Role Model

11:50 PM Tameila 0 Comments

Semua orang pasti punya panutan di dunia ini. Bukan hanya Mama dan Andrea dalam “The Devil Wears Prada”, masih ada banyak yang menjadi role model saya. Salah duanya adalah dosen saya.

Mbak Hermin

                Pertama kali ngeliat dia yang ada di kepala saya adalah guru TK. Dia mirip banget dengan guru TK saya, namanya Bu Itoh. Orangnya gemuk, rambutnya pendek bergelombang, dan ramah. Bedanya hanya sedikit, kalau Mbak Hermin ini putih, chubby, dan nggak kalah ramah dari Bu Itoh.

                Kedua kali saya ngeliat dia, saya berada di kelasnya. Kuliah Teori Komunikasi adalah kelas pertama yang mempertemukan kami. Ini adalah kelas abstrak pertama yang saya ikuti. Bagaimana tidak, saya nggak ada bayangan di dalamnya mau belajar apa selain baca text book yang tebal – tebal dan bahasa Inggris pengantarnya. Tapi dari sini lah saya jatuh cinta pertama kali dengan ilmu komunikasi, dengan membaca text book, dan dengan dirinya.

                Dosen saya yang sempat studi ke Jerman ini benar – benar menginspirasi saya. Susah untuk menjelaskan seberapa jauh pengaruhnya terhadap diri saya. Yang pasti, kalau melihat Mbak Hermin saya itu bawaannya pengen cepat – cepat lulus, mahir bahasa Jerman, terus langsung S2 di Jerman. Biar begitu, saya memiliki concern yang berbeda dengan beliau. Mbak Hermin jago banget masalah media, politik, pemerintah, dan pemikiran kritisnya. Maklum, memang Jerman sering melahirkan pemikiran – pemikiran kritis. Nah, kalau saya concern dengan psikologi, khususnya pendidikan. Sayangnya teman saya yang kuliah di Jerman bilang kalau agak susah kuliah S2 di Jerman jurusan Psikologi tapi S1nya bukan psikologi.

                Hari ini adalah hari pengangkatan beliau menjadi dekan fakultas saya. Wah, melihat beliau memakai kebaya berwarna merah jambu rasanya segar sekali. Mungkin ini agak berlebihan, tapi jujur melihat beliau itu bawaannya selalu sumringah. Saya segan memang, tapi melihat senyum beliau itu bikin adem. Biar tubuhnya kecil, pembawaan dirinya membuat orang tetap segan dengan beliau. Selain itu, saya selalu salut dengan kepintarannya. Emm…mungkin lebih kepada pemikirannya yang kritis. Ya, beliau manis dan kritis. Dan satu hal, andai beliau memiliki minat yang sama dengan saya, yaitu psikologi, ingin sekali saya menjadikan dia sebagai dosen pembimbing skripsi nanti.

 Mas Sulhan

                Siapa yang tak mengenal beliau di jurusan saya ? Jangankan selevel jurusan, beberapa teman saya dari jurusan bahkan fakultas lain pun mengetahuinya. Saya mengidolakan dia bukan dari tampangnya yang rupawan. Memang benar, beberapa mahasiswi bilang kalau beliau cukup…emm…yeah…tampan. Tapi bagi saya, beliau lebih mempesona dari pada itu.

                Terlepas dari branding dirinya or something, saya suka dengan pemikiran dia. Simpel. Opportunis. Kritis. Cerdik. Mungkin penilaian saya barusan salah, tapi itu lah yang saya tangkap dari dirinya dan saya suka itu. Cara berbicaranya juga menjadi salah satu favorit saya. Dia tidak pernah memojokkan seseorang, tapi saya menilai dia selalu punya cara licik yang cerdas untuk menjatuhkan seseorang. Entah benar atau tidak, tapi body language, pilihan kata, dan ekspresinya saat menjadi komunikan itu yang mampu mengecoh kita.

                Dia adalah Dosen Pembimbing Akademik (DPA) saya. Pernah suatu kali saya meminta tanda tangan padanya. Tanda tangan ini untuk transkrip nilai saya sebagai pemenuhan syarat berkas. Awalnya saya segan. Bukan. Saya takut. Saya takut dia menolak untuk tanda tangan, karena jujur melihat dirinya bukan seperti dosen. Di mata saya, dia seperti orang bebas yang haus akan ilmu. Dahaganya dia tuntaskan dengan buku – buku.

                Di hari yang lain takut – takut saya mendekati mejanya. Ada banyak pertanyaan dari kelas psikologi komunikasi yang mengganggu saya. Karena saya sudah tidak tahan, saya modal nekat untuk bertanya langsung ke meja dia. Deg – degan ? Sangat. Tapi semuanya terbayar dengan diskusi singkat siang itu. Mungkin dia tidak ingat hal ini. Tapi saya ? Saya nggak akan pernah lupa dengan siang itu. Siang di mana ketika ilmu saya jatuh cinta dengan ilmu lain, yakni psikologi.

                Biar bagaimana pun, saya mendengar banyak hal miring tentang dirinya. Ah, tidak usah disebutkan apa saja berita burung itu. Saya nggak peduli seberapa jelek kehidupan pribadinya, toh saya pun mendapat kabar itu bukan dari mulut pertama. Lagipula kabar itu belum tentu benar dan juga bukan urusan saya. Saya pun memandang, menghormati, dan mengagumi beliau bukan dari kehidupan pribadinya. Biar lah segala berita yang tak jelas asalnya itu menguap. Lebih dari itu, saya mengagumi kecerdasannya dan ambisinya untuk terus mengetahui hal – hal baru.

You Might Also Like

0 comments: