Malaikat Tanpa Sayap
Kalau bukan karena Wina, saya nggak tau tulisan ini mau
dikasih judul apa. Tapi untungnya mantan ketua KOMAKO itu habis ketemu bule
ganteng. Katanya bule itu seperti “malaikat tanpa sayap”, bisa bikin dia senang
bahkan sampai lupa jalan. Se-simpel itu kah seorang “malaikat” datang kepada
kita ? Well..so then who’s my angel ? Or perhaps seharusnya saya bilang who are
my angels ?
Beda lho
antara “who is” dan “who are”. Anak SD juga tau alasannya kenapa, kalau “is”
berarti tunggal sedangkan “are” artinya jamak. Tapi buat saya, it’s more than
singular and plural. Buat saya, malaikat itu sesuatu yang uncountable. Literally,
mereka nggak bisa diukur apakah banyak atau sedikit, karena bagi saya “malaikat”
itu bukan nomina, tapi adjektiva. “Malaikat” adalah hal abstrak yang ada di
dalam diri setiap orang. Dia tidak bersifat tunggal, tidak juga jamak. Lagi, “malaikat”
adalah adjektiva bagi saya.
Lantas malaikat
itu yang seperti apa ?
Wina bilang,
“malaikat” itu si bule tadi yang datang seketika di saat jalanan macet. “Malaikat”
saya ? Well...check this out :
“Everybody's
looking for a something
One thing that makes it all complete
You'll find it in the strangest places
Places you never knew it could be”
One thing that makes it all complete
You'll find it in the strangest places
Places you never knew it could be”
(Westlife – Flying Without Wings)
The strangest place. Places you never knew it could be.
Ya, saya selalu menemukan
malaikat di tempat – tempat tak terduga.
Saya nggak
pernah nyangka dulu nemu si “malaikat” bareng Shofi waktu semester 1 di kantin
Fisipol.
Saya nggak
pernah nyangka teman SMP saya, Wan, jadi malaikat penyelamat saya, Nitha,
Wenny, dan Wina saat lomba di UI dulu.
Saya nggak
pernah nyangka kalau malaikat penolong kerepotan aktivitas saya adalah Lisna,
Dhimas, dan beberapa teman kampus saya.
Saya nggak
pernah nyangka kalau Kak Ucon dan Faisal adalah malaikat penyelamat begadang
saya, apalagi kalau nggak berani keluar kamar.
Saya nggak
pernah nyangka teman – teman kost adalah malaikat penyelamat saya dari gossip
bapak – bapak di sekitar kost karena saya sering ngerjain tugas sampai larut
malam.
Saya nggak
pernah nyangka mampu memahami “malaikat” sebagai sosok lain kalau bukan dari
murid – murid saya di SLB.
Saya nggak
pernah nyangka kalau malaikat pengusir kesepian saya adalah Indah, Reza, Eki, Fikri,
dan teman – teman SMA di Jogja yang sering nongkrong sampai larut malam.
Saya nggak
pernah nyangka kalau malaikat pencerah pengetahuan saya terhadap politik kampus
adalah teman – teman asisten di Pusat Studi Jerman dan awak – awak ex-Forkom
2009.
Saya nggak
pernah nyangka kalau mampu memahami malaikat ada di mana – mana kalau bukan
dari teman – teman DAC.
Dan yang
terpenting, saya nggak pernah nyangka orangtua dan kaka saya lah yang
menyadarikan saya kalau malaikat itu cahayanya nggak pernah redup.
Memang
benar, ketika saya mampu merasakan malaikat ada di mana – mana, Tuhan itu
sangat dekat. Tuhan bukan sekedar Dzat yang telah menciptakan saya, Dia adalah
segalanya. Lewat malaikat – malaikat – Nya, Dia selalu ada untuk saya. Untuk menolong
saya. Untuk membuat saya tenang. Untuk memudahkan segala kesulitan dan urusan
saya. Makannya saya percaya banget kalau Tuhan itu ada lebih dekat daripada
urat yang ada di leher saya. Ya, lewat malaikat – malaikat di atas lah Tuhan
selalu ada dan saya rasakan.
Tapi biar
pun Tuhan selalu dekat dengan saya lewat cara – Nya yang luar biasa, saya masih
suka lupa dengan – Nya. Ini biasa terjadi kalau saya meminta lebih dari yang
sepantasnya. Wajar lha ya, saya ini bukan nabi. Ibadah aja masih berantakan jadi
pantas kalau imannya naik – turun. Makannya saya suka takut banget kalau harus
jauh atau nggak kontak dalam jangka waktu lama dengan orang – orang yang saya
sayangi. Bukan kenapa – kenapa, saya cuma takut malaikat saya pergi satu per
satu yang artinya Tuhan semakin lama semakin meninggalkan saya.
Biar
bagiamana, memang dasar Tuhan itu baik banget dengan saya. Kalau saya lagi
kurang ajar dengan – Nya, dia nggak pernah marah. Alih – alih marahin saya, Dia
malah ngasih malaikat baru untuk saya. Nah, begini lah cara Tuhan mengajari
saya. Dia mengajari saya dengan malu. Malu dengan nikmat – Nya karena sayanya
nggak tahu terima kasih. Malu dengan malaikat – Nya karena saya nggak
bersyukur.
I’m so
blessed living in a life among them. Bisa bernafas, tumbuh, dan belajar di
tengah orang – orang yang ada di sekitar saya. Nggak ada orang yang nyebelin
sebenarnya, sayanya aja yang nggak bisa nerima keunikan mereka. Nggak ada juga
orang yang sempurna, sayanya aja yang kurang bersyukur dengan apa yang saya
punya. Sayanya yang harus mempertebal kacamata untuk mengatasi betapa minusnya
syukur saya supaya dapat melihat malaikat – malaikat yang beredar tanpa sayap
ini.
:)
ReplyDelete