Ja, Ich habe eine Liebe – another achievement of life
Maaannn..nggak seharusnya saya nulis blog ini. All I need to do now is finishing my assignments ! Kenapa malah ngetik ini ? Well...the point is suddenly saya merasa comfort dengan cafe yang baru (sebenernya udah lama ada tapi baru sempet disinggahi) ini. Akses internet sepuasnya, ice tea, a bowl of noodle and Kenny G. Ah ya, and a friend of mine, Shofi Awanis, yang niat menyelesaikan tugas juga tapi malah asyik twitteran (meski ngakunya sambil nyelesain laporan penelitian juga). Terlepas dari keruntuhan tekad bulat kita berdua untuk mengerjakan tugas, saya merasa saat – saat seperti inilah quality time saya dengan teman – teman saya. Best people in my world.
Kalau udah ngumpul dengan anak – anak yang sok berfilosofis tentang hidup (sebut saja Shofi, Wenny, Margaretha, Lisna, Dhimas dan segambreng antek – antek lainnya) saya merasa “agak sedikit” bijak menghadapi hidup. Kenapa ? Kita semua suka sok – sok mengartikan hidup ini, mulai dari menganalisis masalah hidup kenapa bisa terjadi sampai kesimpulan (hikmah) yang bisa diambil dari kejadian tersebut. Malah kadang – kadang kalau lagi sinting kita bikin exit way yang “sangat bijak” sebagai solusi. But hey hey hey..kita masih dalam taraf kewarasan yaaa..exit way ini nggak yang macem – macem. Sesinting – sintingnya, segalau – galaunya, selabil – labilnya kita, kita masih bisa ngebedain mana yang baik dan buruk.
Teringat salah satu ucapan seorang dosen. Dia bilang jiwanya anak – anak muda itu berapi – api. Nggak takut membuat kesalahan, inginnya sesuatu yang besar dan muluk – muluk. Those things are happened among us too. Kita semua, sekumpulan mahasiswa sinting (tapi masih peduli kuliah walau suka saling titip absen), merasakan itu. Saya, yang ingin banget jadi penulis best seller dan mendirikan majalah bersama sahabat nun jauh di Jakarta, Ayu Athinie Hazza Awlia. Shofi, yang greget pengen dapet scholarship ke luar negeri. Wenny, yang ambisius buat gawe dan “mama” yang baik. Margaretha, yang sedang berusaha keras menjadi penyiar radio (kembali). Lisna, yang obsesi Korea dan ingin ke sana (sama seperti obsesinya saya dengan Daniel Radcliffe). Dhimas, yang juga obsesi CEWEK – CEWEK korea, dan sejumlah teman – teman saya lainnya. We all dare making mistakes, taking risks and facing every ugly to learn this life before reach our dream.
Ketika sesuatu buruk terjadi, we feel that we need to share it to the others. Kita butuh untuk cerita hanya sekedar meringankan beban. Bersama mereka dan semua orang yang kita sayang membuat kita merasa orang paling kaya seeeedunia ! Even kendaraan kita bukan Lamborghiny, tas kita bukan Prada, baju bukan rancangan Anna Sui, etc., but being around them seems that we hold this world. Nggak lupa juga sama keluarga yang terus ngasih support meski mereka secara fisik nggak ada di samping saya. Yes I know, saat ini Tuhan menginginkan saya untuk bersyukur betapa kayanya saya. Lagi – lagi Tuhan memperingatkan saya untuk bersyukur dengan cara – Nya sendiri. Lewat suasana tenang ini. Lewat lantunan sexophone Kenny G, lewat donat tadi siang, lewat obrolan analisis “jaringan dan eksperimental” di perpustakaan (I swear, Shofi – Wenny – Margaretha ngerti kenapa jaringan dan eksperimental di sana dikasih tanda kutip à let’s yell “L, C, M PIKIIIRR ???”), lewat banyak hal.
Wajar sih kalau kita sedikit lupa betapa berharganya mereka apalagi ketika kita lagi hectic tugas (ehm, curcol !) atau sibuk dengan prioritas hidup kita sampai – sampai untuk sekedar mengirim SMS “hey” atau “J” aja lupa. Andai saja kita sadar kalau hal – hal kecil tersebut adalah big honour bagi mereka kalau kita ingat mereka di sela – sela kesibukan mereka. Nggak usah muluk – muluk SMS semua orang dengan itu deh..let’s check..ke nyokap apa nggak bokap deh. Seberapa sering sih kita bilang, “Mah, lagi ngapain ?” atau “Pah, aa kabar ?” ? Mungkin diantara kita sudah banyak yang melakukan itu, tapi let’s compare kalau keadaannya kita sedang sangat bahagia atau sudah punya pacar. Lebih sering siapa yang di – SMS kayak gitu ? Pacar kita, gebetan kita, teman – teman se – gank after hang out atau orangtua / keluarga kita sendiri ? The answer is in our heart. Seberapa jauh kita memprioritaskan mereka dalam hidup ini.
Ada seorang teman saya yang bercerita kalau keluarga nomor satu dalam hatinya, sahabat kedua, teman ketiga baru yang terakhir pacar. Ada juga yang lain. Hmm...sebenarnya terserah sih kita mau menempatkan mereka di tingkatan yang mana karena bagi saya mereka semua sama pentingnya bagi hidup kita. They complete our llife. Tinggal bagaimana kitanya yang bijak membagi waktu dan bersikap karena dengan berada di antara mereka kita dapat benar – benar menjadi diri sendiri. Nggak palsu. Saat kita menjadi “orang lain” di antara mereka pasti ada kesalahan di sana. Entah diri kita yang tidak bisa menerima diri kita sendiri apa adanya padahal mereka menerima diri kita apa adanya atau mereka memang yang menuntut “kepalsuan” dari kita to be as perfect as they expect. Hanya kita yang bisa menjawab where the place that we belong in.
Seseorang yang baik untuk kita bukan yang selalu berkata tentang hal – hal bagus. Mereka adalah yang sangat jujur pada kita. Kalau ada “bopeng” ya mereka bilang “bopeng”. Bedanya dengan musuh, someone yang baik untuk kita selalu memberi solusi atau alasan after judging. Nah, kalau musuh hanya jujur akan ke”bopeng”an kita tanpa memberi masukan sedikit pun. Makannya nggak salah kalau ada juga yang memasukkan musuh adalah seseorang yang baik juga buat kita. Hal lain yang bisa dilakukan oleh besties dalam hidup kita dan hal ini tidak bisa dilakukan oleh semua orang adalah they know well when we are in trouble even we keep silent. We don’t need to say anything to make them understand that we are mess at that time. Mereka tahu kita sedang bermasalah hanya dari diamnya kita atau rengekan kita. Misalnya kayak sahabat saya dari masa muda (dari SD) namanya Muhammad Faisal Amri. Tanpa saya harus bercerita panjang lebar dia tahu masalah saya. Atau Kak Ahmad Furcon yang selalu tepat sasaran dari point of my problem. Padahal you know what saya selalu kacau untuk mendeskripsikan masalah saya ke dia. (Fyuhh..I wonder he has six sense). Nggak lupa sama mama dan papa yang kalau saya SMS pasti udah bisa nebak kenapa (nggak selalu minta tambahan uang kok !) dan teteh tercinta (yang lagi labil) : Lita Seivi Fitriani dengan sejumlah rekomendasi situs game serunya.
See ? Betapa kayanya hidup kita ! Selain novel 5 cm karya Donny Dhirgantoro, teman – teman saya turut mengajarkan kalau achievement dalam hidup tidak hanya berkutat pada uang, status dan pasangan yang ideal. Having happy life and giving hand to each other also the achievement. Yeah, now I know that creating happiness with our beloved people is also an achievement. Hhmmhh...yeah...yes, I have it ! (meski sampai sekarang masih suka galau gara – gara nggak punya pacar. Ahahaha...)
NB : Tuhan...berita kematian ayah seorang teman membuat saya sadar kalau segala yang ada di dunia ini milik – Mu. Saya bukan pemilik satu hal kecil pun di dunia ini. Kau hanya meminjamkannya. Kau akan mengambilnya. Ambil lah itu semua ketika saya sudah siap kehilangan, namun jangan ambil dulu ketika saya masih membutuhkannya.
Burjo Coffee Connection – Retro & Vintage, Condong Catur, Yogyakarta.
...dengan jumlah 0 halaman proposal MPKK. (good job, Gita ! :D)
0 comments: