"Ya udah lah..."

5:59 PM Tameila 2 Comments

Okay, untuk kali ini tampaknya saya harus jujur kalau mulai suka sama Pandji Pragiwaksono. Sebelumnya big THANKS lagi – lagi buat sahabat tercinta, Muhammad Faisal Amri, yang dengan suksesnya meracuni saya dengan lagu – lagu Pandji. Nggak hanya lagu – lagunya yang sekarang sedang saya ‘sembah’, tapi baca e – book yang dikirimin sama meong Isal itu juga bikin saya jatuh cinta sama Pandji. Well…actually belum sampai taraf jatuh cinta. Masih suka. Karena kalau jatuh cinta itu seperti saya pada Daniel Radcliffe ! (fly fly fly awaaaayyy..I am dreaming anyway ! hahaha…)

Eh tapi bener lho, saya itu jatuh cinta sama Daniel Radcliffe ! Terserah orang – orang mau anggap saya gila atau obsesi, tapi gambar pria tampan itu sudah menghiasi relung hati saya (okay, agak lebay) sejak kelas 3 SMP. Awalnya masih suka – suka biasa, sampai akhirnya kok diliat – liat masnya makin lama makin ganteng. Jadilah binder, dompet, majalah, apapun itu selama ada dan bisa ditempelin muka si ganteng bakalan saya pasang. FYI thanks for my mom yang menyelamatkan poster Daniel Radcliffe yang lepas dari lemari baju saya di Serang. (tuh kan, nyokap aja pengertian kalau anaknya jatuh cinta a.k.a obsesi sama penyihir ganteng itu).

OH - MY - DAN ! :D

Wait ! Did I say obsession ? Yap ! Let’s count berapa kali saya nyebut obsesi (ups, disebut lagi)…hmm…1…2…3…4 ! Wow ! Ada empat “obsesi” (barusan jadi 5) yang sudah saya sebutkan. Gila ya, kurang dari 1 menit saya mengetik ini sudah ada lima kata “obsesi” yang saya ketik. Apakah mewujudkan “obsesi” sama mudahnya ketika saya mengetik “obsesi” itu sendiri ? Hmmm….

Kenapa orang lebih sering bilang, “gapai cita – citamu” atau bla bla bla yang pakai kata “cita – cita”. Kenapa nggak pakai kata “obsesi” coba ? Apa konotasinya negatif kalau pakai kata “obsesi” ? Kesannya maksa gitu, ya ? Padahal nggak lho…let’s check (tanya gugel) arti “obsesi” itu sendiri.
Double klik Mozilla Firefox. Ketik “google.com”. Enter. Loading. KBBI online. Obsesi. TING !
Obsesi adalah gangguan jiwa berupa pikiran yang selalu menggoda seseorang dan sangat sukar dihilangkan. Waaahhh…ternyata benar maknanya negatif ! Tapi kalau dipikir – pikir apa bedanya dengan orang jatuh cinta coba ? Keduanya sama – sama kepikiran seseorang dan bayangan orang itu sulit untuk dihilangkan, bukan ? (hoeekk, cuih !) Eh tapi bener deh saya jadi bingung sekarang sama perbedaan orang yang jatuh cinta dengan orang yang cuma obsesi semata. Biasanya orang jatuh cinta ujung – ujungnya bakalan sayang, bukan ? Tapi kalau obsesi jatuhnya bakalan ke sayang beneran juga nggak, ya?

It’s kinda complicated. Sebenarnya apa sebegini rumitnya menentukan perasaan kita sama orang yang kita suka itu benar – benar sayang atau cuma obsesi ? Beberapa teman saya (yang jadi korban curhatan nggak penting saya) memiliki perspektif yang berbeda – beda. Ada yang bilang just let the feeling flow, ada juga yang bilang perasaan itu harus dibuktikan, malah ada juga yang bilang dihapusin. Okay, to be honest hidup saya sedang “sedikit” terusik dengan seseorang. Sebenarnya dia nggak ngapa – ngapain saya dan kita pun nggak dekat – dekat amat. Sudah kenal lama tapi jarang komunikasi. Kalau sedang ada perlu baru kontak, kalau nggak ada there’s nothing to talk.

Lately saya jadi nggak karuan. Nah, mengingat ujian akhir seharusnya menyabotase konsentrasi saya, tapi anehnya otak saya masih kepikiran itu anak. Entah otak saya yang ruangnya terlalu luas atau sayanya yang mendadak sinting, tapi perasaan saya sama anak itu bikin saya penasaran. Saya itu sebenarnya cuma obsesi apa benar – benar suka ? Kalau kenanya cuma obsesi, beneran deh saya pengen erase this feeling. Mengacu pada makna yang ditulis pada KBBI online, saya nggak mau gangguan jiwa. Tapi kalau benar – benar suka, kenapa sayanya yang jadi maju – mundur ?

