“Trick Player”
Menjadi seorang
ibu memang cita – cita saya sejak lama. But I won’t be just an ordinary Mom. I
want to be a great Mom. I want to be an awesome mother. I want my children put
me as their role model. Just like me. Like I put my Mom at the top of the best
role model in this world. Apakah saya berlebihan meng – admire nyokap ? Ya. And
I’m happy that I’m not alone here. I find it in my friends. My awesome girl
friends who are dreaming to be an incredible Mom too.
Saya dulu ingat banget sering protes
sama nyokap kalau Sabtu – Minggu harus lembur. “Kan sekarang hari Sabtu. Katanya mama libur, kok ke kantor ?”.
Waktu itu saya belum ngerti apa itu “lembur”, “komitmen”, “integritas”, dan
segala atribut istilah yang menuntut kita untuk totalitas. Wajar jika nyokap
cuma jawab, “Mama kan kerja untuk kamu.
Biar kamu bisa sekolah, bisa beli majalah Bobo, bisa main masak – masakan.
Nanti jam 1 siang Mama udah pulang kok. Adek mau titip apa ? Donat ? Atau nanti
kita ngebakso aja, gimana ?”
Nyogok. Itu lah yang terlintas
di pikiran saya dulu. Nyokap berusaha ngebujuk saya supaya nggak marah, nggak
ngambek, nggak musuhin dia. Memang sih berhasil cara ini, tapi saya nggak
pernah kepikiran kalau cara ini bisa membuatnya dia sempurna sebagai wanita.
Sebagai ibu. Sebagai perempuan yang berhasil mengobati kekecewaan anaknya yang
banyak nuntut.
Sekarang, saat saya udah
ngerasain gimana sedikitnya 24 jam, saya harus mengubah anggapan “nyogok” itu.
Kompensasi. Itu lah istilah yang tepat. Lebih halus, lebih sopan, dan lebih
menghargai. Dulu yang saya ngerti adalah setiap pagi nyokap – bokap harus kerja
sampai maghrib, bahkan kadang sampai saya tidur. Sabtu – Minggu kadang – kadang
mereka pergi untuk alasan “lembur” atau urusan kantor lainnya. Setiap hari,
setiap jadwal saya pulang sekolah, nyokap – bokap nelefon. Nanya udah makan
siang belum, ngapain aja di sekolah, dan sedang ngapain. Oh iya, satu lagi,
ngingetin saya jangan bolos untuk sekolah agama. Malamnya, kami makan malam
bareng di ruang makan. Saya masih ingat betapa marahnya bokap kalau saya lebih
milih makan di ruang TV sambil nonton. Saya pikir keharusan itu hanyalah aturan
yang dibikin bokap, tapi nggak, they just want to spend the rest of the day
with their daughters.
Ya, kompensasi. Nyokap berusaha untuk mengkompensasi rasa
bersalahnya karena nggak bisa weekend bareng saya dengan sepulang lembur
ngebeliin selusin Dunkin’ Donut. Atau bokap yang mengganti “waktu bermainnya”
bersama saya dengan rela membelikan saya banyak buku bacaan. Sepulangnya dari
kantor baru lah dia masuk ke kamar saya dan minta diceritakan tokoh – tokoh
dari buku itu.
Satu hal yang baru saya sadari adalah they are such a damn fuckin’
awesome incredible trick player. Mungkin hal ini cenderung untuk nyokap, bukan
karena pilih kasih atau emansipasi wanita atau apalah. But it’s true, we are
woman thinks a lot of things before sleep. Entah ini untuk semua perempuan atau
cuma saya, tapi setiap malam sebelum tidur otak ini nggak pernah bisa berhenti
mikir. Baru bisa tidur kalau rencana besok udah tersusun rapi. Pertama, mulai
dari apa yang akan saya lakukan besok. Pakai baju apa. Ke mana aja. Kalau harus
mengunjungi tempat, saya harus lewat mana dan mengurutkan kunjungan – kunjungan
itu untuk menyingkat waktu. Kalau harus ada yang dibeli, saya harus menyusun
daftar barang – barang yang dibeli agar tidak ada yang tertinggal. Kalau harus
ketemu orang, saya harus memastikan udah dealing
waktu dan tempat ketemuan.
Itu baru hal – hal yang harus saya lakukan. Tengok ke kiri, lihat
kamar. Lihat ke sekeliling apakah ada yang rusak atau harus dibenahi. Kalau
memang harus dibenahi, kapan dan bagaimana cara membenahinya. Apa yang harus
diganti, diperbaiki, dibuang, atau dirapihkan. Lihat ke kanan, ada tembok. Kosong.
Pikiran langsung mengembara ke daftar orang – orang yang selama ini udah jarang
bahkan nggak pernah lagi dihubungi padahal mereka orang – orang baik ke saya.
Udah telfon bokap – nyokap hari ini ? Udah BBM teteh ? Udah sms teman – teman
di Serang ? Udah balas pesan – pesan kerjaan dan tugas ?
Is it life that complicated ? May be not. Karena hidup itu pilihan,
tinggal kita lah yang memilih untuk ribet atau simpel. And for me, being a
carrier Mom needs a trick to handle all “keribetan”. Mungkin untuk saat ini
saya nggak nganggep itu semua ribet. HUP ! Saya masih bisa mengatasinya dalam
24 jam. Tapi bagaimana jadinya kalau saya udah jadi seorang ibu nanti ? Saya
harus mikir pergaulan anak saya gimana di sekolah, bagaimana mengatur
perputaran uang keluarga, si suami kurang ajar nggak di belakang saya, si mbak kerjanya bener apa seringnya
ngegosip aja dengan tetangga, bahkan sampai bunga apa yang harus ditanam di
taman. Eh serius lho, perempuan (atau mungkin saya doang) itu nggak berhenti
mikir sampai hal terkecil pun. Makannya saya amazed waktu itu nyokap pernah
bilang, “dek, yuk anter Mama beli kemeja
untuk Papa. Lihat deh kerahnya udah nggak pantes dipakai ke kantor”.
AAAAKKKK ! KERAH KEMEJA SUAMI PUN DIPIKIRIN ! GUSTI !
Di sini lah saya merasa kalau memang Tuhan itu luar
biasa. Dia menganugerahkan otak memang dipakai untuk mikir. Bukan untuk diri
sendiri. Tapi untuk licik, licik di 24 jamnya supaya kita bisa membahagiakan
orang lain. Bagaimana caranya kita membahagiakan orang – orang terbaik tanpa
harus kehilangan diri kita sendiri. PIKIR ! BAGAIMANA CARANYA ! ITU. Kita
memang nggak bisa membahagiakan semua orang, makannya bagaimana kita meng – keep orang – orang terbaik agar tidak
terkategori ke “orang yang tidak wajib saya bahagiakan”.
Mungkin ini pun yang menjadi
alasan saya untuk heran sekaligus mengagumi kedua orang tua saya. Heran, karena
sejak kecil sejujurnya saya lebih sering diasuh oleh si mbak. Dulu, saya sering
banget pulang sekolah diajak muter – muter kota sama angkot. Pasalnya pacar si
mbak saya dulu sopir angkot. Malamnya saya juga nggak jarang bermain di kamar
si mbak. Herannya lagi, seharusnya kerenggangan itu nggak bikin saya dekat
dengan kedua orang tua saya. Bukan kah hubungan yang renggang dengan orang tua
sejak anak – anak membuat jarak baginya saat sudah dewasa ? For me, it’s not. I’m
getting love love love them. Saya mengagumi mereka sebagai pemain trik. Saya
mengangumi mereka bagaimana mengambil hati saya hingga saat ini. Makannya, cuma
dari mulut mereka berdua saya mau melakukan sesuatu tanpa harus
dirasionalisasi. Biasanya kalau saya dapat perintah dari orang lain bakalan
saya pikir dua kali, apa alasan dan keuntungannya. Aneh, kalau perintahnya dari
mulut mereka ya udah saya lakuin aja (biar pun kadang – kadang debat dulu).
Hmm…menyenangkan tampaknya
menjadi orang tua, khususnya ibu. Tampaknya akan banyak kejutan dan keribetan –
keribetan lucu. But my Mom always says that, “jadi ibu itu nggak segampang yang kamu kira. Cuma masak terus beres –
beres rumah. Nanti juga kamu ngerasain.” Atau bokap yang sering ngebisikin,
“insya Allah kalau udah saatnya nanti
kamu ngerasain gimana rasanya jadi orang tua”. Ya, one day. The day when I
decide to give my time for them. For my family. For my children. For my
hushband. Di sini lah kita harus lebih menghargai “mengalahnya” seorang ibu
sebagai wanita karier. “Diam di rumah” bukan karena kewajiban, tapi karena mereka
mengorbankan waktunya untuk meraih mimpinya demi memupuk mimpi – mimpi
keluarganya.
0 comments: