31HariMenulis
Which Better?
Banyak orang yang nanya ke gua, mana yang lebih baik bagi
tuli? Berisyarat atau oral? Oral itu membaca gerak bibir atau berkomunikasi
tanpa menggunakan bahasa isyarat. Well then, sebenarnya gua tidak berkapasitas
untuk membeberkan urgensi bahasa isyarat. Ada orang yang lebih capable dan
berhak. But here, setidaknya gua mau sedikit menjawab pertanyaan tadi.
Beberapa orang masih menganggap tuli yang bisa oral itu
hebat. Mereka dipandang seperti orang yang mampu mendengar. Terbukti, ada
beberapa sekolah tuli atau sekolah khusus yang tidak mengajarkan, bahkan
melarang, muridnya untuk menggunakan bahasa isyarat. Di satu sisi, gurunya pun
merasa bangga kalau anak-anak didiknya yang tuli mampu beroral seperti orang
hearing. Mereka malu kalau anak-anak didiknya menggunakan bahasa isyarat. Anggapan
yang lebih menyakitkan, bahasa isyarat dinilai seperti orang bodoh, ada juga
yang bilang bahasa Tarzan.
Sedangkan, kalau kita pahami, yang namanya tuli pasti kemampuannya
adalah visual. Kekuatan penglihatan adalah satu-satunya yang harus
dimaksimalkan untuk input informasi. Kalau mereka tidak memanfaatkan visual,
maka mau dari mana lagi? Nah bahasa isyarat sangat memfasilitasi itu, karena
semua informasi diubah menjadi pesan yang visual. Sayangnya, bahasa isyarat
yang memang harus ekspresif dilihat sebagai cara komunikasi orang purba.
Kontradiktif, bukan?
Akhirnya, gua menanyakan hal ini ke banyak teman-teman tuli
yang capable. Mereka semua setuju kalau oral itu penting, tapi lebih penting
bahasa isyarat. Kenapa? Ada dua alasan, alasan pertama (yang menurut gua agak
idealis) adalah untuk melestarikan budaya tuli. Untuk yang ini, gua belum
berkapasitas untuk membahasnya. Gua lebih berbahagia ketika mengetahui alasan
kedua, yaitu untuk input informasi. Dan penjelasan Lisa, Bunda Galuh, dan
Arief, menyadarkan gua kalau orangtua penting mengetahui anaknya tuli sejak
dini.
Yang namanya bayi ya sama aja, mau dia tuli, mau dia
hearing, they’re all innocence. Otak mereka berisi ketika orang-orang sekitar
menginput informasi. Nah, di sini lah peran konversi pesan mulai bekerja. Karena
anak hearing bisa mendengar, makannya si orangtua dan lingkungan cukup dengan
ngomong aja informasi udah masuk. Sampai saat ini, masih banyak yang nggak paham
kalau bukan begitu caranya mendidik anak tuli. Berilah informasi secara visual!
Nggak jarang gua ngeliat orangtua yang ngadepin anak-anak tulinya dengan
teriak. For shake, sampai rambut berubah jadi oranye juga mereka nggak akan
paham. Show your message. Makannya gua agak sedih ketika anak-anak tuli
dianggap bodoh dan di-underestimate sama orangtuanya, padahal mereka bukan
bodoh tapi memang nggak paham sama maksud omongan orang tuanya.
Then, as time goes by oral kemudian dibutuhkan. Di sini,
bukan sebagai pengganti bahasa isyarat, tapi untuk bisa berkomunikasi sama
orang-orang yang nggak bisa bahasa isyarat. Dengan adanya kemampuan membaca
gerak bibir, teman-teman tuli mengerahkan kemampuan visualnya untuk memahami
pesan yang tidak dituangkan ke bahasa isyarat. And FYI, effornya gede banget
lho! Gua pernah nyoba, baru aja beberapa menit kepala udah pening. (Here, gua
sadar kalau selama ini menyepelekan kemampuan visual gua).
Arief bilang ke gua kalau memang oral sama diperlukannya
seperti bahasa isyarat karena nggak semua orang bisa bahasa isyarat. Tapi kemampuan
oral dan bahasa isyarat juga harus seimbang, nggak boleh berat sebelah. Kenapa?
Karena pada dasarnya bahasa isyarat itu alamiahnya orang tuli, jadi kalau
mengesampingkan kemampuan isyarat seperti memungkiri dirinya adalah seorang
tuli.
Then, untuk membaca gerak bibir juga luar biasa lelahnya
kata Bunda Galuh. Itu samanya ketika kita bisa bahasa Inggris tapi harus sepanjang
waktu memahami informasi dalam bahasa Inggris. Bisa sih, tapi otak ini lebih
cepat lelah karena harus mengubah dari bahasa asing menjadi bahasa ibu kita. Itulah
yang terjadi bagi mereka. Bahasa ibu mereka adalah bahasa isyarat, ketika harus
membaca gerak bibir samanya dengan mengonversi dari bahasa lain ke bahasa
sendiri. So sejak saat itu gua benar-benar paham kalau bahasa isyarat bukan
sekedar bahasa pergaulan mereka, tapi itu the real media mereka.
Bagi gua, bahasa isyarat kini lebih dari sekedar bahasa. Sign
language is the real media, it’s more than language and the massage itself.
Lisa bilang gini ke gua, “every kid is same, they don’t have information here (nunjuk
ubun-ubun). Zero! So what’s the
difference between hearing and deaf, both them are born in zero”. Yes,
indeed. So here let’s we ask to our self, sebenarnya apa sih penyebab awal anak
tuli di-underestimate atau minim informasi?
0 comments: