Belajar Bareng

8:25 PM Tameila 0 Comments


Udah lama banget saya nggak dengar istilah itu, “belajar bareng”. Sekarang udah berganti dengan “garap tugas” atau “kerja kelompok”. Makannya nggak aneh saya dan beberapa teman lainnya sering mengeluh, “gue udah lupa rasanya belajar”. Bahkan kalau boleh jujur saya pun merasa kalau di kelas itu rasanya nggak belajar, tapi cari inspirasi. Membuka wawasan. Bertukar pikiran. Bukan belajar. Lalu, apakah salah sistem perkuliahan di kampus yang salah sehingga anak – anaknya tidak merasa belajar ? Atau memang kelas kuliah itu tidak di – setting untuk belajar ?

                Suatu hari saya bertanya pada instruktur bahasa Jerman saya. “Herr, beda nggak sih antara mengajar dengan sharring ?

                Beliau jawab, “beda. Karena kalau belajar ada yang berposisi sebagai murid, ada yang sebagai guru. Ada yang belajar dan diajar. Sedangkan kalau sharring ya kita belajar bareng – bareng. Tidak ada yang berkedudukan lebih tinggi”.

                Dari situ saya mikir, lha kalau begitu apa bedanya dengan praktik di kelas kuliah ? Dosen ngomong di depan kelas menjelaskan materi, mahasiswa duduk memperhatikan penjelasan si dosen. Apa bedanya dengan aktivitas belajar mengajar di sekolah ? Seragam ? Ah, menurut saya seragam bukan penentu siapa yang menjadi guru dan siapa muridnya. Toh SMU khusus pria De Britto di sini murid – muridnya nggak pakai seragam layaknya sekolah pada umumnya.

                Esensi berkuliah kah yang berbeda dengan sekolah ?

                Pernah saya membaca sebuah artikel di blog yang menjelaskan kalau masa – masa kuliah itu waktunya pemahaman. Di sana lah saatnya kita memahami segala sesuatu, baik dari materi hingga hal – hal di luar perkuliahan. Esensi dari kuliah itu bukan “dicekokin” sama dosen, tapi dosen membuka pikiran mahasiswanya sehingga terjadi diskusi. Dari diskusi itu mahasiswa mendapatkan pemahaman – pemahaman baru. Sayangnya, nggak sedikit dosen yang pendapatnya ditimpali oleh murid. Bersyukurlah saya memiliki dosen – dosen yang mayoritas open minded, tapi sering saya mendapatkan keluhan dari teman – teman di jurusan lain. Mereka bilang dosennya marah kalau pendapatnya ditentang atau ditanya secara kritis.

                Makannya saya senang sekali waktu membaca sebuah twitter seorang teman yang bunyinya kurang lebih seperti ini, “guru itu mengajari, dosen itu menginspirasi”.

                Ya, inspirasi ! Inilah yang saya dapatkan dari teman – teman jurusan lain. Saat saya didudukkan dalam satu ruangan dengan anak hukum, sastra, HI, antropologi, psikologi, elins, ilmu komputer, dan teknik, saya selalu mendapatkan inspirasi dari mereka. Begitu pun mereka yang setiap usai diskusi dan debat selalu ngomong gini, “waw ternyata kalau dlihat dari ilmu sosial seperti ini ya” atau “luar biasa teknologi X, sayangnya dampak sosialnya a b c d, bla bla bla”. Kami sama – sama mengetahui hal – hal baru. Kami sama – sama membantai ilmu satu sama lain. Kami juga sama – sama memahami suatu fenomena.

                Dalam diskusi dan “saling bantai” ini haram hukumnya untuk merasa “benar sendiri”. Biasanya kalau udah ada yang ngotot, kita cuma mesem kecut terus ngelanjutin diskusi. Orang kayak begini, yang ngerasa benar sendiri, memang paling susah kalau diajak diskusi. Pengennya pemikirannya paling benar. Argumennya paling oke. Disiplin ilmunya paling solutif. Padahal, hey kita ini saling membutuhkan. Saya bisa jamin deh Samsung nggak akan bisa seterkenal sekarang kalau teknisinya doang yang jago. HP Androidnya nggak akan meledak di pasar kalau nggak ada PR dan marketingnya. Produknya nggak akan bisa masuk negara – negara kalau nggak ada yang paham negosiasi antarnegara, hukum dagang, bahkan politik. We all need each other.

                Mungkin ini pula lah yang melatarbelakangi universitas saya gencar banget ngadain hibah penelitian untuk mahasiswa dan peneliti – peneliti muda. Awalnya saya udah apatis aja dengan program – program begitu, tapi terima kasih Tuhan telah mempertemukan saya dengan asisten – asisten hebat ini. Orang – orang sederhana yang berpikiran luar biasa. Dari setiap “pembantaian” yang kami lakukan saya selalu mendapatkan pandangan baru.

                Misalnya tadi pagi saat saya sarapan dengan Indah, sahabat rocker nan kece dari Kimia, saya jadi lebih paham tentang rokok. Kalau dulu saya cuma ngelarang orang ngerokok karena akan menyebabkan jantung atau nafas sesak, kini saya benar – benar paham setiap detail kandungan rokok. Nggak cuma itu, saya pun jadi tahu setiap kandungan itu akan menyerang bagian tubuh mana dan bagaimana tubuh bereaksi. Tetapi saat saya menghadapi permasalahan ini dengan ilmu sosial, saya jadi lebih mahfum kepada perokok. Diskusi dengan teman – teman dari sosial saya jadi kenal orang – orang yang memang paham apa itu esensi merokok. Luar biasa lho pemikiran teman – teman saya yang benar – benar paham untuk apa merokok. Mereka nggak cuma ngisep untuk happy – happy atau gaya – gayaan. Terkadang ada nilai tersendiri yang bikin saya, “wow-is-it-true ?”

                Lantas kalau sudah begini apakah saya masih pantas untuk mengeluhkan “gue-lupa-rasanya-belajar” ? Mungkin saatnya bagi saya untuk mengubah paradigma belajar itu sendiri. Belajar bukan lah lagi ketika kamu duduk di kelas dan berstatus murid. Bukan. Belajar adalah ketika saya memahami sesuatu yang baru. Belajar adalah ketika saya membuka pikiran saya dan tidak menutup diri dengan hal – hal baru. Belajar adalah ketika saya mempersilahkan seseorang untuk menginspirasi saya. Belajar adalah ketika saya menambal kefakiran ilmu saya dari kekayaan pemikiran orang lain. Belajar adalah ketika saya harus mau mengaku kalau mereka lebih berilmu dan saya menerima pemberian ilmu mereka. Belajar adalah berbagi.
               

You Might Also Like

0 comments: