Lunar dan Cello Itu

12:39 AM Tameila 2 Comments

Mas Yosef filsafat 2008 nek. Hahahaha :D

Jadi kamu anak Filsafat ? Fakultas yang ilmunya sedang saya pelajari sekarang.

Ya, kamu adalah mahasiswa filsafat. Tapi saya lebih mengenalmu sebagai pemain cello di konser Lunar itu. Saya memang belum mengenalmu jauh. Dua jam tidak cukup untuk tahu siapa dan bagaimana dirimu. Saya tidak mau lagi terperangkap dalam kamuflase “kesan pertama” yang berujung pada pengkhianatan. Tidak. Tidak untuk kedua kalinya. Tapi setidaknya opini sahabat saya tentang dirimu menambah kebahagiaan ini, meski dua sahabat saya pada akhirnya berseru “kenapa lo, Ta ? Kenapa selera lo jadi yang begini ?”

Kenapa dengan selera saya? Tidak. Tidak ada apa – apa. Saya tidak pernah mematok selera pada lawan jenis. Karena saya percaya semua makhluk memiliki kelebihan dan kekurangannya sendiri. Ada pula dalam diri mereka yang tidak dapat diubah. Maka saya tidak pernah membuat standar kaku secara fisik.

Jujur saya agak menyesal ketika bertanya lebih jauh tentang kamu. Saya khawatir tidak lagi dapat objektif mengagumimu. Menikmatimu. Tapi lidah ini tak dapat ditahan hingga terucaplah pertanyaan, “eh dia orangnya gimana ?” dan jawaban “lucu kok, Ta. Seru.” menambah nilaimu di mata saya. Saya benci. Saya takut. Saya khawatir tidak lagi murni mengagumi kelincahan jarimu mengendalikan senar – senar itu. Tidak. Tidak hanya senar yang dapat kamu kendalikan. Pianika dan drum pun kamu tundukkan. Dan jika telinga ini tak salah menangkap, kamu juga kah yang men”daur ulang” ulang melodi terakhir di pertunjukkan itu ?

Sejak awal plester di pipi itu memang sudah menarik perhatian. Ah bukan. Kamu tidak terlalu tampan dibanding dengan pemain biola yang dikagumi teman saya. Kamu jauh lebih berantakan. Lihat lah dirimu. Bajumu. Rambutmu. Dan satu permainanmu. Sempat berantakan juga, bukan ? Tapi senyummu terlihat rapi. Kamu begitu tenang membimbing melodi – melodi lewat cello – mu. Jarimu yang lincah mengendalikan nada – nada yang liar sehingga tetap merdu untuk dinikmati.

Satu hal yang membuat saya tahu kamu adalah pengendali melodi yang handal ketika kamu memainkan recorder itu. Kamu memainkan sepenggal nada. Singkat. Bahkan sangat singkat untuk diperhatikan. Tapi saya tidak melewatkannya. Di ujung meja itu dengan canda kamu melantunkan sebuah melodi yang saya tak tahu apa maknanya. Yang saya tahu melodimu sangat sayang untuk diterbangkan begitu saja oleh angin gelanggang.

Ruang sidang 1 dengan lampunya yang kuning tidak cukup membuat saya nyaman. Saya mudah berkeringat dan dapat kamu tebak, ya baju saya basah. Dalam keredupan saya sempat mengantuk dan menguap beberapa kali. Tapi tatkala sahabat saya masuk dan memainkan biolanya energiku kembali terisi. Sayang wajahnya nampak begitu tegang. Namun untuk ukurannya yang belum lama memegang biola, permainannya cukup manis. Sangat manis malah diiringi dengan melodi – melodi teman – temannya.

Sahabat saya keluar ruangan dan waktunya jeda. Sepuluh menit berlalu dan sesi kedua pun dimulai. Kamu masuk dengan tiga orang temanmu dan mulailah saya hanyut dalam iramamu. Banyak makna yang saya tangkap sejak pertama kali pertunjukkan hingga akhir. Mulai dari cara conducter memandu kalian para pemain biola, cello, dan saxophone. Caranya tersendiri yang aku tak mengerti membuat saya paham bahwa setiap orang memiliki caranya sendiri untuk mengatur irama hidupnya. Dan jika irama hidup kita cukup membahagiakan orang lain, maka orang lain pun akan nyaman berada dekat kita. Begitu pula dengan conducter itu bukan ?

Dan partitur itu..setumpuk kertas yang kalian lihat saat menyuguhkan melodi pada kami. Bagi saya tak lebih dari sebuah panduan agar irama hidup ini tetap selaras dengan yang lain. Kalian memegang instrumen yang berbeda namun tetap selaras karena konsisten dengan nada yang kalian mainkan. Kalian tidak menyinggung nada pemain lain sehingga melodi yang dihasilkan dapat mengalun indah. Seketika saya berpikir, dapatkah manusia pun hidup seperti instrument dan partitur yang kalian mainkan itu ?

Di akhir acara sebelum saya melangkah pergi dari ruangan bersinar kuning itu, saya lihat kamu dengan santainya memainkan lagi recorder itu. Sayup terdengar alunan itu, tapi bisa saya rasakan besarnya energimu untuk menunjukkan iramamu di tengah bingarnya biola, gitar, dan saxophone. Dan seperti yang sudah saya tebak, kamu menabuhkan drum itu tepat sesudah kamu membaringkan recordermu. Dentumanya lembut dan itu pula lah yang membuat kita sempat bertemu pandang. Saya ingat pertemuan itu hanya dua kali. Dan saya yakin kamu sudah melupakannya sekarang.

Konser Lunar meninggalkan jejak tersendiri dalam petak hati ini. Jejak melodi dan jejak kamu. Saat ini, di depan rangkaian kata yang saya tumpahkan tak terasa ada setetes air sejuk yang merambat menuju dagu. Satu perasaan bahagia yang sangat meluap hingga akhirnya menjadi begitu haru. Saya bahagia melihatmu. Saya bahagia mendengar melodi Lunar. Saya bahagia menimkatimu malam ini. Tak akan saya coba kenal dirimu lebih jauh di dunia maya. Tak akan saya stalking facebook, twitter, dan apapun itu tentang dirimu dari Google. Tidak. Karena saya benar – benar ingin tahu dirimu lewat cello itu.

NB : I never feel this happy seeing a new man in front of me after a man betrayed me quite a year ago. Thanks Cello brought back this feeling. This happiness. This freedom. This smile. And until now..I have no reason why I am so this happy, except saw your smile behind your old Cello. :)

You Might Also Like

2 comments:

  1. Ya Tuhan gue suka banget tulisan yang ini..
    haha.
    andai si dia tau dia dikagumi dengan cara yang begini :')

    ReplyDelete
  2. biar diam berbicara.

    "apa yang bisa kita pertahankan ketika tak ada yang memulai maupun mengakhiri?"
    "titik dimana semesta menjadi bagian dari kita yaitu, diam" :)

    ReplyDelete