“Look..Look!”

7:35 PM Tameila 0 Comments

Siapa sih yang nggak akrab dengan pepatah, “dari mata turun ke hati”?

No. I won’t talk about such a cheesy love at first sight thing here. Gua udah kapok dengan cinta macem begituan. Ampun, DJ! Tapi, dengan begitu bukan berarti gua nggak berhak untuk ngerasain cinta-pada-pandangan-pertama lagi toh?

Beberapa hari yang lalu gua ikutan baby cuddling. Ini sejenis kegiatan care giving buat bayi-bayi yang ada di panti. Kegiatan ini dikomporin sama salah satu temen gua, si kunyit. Bukan karena badannya kuning atau sekeriput kunyit, tapi namanya Nitha, dan ya emang teman-temannya ini kelewat imut makannya manggil dia dengan sebutan “kunyit”.

Okay then, terlepas dari derita teman gua yang disamain dengan rempah-rempah, siang itu di saat program baby cuddling gua merasakan love at first sight. Namanya Keysha, dan dia berhasil bikin gua kangen dengan seluruh murid gua.

Nggak ada yang spesial dari Keysha selain matanya ketika bersitatap sama gua. Tulang punggungnya bengkok sehingga dia nggak bisa duduk. Jangankan untuk duduk, menopang kepalanya aja nggak kuat. Setelah gua raba-raba ternyata lehernya emang pendek dan kecil. Nggak berapa lama setelah gua mengamati Keysha yang masih asyik dengan susunya, si Kunyit dateng dan bilang, “emang, Mak, katanya dia mau dipindah ke panti satunya (panti untuk anak-anak yang berkebutuhan khusus)”. (Well here okay, kita seri, Nyit, I call you “kunyit” and you make me feel older with that “emak” call. *jabat tangan*).
Gua nggak kaget, karena emang melihat kondisi Keysha agaknya memang lebih cocok di panti satunya. Wait, cocok? Haruskah Keysha dipindahkan hanya karena dia nggak bisa ketawa kayak bayi-bayi lain? Haruskah Keysha dipisahkan di panti yang jauh itu hanya karena dia nggak respon ketika dipanggil?

Keysha nggak deaf. Gua yakin 100%. Keysha cuma nggak mampu untuk mengontrol dirinya. Dia kesulitan untuk mengarahkan respon ke suara yang memanggilnya, karena gua rangsang dengan tepukan-tepukan dan suara mainan dia ngerespon. Saat itu pula lah gua angkat dia, dan oh..karena tulang punggungnya bengkok dan lemas akhirnya dia pasrah di pelukan gua. Gua ajak keliling kamar panti sambil ngoceh sendirian tentang lukisan-lukisan. Akhirnya setelah gua capek ngomong sendiri dan nggak dapat respon apa pun dari Keysha, gua (ehm, dengan suara pas-pasan) bersenandung “A Whole New World”, one of my favorite song. And you know what, suddenly WE GOT EYE CONTACT! Kalau gua nggak inget tulang punggungnya yang lemas, udah gua angkat itu anak tinggi-tinggi sangking senangnya!

Saat menatap gua, Keysha emang nggak ngomong apa-apa. Mulutnya terus mengeluarkan liur sampai kerudung gua basah. Dengan pura-pura kesal karena kerudung gua basah di-“emutin” dia, gua cium hidungnya. And suddenly, SHE LAUGHED! God, saat itu pula lah flash bulb memory gua beterbangan satu per satu. Layaknya anak kecil yang bermain gelembung sabun, mata-mata ceria murid gua beterbangan mengelilingi gua dan Keysha yang masih pasrah di gendongan.

Setelah adegan tatap-tatapan dengan Keysha, gua berusaha untuk merangsang respon tangannya. Gua selipkan tangkai kipas plastik supaya digenggam oleh dia. Lama. Geez, butuh hampir satu menit untuk benar-benar memastikan Keysha mencengkram gagang kipas itu. Setelah kesabaran gua hampir defisit, lagi..Keysha menatap gua dan tersenyum. Dari matanya gua tau dia minta diapresiasi.

Romantisme singkat gua dengan Keysha akhirnya berujung pada satu anak yang gua rindukan, namanya Arum (-nama disamarkan). Gua jadi ingat saat pertama kali “dilamar” untuk jadi guru pendampingnya Arum. Waktu itu si wakil kepala sekolah bilang, “mau kah kamu mendampingi Arum? Hanya saja dia mengidap HIV. Apakah kamu bermasalah dengan itu?” Saat itu juga gua jawab, “it’s okay. I want to be her teacher”. Dan benar, Arum begitu menarik.

Arum nggak cantik, tapi cukup manis, bahkan saat lagi BT nggak mau belajar pun dia masih manis (okay, ini bukan gombal). Lewat Arum, gua merasa anak-anak bukan lah murid, tapi partner kerja. We’re equal, kesepakatan lah yang menempati kita di posisi masing-masing sehingga saling menghormati. Misalnya saat Arum lagi BT dan nggak mau belajar, gua udah punya kesepakatan. Gua akan membiarkan dia BT sepanjang sesi pertama pelajaran, tapi masuk ke sesi kedua dia harus patuh dengan instruksi gua. Begitu pun gua, kalau dia udah berhasil menyelesaikan semua kewajibannya, gua harus memberikan dia waktu untuk melakukan apa pun yang dia mau. Satu hal yang nggak akan gua lupa, dia pernah ngajak jalan-jalan dan minta diceritain tentang burung garuda dan Pancasila. Yes, saat itulah gua baru sadar kenapa kuliah Pancasila penting! Gua inget dia pernah nanya, “Bu, itu yang ditengah kenapa lambangnya bintang?” DYAR! Udah nggak usah tanya gua jawab apa.

Arum menyadarkan gua kalau apresiasi guru dan orangtua itu nggak cuma sekedar ucapan “good”, “pintar”, atau seruan “yeay!”. No! Arum mengajarkan gua gimana mengkomunikasikan apresiasi dari hati. Biarpun Arum kesulitan menerima pelajaran, gua tau kalau Arum sensitif dengan bahasa-bahasa non-verbal. Makannya Arum suka ngambek kalau gua memuji tapi nggak ngeliat hasil kerjaan dia. See? Gua jadi mikir, udah berapa banyak apresasi yang kita keluarkan hanya dari mulut, tapi bukan dari hati?

Berbicara tentang pengalaman, gua banyak kok mengalami hal itu. Diapresiasi, tanpa dipandang. Bukan, gua bukan haus apresiasi atau kelaperan pengen dihormati. Itu nggak penting, karena sesungguhnya gua pun masih suka khilaf melakukan hal yang sama. Memuji, tapi nggak memandang. But as time goes by, gua sadar kalau sesuatu yang berangkat dari hati maka nyampenya di hati juga.

Thanks Keysha. Thanks Arum. Kalian udah bikin gua ngerti kalau mata itu benar-benar jendela hati.

You Might Also Like

0 comments: