“Look..Look!”
Siapa sih yang nggak akrab dengan pepatah,
“dari mata turun ke hati”?
No. I won’t talk about such a cheesy love
at first sight thing here. Gua udah kapok dengan cinta macem begituan. Ampun,
DJ! Tapi, dengan begitu bukan berarti gua nggak berhak untuk ngerasain
cinta-pada-pandangan-pertama lagi toh?
Beberapa hari yang lalu gua ikutan baby
cuddling. Ini sejenis kegiatan care giving buat bayi-bayi yang ada di panti.
Kegiatan ini dikomporin sama salah satu temen gua, si kunyit. Bukan karena
badannya kuning atau sekeriput kunyit, tapi namanya Nitha, dan ya emang
teman-temannya ini kelewat imut makannya manggil dia dengan sebutan “kunyit”.
Okay then, terlepas dari derita teman gua
yang disamain dengan rempah-rempah, siang itu di saat program baby cuddling gua
merasakan love at first sight. Namanya Keysha, dan dia berhasil bikin gua
kangen dengan seluruh murid gua.
Nggak ada yang spesial dari Keysha selain
matanya ketika bersitatap sama gua. Tulang punggungnya bengkok sehingga dia
nggak bisa duduk. Jangankan untuk duduk, menopang kepalanya aja nggak kuat.
Setelah gua raba-raba ternyata lehernya emang pendek dan kecil. Nggak berapa
lama setelah gua mengamati Keysha yang masih asyik dengan susunya, si Kunyit
dateng dan bilang, “emang, Mak, katanya dia mau dipindah ke panti satunya
(panti untuk anak-anak yang berkebutuhan khusus)”. (Well here okay, kita seri,
Nyit, I call you “kunyit” and you make me feel older with that “emak” call.
*jabat tangan*).
Gua nggak kaget, karena emang melihat
kondisi Keysha agaknya memang lebih cocok di panti satunya. Wait, cocok?
Haruskah Keysha dipindahkan hanya karena dia nggak bisa ketawa kayak bayi-bayi
lain? Haruskah Keysha dipisahkan di panti yang jauh itu hanya karena dia nggak
respon ketika dipanggil?
Keysha nggak deaf. Gua yakin 100%. Keysha
cuma nggak mampu untuk mengontrol dirinya. Dia kesulitan untuk mengarahkan
respon ke suara yang memanggilnya, karena gua rangsang dengan tepukan-tepukan
dan suara mainan dia ngerespon. Saat itu pula lah gua angkat dia, dan oh..karena
tulang punggungnya bengkok dan lemas akhirnya dia pasrah di pelukan gua. Gua
ajak keliling kamar panti sambil ngoceh
sendirian tentang lukisan-lukisan. Akhirnya setelah gua capek ngomong sendiri
dan nggak dapat respon apa pun dari Keysha, gua (ehm, dengan suara pas-pasan)
bersenandung “A Whole New World”, one of my favorite song. And you know what,
suddenly WE GOT EYE CONTACT! Kalau gua nggak inget tulang punggungnya yang
lemas, udah gua angkat itu anak tinggi-tinggi sangking senangnya!
Saat menatap gua, Keysha emang nggak
ngomong apa-apa. Mulutnya terus mengeluarkan liur sampai kerudung gua basah.
Dengan pura-pura kesal karena kerudung gua basah di-“emutin” dia, gua cium
hidungnya. And suddenly, SHE LAUGHED! God, saat itu pula lah flash bulb memory gua beterbangan satu
per satu. Layaknya anak kecil yang bermain gelembung sabun, mata-mata ceria
murid gua beterbangan mengelilingi gua dan Keysha yang masih pasrah di
gendongan.
Setelah adegan tatap-tatapan dengan Keysha,
gua berusaha untuk merangsang respon tangannya. Gua selipkan tangkai kipas
plastik supaya digenggam oleh dia. Lama. Geez, butuh hampir satu menit untuk
benar-benar memastikan Keysha mencengkram gagang kipas itu. Setelah kesabaran
gua hampir defisit, lagi..Keysha menatap gua dan tersenyum. Dari matanya gua
tau dia minta diapresiasi.
Romantisme singkat gua dengan Keysha
akhirnya berujung pada satu anak yang gua rindukan, namanya Arum (-nama
disamarkan). Gua jadi ingat saat pertama kali “dilamar” untuk jadi guru
pendampingnya Arum. Waktu itu si wakil kepala sekolah bilang, “mau kah kamu mendampingi Arum? Hanya saja
dia mengidap HIV. Apakah kamu bermasalah dengan itu?” Saat itu juga gua
jawab, “it’s okay. I want to be her
teacher”. Dan benar, Arum begitu menarik.
Arum nggak cantik, tapi cukup manis, bahkan
saat lagi BT nggak mau belajar pun dia masih manis (okay, ini bukan gombal).
Lewat Arum, gua merasa anak-anak bukan lah murid, tapi partner kerja. We’re
equal, kesepakatan lah yang menempati kita di posisi masing-masing sehingga
saling menghormati. Misalnya saat Arum lagi BT dan nggak mau belajar, gua udah
punya kesepakatan. Gua akan membiarkan dia BT sepanjang sesi pertama pelajaran,
tapi masuk ke sesi kedua dia harus patuh dengan instruksi gua. Begitu pun gua,
kalau dia udah berhasil menyelesaikan semua kewajibannya, gua harus memberikan
dia waktu untuk melakukan apa pun yang dia mau. Satu hal yang nggak akan gua
lupa, dia pernah ngajak jalan-jalan dan minta diceritain tentang burung garuda
dan Pancasila. Yes, saat itulah gua baru sadar kenapa kuliah Pancasila penting!
Gua inget dia pernah nanya, “Bu, itu yang
ditengah kenapa lambangnya bintang?” DYAR! Udah nggak usah tanya gua jawab
apa.
Arum menyadarkan gua kalau apresiasi guru
dan orangtua itu nggak cuma sekedar ucapan “good”,
“pintar”, atau seruan “yeay!”.
No! Arum mengajarkan gua gimana mengkomunikasikan apresiasi dari hati. Biarpun
Arum kesulitan menerima pelajaran, gua tau kalau Arum sensitif dengan
bahasa-bahasa non-verbal. Makannya Arum suka ngambek kalau gua memuji tapi
nggak ngeliat hasil kerjaan dia. See? Gua jadi mikir, udah berapa banyak
apresasi yang kita keluarkan hanya dari mulut, tapi bukan dari hati?
Berbicara tentang pengalaman, gua banyak
kok mengalami hal itu. Diapresiasi, tanpa dipandang. Bukan, gua bukan haus
apresiasi atau kelaperan pengen dihormati. Itu nggak penting, karena
sesungguhnya gua pun masih suka khilaf melakukan hal yang sama. Memuji, tapi
nggak memandang. But as time goes by, gua sadar kalau sesuatu yang berangkat
dari hati maka nyampenya di hati juga.
Thanks Keysha. Thanks Arum. Kalian udah
bikin gua ngerti kalau mata itu benar-benar jendela hati.
0 comments: