Who's better ?
“Dia kayaknya jealous deh, Ta, sama lo.” Sahut teman saya.
“Hah ? Maksud lo ?”
“Iya. Secara lo punya kehidupan sendiri dan dia ? Lo punya kesibukan. Punya teman – teman lo. Lo terlihat bahagia.”
“Ahahaha…Mana gue tau.”
“She just wanna know about your life. Dia itu masih khawatir. Gila aja..kalau gue jadi itu cewek juga bakalan nggak tenang hidupnya.”
Kening saya berkerut.
“Lo bayangin deh dikhianatin gitu.”
“Lah gue kan udah nggak nyentuh – nyentuh hidupnya. Ih, ogah banget deh ! Nggak ada ruginya juga dia gini. Thanks God malah she gets away gitu.”
“Dia masih stress kali sama kejadian yang dulu. Dia mungkin lagi comparing hidup dia ma lo, makannya status FB – nya galau gitu.”
“Ahahaha….” Kami berdua tertawa.Kalau ingat chit – chat di atas motor itu saya jadi senyum – senyum sendiri. Let me think…buat apa orang itu stalking di FB saya ? Okay, terlepas dari problem yang terjadi di antara kita berdua, stalking FB orang bagi saya adalah bentuk penasaran kita terhadap kehidupan orang lain. As in kalau kita nggak care sama orang itu buat apa coba ngabisin waktu klik sana – sini di account orang ? (Okay, saya pun suka melakukan hal yang sama). Buat apa kalau kita nggak mau tahu hidup orang itu (walau hanya dari wall, status, foto dan notes) ? Apalagi kalau yang dikatain temen saya itu bener, that is dia jealous sama saya. What ? Saya ketawa deh…I mean..what makes the jealousy come out gitu ?Mungkin terdengar agak sombong statement barusan, tapi bener deh saya bingung kalau sampai ada orang yang iri dengan kehidupan saya. Alih – alih saya yang iri dengan kehidupan orang – orang di sekitar. Ada yang udah bisa cari duit sendiri, ada yang punya pacar ganteng + pinter + kaya, ada juga yang pinter corel dan photo shop (yang mana saya udah tekad mau belajar tapi entah kenapa males banget) dan hal yang mereka miliki lainnya. Well…I call it as achievement. Kenapa saya labelkan sebuah prestasi ? Karena saya tahu untuk mendapatkan itu semua mereka nggak ongkang – ongkang kaki. They did some efforts.
Pernah suatu hari saya bertanya dengan banyak orang tentang achievement. Jawabannya beragam. Ada yang bilang punya pacar, bisa beli ini – itu, kuliah ke luar negeri, bla bla bla. Tapi nggak lebih dari lima menit kemudian semua orang itu mengklarifikasi jawabannya. Jawaban mereka bermuara pada satu hal yang sama which is “gue ngerasa hidup gue bahagia dan lengkap kalau bisa nyenengin orang lain”. See ? Sesederhana itukah kesempurnaan dalam hidup ?
Saya nggak muna. Terkadang saya pun membandingkan hidup saya dengan orang lain. Seperti yang udah saya bilang, saya pernah iri pada mereka. Terkadang hal itu datang kalau saya lagi benar – benar nganggur nggak ada kerjaan. Atau pada saat sedang diterpa kekecewaan. Rasanya kok orang lain itu hidupnya bahagia dan santai banget. They are able to let their life flows. Kenapa hanya saya yang seperti ini ? Memikirkan dan merasakan kekecewaan. Terus kok kayaknya orang – orang itu selalu mendapatkan apa yang diinginkannya. Apa usaha saya kurang, Tuhan ? Apa yang saya mau tidak baik untuk saya ? Kalau tidak baik kenapa Engkau munculkan hasrat ingin menggapai pada hal tersebut ?
Memang sudah sifat dasar manusia untuk mencari kambing hitam, bukan ? Tapi terkadang saya mengkambinghitamkan Tuhan. Terkadang saya menyalahkan – Nya yang tidak memberi imbalan sesuai pengorbanan saya. Pernah juga saya berpikir Tuhan tidak sayang. Lebih parahnya saya sempat marah kenapa Tuhan seolah – olah bermuka dua. Awalnya memberikan apa yang saya mau, tapi endingnya tidak sesuai keinginan saya. Saya marah dan berkata, “kenapa sekalian tidak usah diberi saja ? Biar saya tidak usah merasa kecewa. Biar tidak usah merasa kehilangan”. But, BAM ! Suddenly saya sadar. Am I the only one who felt this way ?
NO ! It’s wrong. Saya tidak seharusnya galau nggak jelas gitu. Merasa paling menderita, merana dan sial sedunia. Well…it’s absolutely wrong, babe ! Setiap orang pasti akan mengalami masa krisis dalam hidupnya, whether dalam percintaan, karier atau apa pun. We all know that life is spinning like a wheel. Terkadang di atas namun kembali ke bawah. Sayangnya hanya sedikit dari kita yang sudah preparing untuk melandai di bawah. Parasut mental belum dikibarkan eehh..sudah keburu diterjunkan oleh Tuhan. Jadi nggak aneh saat mendarat sakitnya amit – amit. Rasa sakit inilah yang sedang populer disebut dengan galau. Dari galau berangkat jadi comparing life with others. Sebenarnya nggak salah mutlak juga hal ini dilakukan. Tapi bahayanya kalau terus – terusan membandingkan tanpa diiringi rasa syukur dan introspeksi diri akan berbuah dengki atau malah have no spirit to live. Bagaimana nggak dengki kalau terus – terusan membandingkan tapi nggak bersyukur? Mata kita akan gelap dengan rejeki orang lain, bukan ? Padahal seharusnya kita yakin Tuhan ngasih rejeki sesuai dengan kapasitas kita, bukan sesuai yang kita inginkan. Tuhan tahu takaran kemampuan hamba – Nya dalam menampung rejeki - Nya. Segala yang berlebihan itu nggak baik, bukan ?
cara pintar (atau ke - PD - an) teman saya, Oeoen, untuk bersyukur (sekaligus mengatasi kegalauannya)
Kekhawatiran yang lain have no spirit to live means kita akan putus asa. Muaranya pada mind set, “buat apa ngelakuin ini – itu. Toh hasilnya sama aja”. Sotoy banget kalau begitu. Belum aja dicoba udah men – judge hasilnya. Memangnya kita tahu apa rencana Tuhan ? Hmm…let me guess…perasaan ini selalu muncul kalau kita udah melakukan sesuatu tapi hasilnya jaaauuuuhh dari ekspetasi kita. Exit way pertama kita adalah membandingkan kehidupan kita dengan orang lain. Memang ada beberapa yang terpacu untuk berusaha lebih, tapi nggak sedikit juga yang malah mundur, bukan ? Padahal Oprah Winfrey bilang, “You are responsible for your life. You can't keep blaming somebody else for your dysfunction. Life is really about moving on." Ya, we need to move on ! Nggak stuck di satu masalah apalagi masalah itu sebenarnya bisa diselesaikan dengan cara yang fun. Nggak perlu mellow apalagi sampai ngeganggu hidup orang ! Well…cool people always be in cool area even though they’re damn hot !
Saya jadi sadar nggak ada hidup yang sempurna. I mean benar – benar sempurna. Sesuai dengan apa yang diinginkan, bla bla bla. Nggak ada. Kesempurnaan hidup itu diisi dengan sejauh mana kita memaknai segala yang kita raih. Mungkin dengan membahagiakan orang lain itu sudah cukup membuat hidup kita sempurna. Atau mungkin dengan bisa cari uang sendiri dan shopping sampai keringet darah bisa dianggap kesempurnaan hidup juga. Yang pasti bagi saya pepatah “rumput tetangga selalu lebih hijau” nggak sepenuhnya benar. Selama diantara rumput kita (yang nggak sehijau mereka) ada kelinci, kupu – kupu dan anak – anak kecil riang berlari di atasnya akan terasa jauh lebih indah. Lebih hijau. Lebih mendamaikan.
Anyway…seharusnya sesudah nulis ini saya nggak boleh lagi mengeluh saat kurikulum kuliah jadi ngebut gini. Nggak boleh lagi comparing hidup saya dengan teman – teman saya yang nyantai kuliahnya. Well…actually I’m not that sure when I face the final exam next month. Will I just enjoy my hectic time or do a little stalking in anyone life ? God knows. All I need to do adalah benar – benar bersyukur sama semua pemberian Tuhan. Atas semua kebahagiaan, kecewa, tawa, air mata, senyum, cinta, pengkhianatan, pengetahuan dan semua hal yang saya sadar nikmat – Nya tidak bisa saya hitung.
NB : tergelitik dengan status FB teman saya, “seandainya gue bisa dapatkan sesuatu yang udah ilang”. We just need to accept that all we have is God’s.
hihihi..
ReplyDeletepercakapan di atas motor yang familiar.
nice writing thou ;)