Road Enemy

9:50 PM Tameila 1 Comments

Kalau kalian kenal dengan istilah “public enemy”, saya kenalnya cuma “road enemy”. Musuh jalanan. Yap, mereka adalah orang – orang yang harus saya hindari, bahkan kalau bisa nggak usah ketemu mereka. Ada sih gunanya menguji kesabaran, tapi lebih banyak mudharatnya. Sumpah. Bikin saya ngumpat, terus sukanya ngedo’ain yang macam – macam. Mereka itu siapa sih ? Here they are:

Pengendara yang sms – an/telefon – an.

I don’t even care seberapa urgent mereka balas sms atau nelefon, but please itu membahayakan tau ! Kalian, para pengendara yang “cetak – cetik” atau “haha – hihi” di jalan, seharusnya sadar kelakuan kalian itu bikin pengendara lain harus nebak kalian mau ke kanan atau kiri atau malah lurus. Belum lagi jalannya kalian yang belok – belok kayak ular. Pernah suatu hari saya ketemu dengan pengendara yang begini. Pengen saya teriakin, “heh lo pikir lagi ngendarain motor di sirkus bawanya belok – belok gitu ?”. Padahal minggir kek bentar gitu. Ngetik sms terus bilang sama yang diseberang kalau lagi di jalan. Yeah, kalau udah kebelet kangen dengan yang di seberang tunggu kek sampai lampu merah.
                Terus ada lagi yang agak kreatif tapi aneh menurut saya. Nelefon tapi handphone – nya diselipin ke helm. Kreatif sih, tapi aneh. Sumpah. Di dunia ini kan diciptakan yang namanya headset atau earphone atau whatev you name it. Kenapa kalian nggak pakai itu ? Selain lebih save untuk ponsel kalian nggak jatuh, kalian nggak harus megangin telefon. Karena nggak sedikit juga kejadiannya sama seperti yang sms-an. Tangan satunya berkendara, tangan yang lain nempeliln telefon ke telinga.

Pengendara yang ngerokok.

Saya adalah tipe orang yang toleran dengan perokok. Bukan karena teman saya banyak yang ngerokok. Bukan. Bagi saya, ngerokok adalah salah satu hak asasi manusia, so saya harus menghormati itu. Saya pun nggak rewel kalau teman – teman ngerokok di dekat saya, but please jangan di jalan. Sumpah ! Kalau nemu orang, mau cewek kek mau cowok kek, yang ngerokok sambil bawa kendaraan, saya lupa tuh dengan toleransi.
                Oke lah kalau mereka bawa kendaraannya masih benar, dalam arti nggak lamban apalagi berasa jalan milik sendiri. Sering banget saya berpapasan (lebih tepatnya terhalang jalan) dengan mereka dan you guys look so fly in driving. Saya tahu kalau ngerokok bisa bikin pikiran bebas dan tenang, tapi ya nggak di jalan raya dan sambil bawa kendaraan juga. Itu jalan raya bukan milik kalian seorang, kalau mau bawa motor sambil mengkhayal atau nge – fly atau nyelow atau apa lah itu, better you guys bawanya di jalan sepi. Not in the crowd. Not in the middle of klakson ! Kemarin, ada tuh pengendara udah di – “tan – tin – tan – tin” klaskon mobil dan motor, masih aja nyelow bawa motornya. Who do you think you are, Mas e ?

Pasangan yang boncengan pakai motor gede.

Bukannya iri lihat mereka berdua. Sumpah. Saya nggak iri sama cowoknya yang bunyi motornya “brrmm ! brrm !”. Saya juga nggak peduli dengan ceweknya yang bening. Yang saya peduliin itu kalau mau pacaran dan pakai motor gede mbok ya sadar diri dunia beserta jalan rayanya itu bukan milik kalian berdua. Ada lho pengendara di belakang yang butuh jalan dan sedang buru – buru. Mungkin ada juga beberapa yang merasa risih melihat kalian berdua, so please pay a little attention.

Kendaraan, khususnya mobil, yang berlampu putih.

For this, sumpah, seriously, absolutely, perfectly, makin’ me mad ! Saya lebih baik ketemu dengan kendaraan yang suaranya kayak dinosaurus daripada yang lampunya putih. You, guys, nyadar nggak sih bikin pengendara lain itu pusing. Silau tau ! Emang sih berkat kendaraan kalian jalanan itu jadi terang, but it’s over light. Jangankan yang lampu putih, yang lampu kuning aja kalau pakai lampu jauh kadang – kadang bikin silau.
                Keren pakai lampu putih ? Blah ! You think we’re taking care of it ? For shake, yang ada kalian itu diumpat. Kalau mau gaya di – setting coba lampunya ada dua. Di jalan umum pakai lampu kuning, nah nanti kalau udah ketemu dengan jagoan – jagoannya baru nyalain itu lampu putih. Pakai tuh lampu tembak sekalian kalau perlu.
                Secara kesehatan juga nggak baik. Ngerusak mata. Secara keamanan sungguh sangat riskan. Silaunya itu bikin pengendara lain harus nutup mata. Alhasil kita jadi nggak bisa ngeliat apa yang ada di depan motor / mobil kita. Mending kalau yang kelindes cuma kodok, kalau anak kecil yang lagi lari – lari sembarangan. Piye ? Nyalahin kalian juga nggak mungkin. Pertama, kalian nggak mau disalahin. Kedua, apa iya kita mau ngejar kalian ? Nggak toh ? Padahal secara nggak langsung ini semua berawal dari lampu kalian yang putih bersinar bercahaya dan mempesona itu.

Nah, sekarang pertanyaannya, apakah cuma saya yang merasakan ini ? Berlebihan kah saya menyebut mereka “road enemy” ? Not to mention ke orang – orang khusus yang saya kenal dan kebetulan (mungkin) masuk satu diantara di atas. But please, you guys saatnya sadar kalau kecelakaan itu bukan hanya berasal dari si korban yang ugal – ugalan atau jalanan yang licin. Sadar nggak sadar, kecelakaan itu bisa berawal dari kita yang konsekuensi lebih jauhnya adalah menghilangkan nyawa orang. Menghilangkan kesempurnaan memiliki seseorang, baik keluarga, pacar, atau orang – orang tercinta lainnya. Better we change our self before yelling the campaign to stop using phone while driving. Look at to our self and ask, “sudah kah saya menjadi pengendara yang baik ?” Think times, y’ all !

You Might Also Like

1 comment:

  1. waduh salah satunya gw tuh dulu..tidakkk ada yang marah ternyata.. maaf ya klo saya hilap dijalan :D

    ReplyDelete