Tak Hanya Sekedar Indah
Komunikasi memang sesuatu yang tidak dapat ditarik kembali. Ketika suatu kata – kata telah meluncur, tak ada satu pun yang dapat menariknya kembali. Meski ada kata – kata, “aku tarik lagi kata – kataku.” Tidak. Tidak ada yang dapat menghapus perasaan sakit yang dihasilkan dari kata – kata. Namun yang membedakan adalah ada beberapa orang yang bisa dengan mudahnya mengucapkan kesakitan itu, ada juga yang hanya diam dan memendam semuanya. Saya ? Saya termasuk yang kedua. Meski saya banyak tertawa, banyak bicara, banyak bertemu dengan orang, entah mengapa saya tidak pernah punya kekuatan untuk mengutarakan semua yang saya rasakan. Saya lebih nyaman diam. Bungkam dengan segala perasaan yang berkecamuk. Sakit memang, tapi apa mau dikata. Ternyata saya bukanlah orang yang berani mengungkapkan apa yang saya rasakan.
Air mata ini bukan untuk rasa cinta yang terpendam, apalagi tak berbalas. Entah perasaan apa yang pantas digambarkan untuk air mata ini. Selama ini saya menemani langkahnya yang penuh dengan batu kerikil dan jalur yang terjal. Jatuh, bangun, sakit, tawa, air mata, semuanya sudah dilewati meski hanya seumur jagung. Namun cinta tak memandang seberapa lama kau berjalan di dalamnya, tapi seberapa besar cinta yang kau punya untuk berjalan hingga akhir. Banyak pelajaran dan perubahan hidup yang saya dapat kan selama “umur jagung” itu. Persetan kata orang yang berkata tentang dirinya. Tentang dirinya yang ketinggalan jaman, tentang dirinya yang terlalu tua, tentang dirinya yang terlalu serius, dan sejumlah opini lain yang membuat telinga saya panas.
Dia memang tidak seperti lelaki kebanyakan. Dia memang tidak berponsel Black Berry. Dia memang tidak memakai kaos keluaran distro. Dia memang tidak berkata “gue – elo”. Dia memang tidak bermotor Ninja. Dia memang tidak bermobil mewah. Bahkan dia pun tidak punyaFacebook ! Tapi apa semua itu salah ketika saya menyayanginya dengan tulus ? Apa pria seperti itu tidak berhak untuk disayangi ? Banyak yang saya dapat dari sekedar kesenangan berhubungan semata dengannya. Dia bukan hanya sekedar teman dalam hidup saya selama “umur jagung”. Dia adalah guru saya. Dia adalah teman berdebat saya. Dia adalah kakak saya. Dia adalah pembimbing saya. Dia adalah pengingat saya. Dia adalah teman saya. Dia adalah pacar saya. Dia adalah orangtua saya. Bahkan dia adalah anak lelaki saya, yang suka menangis ketika beban terlampau menggunung di pundaknya.
Biasanya orang merasa sakit hati ketika mengangis di penghujung hubungan, tapi saya tidak. Aneh. Entah mengapa saya malah merasa tenang ketika harus melepasnya. Ketika harus menatapnya kembali menjadi sosok pria mandiri sebelum kehadiran saya dalam hidupnya. Bagai menerbangkan merpati ke langit biru lepas. Begitulah saya memandangnya yang melenggang pergi dengan kemandiriannya. Saya tidak lagi dibutuhkan dalam hidupnya. Tidak lagi sebagai pendengar segala keluh – kesahnya. Tidak lagi sebagai temannya sebelum tidur. Tidak lagi sebagai muridnya yang bawel. Tidak lagi sebagai pengingatnya di setiap jam makan. Tidak lagi sebagai pendamping di jalanannya yang terjal dan curam. Tidak. Dia tidak butuh saya lagi. Kini dia telah mandiri.
Tak jarang saya mengeluh pada Tuhan dipenghujung sujud saya, mengapa saya harus bertemunya saat ini ? Mengapa tidak nanti ? Ketika saya sudah siap menjadi pendampingnya di dunia dan di akhirat. Dia adalah sosok imam dalam hidup yang saya inginkan. Dia adalah pria pertama yang mampu menarik simpati orangtua saya dan dipercaya oleh mereka untuk berhubungan dengan saya. Dia tidak sekedar indah, namun dia pun tak sempurna. Dia hanya pasangan terbaik yang pernah saya miliki hingga saat ini. Akan kah ke depannya saya menemukan yang lebih baik ? Atau yang lebih buruk ? Na’udzubillah.
Pantas tidak ada yang benar – benar mengerti apa yang saya rasakan karena saya bukan komunikator perasaan verbal yang baik.
Air mata ini bukan untuk rasa cinta yang terpendam, apalagi tak berbalas. Entah perasaan apa yang pantas digambarkan untuk air mata ini. Selama ini saya menemani langkahnya yang penuh dengan batu kerikil dan jalur yang terjal. Jatuh, bangun, sakit, tawa, air mata, semuanya sudah dilewati meski hanya seumur jagung. Namun cinta tak memandang seberapa lama kau berjalan di dalamnya, tapi seberapa besar cinta yang kau punya untuk berjalan hingga akhir. Banyak pelajaran dan perubahan hidup yang saya dapat kan selama “umur jagung” itu. Persetan kata orang yang berkata tentang dirinya. Tentang dirinya yang ketinggalan jaman, tentang dirinya yang terlalu tua, tentang dirinya yang terlalu serius, dan sejumlah opini lain yang membuat telinga saya panas.
Dia memang tidak seperti lelaki kebanyakan. Dia memang tidak berponsel Black Berry. Dia memang tidak memakai kaos keluaran distro. Dia memang tidak berkata “gue – elo”. Dia memang tidak bermotor Ninja. Dia memang tidak bermobil mewah. Bahkan dia pun tidak punya
Biasanya orang merasa sakit hati ketika mengangis di penghujung hubungan, tapi saya tidak. Aneh. Entah mengapa saya malah merasa tenang ketika harus melepasnya. Ketika harus menatapnya kembali menjadi sosok pria mandiri sebelum kehadiran saya dalam hidupnya. Bagai menerbangkan merpati ke langit biru lepas. Begitulah saya memandangnya yang melenggang pergi dengan kemandiriannya. Saya tidak lagi dibutuhkan dalam hidupnya. Tidak lagi sebagai pendengar segala keluh – kesahnya. Tidak lagi sebagai temannya sebelum tidur. Tidak lagi sebagai muridnya yang bawel. Tidak lagi sebagai pengingatnya di setiap jam makan. Tidak lagi sebagai pendamping di jalanannya yang terjal dan curam. Tidak. Dia tidak butuh saya lagi. Kini dia telah mandiri.
Sejak awal saya tahu kalau ada dan dengan tiadanya saya, sama sajalah baginya. Saya hanyalah perhiasan dunianya semata yang dapat dia gadaikan pada Tuhan ketika dia butuh “uang” dari – Nya. Saya hanyalah sekelumit cerita dari hidupnya yang luar biasa. Saya hanyalah secuil dari bagian hatinya yang tersita penuh oleh pengabdiannya pada Tuhan. Saya ? Tak adalah artinya dibanding kekuatan cintanya pada Tuhan. Dia berani menukar saya dengan Tuhan. Dia memang benar – benar tidak rela untuk kehilangan cinta Rabbnya. Mungkin terdengar bullshit, tapi percayalah ketika kita ikhlas mencintai seseorang sesuai dengan batasan yang semestinya, kita akan mengerti bahwa “menunggu hingga saatnya tiba” adalah sesuatu yang indah meski terkadang menyesakkan.
Tak jarang saya mengeluh pada Tuhan dipenghujung sujud saya, mengapa saya harus bertemunya saat ini ? Mengapa tidak nanti ? Ketika saya sudah siap menjadi pendampingnya di dunia dan di akhirat. Dia adalah sosok imam dalam hidup yang saya inginkan. Dia adalah pria pertama yang mampu menarik simpati orangtua saya dan dipercaya oleh mereka untuk berhubungan dengan saya. Dia tidak sekedar indah, namun dia pun tak sempurna. Dia hanya pasangan terbaik yang pernah saya miliki hingga saat ini. Akan kah ke depannya saya menemukan yang lebih baik ? Atau yang lebih buruk ? Na’udzubillah.
Setiap orang yang sedang menjalani hubungan pasti akan mengatakan pasangannya saat ini adalah yang terbaik. Saya kira itu wajar. Lalu apakah saya salah ketika mengatakan bahwa dia yang terbaik hingga kini yang pernah saya miliki ?
Pantas tidak ada yang benar – benar mengerti apa yang saya rasakan karena saya bukan komunikator perasaan verbal yang baik.
0 comments: