Tattoo, rokok, jomblo, and…whatever named it !

12:15 PM Tameila 0 Comments

“Macak selooo !”

Mungkin itu yang akan teman – teman saya teriakkan kalau saya jujur dalam seminggu ini saya mampu menghabiskan 3 buku dan beberapa film. Mungkin mereka iri, karena tidak sedikit yang bilang, “anjrit enak banget lo, Git ! Nggak sibuk sih!” and bla bla bla…am I proud of that ? May be. Saya hanya mencoba bersyukur sebelum hari – hari saya diterpa badai tugas yang lebih nggak nyantai. Dan sebenarnya saya juga “kucing – kucingan” sih dengan kesibukan. (sok sibuk padahal nggak ngapa – ngapain juga !).

Dari 3 buku yang saya baca, ada 1 buku karya Maria Dominique. Saya langsung jatuh cinta pada pandangan pertama saat lihat covernya. Yeah I know…we shouldn’t judge the book by its cover. Tapi buat saya, saya hanya percaya love at first sight kalau saya mau beli buku dan baju. That’s all.

Buku yang udah berumur satu tahun ini judulnya “Tanpa Tutup – Boleh Nakal Tapi Nggak Boleh Bejat”. Sempat galau juga antara mau beli yang ini apa yang judulnya “Meta Budaya…bla bla bla…”. Saya emang sebulan, uhm..no…quite 3 moths ini lagi kesetanan budaya. Matanya langsung ijo kalau ada tulisan budaya (apalagi workshop, seminar, apapun itu tentang budaya yang GRATIS ! --- NEVER LET ME SEE “FREE” WORD :d). Tapi yang namanya udah jatuh cinta pada pandangan pertama, nggak peduli besok mau makan apa langsung deh korek dompet dan keluar dengan hati puas dari toko buku. Oh ya, saya selalu menyebut momen ini dengan orgasme. Why ? Karena saya selalu mencapai kenikmatan tertinggi ketika keluar dari toko buku, menjinjing sebuah buku, dan mengalahkan kegalauan, “ta, besok lo mau makan apa kalau beli itu buku?”. Okay. Just skip it. Nggak penting.

Saya jadi makin jatuh cinta sama buku ini nggak hanya karena isinya, tapi karena kata pengantarnya ( to be honest biasanya saya skip bagian ini ). Judul kata pengantarnya berbunyi, “Nunc Aut Numquam” (Now Or Never). Yang namanya kata pengantar pasti nggak jauh dari background buku ini, thankies, dan hal – hal yang menggambarkan kerendahan hati si penulis. Nggak peduli deh saya…yang saya peduliin cuma satu, yaitu ketika saya tahu yang nulis buku ini adalah muridnya Samuel Mulia. SAMUEL MULIA ! Penulis kolom “Parodi” pada harian Kompas ini bikin saya makin gila untuk mempelajari budaya, nggak cuma gaya hidup tapi all cultures !

Isi buku ini tidak semudah kalian menebak daftar isinya. Dominique memang mengupas kehidupan wanita urban itu gimana. Yeah…bisa ketebak lha kaum socialite, brand stuffs (saya pakai kata “stuff” karena terinspirasi dari Andrea dalam The Devil Wears Prada), party, sex, etc. Awalnya saya kira wanita urban adalah kaum yang benar – benar menjunjung tinggi emansipasi dan sedikit banyak feminisme. Tapi entah mengapa dua paham itu kok jadi bias malah kabur entah ke mana ketika masuk ke dalam peran rumah tangga, siapa yang memberi nafkah dan siapa yang dinafkahi.

Let see arti dari emansipasi dan feminisme. Emansipasi adalah persamaan hak di berbagai kehidupan masyarakat (antara wanita dan pria), sedangkan feminisme adalah gerakan wanita yang menuntut persamaan hak sepenuhnya antara kaum wanita dan pria (asli yang ini copas dari kamusbahasaindonesia.org :D). Dari sini saya sih ngeliatnya wanita itu menuntut persamaan dengan laki – laki. Banyak kasus yang saya baca tentang emansipasi dan feminisme yakni memberikan kesan wanita itu nggak lemah, kuat, mandiri, dan sebagainya. Tapi secara nggak sadar dalam kehidupan sehari – hari saya perhatikan malah wanita sendiri yang mencacati “emansipasi” dan “feminisme” itu sendiri.

Okay, mungkin hal tersebut nggak berlaku buat semua wanita, khususnya yang menganut feminisme sejati. Tapi jadinya lucu aja kalau ngeliat cewek – cewek yang menggunakan kata “emansipasi” dan/atau “feminisme” hanya untuk hal – hal yang enak aja. Misalnya mengajukan pendapat di forum yang sedang heboh, giliran unjuk kemampuan, dan segala hal yang membuat cewek terlihat “wow”. Kalau giliran yang nggak enak, misalnya angkat – angkat barang, di suruh ke sana – ke sini, dan lainnya, pasti langsung diserahin ke cowok.

Makannya saya agak tersinggung saat mau nyebrang jalan dengan teman lelaki saya tapi saya nyuruh dia nyebrang duluan dan dia bilang, “katanya emansipasi, tapi kok nyebrang aja nggak berani duluan.” Atau saat mau masuk kelas (pas lagi telat) tapi saya nggak mau duluan terus teman lelaki saya bilang, “ayo dong, kan katanya feminis. Gitu aja nggak berani.” Sialnya hal ini pun menimpa saya ketika saya disuruh mengangkut barang berat tapi saya minta tolong (okay, lebih tepatnya mengalihkan tanggung jawab) ke teman lelaki saya, lalu dia bilang, “halah…katanya emansipasi..ngangkat gini aja nyuruh cowok !”

Kalau kejadian itu terulang untuk kedua kalinya (untung hanya sekali dalam hidup dan jangan sampai terulang), saya bakalan berteriak “HELOOO !!! APAKAH GUE MENGGEMBAR – GEMBORKAN EMANSIPASI DAN FEMINISME ? AND HELL YA’..KETIKA SAYA MENENTANG KETIDAKADILAN TERHADAP PEREMPUAN ATAS TINDAKAN BEJAT LAKI – LAKI APAKAH SAYA PANTAS DISEBUT FEMINISME SEJATI ?”.

Mungkin ini juga kali ya yang makannya tak sedikit membuat beberapa laki – laki “bersandar” di “bahu” penghasilan perempuan ? Semakin hari perempuan diajarkan untuk semakin mandiri, di satu sisi laki – laki makin males kali ya bersaing dengan perempuan makannya memanfaatkan perempuan – perempuan yang mandiri itu ? Yang punya penghasilan lebih, yang punya pekerjaan tetap, yang bisa menafkahi keluarga tanpa harus dapat suntikan dana dari laki – laki. Kalau begini ceritanya kan katanya kesetaraan, jadi nggak salah kan ya kalau laki – laki juga berhak untuk ongkang – ongkang kaki kayak perempuan ? Nggak maksud membela laki – laki, tapi ya lucu aja kalau dipikir – pikir. Saat perempuan yang jadi tulang punggung keluarga, laki – laki dibilang sialan. Tapi saat laki – laki yang jadi tulang punggung keluarga, hal itu dianggap normal. See ? Perempuan dan laki – laki nggak akan pernah sama. Emansipasi dan feminisme yang katanya mendobrak budaya patriarki nggak akan bisa melepaskan dirinya dari orbit itu (menurut saya siiiihh). Karena bagaimana pun juga peran perempuan dan laki – laki udah dari jaman purba begitu. Mau ditentang bagaimana pun akan balik ke awal. Ke fitrahnya.

Jadi ingat pada kesimpulan dari obrolan saya dengan seorang teman. Padahal kita sama – sama perempuan, tapi kita sendiri yang malah bilang, “jadi feminisme atau pun emansipasi itu sendiri sebenarnya adalah bukti kekalahan dari perempuan dong, ya?” Langsung aja teman saya nyamber, “hush jangan kenceng – kenceng, Ta ! Dirajam sama kaum feminis lho !”. Saya sih cuma nyengir kuda, “kan negara demokrasi. Bebas dong mau berpendapat ?”.

Memang serba salah ya jadi perempuan. Menuntut keadilan, terkadang dibilang menyalahi fitrah. Nggak usah jauh – jauh deh..pasang tato aja. Udah dicap perempuan nakal atau paling tidak perempuan yang “bebas”. Padahal nggak selamanya perempuan bertato itu nakal. Atau yang merokok. Pasti perempuan yang ngerokok dianggap suka dugem, urakan, atau ya itu tadi, nakal. Dan jomblo. Status yang satu ini memang agar irritated kalau udah menginjak umur 20-an. Katanya kalau udah umur segitu harus udah punya “pegangan”. Pegangan mate loo..kalau yang dipegangnya aja nggak beres ngapain dipertahanin ? Kalau yang dipegangnya aja bikin tangan sakit ngapain digenggam terus ?

Jadi sebenarnya saya ini apa sih ? Penganut feminisme atau bukan ? Penjuang emansipasi atau bukan ? Nggak bermaksud meng – copy ucapannya mbak Dominique, tapi apa yang dituangkannya dalam buku itu memang mewakili perasaan saya kalau saya bukan memilih jalan tengah sebagai upaya cari aman. Tapi saya cuma mau yang terbaik, saya kan cinta damai ! Dan seperti biasa, hati saya selalu berseru “Damn !” tatkala usai menelanjangi paragraf Samuel Mulia yang dimuat setiap minggunya di kolom Parodi harian Kompas. Well…to be honest…lengkapnya seruan hati itu adalah, “DAMN ! I REALLY WANNA MEET HIM SO BAD ! DESPERATELY !”

You Might Also Like

0 comments: