The synopsis by its cover
Lately lagi seneng banget baca novel. Seeeemua jenis novel dilalap, mulai dari sastra sampai teenlit yang dulu males banget say abaca. Well…agaknya salah saya juga dulu males baca novel yang begituan, the point is saya malah banyak belajar dari novel – novel ababil (ABG Labil) itu. One of my new favorite book now is Glam Girls Series. You know…awalnya saya ogah beli buku itu. Dari cover dan sinopsisnya udah kelihatan banget pasti ceritanya seputar cewek – cewek glam, girly, such a rich and spoiled girl ever. Kerjaannya nggak penting : dandan, hang – out, hunting cowok RSCH (baca : rich, sweet, cool, handsome), gossip, shopping, blah blah blah..segambreng kegiatan yang have no value untuk kehidupan. Intinya mereka itu useless and a brilliant money spender.
But all those wrong !
You know..saya malah belajar kehidupan yang sebenar – benarnya dari sana. The truths of life were there. It talks about kompetisi yang nggak pandang bulu, siapa aja orang – orang yang benar – benar nothing to lose dan cuma ada maunya, resiko – resiko yang sama sekali ada di keseharian kita tapi (mungkin) jarang disadari. Awalnya saya kira tokoh – tokoh glam dalam novel itu yah memang cuma ada di novel atau film – film luar, tapi kenyataannya nggak. They’re exist ! Mereka ada di sekitar saya. Satu lagi…saya kira mereka juga hidupnya yang super enak itu kerjaannya cuma spend money, hang out, blah blah blah. Ternyata nggak juga tuh ! Mereka pun berusaha layaknya orang – orang yang nggak berlebih kayak mereka, tapi mereka berusaha untuk sesuatu yang berbeda. Tapi tetap aja intinya mereka berusaha, nggak hidup seenaknya gitu aja, dan mereka pun punya
See ? Now I (really) know kalau semua makhluk yang bernafas di dunia ini berusaha with their own way. Masing – masing dari kita punya caranya sendiri – sendiri untuk meraih apa yang kita mau. Masing – masing dari kita punya taktik sendiri untuk mencapai goal yang udah dirancang. Bukankah Tuhan juga berkata kalau setiap makhluk punya caranya masing – masing untuk mengingat – Nya ? Kalau urusan mengingat Tuhan aja kita semua punya cara masing – masing apalagi urusan duniawi. Urusan achievement. Urusan prestige. Urusan reputasi. Saya jadi salute sama mereka sekarang. They have their own sexy way untuk memenuhi ambisi mereka. Di balik make up Maybelline, channel, Louise Vuitton, DJ table, coffee shop, blah blah blah, mereka masih punya cita – cita, usaha, ambisi, goal, dan semua hal yang membuat mereka punya alasan untuk tetap hidup. Kalau mereka yang berlebih aja masih punya alasan untuk terus menjadi “lebih”, mengapa kita yang belum seperti mereka terkadang stuck di satu kondisi ? Bukan berarti tidak bersyukur, tapi bukan kah semua orang ingin kehidupan yang lebih baik ? Jadi mengapa terkadang kita malah stuck di zona nyaman, ya ? Hmmm…..
Anyway agaknya smester ini harus lebih banyak baca buku kayak gitu kali, ya ? Dan perlu diingat juga jangan lihat buku dari synopsis dan covernya aja, alih – alih malah salah beli buku kayak kita salah menyimpulkan seseorang karena “cover” dan “synopsis” diri mereka. :)



0 comments: