Kanvas Buat Bella

1:58 PM Tameila 0 Comments


Biasanya saya dapat dengan mudah menceritakan pengalaman yang saya miliki. Namun entah mengapa malam ini hal itu justru terasa sulit. Seakan semua perjalanan hidup saya tidak ada yang berkesan. Datar. Tidak berbekas dalam benak. Apa karena hujan di luar sana ? Bukan. Tidak ada hubungannya dengan hujan. Hujan tidak salah. Semakin lama hujan semakin lebat dan pikiran saya mulai hanyut terbawa derasnya suara air yang menyentuh bumi.

Kejadiannya sekitar tiga tahun yang lalu. Sore hari telefon rumah berdering. Saya beringsut dari duduk santai dalam kamar dan menghentikan jeritan telefon tadi. Ternyata teman saya bilang bilang kalau salah satu sahabat saya sedang ada di ICU dan butuh darah. Penyakit demam berdarah telah melumpuhkan metabolisme tubuhnya. Saya tidak dapat menutupi rasa terkejut dan saat itu juga lutut saya terasa lemas.

Hidup memang tidak selalu berjalan sesuai dengan yang kita inginkan. Terkadang hal di luar dugaan terjadi. Sama halnya dengan hari itu. Hari di mana saya ingin menjenguk sahabat saya namun semuanya terlambat. Tuhan memanggilnya lebih awal sebelum saya sempat melihatnya. Akhirnya rencana ke rumah sakit berantakan. Kami pergi ke rumah almarhumah. Seperti halnya rumah yang sedang berduka, banyak kursi – kursi yang ditaruh di luar, bendera kuning dari kertas minyak, dan beberapa orang dengan isak tangis. Dari kejauhan sudah dapat ku pastikan kalau pemandangan itu bukan hanya mimpi dan rumah yang ada di hadapanku adalah rumah sahabatku. Temanku. Orang baik yang aku kenal sejak duduk di taman kanak – kanak hingga SMA.

Melangkah masuk ke dalam rumahnya kala itu terasa berat padahal sebelum – sebelumnya saya dapat lari keluar masuk dengan santai. Di ruang tengah tempat kita dan beberapa teman berbagi kebahagiaan serta kesedihan terbaring tubuh kaku. Dari wajahnya dapat ku lihat kedamaian. Sesungging senyum terlukis diparasnya yang ramah. Tanpa sadar saya berbisik pelan di telinga teman saya, “Bella udah nggak ada. Dia pergi duluan. Tapi seneng ya lihat dia senyum gitu ?”

Teman saya memegang tangan saya erat sambil berkata,”Kenapa ya orang baik selalu dipanggil duluan ?” Saya diam. Entah harus merespon seperti apa. “Bella bener – bener menuhin janjinya, ya ? Dia bener – bener ngumpulin temen – temen lamanya di rumahnya. Tapi nggak gini momentnya. Gue sedih.” lirih saya teringat janji Bella untuk mengadakan kumpul – kumpul atau reuni.

Sekuat tenaga saya tidak mengeluarkan air mata di hadapan jasadnya. Saya pun yakin dia enggan melihat orang – orang terkasihnya sedih sepeninggal dia. Namun perasaan dalam hati ini terlalu sesak, akhirnya saya berjalan dengan langkah cepat keluar. Pergi menuju beberapa teman lain yang menunggu di luar. Sesampainya di sana tak dapat saya tahan lagi tangisan saya. Saya gigit bibir bagian bawah sekuat – kuatnya agar tidak menjerit. Tangan saya terkepal kuat menahan perasaan yang begitu menyayat ini. Air mata tak hentinya mengalir seakan tidak akan pernah habis. Tak peduli mata ini kian terasa panas. Tak peduli pinggiran kerudung ini basah. Tak peduli gemetar bibir ini kian menjadi. Kami semua di sana saling menguatkan satu sama lain yang sebenarnya kami pun sama rapuhnya. Saling merangkul dan membisikkan sebuah kata yang terasa pudar maknanya, “sabar”.

Perlahan matahari naik ke singgasana tertingginya. Menampakkan gagah sinarnya dengan panas yang menyengat. Kami pun terdiam. Sibuk dengan pemikiran masing – masing. Berbagi cerita pada jiwa masing – masing akan kenangan dengan sahabat kami yang baik ini. Waktu pemakaman pun dimulai. Jasadnya mulai dibawa ke tempat peristirahatannya terakhir. Kami terpisah. Tapi bagaimana pun juga kehidupan terus berjalan. Kini dia telah sampai pada gerbang kehidupannya yang baru di alam sana dan kami tetap melangkah melanjutkan hidup kami di sini. Tak peduli seberapa jauh dan berbedanya alam kita. Kau selalu ada di hati kami. Senyummu akan selalu terlukis dalam kanvas kenangan kami, Bella.

*suddenly I miss her. remember when we ( alm. Bella, Denti, and me ) practiced "trio kwek - kwek dance" in her house. then we were playing something silly. pardon me if there's something wrong about her disease. as I known she got DBD. am I right ?

You Might Also Like

0 comments: