Overlaping

11:01 PM Tameila 0 Comments


 Gila !
Itu yang ingin saya teriakkan mala mini. Hampir seminggu mem – pending banyak hal mala mini numpuk jadi satu. Buka agenda. Cek. God ! Semingggu ini full deadline – nya. Bukannya mau sok sibuk atau kelihatan sok jadi orang penting. Malah di sini saya menganggap saya ini orang yang rakus dan susah dititipkan tanggung jawab.

Yes, I do !

Kalau sedang dikejar deadline gini saya merindukan waktu – waktu selo. Masa – masa dimana saya nggak susah keburu – buru ngerjain sesuatu. Selesai tugas ini, garap yang itu. Kelar paper ini, lanjut ngetik yang satunya. Seru sih sebenarnya kerja last minute itu. Meski ada pepatah kalau kerja last minute nggak bikin kita kreatif, tapi saya percara the power of kepepet. Kalau kita lagi kepepet pasti segala sesuatu bisa terjadi. Biasanya hal ini berkaitan erat dengan kepasrahan kita dengan – Nya. Semakin pasrah, hal – hal baik tak terduga bisa terjadi. Sebaliknya, semakin ngumpat nanti ada aja yang salah, bahkan bisa fatal.

                Malam ini saya ngerjain paper Kerja dan Masyarakat Kontemporer. Entah memang rencana Tuhan atau kebetulan, saya dapat tema tentang Kepuasan Kerja. Dalam jurnalnya disebutkan bahwa kepuasan kerja bisa diperoleh kalau seseorang itu merasa cocok dengan kerjaannya. Ada sih hal – hal lainnya, misalnya atasan yang oke, rekan yang baik, dan tentunya gaji yang gede. Tapi faktor utamanya adalah kecocokan.

                Memang benar, di mana – mana yang namanya kalau udah cocok pasti apapun dikerjain. Mau hubungan sesama manusia atau pekerjaan, bedanya kalau pekerjaan mungkin bisa kita bilang sesuai dengan passion. Pada saat sedang lomba, saya dan seorang teman ceritanya lagi ngomong dari hati ke hati. Kita saling bertukar impian masa depan. Dia mau bekerja di periklanan, saya bermimpi bekerja sebagai seorang planner. Di akhir percakapan dia bilang, “buat aku ya, Ta, yang namanya passion itu di saat kamu nggak peduli apapun yang kamu hadapi. Mau kamu berdarah – darah kamu bakalan hajar itu. Kamu nggak akan pernah ngerasa capek dan yeah…kamu fun aja dengan segala tantangannya”.

                Yap ! That’s true. Inilah yang pada akhirnya membuat kita menerima segala bentuk kerjaan atau rela ngerjain tugas sesempurna mungkin karena kita suka. Nggak sedikit tuh teman – teman saya yang bilang nggak puas dengan kerjaannya. Bukan karena mereka nggak mampu, karena mereka yakin bisa mengerjakan lebih sempurna kalau saja memiliki waktu yang cukup. Sama halnya dengan teman saya di kantor, dia selalu nerima banyak job penelitian. Alasannya karena dia suka meneliti, tapi saat deadlinenya udah mepet semua dia uring – uringan. Marah – marah. Nggak bisa diganggu.

Miracle

Mama saya pernah bertanya, tapi sebenarnya lebih terkesan menyindir. Dia bilang begini, “anak kuliahan jaman sekarang suka begini ya ? Kuliah nyambi kerja jadinya ngerjain tugas sampai begadang”. Mau tersinggung yang ngomong nyokap sendiri, tapi nggak tersinggung juga kena sindir. Kayak kemarin saat keluarga saya sedang di Jogja, saya masih aja harus membagi waktu kumpul dengan mengerjakan tugas kelompok.

                Sebenarnya nggak tega mau begitu, tapi ya udah lha mau bagaimana lagi. Kalau udah feeling guilty gini rasanya saya cuma ingin membelah diri. Saya butuh keajaiban supaya bisa menaruh badan di banyak tempat. Tujuannya nggak lain supaya semua pekerjaan bisa saya selesaikan dalam satu waktu. Tapi mau bagaimana, saya ini manusia bukan amoeba.

                Mungkin nggak usah badan, pikiran aja deh. Setidaknya saya ingin memiliki banyak otak supaya otak yang satu dipakai untuk mikirin masalah A, yang satunya untuk masalah B, dan seterusnya. Barulah kalau sudah terpikirkan semuanya saya tinggal gerak. Biar bagaimana, balik lagi ke kodrat saya sebagai manusia yang nggak bisa membelah diri dan cuma punya otak satu. Harus rela capek kejar – kejaran dengan waktu dan sakit kepala kalau dipakai nyiasatin ini – itu.

                Yes, I need a miracle. Saya butuh 48 jam dalam sehari. Saya butuh tubuh 2 dalam mengejar deadline. Saya butuh banyak tangan dalam membereskan kamar. Saya butuh A, B, C, bla bla bla. Begini saya jadinya kalau sudah kepepet. Nggak mau disalahkan jadinya menyalahkan hal – hal di luar saya. Mencari kambing hitam ? Ya. I prefer blaming to sitting and cooling down.

                Mungkin seharusnya saat ini saya baca buku manajemen waktu dan pikiran. Supaya nggak cari kambing hitam apalagi nyalahin Tuhan. Harusnya bersyukur udah dikasih otak yang masih bisa dipakai untuk mikir. Dan masih banyak lagi “seharusnya” yang lainnya, ya salah satunya berhenti dulu baca buku Jawa. Atau ngenet. Berhenti dulu tenggelam di dunia maya dan kerjakan tugas.

                Cari inspirasi ? Hmm…mungkin, siapa tau dari ngenet bisa dapat inspirasi supaya tugas bisa sempurna. Ini sedang ngeles ? Ya. Benar. :D

You Might Also Like

0 comments: