Road Enemy
Kalau kalian kenal dengan istilah “public enemy”, saya
kenalnya cuma “road enemy”. Musuh jalanan. Yap, mereka adalah orang – orang yang
harus saya hindari, bahkan kalau bisa nggak usah ketemu mereka. Ada sih gunanya
menguji kesabaran, tapi lebih banyak mudharatnya. Sumpah. Bikin saya ngumpat,
terus sukanya ngedo’ain yang macam – macam. Mereka itu siapa sih ? Here they
are:
Pengendara yang sms – an/telefon – an.
I don’t even care seberapa urgent mereka
balas sms atau nelefon, but please itu membahayakan tau ! Kalian, para
pengendara yang “cetak – cetik” atau “haha – hihi” di jalan, seharusnya sadar
kelakuan kalian itu bikin pengendara lain harus nebak kalian mau ke kanan atau
kiri atau malah lurus. Belum lagi jalannya kalian yang belok – belok kayak
ular. Pernah suatu hari saya ketemu dengan pengendara yang begini. Pengen saya
teriakin, “heh lo pikir lagi ngendarain
motor di sirkus bawanya belok – belok gitu ?”. Padahal minggir kek bentar
gitu. Ngetik sms terus bilang sama yang diseberang kalau lagi di jalan. Yeah,
kalau udah kebelet kangen dengan yang di seberang tunggu kek sampai lampu merah.
Terus
ada lagi yang agak kreatif tapi aneh menurut saya. Nelefon tapi handphone – nya
diselipin ke helm. Kreatif sih, tapi aneh. Sumpah. Di dunia ini kan diciptakan
yang namanya headset atau earphone atau whatev you name it. Kenapa kalian nggak
pakai itu ? Selain lebih save untuk ponsel kalian nggak jatuh, kalian nggak
harus megangin telefon. Karena nggak sedikit juga kejadiannya sama seperti yang
sms-an. Tangan satunya berkendara, tangan yang lain nempeliln telefon ke
telinga.
Pengendara
yang ngerokok.
Saya adalah tipe orang yang toleran dengan
perokok. Bukan karena teman saya banyak yang ngerokok. Bukan. Bagi saya,
ngerokok adalah salah satu hak asasi manusia, so saya harus menghormati itu. Saya
pun nggak rewel kalau teman – teman ngerokok
di dekat saya, but please jangan di jalan. Sumpah ! Kalau nemu orang, mau cewek
kek mau cowok kek, yang ngerokok sambil bawa kendaraan, saya lupa tuh dengan
toleransi.
Oke
lah kalau mereka bawa kendaraannya masih benar, dalam arti nggak lamban apalagi
berasa jalan milik sendiri. Sering banget saya berpapasan (lebih tepatnya terhalang
jalan) dengan mereka dan you guys look so fly in driving. Saya tahu kalau
ngerokok bisa bikin pikiran bebas dan tenang, tapi ya nggak di jalan raya dan
sambil bawa kendaraan juga. Itu jalan raya bukan milik kalian seorang, kalau
mau bawa motor sambil mengkhayal atau nge – fly atau nyelow atau apa lah itu,
better you guys bawanya di jalan sepi. Not in the crowd. Not in the middle of
klakson ! Kemarin, ada tuh pengendara udah di – “tan – tin – tan – tin” klaskon
mobil dan motor, masih aja nyelow
bawa motornya. Who do you think you are, Mas e ?
Pasangan
yang boncengan pakai motor gede.
Bukannya iri lihat mereka berdua. Sumpah. Saya
nggak iri sama cowoknya yang bunyi motornya “brrmm ! brrm !”. Saya juga nggak
peduli dengan ceweknya yang bening. Yang saya peduliin itu kalau mau pacaran
dan pakai motor gede mbok ya sadar
diri dunia beserta jalan rayanya itu bukan milik kalian berdua. Ada lho
pengendara di belakang yang butuh jalan dan sedang buru – buru. Mungkin ada
juga beberapa yang merasa risih melihat kalian berdua, so please pay a little
attention.
Kendaraan,
khususnya mobil, yang berlampu putih.
For this, sumpah, seriously, absolutely,
perfectly, makin’ me mad ! Saya lebih baik ketemu dengan kendaraan yang
suaranya kayak dinosaurus daripada yang lampunya putih. You, guys, nyadar nggak
sih bikin pengendara lain itu pusing. Silau tau ! Emang sih berkat kendaraan
kalian jalanan itu jadi terang, but it’s over light. Jangankan yang lampu
putih, yang lampu kuning aja kalau pakai lampu jauh kadang – kadang bikin silau.
Keren
pakai lampu putih ? Blah ! You think we’re taking care of it ? For shake, yang
ada kalian itu diumpat. Kalau mau gaya di – setting coba lampunya ada dua. Di jalan
umum pakai lampu kuning, nah nanti kalau udah ketemu dengan jagoan – jagoannya
baru nyalain itu lampu putih. Pakai tuh lampu tembak sekalian kalau perlu.
Secara
kesehatan juga nggak baik. Ngerusak mata. Secara keamanan sungguh sangat
riskan. Silaunya itu bikin pengendara lain harus nutup mata. Alhasil kita jadi
nggak bisa ngeliat apa yang ada di depan motor / mobil kita. Mending kalau yang
kelindes cuma kodok, kalau anak kecil yang lagi lari – lari sembarangan. Piye ?
Nyalahin kalian juga nggak mungkin. Pertama, kalian nggak mau disalahin. Kedua,
apa iya kita mau ngejar kalian ? Nggak toh ? Padahal secara nggak langsung ini
semua berawal dari lampu kalian yang putih bersinar bercahaya dan mempesona
itu.
Nah,
sekarang pertanyaannya, apakah cuma saya yang merasakan ini ? Berlebihan kah
saya menyebut mereka “road enemy” ? Not to mention ke orang – orang khusus yang
saya kenal dan kebetulan (mungkin) masuk satu diantara di atas. But please, you
guys saatnya sadar kalau kecelakaan itu bukan hanya berasal dari si korban yang
ugal – ugalan atau jalanan yang licin. Sadar nggak sadar, kecelakaan itu bisa
berawal dari kita yang konsekuensi lebih jauhnya adalah menghilangkan nyawa
orang. Menghilangkan kesempurnaan memiliki seseorang, baik keluarga, pacar,
atau orang – orang tercinta lainnya. Better we change our self before yelling
the campaign to stop using phone while driving. Look at to our self and ask, “sudah
kah saya menjadi pengendara yang baik ?” Think times, y’ all !
waduh salah satunya gw tuh dulu..tidakkk ada yang marah ternyata.. maaf ya klo saya hilap dijalan :D
ReplyDelete