Cacar Air
Saya tertegun ketika membaca status Facebook seorang teman SD. Lewat statusnya dia bilang betapa enaknya menjadi seorang jomblo. Kalau saja status itu bukan meluncur darinya, saya tak akan acuh. Paling juga suara hatinya orang yang baru putus dan mencoba untuk (sok) tegar. Tapi ini beda. Status itu terpampang di akun seorang teman yang dulu “pamit” untuk melepas masa lajangnya. Well..what happened then ?
Saya kan orangnya penasaran. Pengen tahu aja urusan orang (tapi tergantung subjeknya juga) jadi saya tanya lah. “Lha elo kenapa ? Bukannya lo dulu….” Sengaja comment itu saya biarkan menggantung dengan harapan dia tahu apa yang saya maksud. Untungnya dia mengerti, jadi “want to know” – nya saya nggak kentara amat. Dia jawab, “oohh..yang dulu ? Lha itu kan cuma becanda, Ta. Lo liat dong kan Februari cuma sampe tgl.28, gw kan dulu pamitnya tgl.29”.
Well..terlepas dari kabar “pelepasan masa lajang” itu benar atau tidak, rasanya sayang begitu tahu teman saya dan pasangannya berpisah. Padahal kalau dilihat – lihat cowoknya cukup kece kok. Udah kerja (dan tampak mapan), cakep sih relatif, terlihat saling menyayangi satu sama lain (jelas terlihat dari foto – fotonya), and what else ? Apa lagi yang kurang ?
Setelah saya pikir – pikir mungkin penyebabnya adalah gara – gara si cowok nggak perhatian. Soalnya saya sering banget baca status teman saya akhir – akhir ini kayak dicuekin sama cowoknya. Yaahh..tahu lah isi hatinya pasangan yang gundah gulana gara – gara dicuekin. Seketika itu juga saya beralih ke akun dia yang lama (jadi case ini dia bikin akun baru dan nge-add saya lagi). Status terakhirnya cukup ramai dan saya menangkap satu comment menarik, bunyinya, “goblok aja tu cowok udah nyia – nyiain lo !”.
Pengen ketawa tapi nggak tahu apa yang lucu. Tapi jujur saat baca comment itu spontan saya ngakak. Congor saya langsung maju diiringi suara membahana. Saat menyadari ada sesuatu dari comment itu saya tersenyum dan geleng – geleng kepala. Saya jadi sadar kalau dalam hidup seseorang pasti akan merasakan setidaknya sekali seumur hidup disakiti oleh cinta. Meh ! Agak geli sebenarnya ngetik kalimat barusan. Tapi memang benar kan ?
Lihat lah para selebritis yang tersenyum di tayangan pernikahannya. Pasti sebelum – sebelumnya si narrator infotaiment memberitakan kegagalan hubungan si artis di masa lampau. Dan kurang ajarnya wartawan masih saja menanyakan tentang si mantan. Atau paling tidak beberapa teman saya (yang sekarang udah pada jadian dan saya tak kunjung mendapat pacar) yang sering galau. Mereka cerita betapa gamangnya saat tak menentu, hebohnya betapa lucunya mereka saat berusaha untuk melupakan bahkan membenci orang yang dulu disayanginya. Paling saya cuma bisa nyindir, “lha piye…dulu ngejar. Sekarang dilupain. Nggak konsisten !”
Saya yakin penyakit di atas pasti menyerang setiap manusia, terlebih yang sudah mau menjalin hubungan serius. Bukannya saya sok tua. Saya emang masih belasan tahun (padahal sebentar lagi kepala dua), tapi Tuhan mengirimkan banyak orang dewasa yang galau ke saya. Jadi bukan salah saya kan kalau menyimpulkan seperti di atas ? Dan mengapa saya bilang “perasaan galau” atau pun “disakiti karena cinta” (meh !) itu penyakit ? Karena saya merasa dua hal tersebut mirip seperti cacar air. Kalian pasti tahu kepercayaan (nggak tahu bener, nggak tahu ngawur) kalau orang udah kena cacar sekali, nanti pasti nggak akan kena cacar lagi. Tahu nggak ? Percaya nggak ? Kalau saya sih percaya.
Saya percaya bukan karena saya sekarang udah nggak kena cacar lagi (---jangan sampai !). Tapi karena saya percaya tubuh ini jadi kebal. Saya memang bukan anak kedokteran, tapi saya yakin ketika saya percaya akan sembuh atau tidak akan kena cacar maka hal itu akan terjadi. Sama halnya ketika kita “disakiti karena cinta” (meh!), bukan ? Supporting your self sama aja halnya mensugesti diri sendiri untuk “sembuh” dan secara tidak sadar memupuk imun supaya kebal.
Tapi kalau saya pikir lebih jauh lagi, bagaimana dengan mereka yang kerap disakiti terus ? Terlepas dari hal yang namanya nasib atau takdir, secara nggak langsung mereka udah kebal disakiti sama orang lain. Agak aneh emang dengarnya, tapi lihat lah mereka yang sering ditolak (sorry, no mention ! Really !) pada akhirnya lebih gigih mencari pasangan hidup, bahkan terkesan suka ngoyo, atau pun just let the life flows. Mereka udah nggak mau lagi ambil pusing karena udah kebal disakitin. Kalau ditolak yah cari lagi, atau yang desperate ujung – ujungnya,” ya udah lah, Ta, gue belum nemu yang pas aja.”
Biasanya Tuhan kan kalau memberi sesuatu pasti ada maksud. Mungkin maksud Tuhan ngasih rasa sakit itu ke setiap orang supaya mereka ngerti hidup ini nggak cuma ada enaknya. Atau mungkin juga supaya kita bisa menghargai satu hal yang kita lakukan tanpa disadari, yakni tertawa. Atau bisa jadi juga karma. Wah…kalau urusannya sama karma itu udah waktunya introspeksi diri. Punya dosa apa sama sekitar sampai Tuhan menghukum kita.
Sekarang saya mesem – mesem sendiri. Saya mikir lagi, mungkin nggak cocok juga kali ya kalau “penyakit” di atas dianalogikan seperti cacar air. Lha kalau begitu,nggak akan banyak lagu patah hati dong ? Karena setiap band atau penyanyi pasti hanya akan punya satu lagu patah hati. Lha kan mereka selama hidupnya hanya akan merasakan satu kali “penyakit” di atas. Nyatanya sekarang yang laku di pasaran malah lagu patah hati. Hauahahaa…salah lagi deh nyimpulin sesuatu ! *tepuk jidat*
Hmm..nggak apa – apa deh. Kan kalau nggak salah saya nggak akan pernah belajar. Kalau saya benar terus nanti otak saya nggak akan pernah digunain. Kalau begitu kan namanya saya tidak memanfaatkan rejeki Tuhan. Nanti Tuhan ngomel gini, “kamu ini udah dikasih otak kok nggak dipake ?”. Nyehehe…maaf ya, Tuhan, kalau otak ini suka dipakai hal yang nyeleneh. Nggak apa – apa, kan ? Karena saya yakin, Kau akan menunjukkan yang benar saat saya mulai melenceng. :) --> (pembenaran orang yang nggak mau disalahin).
aku belum kena cacar air loh tapi aku sudah pernah sakit karna cinta buahahahaha. *lari sekenceng-kencengnya :D
ReplyDelete