31HariMenulis

We're Racing

10:25 PM Tameila 0 Comments

Dia masih melaju di atas jalanan. Semakin lama semakin dalam pedal gas ditekannya. Laju semakin cepat. Seakan pohon tidak ada, itu lah yang dia pikirkan juga kepada saya. Mata dia masih lurus ke depan, seolah-olah lehernya tidak dapat menengok ke kiri-kanan. Kaku.

Jemari semakin kuat mencengkram stir. Dengan cekatan, dia permainkan pedal. Dia pikir ini remote control, seperti robot. Mungkin. Dia tidak peduli apa yang saya rasakan sekarang. Yang terpenting baginya, keluar sebagai pemenang. Mencapai target.

SAKIT.

Saya sudah tidak bisa meraba nafasnya. Tidak pula merasakan degup jantungnya. Apalagi menatap sesungging senyum, cih...

Deru mesin menguasai jarak kami. Kami terpisah. Jauh. Terlampau jauh.

Perlahan mata saya basah. Dari sudutnya ada tetes air turun. Menuju hidung, lalu ke pipi, kemudian ke bibir. Asin. Ah, namanya juga pengalaman. Begitu toh rasanya, asin.

Kalian berani kah bertaruh apa yang benar saya rasakan?

Dia menyeringai saat saya merasakan sesak.

Dia tertawa saat saya merasa tertekan.

Dia pergi saat saya terluka.

Biar. Lihat saja nanti siapa yang gigih dan tidak tergoyah. Tahu kenapa? Dia kan sama seperti saya. Penipu.

You Might Also Like

0 comments: