“Trick Player”

3:48 PM Tameila 0 Comments


Menjadi seorang ibu memang cita – cita saya sejak lama. But I won’t be just an ordinary Mom. I want to be a great Mom. I want to be an awesome mother. I want my children put me as their role model. Just like me. Like I put my Mom at the top of the best role model in this world. Apakah saya berlebihan meng – admire nyokap ? Ya. And I’m happy that I’m not alone here. I find it in my friends. My awesome girl friends who are dreaming to be an incredible Mom too.

                Saya dulu ingat banget sering protes sama nyokap kalau Sabtu – Minggu harus lembur. “Kan sekarang hari Sabtu. Katanya mama libur, kok ke kantor ?”. Waktu itu saya belum ngerti apa itu “lembur”, “komitmen”, “integritas”, dan segala atribut istilah yang menuntut kita untuk totalitas. Wajar jika nyokap cuma jawab, “Mama kan kerja untuk kamu. Biar kamu bisa sekolah, bisa beli majalah Bobo, bisa main masak – masakan. Nanti jam 1 siang Mama udah pulang kok. Adek mau titip apa ? Donat ? Atau nanti kita ngebakso aja, gimana ?”

                Nyogok. Itu lah yang terlintas di pikiran saya dulu. Nyokap berusaha ngebujuk saya supaya nggak marah, nggak ngambek, nggak musuhin dia. Memang sih berhasil cara ini, tapi saya nggak pernah kepikiran kalau cara ini bisa membuatnya dia sempurna sebagai wanita. Sebagai ibu. Sebagai perempuan yang berhasil mengobati kekecewaan anaknya yang banyak nuntut.

                Sekarang, saat saya udah ngerasain gimana sedikitnya 24 jam, saya harus mengubah anggapan “nyogok” itu. Kompensasi. Itu lah istilah yang tepat. Lebih halus, lebih sopan, dan lebih menghargai. Dulu yang saya ngerti adalah setiap pagi nyokap – bokap harus kerja sampai maghrib, bahkan kadang sampai saya tidur. Sabtu – Minggu kadang – kadang mereka pergi untuk alasan “lembur” atau urusan kantor lainnya. Setiap hari, setiap jadwal saya pulang sekolah, nyokap – bokap nelefon. Nanya udah makan siang belum, ngapain aja di sekolah, dan sedang ngapain. Oh iya, satu lagi, ngingetin saya jangan bolos untuk sekolah agama. Malamnya, kami makan malam bareng di ruang makan. Saya masih ingat betapa marahnya bokap kalau saya lebih milih makan di ruang TV sambil nonton. Saya pikir keharusan itu hanyalah aturan yang dibikin bokap, tapi nggak, they just want to spend the rest of the day with their daughters.

Ya, kompensasi. Nyokap berusaha untuk mengkompensasi rasa bersalahnya karena nggak bisa weekend bareng saya dengan sepulang lembur ngebeliin selusin Dunkin’ Donut. Atau bokap yang mengganti “waktu bermainnya” bersama saya dengan rela membelikan saya banyak buku bacaan. Sepulangnya dari kantor baru lah dia masuk ke kamar saya dan minta diceritakan tokoh – tokoh dari buku itu.

Satu hal yang baru saya sadari adalah they are such a damn fuckin’ awesome incredible trick player. Mungkin hal ini cenderung untuk nyokap, bukan karena pilih kasih atau emansipasi wanita atau apalah. But it’s true, we are woman thinks a lot of things before sleep. Entah ini untuk semua perempuan atau cuma saya, tapi setiap malam sebelum tidur otak ini nggak pernah bisa berhenti mikir. Baru bisa tidur kalau rencana besok udah tersusun rapi. Pertama, mulai dari apa yang akan saya lakukan besok. Pakai baju apa. Ke mana aja. Kalau harus mengunjungi tempat, saya harus lewat mana dan mengurutkan kunjungan – kunjungan itu untuk menyingkat waktu. Kalau harus ada yang dibeli, saya harus menyusun daftar barang – barang yang dibeli agar tidak ada yang tertinggal. Kalau harus ketemu orang, saya harus memastikan udah dealing waktu dan tempat ketemuan.

Itu baru hal – hal yang harus saya lakukan. Tengok ke kiri, lihat kamar. Lihat ke sekeliling apakah ada yang rusak atau harus dibenahi. Kalau memang harus dibenahi, kapan dan bagaimana cara membenahinya. Apa yang harus diganti, diperbaiki, dibuang, atau dirapihkan. Lihat ke kanan, ada tembok. Kosong. Pikiran langsung mengembara ke daftar orang – orang yang selama ini udah jarang bahkan nggak pernah lagi dihubungi padahal mereka orang – orang baik ke saya. Udah telfon bokap – nyokap hari ini ? Udah BBM teteh ? Udah sms teman – teman di Serang ? Udah balas pesan – pesan kerjaan dan tugas ?

Is it life that complicated ? May be not. Karena hidup itu pilihan, tinggal kita lah yang memilih untuk ribet atau simpel. And for me, being a carrier Mom needs a trick to handle all “keribetan”. Mungkin untuk saat ini saya nggak nganggep itu semua ribet. HUP ! Saya masih bisa mengatasinya dalam 24 jam. Tapi bagaimana jadinya kalau saya udah jadi seorang ibu nanti ? Saya harus mikir pergaulan anak saya gimana di sekolah, bagaimana mengatur perputaran uang keluarga, si suami kurang ajar nggak di belakang saya, si mbak kerjanya bener apa seringnya ngegosip aja dengan tetangga, bahkan sampai bunga apa yang harus ditanam di taman. Eh serius lho, perempuan (atau mungkin saya doang) itu nggak berhenti mikir sampai hal terkecil pun. Makannya saya amazed waktu itu nyokap pernah bilang, “dek, yuk anter Mama beli kemeja untuk Papa. Lihat deh kerahnya udah nggak pantes dipakai ke kantor”. AAAAKKKK ! KERAH KEMEJA SUAMI PUN DIPIKIRIN ! GUSTI !

                Di sini  lah saya merasa kalau memang Tuhan itu luar biasa. Dia menganugerahkan otak memang dipakai untuk mikir. Bukan untuk diri sendiri. Tapi untuk licik, licik di 24 jamnya supaya kita bisa membahagiakan orang lain. Bagaimana caranya kita membahagiakan orang – orang terbaik tanpa harus kehilangan diri kita sendiri. PIKIR ! BAGAIMANA CARANYA ! ITU. Kita memang nggak bisa membahagiakan semua orang, makannya bagaimana kita meng – keep orang – orang terbaik agar tidak terkategori ke “orang yang tidak wajib saya bahagiakan”.

                Mungkin ini pun yang menjadi alasan saya untuk heran sekaligus mengagumi kedua orang tua saya. Heran, karena sejak kecil sejujurnya saya lebih sering diasuh oleh si mbak. Dulu, saya sering banget pulang sekolah diajak muter – muter kota sama angkot. Pasalnya pacar si mbak saya dulu sopir angkot. Malamnya saya juga nggak jarang bermain di kamar si mbak. Herannya lagi, seharusnya kerenggangan itu nggak bikin saya dekat dengan kedua orang tua saya. Bukan kah hubungan yang renggang dengan orang tua sejak anak – anak membuat jarak baginya saat sudah dewasa ? For me, it’s not. I’m getting love love love them. Saya mengagumi mereka sebagai pemain trik. Saya mengangumi mereka bagaimana mengambil hati saya hingga saat ini. Makannya, cuma dari mulut mereka berdua saya mau melakukan sesuatu tanpa harus dirasionalisasi. Biasanya kalau saya dapat perintah dari orang lain bakalan saya pikir dua kali, apa alasan dan keuntungannya. Aneh, kalau perintahnya dari mulut mereka ya udah saya lakuin aja (biar pun kadang – kadang debat dulu).

                Hmm…menyenangkan tampaknya menjadi orang tua, khususnya ibu. Tampaknya akan banyak kejutan dan keribetan – keribetan lucu. But my Mom always says that, “jadi ibu itu nggak segampang yang kamu kira. Cuma masak terus beres – beres rumah. Nanti juga kamu ngerasain.” Atau bokap yang sering ngebisikin, “insya Allah kalau udah saatnya nanti kamu ngerasain gimana rasanya jadi orang tua”. Ya, one day. The day when I decide to give my time for them. For my family. For my children. For my hushband. Di sini lah kita harus lebih menghargai “mengalahnya” seorang ibu sebagai wanita karier. “Diam di rumah” bukan karena kewajiban, tapi karena mereka mengorbankan waktunya untuk meraih mimpinya demi memupuk mimpi – mimpi keluarganya.

You Might Also Like

0 comments: