Dunia Maya Untuk Sepupu Kecilku

6:18 AM Tameila 1 Comments

Agak syok juga waktu lihat akun FB sepupu saya, lebih tepatnya ketika baca notes yang dia tulis plus sederet komentar dari teman – temannya. Saya sih bangga aja punya sepupu kecil yang hobi nulis dan pinter improvisasi dalam tulisannya. Tapi bagaimana jadinya kalau anak kelas 4 SD ini tulisannya udah tentang cinta semua ? Dalam notesnya, kental sekali dengan aroma kehilangan ( baca : putusan ), kecemburuan, dan sejumlah perasaan yang tidak semestinya dirasakan oleh anak seumuran dia.

Apa sepupu saya itu dewasa sebelum waktunya ? Atau mungkin saya yang telat pertumbuhannya ? Ada benarnya juga dengan anggapan kalau,

anak – anak jaman sekarang lebih cepat dewasa dibanding anak – anak dulu.
Tapi sayangnya perkembangan pola pikir mereka (yang dewasa sebelum waktunya) tidak bergerak sebagaimana mestinya. Mereka banyak berkaca pada media. Mereka tidak lagi selalu berkiblat pada apa yang diajarkan oleh orangtua. Media yang membentuk pola pikir mereka. Media yang mendesain perilaku mereka dalam menyikapi hidup. Mengapa ? Karena pengemasan nilai – nilai dari media lebih real ( dapat dilihat ) dibanding sosialisasi nilai – nilai dari mulut orangtua yang hanya sekedar kata – kata.

Ada media baru yang harus dikuasai oleh anak – anak jaman sekarang, namanya internet. Kalau dulu membaca buku adalah jendela dunia, kini browsing internet adalah gerbang dunia. Kalimat “dunia tak selebar daun kelor” sih udah so last year banget, yang berlaku sekarang itu “dunia selebar layar monitor”. Apa yang kita akses dari internet tentang dunia luar maka itu lah yang kita lihat dari dunia saat itu juga. Makannya nggak aneh kalau saat ini ada mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) yang diajarkan di bangku SD. Tujuannya sih bagus, supaya anak – anak Indonesia nggak gaptek, open – minded, belajar kreatif, dan lebih mengeksplorasi dunia serta berbagai hal yang tidak terdapat dalam buku pelajaran mereka.

Tapi, apa salah seorang anak kelas 4 SD punya akun facebook ? Apakah anak – anak nggak boleh browsing internet ? Apakah bermain game online membuat bodoh ? Atau malah internet itu haram bagi anak – anak ?

BIG NO !

Bagi saya, internet merupakan ruang kelas yang luar biasa menarik bagi anak - anak. Segala efek negatif yang menyerang dikarenakan mereka lack of information terhadap situs yang mereka akses. Makannya tak heran kalau sebagian besar dari anak – anak yang saya tanya, alasan mereka mengakses situs “jorok” itu karena mereka penasaran. Mereka memiliki tanda tanya besar mengapa situs itu dilarang untuk dibuka. Andai saja orang – orang yang lebih tua dan berpendidikan memberi mereka pengertian dan pengetahuan tentang situs tersebut, saya yakin persentase efek negatif dari internet dapat berkurang. Masalahnya, anak – anak adalah golongan yang ingin tahu ini – itu. Semakin dilarang malah semakin dikerjakan.

Tidak hanya hal porno, tapi juga kecanduan mengkonsumsi internet. Waktu saya pulang ke Serang, agak terkejut juga ketika ngobrol dengan penjaga warnet. Dia bilang warnetnya selalu ramai oleh anak – anak yang main game hingga tengah malam. Bahaya juga kalau ini dibiarkan sama anak – anak. Mereka akan malas berinteraksi dengan dunia sesungguhnya dibanding dengan dunia maya. Alih – alih mereka nggak punya teman di kehidupan nyata atau kemampuan sosialisasi dengan lingkungannya terhitung buruk. Lebih parahnya ada kasus anak hilang akibat berkenalan dengan lawan jenis lewat facebook. See ? Internet kah yang salah ?

Mau menyalahkan orangtua pun tidak adil, karena saat ini internet bisa diakses dengan mudah dan tersembunyi lewat ponsel. Lalu apa yang dapat dilakukan ? Membatasi mereka menggunakan internet ? Kurang adil. Karena ketika anak – anak merasa ditekan, mereka akan memuaskan keinginannya itu di luar. Di tempat dan pada waktu tidak adanya pengawasan. Satu – satunya cara untuk mencegah dampak buruk adalah kita, sebagai orang yang peduli pada anak – anak, harus lebih berpengetahuan tentang internet dibanding mereka. Karena ketika komputer ditaruh pada tempat yang bisa kita lihat tapi kita tidak memiliki pengetahuan apa – apa, rasanya percuma. Kita ujung – ujungnya bakal dikadalin sama mereka. Dengan pengetahuan internet yang cukup, kita bisa mengkomunikasikan aturan main internet yang baik. Kita bisa mengemas batasan – batasan tersebut dengan cara yang lebih lunak dan tidak kaku agar anak – anak tidak merasa di kekang.

Terlepas dari itu semua, nilai spiritual harus ditaruh di atas segalanya.

Ketika si anak sudah memiliki rasa takut pada Tuhan, saya yakin mereka tidak akan melanggar batas dan tidak melakukan hal yang seharusnya tidak mereka lakukan. As time goes by teknologi memang semakin canggih. Mungkin kedepannya orang dewasa tidak bisa lagi mengendalikan mereka, namun mereka lah yang harus mengendalikan diri mereka sendiri.

Lucu juga kalau dipikir – pikir. Pelarian beberapa anak saat ini berbeda dengan anak – anak jaman dulu. Mereka lebih rajin update status facebook via ponsel ketimbang nulis diary atau asyik bermain. Kalau saya waktu kelas 4 SD pelariannya apa ? Nangis. Main rumah – rumahan. Main ayunan. Panjat pohon jambu depan rumah. Main boneka. Bobo dengan Choki (boneka monyet hadiah ulang tahun dari mama – papa) yang sekarang masih setia menemani saya tidur di kostan.

Alhamdulillah…I had such a beautiful childhood! ^-^V

You Might Also Like

1 comment:

  1. Update Status Facebook Via Everything With Music, Flash Animation & Emoticons.
    Check it Out : http://www.facebook.com/apps/application.php?id=132341710157972

    http://www.facebook.com/apps/application.php?id=132341710157972

    ReplyDelete