Kutukan Anak Kedua

3:30 PM Tameila 1 Comments

“Kamu nggak pulang ?”

“Pulang sih..tapi males”.

“Kenapa ?”

“Aku kalau di rumah dimarahin terus”.

Dahiku berkerut.

“Yah, percaya nggak percaya sih. Katanya kutukan anak kedua”. Jelasnya.

Aku tetap diam. Semakin tidak mengerti.

“Katanya kalau anak kedua itu paling sering dapet bekas kakaknya.”

“Ah, itu mah sama aku juga.” Aku menyeringai.

“Terus paling sering dimarahin dan paling nggak diurusin”.

“Hah ?! Maksud kamu ?”

“Iya, kayak aku ini. Mungkin karena sering dimarahin jadi aku ngerasa mending nggak usah diurusin aja sekalian”.

“Hey, jangan gitu. Setiap orang kan punya caranya sendiri – sendiri untuk nunjukkin cintanya, begitu juga dengan orangtua kamu”.


Barusan adalah sekelumit percakapan yang saya lakukan dengan teman saya sebelum pulang kampung. Tapi sayangnya pulang kampung kali ini bukan karena liburan hari raya atau pun liburan akhir smester. Seluruh kegiatan belajar mengajar di Yogyakarta diliburkan mendadak selama seminggu gara – gara letusan gunung Merapi. Yeah kalau udah ngomongin alam cuma Tuhan yang bisa merayunya. Di sebelah timur ada Merapi yang lagi rewel, sebelah barat deket rumah saya juga gunung Anak Krakatau ikut – ikutan rungsing dan beberapa gunung lainnya pada ikut aktif. Pada cemburu kali ya pengen diperhatiin juga kayak Merapi makannya mereka aktif missal. Na’udzubillah tapi, ya Allah ! Kalau memang Kau murka pada kami maka sesungguhnya kami takut akan azab – Mu yang pedih !

Perjalanan pulang ke Serang kali ini 18 jam ! Artinya saya 4 jam lebih lama di jalan daripada biasanya. Bisa dibayangkan betapa kakunya badan saya duduk-diam-manis di dalam bus. Dan menghirup udara Serang ketika turun dari bus adalah sesuatu yang sangat melegakan. Meski pun Serang jadi lebih crowded, setidaknya saya nggak perlu pakai masker dan ngerasain hujan lumpur lagi.

Hari pertama diisi dengan sahabat saya tercinta, Ayu Athinie Hazza Awlia. Katanya dia sih mau ngehibur saya a.k.a korban Merapi (julukan dia buat saya). We had some fun anyway. Karokean selama 2 jam, yang kalau kalian tahu niat awal kita mau senang – senang malah nostalgia. Terus makan di Pizza Hut. Dan di sana pula lah keimanan diet saya dipertanyakan. Saya yakin kalian sudah tahu jawabannya. Ya. Gagal ! Saya berhasil menghabiskan 1 cup jagung manis, 1 mangkuk (kayaknya sih ukuran sedang) fusilli carbonara, 2 potong roti, 1 gelas blue ocean dan 1 potong pizza (untung cuma 1 !). Malamnya, diri saya kembali diramaikan oleh sahabat saya yang lain, Muhammad Faisal Amri (gilaa…2x nyebut nama lengkapnya muncul di blog saya !). Dia orang baik yang mau saya recokin hidupnya di saat saya sedang PMS. Rela dimarahin. Rela direngekin. Rela dikacaukan malamnya oleh saya yang juga kacau gara – gara PMS. Jam 12 lewat telefon putus. Kami tidur.

Well..hari ini adalah hari kedua liburan. And DAMN ! Saya paling nggak suka dibentak – bentak, apalagi pagi – pagi. But hiks…my Dad did it to me ! So suck. Sebel banget pagi – pagi moodnya hancur berantakan. Tapi sebagaimana pun BT – nya saya, saya masih tahu diri untuk nggak ngebentak balik Sang Babeh. Saya menyendiri di kamar. Menghindar dari si Babeh yang nggak pernah mau ngerti dan tahu kalau anaknya lagi PMS. Saya nyalain PC yang udah uzur ini dan buka winamp. Lihat playlist – nya subhanallah jadul – jadul. Tapi yah mau bagaimana lagi ? Salah satu cara mood repair saya adalah denger lagu dan browsing. Nah, gara – gara di rumah nggak ada koneksi internet (yang membuat saya berasa hidup di zaman Paleolitikum) akhirnya saya buka – buka file – file foto.

Di luar kamar Sang Babeh masih heboh ribut (yang ini gara – gara ditipu sama tukang jual bensin. Owh Dad…sorry to hear that ), sedangkan saya senyum – senyum sendiri lihat foto waktu masih muda (zaman SMP dan SMA). Dan sekarang saya menyadari betapa alaynya Tuhaaaan hamba – Mu ini saat itu.

“ADEK !”

Okay, si Babeh datang ke kamar sambil ngebentak. Seiring dengan bentakannya bagai petir di siang bolong, mood saya hancur lagi. Babeh marah – marah lagi. Kali ini alasan marah – marahnya lebih banyak. Melihat dari alasan marah – marahnya, saya pikir nggak usah pakai marah dan ngebentak pun saya bisa mengerti. Tapi yah namanya juga udah tua. Nggak mau ngalah. Wataknya udah susah untuk diperbaharui. Saya jadi ikut jengkel dan ngebentak balik.

DEGH !

Tiba – tiba saya merasa nggak enak. Hati saya jadi aneh. Saya balik ke kamar dan duduk di depan komputer. Saya tahu saat itu saya salah. Hati saya yang mengingatkannya. Saya lupa pesan Mama kalau sedikit pun saya tidak boleh membentak orangtua saya. Sebagaimana pun menyebalkannya si Babeh, tetap saja saya lahir karena spermanya. Saya bagian dari dirinya. Saya adalah darahnya. Saya harus patuh dan hormat kepadanya.

Mama selalu bilang kalau si Babeh memang unik dalam menyayangi kedua putrinya. Babeh memang bawel na’udzubillah, tapi dari balik cerewetnya dia hanya ingin kami sukses, hati – hati di mana pun kami berada, menjaga diri sebaik mungkin dan yang terpenting adalah selalu berusaha. Caranya memang kurang pas bagi saya, tapi Mama meyakinkan saya kalau begitu lah cara dia mencintai keluarganya. Mencintai saya.

Kenapa saya malah mengingkari omongan saya ? Bukan kah saya yang meyakinkan teman saya bahwa orangtuanya punya cara tersendiri untuk menyayanginya ? Tapi mengapa mata saya malah buta ketika dihadapkan dengan ayah saya sendiri ? Kenapa saya tidak bisa mendeteksi cara unik orangtua saya sendiri ? Kenapa saya tidak bisa menerima cara cinta yang unik itu ? Bukan kah di situ letak keistimewaan sebuah cinta ? Cinta yang disalurkan dengan cara yang unik. Cinta yang diberikan tanpa syarat dan secara tersirat. Caranya yang terlihat menyiksa namun sebenarnya mendidik. Caranya yang terkesan menghina namun sebenarnya menantang diri kita untuk lebih maju. Caranya yang terasa biasa saja namun sebenarnya penuh arti. Ya, itu lah cara orangtua saya dalam memberikan cinta mereka. Cara mereka yang unik. Cara mereka sendiri yang ingin membuktikan betapa sayangnya mereka pada saya.

Mungkin Tuhan marah pada saya sekarang. Tuhan marah karena saya hanya berkata namun tidak melakukan. Saya menyuruh teman saya untuk menerima cara unik orangtuanya itu tapi saya sendiri tidak mau membuka mata untuk orangtua saya sendiri. Kemarahan Tuhan pun mungkin bertambah ketika Dia mendengar saya balik membentak si Babeh. Saya tahu saya salah Tuhan. Saya berdosa.

Ups !

Barusan si Babeh masuk. Tapi nggak marah – marah. Dia malah senyum – senyum sambil nyolek bahu kiri saya.

“Dek, ayo buruan mandi. Katanya mau beli motor. Ayo kita keluar lihat – lihat motor. Nggak usah yang baru nggak apa – apa ya ? Maunya motor bebek apa yang gimana ?”

Si Babeh langsung keluar tanpa menuggu jawaban dari saya. Mulut saya terkatup rapat. Mata saya basah. Begini kah caramu, Beh, untuk mencintai saya ?

“Nggak apa – apa kali, pah, nggak baru juga. Yang penting cinta dan do’a mama papa yang baru setiap hari”. Sayangnya itu hanya saya ucapkan dalam hati. Dan yang keluar dari mulut saya malah (sambil berteriak dari dalam kamar), “ya udah nggak apa – apa, Pah. Apa aja deh..yang penting motor.” Tuh kan..nggak tahu diri banget ya saya ? Hahaha…

Well…anyway…wahai teman saya yang mudik ke Jakarta sana…bagaimana “kutukan anak kedua” – mu di liburan sekarang ? Apakah omelan orangtuamu masih terasa seperti kutukan ? Masih berlaku kah label itu ?

You Might Also Like

1 comment:

  1. anak kedua tu pling enak..
    yg pertama tu,,huhuhu

    ReplyDelete