Belajar Bareng
Udah lama banget saya nggak dengar istilah itu, “belajar bareng”. Sekarang udah berganti dengan “garap tugas” atau “kerja kelompok”. Makannya nggak aneh saya dan beberapa teman lainnya sering mengeluh, “gue udah lupa rasanya belajar”. Bahkan kalau boleh jujur saya pun merasa kalau di kelas itu rasanya nggak belajar, tapi cari inspirasi. Membuka wawasan. Bertukar pikiran. Bukan belajar. Lalu, apakah salah sistem perkuliahan di kampus yang salah sehingga anak – anaknya tidak merasa belajar ? Atau memang kelas kuliah itu tidak di – setting untuk belajar ?
Suatu
hari saya bertanya pada instruktur bahasa Jerman saya. “Herr, beda nggak sih antara mengajar dengan sharring ?”
Beliau jawab,
“beda. Karena kalau belajar ada yang
berposisi sebagai murid, ada yang sebagai guru. Ada yang belajar dan diajar. Sedangkan
kalau sharring ya kita belajar bareng – bareng. Tidak ada yang berkedudukan
lebih tinggi”.
Dari situ
saya mikir, lha kalau begitu apa bedanya dengan praktik di kelas kuliah ? Dosen
ngomong di depan kelas menjelaskan materi, mahasiswa duduk memperhatikan
penjelasan si dosen. Apa bedanya dengan aktivitas belajar mengajar di sekolah ?
Seragam ? Ah, menurut saya seragam bukan penentu siapa yang menjadi guru dan
siapa muridnya. Toh SMU khusus pria De Britto di sini murid – muridnya nggak
pakai seragam layaknya sekolah pada umumnya.
Esensi berkuliah
kah yang berbeda dengan sekolah ?
Pernah saya
membaca sebuah artikel di blog yang menjelaskan kalau masa – masa kuliah itu
waktunya pemahaman. Di sana lah saatnya kita memahami segala sesuatu, baik dari
materi hingga hal – hal di luar perkuliahan. Esensi dari kuliah itu bukan “dicekokin” sama dosen, tapi dosen
membuka pikiran mahasiswanya sehingga terjadi diskusi. Dari diskusi itu
mahasiswa mendapatkan pemahaman – pemahaman baru. Sayangnya, nggak sedikit
dosen yang pendapatnya ditimpali oleh murid. Bersyukurlah saya memiliki dosen –
dosen yang mayoritas open minded, tapi sering saya mendapatkan keluhan dari
teman – teman di jurusan lain. Mereka bilang dosennya marah kalau pendapatnya
ditentang atau ditanya secara kritis.
Makannya
saya senang sekali waktu membaca sebuah twitter seorang teman yang bunyinya
kurang lebih seperti ini, “guru itu
mengajari, dosen itu menginspirasi”.
Ya,
inspirasi ! Inilah yang saya dapatkan dari teman – teman jurusan lain. Saat
saya didudukkan dalam satu ruangan dengan anak hukum, sastra, HI, antropologi,
psikologi, elins, ilmu komputer, dan teknik, saya selalu mendapatkan inspirasi
dari mereka. Begitu pun mereka yang setiap usai diskusi dan debat selalu
ngomong gini, “waw ternyata kalau dlihat
dari ilmu sosial seperti ini ya” atau “luar
biasa teknologi X, sayangnya dampak sosialnya a b c d, bla bla bla”. Kami sama
– sama mengetahui hal – hal baru. Kami sama – sama membantai ilmu satu sama
lain. Kami juga sama – sama memahami suatu fenomena.
Dalam diskusi
dan “saling bantai” ini haram hukumnya untuk merasa “benar sendiri”. Biasanya kalau
udah ada yang ngotot, kita cuma mesem kecut
terus ngelanjutin diskusi. Orang kayak begini, yang ngerasa benar sendiri,
memang paling susah kalau diajak diskusi. Pengennya pemikirannya paling benar. Argumennya
paling oke. Disiplin ilmunya paling solutif. Padahal, hey kita ini saling
membutuhkan. Saya bisa jamin deh Samsung nggak akan bisa seterkenal sekarang
kalau teknisinya doang yang jago. HP Androidnya nggak akan meledak di pasar
kalau nggak ada PR dan marketingnya. Produknya nggak akan bisa masuk negara –
negara kalau nggak ada yang paham negosiasi antarnegara, hukum dagang, bahkan
politik. We all need each other.
Mungkin
ini pula lah yang melatarbelakangi universitas saya gencar banget ngadain hibah
penelitian untuk mahasiswa dan peneliti – peneliti muda. Awalnya saya udah
apatis aja dengan program – program begitu, tapi terima kasih Tuhan telah
mempertemukan saya dengan asisten – asisten hebat ini. Orang – orang sederhana
yang berpikiran luar biasa. Dari setiap “pembantaian” yang kami lakukan saya
selalu mendapatkan pandangan baru.
Misalnya
tadi pagi saat saya sarapan dengan Indah, sahabat rocker nan kece dari Kimia,
saya jadi lebih paham tentang rokok. Kalau dulu saya cuma ngelarang orang
ngerokok karena akan menyebabkan jantung atau nafas sesak, kini saya benar –
benar paham setiap detail kandungan rokok. Nggak cuma itu, saya pun jadi tahu
setiap kandungan itu akan menyerang bagian tubuh mana dan bagaimana tubuh
bereaksi. Tetapi saat saya menghadapi permasalahan ini dengan ilmu sosial, saya
jadi lebih mahfum kepada perokok. Diskusi dengan teman – teman dari sosial saya
jadi kenal orang – orang yang memang paham apa itu esensi merokok. Luar biasa
lho pemikiran teman – teman saya yang benar – benar paham untuk apa merokok. Mereka
nggak cuma ngisep untuk happy – happy atau gaya – gayaan. Terkadang ada nilai
tersendiri yang bikin saya, “wow-is-it-true
?”
Lantas kalau
sudah begini apakah saya masih pantas untuk mengeluhkan “gue-lupa-rasanya-belajar” ? Mungkin saatnya bagi saya untuk
mengubah paradigma belajar itu sendiri. Belajar bukan lah lagi ketika kamu
duduk di kelas dan berstatus murid. Bukan. Belajar adalah ketika saya memahami
sesuatu yang baru. Belajar adalah ketika saya membuka pikiran saya dan tidak
menutup diri dengan hal – hal baru. Belajar adalah ketika saya mempersilahkan
seseorang untuk menginspirasi saya. Belajar adalah ketika saya menambal
kefakiran ilmu saya dari kekayaan pemikiran orang lain. Belajar adalah ketika
saya harus mau mengaku kalau mereka lebih berilmu dan saya menerima pemberian
ilmu mereka. Belajar adalah berbagi.
0 comments: