"Hemat" pangkal "kaya"

1:55 PM Tameila 0 Comments

Salah satu hal yang saya suka kalau sedang liburan adalah menonton TV. Kasihan banget ya kedengarannya ? Tapi yah memang mau bagaimana lagi ? Di kostan memang ada TV, tapi selera orang kan beda – beda. Kadang lagi mau nonton acara Golden Ways Mario Teguh, mayoritas pengennya nonton sinetron apa nggak OVJ. Atau sedang pengen lihat berita eh malah pada minta ganti. Then kenapa saya nggak punya TV sendiri ? Hmm...alasannya simpel. Sayang kalau beli TV. Saya jarang di kostan (sok sibuk yah..padahal keluyuran nggak jelas. Haha...), jadi kalau beli TV rasanya mubadzir aja. Kan saya nggak mau jadi temennya setan. Hehehe...

Kemarin hari pertama liburan. I could say that it was a perfect first day holiday. (alah !) Dapat SIM, makan tahu gejrot (mengobati ngidam di Jogja) yang bikin bibir jontor, bisa baca novel semaunya dengan gaya apa pun, dan seperti yang sudah di-mention di atas, saya bisa nonton TV. Di suatu sore yang mana bibir saya masih jontor, saya lihat berita. There was nothing special sampai akhirnya saya baca judul dari berita itu yang menyebutkan bahwa gaji pejabat negara bakalan naik. Ditambah juga dengan isu koin untuk presiden. Ironis memang seorang presiden kok curhat tentang gajinya yang nggak naik – naik. Toh seluruh kehidupannya memang udah ditanggung negara masih aja ngeluh. Bapak mikir nggak sih masih banyak mahasiswa yang susah payah sekolah tapi mereka nggak ngeluh ? Padahal suara mereka pun Bapak gunakan untuk kelangsungan hidup Bapak di pemilu kan ? Well...anyway point dari yang mau saya tulis sebenarnya bukan ini, tapi sebuah ironi kebijakan pemerintah yang mau menghemat anggaran negara tapi kok gaji pejabat malah mau dinaikin ? Aneh, kan ? Hemat dari mananya coba ?

Mengobrol soal politik dengan Papa saya seperti dua mata pisau. Di satu sisi, asyik diskusi dengan beliau (bahkan kadang – kadang saya mikir kenapa dia nggak jadi dosen politik aja ? Dan kenapa saya anaknya nggak begitu doyan politik padahal bapaknya seneng banget sama politik ?), tapi di sisi lain kita suka ribut ujung – ujungnya kalau udah beda pendapat. Makannya nggak aneh kalau Mama dan Teteh saya uring – uringan saat saya dan Papa ngobrolin sesuatu. Ujung – ujungnya pasti saling ngotot udah itu yah bisa ditebak, saya BT lalu ngabur ke kamar. Di kamar ngapain ? Yah misuh – misuh udah itu tidur. Hehehe...

Apa yang kemarin saya obrolkan dengan Papa. Actually nggak ngobrol dan diskusi panjang, we just had a small talk about that topic. Saya ketawa lihat judul berita itu dan Papa masuk kamar (aneh kali lihat anaknya ketawa – ketawa sendiri). Tumbennya kita berdua saat ini punya pemikiran yang sama. Bagaimana bisa pemerintah menghemat anggaran kalau gaji pejabat dinaikkan ? Ah, atau jangan – jangan anggaran itu di”hemat” terus maksudnya uangnya dialirkan ke kantong pejabat ? Kalau begitu adanya, WOW ! Ternyata benar juga yah pepatah “hemat pangkal kaya” ? Indonesia bakalan hemat yang nantinya jadi kaya. Tapi sayangnya nggak bikin kaya semua orang, yang kaya yah yang udah kaya. Yang nggak mampu tetap aja “ngorek – ngorek” tong sampah cuma buat hidup satu hari.



Pagi ini saya nonton TV lagi. Seorang presenternya menyebutkan bahwa, “kemiskinan bukan merupakan hukuman Tuhan, tetapi merupakan hasil dari sturktural dan kultural”. (kurang lebih begitulah bunyinya. Saya lupa sih tepatnya bagaimana). Well...saya wondering aja memang benar sih. Tuhan nggak pernah menghukum hamba – Nya jadi miskin, toh Tuhan sudah menyediakan semuanya untuk manusia. Tuhan Yang Maha Kaya sudah membagi kekayaan – Nya dengan kita, tapi anehnya kenapa masih aja ada yang miskin ? Apalagi Indonesia itu kan kaya dengan sumber daya alam. Kita pasti sudah tidak asing bukan dengan sebuah lagu yang berjudul, “kolam susu”. Kurang lebih liriknya seperti ini :

“Bukan lautan hanya kolam susu. Air dan garam cukup menghidupimu. Tiada ombak, tiada badai kau temui. Ikan dan udang menghampiri dirimu.
Orang bilang tanah kita tanah surga. Tongkat, kayu, dan batu jadi tanaman. Orang bilang tanah kita tanah surga. Tongkat, kayu, dan batu jadi tanaman.”

Saya ingat sekali lirik yang menggambarkan betapa kayanya negara saya. Lha wong lagu itu saya nyanyikan saat ujian praktek SD. (Terima kasih Husnul telah mengenalkan lagu itu :) ). Dari lagu itu kita bisa tahu betapa ajaibnya negara kita, bukan ? Tongkat, kayu, dan batu aja jadi tanaman. Bahkan ikan dan udang aja datang dengan sendirinya. Memang kedua kalimat itu nggak bisa kita terima bulat – bulat. Yeah...saya yakin deh kalian orang – orang cerdas yang mengerti maksud dari dua lirik itu. Tapi aneh ya di negara yang segini ajaibnya masih aja ada yang miskin ?

Tahu kan kalau si Baby Beiber bakalan bikin remaja putri Indonesia meleleh 3 bulan lagi ? Lihat beritanya ? Wow...what an amazing antrian, guys ! Sampai ada yang rela keinjak – injak dan pingsan ! Saya sih di rumah cuma senyum – senyum sambil ngomong, “neng...neng...wis ojo ngoyo. Dateng ke sana juga kamu nggak lihat dia dari deket toh ? Mending You Tube – an aja kayak saya. Bisa lihat muka Beiber berulang – ulang. Gratisan pula !” (padahal kalau ada Daniel Radcliffe datang ke Indonesia dan jumpa fans mungkin saya masuk ke dalam daftar “eneng – eneng” tadi kali, ya ? hehehe...). Memang sih esensi melihat idola dari You Tube dan secara langsung itu berbeda. Oke lha kalau masalah itu saya angkat tangan, karena saya pun kalau lagi – lagi dihadapkan dengan Daniel Radcliffe akan melakukan segala cara untuk bisa melihat si ganteng itu secara langsung. The point is the cost ! Harga dari sebuah tiket konser Beiber. As I know harganya 1 jutaan gitu, an ? Gila ! Saya sih masih mikir – mikir juga kalau mau ketemu Daniel Radcliffe dengan harga segitu. Mending untuk biaya kuliah saya !

Melihat antrian yang membeludak membuat saya senyum lagi dan mikir kalau Indonesia itu sebenarnya nggak miskin kok. Banyak orang kaya. Orang berduit. Yeah...terlepas dari duitnya haram atau halal, tapi kan ukuran kaya dan tidak bagi mayoritas masyarakat Indonesia adalah material, bukan ? So the question is “kalau banyak orang yang ngantri tiket Beiber, anggaran negara mau dihemat, banyak orang yang bisa nyogok baik dalam skala besar atau kecil, kenapa masih banyak orang miskin ?” Mungkin lagu “Ada yang Salah” - nya Pandji ft. Tompi benar juga. Salah satu liriknya begini :

“Jadi gini, hukum pareto mengatakan 80% uang negara pasti akan dihasilkan dan dinikmati oleh hanya 20% orang. Artinya, yang miskin akan selalu ketinggalan. Orang bilang, Indonesia kurang banyak orang mampu...padahal yang bener, orang yang mampu kurang mau memberi. Dan kalau kita beramal ga cuma staun sekali, bukannya nanti yang seneng juga elo sendiri ?”

Let see..kalau begitu betapa hebatnya berbagi, bukan ? Bisa menyulap negara “miskin” ini menjadi “kaya”. Nggak usah jadi kaya deh...at least bisa hidup semestinya dan dalam taraf wajar. Memang benar juga kalau berbagi toh ujung – ujungnya pahala masuk ke catatan amal kita. Sayangnya dewasa ini esensi berbagi itu sendiri malah dirusak oleh mereka yang membutuhkan. Mereka jadi “manja” dengan kehidupan. Mereka seenaknya mengulurkan tangan, lalu “cling !” koin ada di tangan. Kalau begitu caranya dapat uang nggak aneh pengemis jadi profesi baru di Indonesia. Ibaratnya ngapain juga Mr.Crab sampai buka Krusty Crab kalau semudah itu untuk mendapatkan koin.

Kalau saya udah sebegitu sentimentilnya, biasanya Mama lah yang menetralkan saya. Mama adalah orang yang paling nggak banyak kometar kalau masalah beginian. Kalau lagi makan di emperan dan banyak pengamen, Mama yang selalu take all simple. “Kalau niat beramal yah dikasih, kalau ujung – ujungnya curigaan yah nggak usah dikasih. Daripada nanti malah dosa. Percuma beramal kalau masih curigaan”. Yap ! Inna ‘amalu binniat. Segala sesuatu memang kembali ke niatnya. Kalau niatnya mau beramal yeah just give it, terlepas ternyata mereka adalah pihak – pihak yang salah. Kalau memang niat mau “mendidik” dengan tidak memberi, yeah nggak usah diberi. Tapi jangan heran dengan “mendidiknya” itu malah melahirkan perilaku “pelit berbagi” atau curigaan.

Hmmhh..yeah...ngomongin masalah si miskin dan si kaya memang nggak akan ada habisnya. Sekarang nggak usah muluk – muluk dulu kali ya mahasiswa koar – koar tentang gap antara si kaya dan si miskin. Balik dulu ke diri kita, udah pantas belum kita membicarakan buruknya si kaya atau si miskin dan baiknya si kaya atau si miskin ? Sepertinya kita harus mengaca kembali pada diri kita, apakah kita sudah pantas membicarakan itu semua ? Wait...kita ? Kayaknya dari tadi yang ngomong saya deh...ups ! Jadi malu ! ^^ Okay...mudah – mudahan Tuhan selalu membuat mata, hati, dan akal ini adalah cermin bagi kehidupan yang ideal. Tidak sempurna. Cukup ideal. Karena memang tidak ada yang sempurna, bukan ? Kan kesempurnaan hanya milik – Mu, Tuhan. :)

You Might Also Like

0 comments: