Things I’ll Never Say (judul terinspirasi dari salah satu judul lagu Avril Lavigne)

11:30 PM Tameila 0 Comments

Makan malam kali cukup mengobati mood saya yang sedang tak karuan. Maklum lah..kalau tamu bulanan lagi datang bawaannya selalu sensi. Di satu sisi senang ternyata jadwalnya masih teratur, tapi di sisi lain bawaannya uring – uringan. Hebat juga ya Tuhan menciptakan segala sesuatunya sedemikian rupa ? Hormon yang berubah kok malah bisa mengubah mood juga ? Mood kan kondisi hati seseorang dan kondisi itu menurut saya lebih dapat dipengaruhi oleh pikiran daripada oleh hormon. Misalnya saja kalau pikiran kita sedang kacau, pasti mood kita juga kacau. Tak jauh bedanya dengan kalau kita selalu berpikiran positif, pasti mood kita pun jadi baik. Kita jadi bersemangat, optimis dengan apa yang dilakukan, pokoknya bawaannya itu hepiiii terus. Well…yang saya mau share di sini bukan kenapa datang bulan atau hormon bisa memengaruhi mood, tapi saya mau share tentang suatu hal penting yang berangkat dari sesuatu yang sangat tidak penting.

Tau acara “Uya Emang Kuya” ? Beberapa orang mungkin menilai acara ini nggak penting. Alay. Jahat. Nggak guna. Whatever lah…yang pasti bagi mereka acara ini kurang bermutu (atau mungkin malah nggak bermutu ?). Menurut saya, bermutu nggaknya suatu acara itu relatif. Tergantung seberapa besar acara tersebut memberikan manfaat kepada kita. Well..memang menurut saya pun acaranya kurang edukatif, karena hanya diisi dengan sulap – sulap dan hipnotis. Tapi lumayan lah…setidaknya bisa mengocok perut saya ditemani sate padang yang nikmat dan 4 orang mbak – mbak kost di ruang TV.


Wait…hipnotis ? Did he do a real hypnosis ? Terlepas dari hipnotisnya itu beneran atau nggak yang pasti acara malam itu menampilkan sepasang kekasih yang dihipnotis. Muda – mudi (duileee…) yang sedang asyik berjalan menyusuri etalase toko tiba – tiba ditarik oleh Uya dan di bawa ke sebuah tempat. Di tempat itu ada tiga buah kursi yang didesain berderet sehingga mereka bertiga dapat duduk secara berdampingan. Oh iya, satu lagi. Satu asisten Uya yang rambutnya jabrik nggak karuan berdiri di belakang mereka. Sesi pertama si cewek duluan yang dihipnotis. Ceweknya cantik dan umurnya baru 16 tahun (yang awalnya kami semua kira dia itu 20 tahun). Sebut saja namanya Dita. Rambutnya pendek dan dia seorang penari. You know lah apa yang terjadi selanjutnya…kebenaran – kebenaran mulai diungkap. Kebohongan – kebohongan terbongkar. Mulai dari ceweknya yang ternyata udah punya selingkuhan selama 3 bulan, si ceweknya juga suka “main” sana – sini, sampai ternyata dia juga nggak sayang – sayang amat sama cowok yang lagi jalan dengannya sekarang. Kebayang dong muka cowoknya gimana ? Taraaa…aseeem banget mukanya ! (eh, for your info tapi cowoknya manis sebenarnya. Hihihi…). Satu hal yang kocak banget, si cewek disuruh nari India and she did it ! God…kalau saya cewek itu, nggak tau deh mau ditaro di mana muka saya ?

Masuk sesi kedua. Sekarang gantian si cowoknya yang dihipnotis. Umurnya 20 tahun (yang awalnya kami kira sudah 25 tahun) dan sebut saja namanya Agung. Yang bikin kami berlima kaget, ternyata si cowoknya pun sama nggak beresnya. Dia punya pacar lain, setengah hati juga dengan si Dita, dan parahnya si Agung cinta uangnya Dita. Bukan cinta Ditanya ! Tapi ada benarnya juga sih…love needs money, right ? hihihi…Reaksi Dita saat itu pun nggak jauh beda dengan reaksinya Agung ketika Dita yang dihipnotis. Mati kutu. Serba salah. Yaahh…pokoknya kaget campur malu deh. Soalnya waktu itu juga si Agung nyeritain mimpi – mimpinya yang konyol. Mulai dari mimpi naik karpet terbang dengan Dita (berasa Aladdin, ya ?) sampai waktu patah hati dan tidurnya pindah ke depan kamar mandi. Gara – gara apa coba ? Gara – gara Agung mimpi mantannya nungguin dia di kamar mandi. Haha…demi apa deh. Ngapain juga di kamar mandi ? Padahal kalau dipikir – pikir, nggak ada hubungannya juga antara sakit hati dengan kamar mandi (kecuali sakit perut), kan ?

Setelah tayangan itu usai, saya dan 4 mbak – mbak lainnya berpencar. Kami masuk ke kandang (baca : kamar) masing – masing. Ketika saya sendiri, saya jadi membayangkan kalau saya menjadi objek yang dihipnotis. Saya dibuat tidak sadar dan harus menjawab pertanyaan – pertanyaan yang merupakan privacy saya. Aib saya. Semua orang, bahkan se – Indonesia, tahu kebohongan dan kejelekan saya. Well…begitu pun pada orang yang saya sayangi. Dia tahu dengan cara dan di tempat yang tidak mengenakkan. Tapi permasalahannya di sini bukan pada cara dan tempatnya, permasalahannya adalah seberapa besar dan seberapa banyak kebohongan yang selama ini disembunyikan. Bagaimana jadinya kalau saya menjadi pihak yang mendengar segala kebohongan itu dari mulut pasangan saya ? Ketika saya sudah menaruh kepercayaan sepenuhnya namun diselewengkan begitu saja. Kita sudah berusaha sepositive thinking mungkin pada pasangan kita, namun yang dilakukan di belakang kita adalah sebaliknya. Kalau harus memakai istilah, mungkin istilah yang tepat adalah “menusuk dari belakang”. Semua angan – angan yang setiap malam diperbincangkan tiba – tiba berubah menjadi sesuatu yang sangat menyakitkan. Terasa mustahil untuk diwujudkan. Terasa sakit untuk dikenang. Terasa begitu kosong untuk diberi makna.

Dilematis memang ketika di satu sisi kebohongan itu diperlukan namun sesungguhnya akan menyakiti hati orang yang kita sayangi. Kita pasti menyadari kalau satu kebohongan akan melahirkan kebohongan – kebohongan yang lain. Tapi kita pun tak bisa memungkiri kalau bohong juga menjadi satu cara ampuh untuk menyelesaikan masalah, bukan ? Banyak dari kita yang cari aman dengan cara berbohong. Kita menutupi apapun yang dapat membuat orang yang kita sayang kecewa, termasuk dalam menghindari cekcok dengan mereka. Saya jadi teringat pada penggalan kata – kata seorang motivator ternama, Mario Teguh. Beliau bilang kalau kejujuran itu tidak ada yang menyakitkan, yang membuatnya terasa sakit adalah caranya. Cara bagaimana kejujuran itu disampaikan. Ketika disampaikan dengan cara yang tepat, maka tidak akan terasa menyakitkan. Begitu pun sebaliknya, kalau caranya salah maka akan terasa begitu menyakitkan. Ada benarnya juga kata beliau. Tapi bagaimana jadinya kalau kita sudah menyampaikan kejujuran itu sebaik mungkin namun tetap saja akibatnya fatal ? Hasilnya tidak seperti yang kita inginkan. Yah, itulah resikonya. Resiko bagi kita yang menyembunyikan sesuatu. Resiko orang yang berbohong.

Bagi sebagian orang memang ada yang mudah untuk memaafkan, namun tak sedikit juga bagi sebagian orang yang begitu marah ketika dibohongi, bukan ? Marahnya mereka pun beragam. Ada yang secara terang – terangan menunjukkan ketidaksukaannya, ada juga yang diam dan menyimpannya dalam hati. Kita tidak pernah tahu apa yang ada dipikiran orang yang kita bohongi. Ah, tidak usah jauh – jauh. Bagaimana dengan diri kita sendiri ? Sudah cukup jujur kah kita dengan diri ini ? Sudah cukup bersahabatkah kita dengannya ? Sudah cukup adil kah kita dengan jiwa ini ? Sudahkah jiwa ini sepenuhnya mengetahui siapa kita sebenarnya ?

Kebohongan yang paling jarang disadari oleh kita semua sesungguhnya adalah kebohongan pada diri sendiri. Terkadang terlalu memaksakan sesuatu untuk hal – hal yang sebenarnya tidak kita inginkan. Tidak kita perlukan. Tidak kita impikan. Hanya saja lingkungan atau faktor – faktor lain menuntut kita meraih itu, padahal sebenarnya tidak kita penuhi pun tidak masalah. Prestise ! Ya, harga diri. Kembali lagi pada sebarapa besar kita ingin diakui, baik oleh dunia dan orang – orang yang kita sayangi. Bukankah bohong yang kita lakukan pun terkadang sebagai self defense kita ? Kita tidak ingin rendah dihadapan dunia. Kita tidak ingin dinilai salah. Kita selalu melakukan pembenaran yang malah akhirnya memaksa kita untuk berbohong. Mengapa ? Self defense. Mencari sebuah pembenaran.

Dari perenungan ini, muncul beberapa pertanyaan pada benak saya. Ketika kita berada posisi yang bersalah, bisa kah self defense itu dilakukan tanpa sebuah kebohongan ? Apakah untuk menghindari cekcok selalu dengan menutupi sesuatu dari orang yang kita sayang (berbohong) ? Bagaimana jadinya kalau sebuah perdamaian tapi dilandasi dengan kebohongan ?

Terlepas dari itu semua, pada dasarnya kita memang tidak boleh berbohong. Tuhan tahu semuanya, baik yang terang – terangan maupun yang kita sembunyikan. Makannya nggak aneh kalau kita sering merasa bersalah saat membohongi orang – orang; orangtua, keluarga, sahabat, teman, pasangan, dosen, tim, bahkan sampai ibu – ibu penjual makanan. Tuhan menyelipkan rasa menyesal, rasa bersalah, rasa berdosa pada hati kita. Meskipun hamba – Nya nakal, Tuhan menghukum kita dengan cara – Nya yang halus. Dia membuat kita berpikir dan belajar dari kesalahan kita dengan cara – Nya yang unik. Namun sayangnya hal ini hanya berlaku bagi orang – orang yang masih menggunakan hatinya untuk memaknai kehidupan.


Sekarang, hayoo…udah jujur belum sama diri kalian dan orang – orang yang kalian sayangi ? :) Saya ? Ehhmm…udah belum yaa ? Hehehe… :D

You Might Also Like

0 comments: