Malaikat Tanpa Sayap

11:36 PM Tameila 1 Comments

Kalau bukan karena Wina, saya nggak tau tulisan ini mau dikasih judul apa. Tapi untungnya mantan ketua KOMAKO itu habis ketemu bule ganteng. Katanya bule itu seperti “malaikat tanpa sayap”, bisa bikin dia senang bahkan sampai lupa jalan. Se-simpel itu kah seorang “malaikat” datang kepada kita ? Well..so then who’s my angel ? Or perhaps seharusnya saya bilang who are my angels ?

                Beda lho antara “who is” dan “who are”. Anak SD juga tau alasannya kenapa, kalau “is” berarti tunggal sedangkan “are” artinya jamak. Tapi buat saya, it’s more than singular and plural. Buat saya, malaikat itu sesuatu yang uncountable. Literally, mereka nggak bisa diukur apakah banyak atau sedikit, karena bagi saya “malaikat” itu bukan nomina, tapi adjektiva. “Malaikat” adalah hal abstrak yang ada di dalam diri setiap orang. Dia tidak bersifat tunggal, tidak juga jamak. Lagi, “malaikat” adalah adjektiva bagi saya.

                Lantas malaikat itu yang seperti apa ?

                Wina bilang, “malaikat” itu si bule tadi yang datang seketika di saat jalanan macet. “Malaikat” saya ? Well...check this out :
“Everybody's looking for a something
One thing that makes it all complete
You'll find it in the strangest places
Places you never knew it could be”
(Westlife – Flying Without Wings)

The strangest place. Places you never knew it could be.

                Ya, saya selalu menemukan malaikat di tempat – tempat tak terduga.

                Saya nggak pernah nyangka dulu nemu si “malaikat” bareng Shofi waktu semester 1 di kantin Fisipol.

                Saya nggak pernah nyangka teman SMP saya, Wan, jadi malaikat penyelamat saya, Nitha, Wenny, dan Wina saat lomba di UI dulu.

                Saya nggak pernah nyangka kalau malaikat penolong kerepotan aktivitas saya adalah Lisna, Dhimas, dan beberapa teman kampus saya.

                Saya nggak pernah nyangka kalau Kak Ucon dan Faisal adalah malaikat penyelamat begadang saya, apalagi kalau nggak berani keluar kamar.

                Saya nggak pernah nyangka teman – teman kost adalah malaikat penyelamat saya dari gossip bapak – bapak di sekitar kost karena saya sering ngerjain tugas sampai larut malam.

                Saya nggak pernah nyangka mampu memahami “malaikat” sebagai sosok lain kalau bukan dari murid – murid saya di SLB.

                Saya nggak pernah nyangka kalau malaikat pengusir kesepian saya adalah Indah, Reza, Eki, Fikri, dan teman – teman SMA di Jogja yang sering nongkrong sampai larut malam.

                Saya nggak pernah nyangka kalau malaikat pencerah pengetahuan saya terhadap politik kampus adalah teman – teman asisten di Pusat Studi Jerman dan awak – awak ex-Forkom 2009.

                Saya nggak pernah nyangka kalau mampu memahami malaikat ada di mana – mana kalau bukan dari teman – teman DAC.

                Dan yang terpenting, saya nggak pernah nyangka orangtua dan kaka saya lah yang menyadarikan saya kalau malaikat itu cahayanya nggak pernah redup.

                Memang benar, ketika saya mampu merasakan malaikat ada di mana – mana, Tuhan itu sangat dekat. Tuhan bukan sekedar Dzat yang telah menciptakan saya, Dia adalah segalanya. Lewat malaikat – malaikat – Nya, Dia selalu ada untuk saya. Untuk menolong saya. Untuk membuat saya tenang. Untuk memudahkan segala kesulitan dan urusan saya. Makannya saya percaya banget kalau Tuhan itu ada lebih dekat daripada urat yang ada di leher saya. Ya, lewat malaikat – malaikat di atas lah Tuhan selalu ada dan saya rasakan.

                Tapi biar pun Tuhan selalu dekat dengan saya lewat cara – Nya yang luar biasa, saya masih suka lupa dengan – Nya. Ini biasa terjadi kalau saya meminta lebih dari yang sepantasnya. Wajar lha ya, saya ini bukan nabi. Ibadah aja masih berantakan jadi pantas kalau imannya naik – turun. Makannya saya suka takut banget kalau harus jauh atau nggak kontak dalam jangka waktu lama dengan orang – orang yang saya sayangi. Bukan kenapa – kenapa, saya cuma takut malaikat saya pergi satu per satu yang artinya Tuhan semakin lama semakin meninggalkan saya.

                Biar bagiamana, memang dasar Tuhan itu baik banget dengan saya. Kalau saya lagi kurang ajar dengan – Nya, dia nggak pernah marah. Alih – alih marahin saya, Dia malah ngasih malaikat baru untuk saya. Nah, begini lah cara Tuhan mengajari saya. Dia mengajari saya dengan malu. Malu dengan nikmat – Nya karena sayanya nggak tahu terima kasih. Malu dengan malaikat – Nya karena saya nggak bersyukur.

                I’m so blessed living in a life among them. Bisa bernafas, tumbuh, dan belajar di tengah orang – orang yang ada di sekitar saya. Nggak ada orang yang nyebelin sebenarnya, sayanya aja yang nggak bisa nerima keunikan mereka. Nggak ada juga orang yang sempurna, sayanya aja yang kurang bersyukur dengan apa yang saya punya. Sayanya yang harus mempertebal kacamata untuk mengatasi betapa minusnya syukur saya supaya dapat melihat malaikat – malaikat yang beredar tanpa sayap ini.

You Might Also Like

1 comment: