Role Model
Semua orang pasti punya panutan di dunia ini. Bukan hanya
Mama dan Andrea dalam “The Devil Wears Prada”, masih ada banyak yang menjadi
role model saya. Salah duanya adalah dosen saya.
Mbak Hermin
Pertama
kali ngeliat dia yang ada di kepala saya adalah guru TK. Dia mirip banget
dengan guru TK saya, namanya Bu Itoh. Orangnya gemuk, rambutnya pendek
bergelombang, dan ramah. Bedanya hanya sedikit, kalau Mbak Hermin ini putih,
chubby, dan nggak kalah ramah dari Bu Itoh.
Kedua kali
saya ngeliat dia, saya berada di kelasnya. Kuliah Teori Komunikasi adalah kelas
pertama yang mempertemukan kami. Ini adalah kelas abstrak pertama yang saya
ikuti. Bagaimana tidak, saya nggak ada bayangan di dalamnya mau belajar apa
selain baca text book yang tebal – tebal dan bahasa Inggris pengantarnya. Tapi dari
sini lah saya jatuh cinta pertama kali dengan ilmu komunikasi, dengan membaca
text book, dan dengan dirinya.
Dosen saya
yang sempat studi ke Jerman ini benar – benar menginspirasi saya. Susah untuk
menjelaskan seberapa jauh pengaruhnya terhadap diri saya. Yang pasti, kalau
melihat Mbak Hermin saya itu bawaannya pengen cepat – cepat lulus, mahir bahasa
Jerman, terus langsung S2 di Jerman. Biar begitu, saya memiliki concern yang
berbeda dengan beliau. Mbak Hermin jago banget masalah media, politik,
pemerintah, dan pemikiran kritisnya. Maklum, memang Jerman sering melahirkan
pemikiran – pemikiran kritis. Nah, kalau saya concern dengan psikologi,
khususnya pendidikan. Sayangnya teman saya yang kuliah di Jerman bilang kalau
agak susah kuliah S2 di Jerman jurusan Psikologi tapi S1nya bukan psikologi.
Hari
ini adalah hari pengangkatan beliau menjadi dekan fakultas saya. Wah, melihat
beliau memakai kebaya berwarna merah jambu rasanya segar sekali. Mungkin ini
agak berlebihan, tapi jujur melihat beliau itu bawaannya selalu sumringah. Saya
segan memang, tapi melihat senyum beliau itu bikin adem. Biar tubuhnya kecil,
pembawaan dirinya membuat orang tetap segan dengan beliau. Selain itu, saya
selalu salut dengan kepintarannya. Emm…mungkin lebih kepada pemikirannya yang
kritis. Ya, beliau manis dan kritis. Dan satu hal, andai beliau memiliki minat
yang sama dengan saya, yaitu psikologi, ingin sekali saya menjadikan dia
sebagai dosen pembimbing skripsi nanti.
Mas Sulhan
Siapa yang
tak mengenal beliau di jurusan saya ? Jangankan selevel jurusan, beberapa teman
saya dari jurusan bahkan fakultas lain pun mengetahuinya. Saya mengidolakan dia
bukan dari tampangnya yang rupawan. Memang benar, beberapa mahasiswi bilang
kalau beliau cukup…emm…yeah…tampan. Tapi bagi saya, beliau lebih mempesona dari
pada itu.
Terlepas
dari branding dirinya or something,
saya suka dengan pemikiran dia. Simpel. Opportunis. Kritis. Cerdik. Mungkin
penilaian saya barusan salah, tapi itu lah yang saya tangkap dari dirinya dan
saya suka itu. Cara berbicaranya juga menjadi salah satu favorit saya. Dia tidak
pernah memojokkan seseorang, tapi saya menilai dia selalu punya cara licik yang
cerdas untuk menjatuhkan seseorang. Entah benar atau tidak, tapi body language,
pilihan kata, dan ekspresinya saat menjadi komunikan itu yang mampu mengecoh
kita.
Dia
adalah Dosen Pembimbing Akademik (DPA) saya. Pernah suatu kali saya meminta
tanda tangan padanya. Tanda tangan ini untuk transkrip nilai saya sebagai
pemenuhan syarat berkas. Awalnya saya segan. Bukan. Saya takut. Saya takut dia
menolak untuk tanda tangan, karena jujur melihat dirinya bukan seperti dosen. Di
mata saya, dia seperti orang bebas yang haus akan ilmu. Dahaganya dia tuntaskan
dengan buku – buku.
Di hari
yang lain takut – takut saya mendekati mejanya. Ada banyak pertanyaan dari
kelas psikologi komunikasi yang mengganggu saya. Karena saya sudah tidak tahan,
saya modal nekat untuk bertanya langsung ke meja dia. Deg – degan ? Sangat. Tapi
semuanya terbayar dengan diskusi singkat siang itu. Mungkin dia tidak ingat hal
ini. Tapi saya ? Saya nggak akan pernah lupa dengan siang itu. Siang di mana
ketika ilmu saya jatuh cinta dengan ilmu lain, yakni psikologi.
Biar bagaimana
pun, saya mendengar banyak hal miring tentang dirinya. Ah, tidak usah
disebutkan apa saja berita burung itu. Saya nggak peduli seberapa jelek
kehidupan pribadinya, toh saya pun mendapat kabar itu bukan dari mulut pertama. Lagipula kabar itu belum tentu benar dan juga bukan urusan saya.
Saya pun memandang, menghormati, dan mengagumi beliau bukan dari kehidupan
pribadinya. Biar lah segala berita yang tak jelas asalnya itu menguap. Lebih dari
itu, saya mengagumi kecerdasannya dan ambisinya untuk terus mengetahui hal –
hal baru.
0 comments: