Menjual Tuhan

2:00 AM Tameila 2 Comments

Tuhan mungkin ini bukan saatnya saya menghujat – Mu. Bukan saatnya lagi untuk sibuk bertanya mengapa ini begini dan mengapa ini begitu. Bukan. Saat ini adalah saatnya saya untuk mensyukuri semua rizki yang telah Kau anugerahkan. Mulai dari keluarga (yang mencintai saya apa adanya), sahabat (yang mengerti saya tanpa harus berkata), teman – teman (yang luar biasa hebat – hebatnya) dan dunia saya (yang sangat berwarna). Tapi demi Kau Yang Maha Mengetahui isi hati, kenapa masih ada yang mengganjal dalam hati saya ? Apa saya masih kurang ikhlas akan kejadian baru – baru ini ?

Tidak, Tuhan. Sesungguhnya saya sudah ikhlas. Sangat ikhlas malah ! Tuhan ingat kan janji saya ? “Saya akan ikhlas dengan semua ini kalau saya sudah mendapatkan penjelasannya”. Then Kau menjawab tekad saya itu dan memang sebenarnya saya sudah benar – benar ikhlas. Tapi kenapa masih ada yang mengganjal ? Mungkin masih ada satu pertanyaan yang belum terjawab yah, Tuhan ? Pertanyaannya mungkin Kau sudah tahu, yaitu “mengapa Kau dijual begitu murah oleh orang yang membuat saya merasa sakit seperti ini ?”

Tuhan…

Kau ingat kan ketika nama - Mu seenaknya dipakai sebagai sumpah olehnya untuk meyakinkan saya ? Kau pun pasti masih ingat ketika betapa bodohnya saya untuk percaya begitu saja saat itu juga. Terserah dunia mau bilang saya bodoh atau gampang termakan omongan orang, tapi meskipun saya bukan perempuan baik – baik, saya tetap menempatkan Kau pada posisi tertinggi. Pada posisi agung yang tidak boleh dipermainkan begitu saja. Dzat yang sakral. Jadi apa saya masih dungu kalau percaya pada orang yang mengucapkan, “sumpah demi Allah” ?

Saat saya tahu semua janji – janji atas nama – Mu itu semu semata, Kau jadi murah harganya bagi saya, Tuhan. Mengapa ? Karena Kau telah ditukar dengan pengkhianatan. Kau telah dijadikan pembayaran untuk menutupi sebuah kebusukan. Kau dijadikan alat sebagai tameng “kesucian” hamba – Mu sendiri yang sebenarnya tidak sesuci ucapan – ucapannya.

Saya tahu saya salah. Tidak sepatutnya berpikiran seperti itu. Tapi coba kita flash back, Tuhan. Kau pasti masih ingat kalau yang mengucapkan sumpah itu adalah hamba – Mu (yang saya kira) yang patuh. Yang selalu menyeru manusia pada kebaikan. Yang selalu membawa asma – Mu dalam setiap ucapannya. Bahkan seorang penghafal untaian cinta – Mu. But see..dia menjual – Mu padaku dengan harga yang murah. Hanya agar mendapatkan hatiku yang bahkan jauh lebih murah dari asma – Mu ! Dari keagungan – Mu ! Dari cinta – Mu yang sebenarnya ! Saya tidak merasa bangga, tapi saya malah sedih. Mengapa Kau ditukar sebegitu murahnya dengan diri saya yang seperti ini ?

Saya tidak lagi mengerti jalan pikiran saya yang mulai skeptis. Ini bukan salah – Mu, bukan salahnya, bukan salah waktu. Tiada yang salah. Saya yakin setiap hal yang terjadi pasti ada hikmahnya, begitu pun setiap orang yang melakukan sesuatu pasti punya alasan. Terlepas alasan itu benar atau salah, jujur atau bohong, rational atau irrational, bla bla bla. Tapi ini urusannya dengan – Mu, ya Tuhan ! Kau yang dipermainkan di sini !

Persetan lah hati saya yang terlampau sakit dan kecewa ini, tapi sesungguhnya jauh dalam lubuk hati saya yang sedang terluka, saya tidak rela Kau ditukar dengan sebegitu murahnya ! Pantas saja tak sedikit orang – orang yang memandang sebelah mata hamba – hamba – Mu yang patuh kepada – Mu. Bagaimana tidak dipandang sebelah mata kalau yang ada di depan mata saja munafik ? Ya, bagaimana tidak munafik kalau berkata A ternyata B ? Bagaimana tidak munafik kalau menyuruh C ternyata dianya sendiri D ? Bagaimana tidak munafik kalau di hati F, di pikiran G, di mulut H dan kenyataannya I ?

Bukan kah Kau telah menjelaskan sejelas – jelas – Nya lewat untaian cinta – Mu bahwa celaka lah orang – orang yang mempermainkan sumpah apalagi atas nama – Mu ? Bukankah orang yang telah menyakiti saya ini adalah orang yang menghafal untaian cinta – Mu ? Tapi mengapa dia malah berperilaku seolah – olah tidak pernah sekali pun membaca itu semua. Kenapa, Tuhan ? Kenapa ?

Ya, mungkin “kenapa ?” adalah pertanyaan yang membuat hati saya mengganjal dari kemarin. Sejam yang lalu. Beberapa menit yang telah lewat. Dan hingga kini masih berlanjut.

Kau tahu kan, Tuhan, kalau saya manusia biasa ? Seonggok daging yang akan merasa sedih dan kecewa jika tidak mendapatkan apa yang diharapkannya. Ya, Tuhan, saya sedang kecewa. Masa galau yang luar biasa jerk itu memang sudah lewat. Saat ini saya sedang berlari. Keluar dari semua belenggu mimpi – mimpi semu yang dihias oleh nama – Mu. Tapi saya pun enggan pelarian saya malah menjauh dari – Mu. Tidak ! Saya tidak mau !

Dan Kau, Tuhan, Kau memang Maha Pencinta. Kau Maha Baik. Meski pun saat ini saya mempertanyakan “berapa harga – Mu ?”, Kau masih memberikan rizki padaku. Kau masih memberikan kebahagiaan, akal sehat, lingkungan dan nafas. Kau bahkan membuat otak saya berpikir lebih kreatif, jernih dan futuristik. Ya, saya tahu Kau masih memberikan itu semua supaya saya mencari jawaban pertanyaan saya itu sendiri. Terkadang jawaban – jawaban itu saya dapatkan dengan hal yang tidak terduga dan dari orang yang tak saya sangka – sangka. Ternyata Kau Maha Kuasa. Kau punya cara sendiri untuk membuat saya mengerti. Kau punya cara sendiri untuk membuat saya kembali lagi pada – Mu.

Saya suka cara – Mu, Tuhan. Saya suka cara – Mu yang membuat manusia mengerti bahagia lewat kesedihan. Membuat manusia menghargai kepercayaan lewat pengkhianatan. Membuat manusia untuk ikhlas lewat egoismenya. Membuat manusia kecanduan menangis sujud karena ketidakberdayaannya. Sumpah, Tuhan, Kau keren !

Terima kasih telah mengizinkan saya untuk merasakan sakit hati karena ini semua. Saya masih ingin merasa kan cinta yang sebenar – benarnya cinta. Saya masih ingin memberi dengan ikhlas tanpa pamrih. Saya masih ingin mematikan ego saya bagi orang yang saya cintai. Saya tidak ingin berlari dalam kondisi sakit hati sehingga saya tidak lagi dapat berpikir jernih. Tidak dapat membedakan mana yang benar – benar saya cintai dan hanya saya kagumi. Sumpah, demi Kau Yang Telah Membuat Gugusan Bintang, saya berlindung dari itu semua !

Tapi Tuhan, saat ini saya masih bertanya, “Tuhan, berapa kah harga – Mu?”

NB : Kalau inget – inget kalimat, “sumpah demi Allah !” suddenly keinget dialog film cin(T)a yang begini bunyinya, “kalau Tuhan aja bisa gue khianatin, gimana lo ?” --> (yeah, kurang lebih begitu lah dialognya).

You Might Also Like

2 comments:

  1. selain part dimana lo ngetik pake warna biru gue suka kata2 lo yang tentang kemunafikan.
    iah seengganya itu ada di sekitar gue dan gue rasain :p
    tapi memang keikhlasan adalah kunci dari semuanya git, biarin allah yang jawab semua pertanyaan kita karna beliau yang lebih tau dari siapapun hambanya.

    ReplyDelete
  2. ya sal..emng cuma Tuhan yg tahu mana yg bener dan mana yg salah..yg bnr d mata qTa pun blm tentu itu yg bener, begitu jg sebaliknya. kuncinya c ya cm 1..jujur sm diri sndiri :)

    ReplyDelete