One night saya share masalah ini sama seorang teman penganut sarkas sejati. Saya ceritakan semua yang saya rasakan sampai cerita ngalor – ngidul ke kisah mantan saya yang kemarin. Dan DENG ! Dari sana saya tahu kenapa saya sekarang “maju – mundur” begini. Ya, jawabannya satu. Saya takut sakit hati lagi. Saya nggak berani jatuh lagi. Saya takut luka lagi. But I think that’s normal, right ?

Yeah, she also said that it’s a normal, tapi saya jadi bego kalau menjadikan mantan saya itu adalah kambing hitam dari ketidakmajuannya hidup saya. Well…hold on ! Saya udah nggak mikirin dia ya. LITERALLY ! I DON’T EVEN THINK ABOUT HIM ANYMORE ! But guess what, jawaban si sarkas itu. Dia bilang, “lo emang udah nggak mikirin dia. Tapi dia ada di alam bawah sadar lo dan lo menjadikan dia alasan untuk takut menjalin hubungan baru”. (okay, kalimatnya nggak seindah itu, tapi saya perhalus nggak apa – apa, kan ? hehehe…).

Think. Hmm…bener juga sih !

Rempong lah saya saat itu. Uring – uringan. Dan teman saya cuma bilang, “ya udah lah…”. Kalau didengar kayaknya nggak nolong banget, ya ? Tapi sepulangnya dia dari kostan saya, saya mikir. Benar juga sih…ya udah lah…mau bagaimana lagi ? Toh waktu memang nggak bisa diputar. Saya harus ikhlas dengan apa yang Tuhan gariskan untuk saya. Kenapa jadinya saya lupa dengan bisikan manis Tuhan kalau Dia akan selalu melimpahkan sesuatu sesuai dengan kemampuan hamba – Nya ?

Aduh, Tuhan, kenapa saya bisa lupa dengan konsep sederhana – Mu itu ? Padahal itu hanya secuil dari ayat cinta – Mu, ya ? Tapi luar biasa…meski hanya secuil ternyata menyentuh banyak aspek kehidupan. Bukan hanya tentang iman dan kehidupan, tetapi cinta pun sama. Bagaimana dengan ayat – ayat – Mu yang lain ? Pasti lebih banyak bersinggungan lagi dengan kehidupan ini. Hmm…makannya nggak aneh ya kalau ayat – ayat – Mu dibilang menyentuh seluruh aspek kehidupan dan berlaku sepanjang masa. Sekumpulan teguran, peringatan, kabar gembira, pelipur lara, obat galau, dan segala – galanya yang akan abadi tak lekang oleh waktu.

Oh God ! Thanks menyentil saya lagi untuk lebih mendalami ayat – ayat – Mu. Mungkin mendalami di sini bukan mengkaji, tapi lebih merenungi seberapa jauh saya mengenal – Mu lewat surat – surat indah – Mu itu. Pusing – pusing berfilsafat tentang makna hidup, ternyata seluruh kehidupan ini terangkum dalam kitab kecil coklat di rak buku saya. Tuhan…terima kasih telah menakdirkan saya berada di jalan – Mu (meski kadang masih belok – belok). Terima kasih menciptakan saya untuk mengenal – Mu (meski kadang masih terasa jauh). Terima kasih telah menciptakan “obsesi” dan “penasaran” yang bisa dinikmati dalam waktu yang bersamaan. Jangan bosan sentil kami, ya Tuhan, untuk terus “penasaran” dengan – Mu. Bukan kah semuanya bermula dari “penasaran” ?

Jadi kesimpulannya, kalau saat ini emang waktunya saya untuk penasaran sama itu anak, ya udah lah…toh bakalan lucu kenanya. Saya girang sendiri. Saya GR sendiri. Saya galau sendiri. Tapi setidaknya saya masih bisa merasakan cinta dan tidak mati rasa. Ya udah lah….

orang yang saya suka ? bisa aja kamu yang sedang baca postingan ini ! :)


You Might Also Like

2 comments:

  1. cintaaa..
    ahkirnya saya berhasil meracunimu dengan "pandji pragiwaksono" #ketawaPUAS
    kata2 yang di print screen mantap iah :D

    ReplyDelete
  2. iyaaaa..ney semua gara - gara lo !
    *garuk - garuk keyboard

    eh eh eh..tapi makasii lagunya meng
    gw jd gak galau..udh pasrah aj deh ma keadaan (loh ?!?!)
    hahahahaa

    ReplyDelete