Cinta Kacangan
Jujur sebenarnya udah kangen banget sama yang namanya nulis. Tapi kalau udah duduk manis di depan PC tercinta adaaaa aja halangannya (baca : cobaan). Entah BUZZ di YM, kotak biru di sudut account FB, krang – kring si sony ericsson tersayang atau otak yang terlalu liar sampai nggak tahu mau mana dulu yang ditulis. Awalnya saya membiarkan diri saya rela digoda begitu terus sampai akhirnya sahabat tercinta “Muhammad Faisal Amri” (yang juga secara gamblang menyebutkan nama lengkap saya di blognya) ngasih link website di suatu siang. Waktu itu memang saya lagi luang (beeuhhh..sok sibuk !) dan dengan suka rela dibimbing oleh si meong satu itu ke blognya.Copy link. Paste. Enter. Loading….zzzzttt…masuk ke blognya.
Di sana saya langsung disambut dengan tulisan yang judulnya “ditemani secangkir kopi mocca ;)”. Hmm..dari judulnya dia udah bikin saya langsung ngidam kopi. Well…next saya langsung baca postingannya itu. Agak malu juga sih baca tulisan dia. Bukannya apa – apa, dulu itu saya pernah janji mau ngebikinin itu anak tulisan eehh sekarang tema yang saya janjiin malah dia tulis sendiri. So sorry my lovely friend ! :*
At glance postingannya sih tentang cinta gitu (hadeehh..dasar ababil !). The point is ketika kita sering berganti pasangan, we will lose the real meaning of love. Kita nggak bisa lagi ngebedain mana yang cuma suka sesaat, kagum dan cinta sepenuh hati dengan ikhlasnya. Hmm…nice point I think. Actually saya sendiri udah mau muntah kalau ngomongin cinta ‘cause we’ll never know what love is. Ketika kita udah tulus ikhlas banget ngasih rasa sayang dan kepercayaan eehh nggak jarang dikhianatin gitu aj (ehm ! curcol :D), is it love ? Atau ketika kita udah menyerahkan segala yang kita punya tanpa pamrih, is it love too ? Atau lebih dari itu, cinta adalah ketika kita bertahan dengan keadaan seburuk apa pun itu dengan pasangan kita ? (efek ngedengerin Rio Febrian – Aku Bertahan :D) Well..I don’t think so !
Kalau dipikir – pikir, postingan blog sahabat saya itu mirip banget dengan kisah seorang tokoh di novel yang sedang saya baca, judul novelnya, “berani beli cinta dalam karung ?” karya Puthut EA. Tokoh utamanya lelaki yang dari jaman kuliah sering banget gonta – ganti pasangan (but it doesn’t mean that he often having sex) sampai akhirnya dia lelah untuk serius berhubungan. Lelah untuk kenalan, mendekatkan diri, saling mengerti, mulai membuat sederet komitmen dan seperangkat “perkakas” lainnya dalam berhubungan. Yeah…for him life is just like everything he does.
According to his mindset, saya kira ada benarnya juga. Toh memang salah satu hukum ekonomi (entah apa namanya) juga bilang kalau tingkat kepuasan konsumen sudah mencapai titik maksimum maka kepuasan itu lama – lama akan menurun. Sama halnya dengan yang di atas kan ? Ketika kita udah sering banget sakit hati lalu kenalan lalu pacaran lalu sakit hati lagi endingnya kepuasan kita terhadap “cinta” malah nggak ada. Esensinya akan hilang tergantikan oleh kata – kata “bullshit”. Well…agak kejam juga kayaknya kalau cinta akhirnya disandingkan dengan “bullshit” karena toh rasa sakit hati pun lama – lama bisa nggak ada esensinya lagi. Kenapa ? Yah itu tadi, balik lagi ke hukum ekonomi yang saya nggak tahu namanya. Kalau udah keseringan sakit hati jadinya malah nggak sakit hati. Kenanya malah nantinya nggak akan ngerasain apa – apa kan ? Jatuhnya akan menjadi sebuah pemakluman dan pemaafan. See ? Orang yang bersikap gitu ke cinta kenanya jadi orang tolol apa ikhlas karena cinta ? There’s no difference karena dua – duanya sama – sama tidak memikirkan apa rasa sakit itu. Wes sing penting udah ikhlas sayang sama orang yang pernah nyakitinnya. Clear !
Andai memang benar Tuhan menciptakan cinta hanya untuk dijadikan seperti itu, untuk apa Tuhan merangkai C-I-N-T-A menjadi sebuah perasaan yang luar biasa efeknya ? Apa Tuhan sedang iseng ? Saya rasa tidak. Tuhan tidak pernah kehabisan ide, begitu pun dalam cara - Nya membuat kita memahami sesuatu. Mungkin kejemuan terhadap cinta itulah cara – Nya membuat kita paham makna cinta sebenarnya. Ketika kita benar – benar lost control mencintai seseorang, di sana mungkin Tuhan mempertanyakan cinta kita kepada – Nya. Tuhan mungkin cemburu dan menagih “hak”-Nya untuk kita cintai lebih dari pada orang itu. Bukan kah memang cinta tertinggi itu kepada Tuhan ?Bagi saya, bukti cinta kepada – Nya tidak jauh beda dengan kita mencintai seseorang. Ketika kita terlalu banyak mengucapkan kata “cinta” pada seseorang esensinya malah akan berkurang, bukan ? Sama halnya ketika kita terlalu menggembar – gemborkan cinta kepada Tuhan but we do nothing samanya aja bohong. Bukan kah Tuhan lebih menginginkan kita berbuat banyak ? Maka dari itu Dia menciptakan kita dengan dua tangan, dua kaki dan satu mulut. Besides, bukan kah Tuhan juga tidak suka dengan orang yang mengumbar sesuatu yang tidak pernah dilakukannya ? Means Tuhan aja ingin kita membuktikan cinta kita kepada – Nya dengan perbuatan. Tuhan nggak pengen kita cuma ngomong cinta doang tanpa bukti yang nyata. I believe kalau Tuhan lebih menghargai hamba – Nya yang mencinta diri – Nya dalam diam dari pada yang berseru – seru dengan hebohnya.
Sama dengan manusia bukan ? Baik wanita atau lelaki sama – sama ingin bukti cinta dari orang yang disayangnya, bukan hanya omongan semata. Bilang cinta inilah, cinta itulah, cinta karena bla bla bla…ah ! Prek ! Kalau in real life tidak memelihara kepercayaan orang yang dicintanya apa kata “cinta” jadinya nggak kayak kacang ? Garing. Suaranya yang “kriuk – kriuk” hanya dijadikan peramai hubungan yang mungkin udah dingin, sepi, flat, stagnan, statis alias mandeg ! Nggak ada kemajuan. Mau maju udah nggak punya desire, mau mundur juga sayang. So they keep in track just because udah lama berhubungan. Back to my question, apakah bertahan di situasi yang nggak mengenakan dengan pasangan yang udah lama berhubungan masih disebut cinta ? Dalam hal ini mungkin beda kalau kita hubungkan dengan pernikahan. In marriage, kita udah punya janji terikat dan saya pikir “kontrak” itu ditandatangani langsung depan Tuhan dan dengan menyebut nama – Nya. Tapi kalau case – nya masih dalam hubungan tanpa komitmen yang mengikat ? Should we stand or just let our self free and find the new one ?
Banyak pilihan yang sebenarnya bisa kita ambil dalam hidup ini. Mau keep in track sambil berusaha sampai beruban menerima kekurangan pasangan dan pretend everything’s gonna be okay whether keadaanya udah too bad atau lepas yang lama dan ganti yang baru dengan resiko kalau keseringan ganti pasangan we’ll lose the real meaning of love. Actually nggak ada yang jelek dari dua pilihan itu. Yang satu membuat kita sabar, yang satunya lagi membuat kita open minded dan lebih welcome. Yeah..resikonya juga nggak ada yang ringan. Yang satu menawarkan kesabaran, keikhlasan dan perjuangan mematikan ego, sedangkan yang satunya beresiko membuat hati kita bebal, baik dalam cinta dan sakit hati.
So…what’s love ? Nggak ada yang tahu pasti cinta itu apa, karena cinta itu ciptaan Tuhan yang untuk dirasakan bukan untuk dikatakan. Tiba – tiba jadi inget perkataan salah satu teman saya, begini katanya, “gue nggak mau gampang ngomong cinta, men ! Gue nggak mau kehilangan makna cinta. Makannya jangan keseringan disebut. Lagian cinta itu apa sih ? Nggak usah ngomong cinta deh kalau nggak tau maknanya !” Yeah..she is right, sebaiknya kita nggak usah ngomong cinta kalau nggak tahu maknanya. Tapi kalau gitu saya nggak bisa ngerjain tugas essay dong ? Tugas yang dititahkan oleh guru essay baru saya, Eric, adalah descriptive type essay dengan tema : “My Future Boy Friend”. Well…quite easy sih ngerjainnya. Saya tinggal jelasin aja cowok impian saya seperti apa, but the difficult thing is that I’ve ever had that “dream guy” and he hurted me.
tulisan pertama yg dicorat - coret dan dapat nilai 8 (utk ukuran anak SMP !)
Pertama kali Sang Guru menitahkan tugas itu, hati saya langsung bilang, “Oh God…should I write all about that “guy” ? Gue harus membuka folder otak gue lagi dong tentang dia ?” Tapi yah namanya juga murid nurut aja deh gurunya ngasih tugas gimana juga. Suddenly guru saya tiba – tiba bilang, “nggak apa – apa ya temanya ini ? Kan gampang tuh kalau nulis ini.” Well..iya sih gampang, tapi nggak gampang untuk nginget lagi cowok impian saya. Wong udah bikin saya nggak percaya lagi sama “sumpah demi Tuhan”. Buruk banget kan ? Dan sekarang siapa yang betah mengingat hal buruk ? But assignment still assignment…sebagaimana pun saya malas untuk membuka folder “that guy” I must write it down. Okay ! I shouldn’t let myself be in that fuckin’ hurt zone. I need to move on. Hopefully I would not lose the real meaning of love ! So do you all guys ! :)
tulisan kedua yang (masih) dicorat - coret --> masih nggak percaya kalau bisa nulis tetang Band Boomerang (yang sama sekali saya nggak aware)
waah aku pertamax nih.hahaha
ReplyDeletecinta kacangan berati love nut-nutan Git..
hhe,
niat banget Git, bikin blog. Hehe..
Cinta is begok, kalo menurut blog mbejog.blogspot.com
--promosi sekalian yaaks--
begok buat org yg gak tw cinta tu ap..hadeehh..gw juga gak tw apaan..begok juga dong gw ???
ReplyDeletekn mahasiswa begok-Jogja :D
(sekalian tuh dipromosiin..hauahahaa)