Hello Cello, we meet again !
Hello Cello, kita bertemu lagi !
Aku senang meski kamu tidak dipelukannya. Pertama ku lihat kamu
tergeletak di ruangan berukuran 4 x 6 m. Berserakan di tengah biola dan lembar –
lembaran gambar berkrayon. Waktu itu aku mau menghadap – Nya. Menunaikan
panggilan maghrib . Tapi siapa sangka aku bertemu denganmu usai membasuh tubuh
untuk menyucikan diri ?
Hello Cello, kamu hadir tanpa bulan !
Sebelum kita bersua sebenarnya aku telah menangkap sayupmu. Namun
dari kejauhan aku tak yakin kalau itu dirimu karena biasanya kamu hadir bersama
bulan. Ku lihat malam ini bulan absen. Langit dihuni oleh awan putih dan
bintang. Ke mana kamu bulan ? Ke mana melodi bulan yang pendarnya bertahan
hingga kamar ? Hingga malam. Hingga sadar akhirnya kamu tidak di sisiku.
Hello Cello, aku tidak merindukan bulan !
Aneh. Padahal dulu aku begitu mendambamu, bukan ? Kamu ingat
? Masih bisa kah kamu merasakan waktu aku enggan menghampirimu ? Bahkan waktu
aku sempat mengudarakan do’a ke langit ? Ingat ? Saya rasa tidak. Mana lah kamu
tahu siapa aku. Ini lah yang membuatku tak lagi merindukan bulan. Mungkin. Ya,
mungkin, karena aku tahu kamu tak akan pernah merindukanku.
Hello Cello, bintang memanggilku !
Entah apa yang ada di dalam dada kalau aku melihatmu,
terlebih mendengar suaramu. Mendengar namamu saja aku harus menarik nafas dalam
– dalam. Jadi, bisa kah kamu rasakan sesaknya dada saat bersujud namun melodimu
mengiringiku ? Mengerti kah kamu arti sebuah “ikhlas” untuk mengudarakan
barisan notasi itu ? Tidak juga tidak apa – apa. Ada yang lebih mengertiku. Bukan
bulan, karena bulan tak ada malam ini. Yang ada hanya bintang
Hello Cello, sampai jumpa lagi di lain waktu !
Dalam gelap aku menyusuri pematang sawah. Memotong petakan
hijau yang nantinya akan menguning. Menjadi butir penyambung hidup orang –
orang yang menanam rejeki di dalamnya. Meski mereka tahu rejeki itu datangnya
dari langit, mereka masih tetap memupuknya lewat pagi. Sama sepertiku. Aku tahu
kebahagiaan itu datangnya dari langit, bukan dari kamu. Tapi apakah salah kalau
aku menitipkannya padamu, Cello ? Mungkin tidak. Hanya saja kurang tepat. Kurang
pantas bagiku yang masih menyisipkan
melodi kebahagiaan lewat bulanmu.
0 comments: