang
gurunya lebih banyak bicara secara oral dan menulis. Dia dan teman – temannya nggak
ngerti lantas lebih memilih tidur di kelas. Ya wajar mereka begitu, lha mereka
nggak bisa dengar. Mau ngomong sampai ubanan juga tetap aja nggak akan ngerti
apa yang dijelaskan. Ironisnya, saat semua orang tua wali dikumpulkan si guru
malah menyalahkan anak – anaknya yang nggak mau belajar. Padahal coba balik
lagi ke diri si guru, siapa yang salah dan tidak memahami audiensnya di sini ?
Berbicara
soal memahami teman – teman yang tuna rungu membuat saya tak ada hentinya
menemukan hal – hal baru. Selain saya jadi lebih sadar betapa pincangnya sistem
pendidikan negara ini, saya pun jadi lebih sensitif untuk melihat lawan bicara.
Seperti sore ini, tiba – tiba saya diminta jadi interpreter untuk teman – teman
DAC yang akan tampil di UAJY (Universitas Atma Jaya Yogyakarta). Saya diminta
untuk jadi penerjemah karena mereka tidak mengerti apa yang diucapkan selama
acara. Ini untuk pertama kalinya saya berbicara bahasa isyarat di depan umum.
Malu ?
Jelas. Takut ? Banget. Nolak ? NO ! Saya nggak mau ngecewain teman – teman DAC
dan Pak Broto yang mempercayai saya saat itu. Kalau mereka saja percaya bisa
mengerti dari kegagapan bahasa isyarat saya, mengapa saya harus pesimis merasa
tidak yakin bisa menerjemahkan pembicaraan kepada mereka ? Kalau Fani saja
dengan manisnya bilang, “kamu pasti bisa”,
mengapa saya harus berpikir “saya tidak
bisa” ? Kalau Arief saja dengan semangatnya bilang, “jangan malu. Ayo belajar ! Jelek nggak apa – apa, namanya juga belajar”,
kenapa saya harus merasa minder di depan teman – teman DAC ?
Ya,
saya minder di hadapan teman – teman DAC. Bukan di hadapan tamu yang normal. Saya
malu dengan perasaan tidak mampu untuk membuat mereka mengerti. Untungnya
mereka begitu baik. Setiap kata – kata yang saya terjemahkan secara alfabet,
mereka mengoreksinya dengan bahasa isyarat yang benar. Usai menerjemahkan, saya
berjalan lemas menghampiri Pak Broto, “pak
saya tadi jelek banget, ya ? Mereka pasti nggak ngerti apa yang saya terjemahin”.
Pak Broto
tertawa, “nggak apa – apa. Mereka pasti
ngerti kok, tandanya ada yang ngangguk – ngangguk. Meski nggak menutup
kemungkinan mereka nggak ngerti dan cuma menghargai kamu”.
DEG !
Sumpah, saya nggak pernah mikir segitunya. Kalau memang benar anggukan –
anggukan itu sekedar menghormati saya, bagaimana dengan murid – murid saya dulu
? Apakah mereka benar – benar memahami apa yang saya ajarkan ? Atau kah
pertanyaan – pertanyaan yang mereka ajukan, kegembiraan mendapat reward karena menjawab dengan benar, dan
mengerjakan tugas hanya untuk membahagiakan saya yang tak mampu mengerti mereka
? Kalau begini terus mau sampai kapan anak – anak difabel hidup mandiri ? Mau
sampai kapan mereka tidak dianggap menyusahkan bahkan tidak berguna ? Salah mereka
? Bukan. Salah Tuhan ? Bukan. Salah kita lah yang enggan memahami mereka sebagaimana
mereka berusaha keras untuk menginterpretasi gerak bibir kita.
0 comments: