31HariMenulis
Beginner – Pro-League*
Malam ini nyinyirnya teman-teman sekampus lagi kumat. Emang urusan
sama orang-orang berprinsip “ya-udah-lah-yaa” kadang bikin bingung, tapi
seringnya bikin ngakak. Oh I so miss this crowd, di mana kita bisa menertawakan
hidup. Dari ketawa itu, kita bisa tau kegoblokan apa yang udah kita perbuat. Then
we’re gonna have a glass or two while shouting, “why so serious?”.
Sebelumnya gua mau ngucapin dulu, “HappyBirthday for my
bitches, Lisna”. May all sarcasm lead you to a better life! *cups*
Pulang dari acara birthday surprise Lisna, gua nggak mau
ngapa-ngapain kecuali nonton film My Dad’s Six Wives. Well then ternyata si
adek kost sebelah nerobos masuk kamar. Dengan PD-nya dia glosoran di kamar gua
then,
“Mbak, badan gua bau
lho”,
“Lha terus? Urusan
gua?”
“So sorry ya, mbak”, dia
mendesah sebentar, “do’ain gua ya, mbak,
gua mau naik sabuk. Minggu depan tes”,
(Oh ya, FYI dia adalah seorang atlit Judo). “Jadi kategori kamu naik sabuk itu kuat
dibanting berapa orang?” tanya gua bego.
“Bukan gitu. Kalau lo
mau naik sabuk, gerakan ngebanting lo harus bener. Terus teman yang jatuh juga
harus bener posisinya”,
Gua bengong. Bukan karena bego, tapi gua bingung, “emang jatuhnya orang kita bisa request?”
“Bisa, mbak. Jadi kita
tesnya kayak kerja sama dengan teman yang dibanting. Dia harus siap kita
banting dan harus bisa memposisikan badannya dengan baik supaya kita yang dites
bisa naik sabuk”.
“Okay. So let say
teman kamu yang dites dan kamu diminta untuk jadi partner-nya, jadi kamu harus
siap dibanting dan memposisikan diri dengan bagus supaya dia bisa naik tingkat?”
“Iya”.
“So kamu harus rela
sakit badan demi kenaikan tingkat temanmu itu?”
Dia mengangguk. “Nah
disitu lah, mbak, letak kesusahannya. Aku sih nggak apa-apa dibanting, tapi
susahnya ketika harus melakukan effort dan kesakitan pula demi kenaikan sabuk
temanku”, dia menghela nafas, “aku ki
masih sulit nrimo kui, mbak”.
“Ya mau gimana, kamu
harus legowo lha”, jawab gua sok bijak (iya lah, ceritanya kan pencitraan
kakak kost yang bijaksana!), “dia kan
udah bantu kamu juga untuk naik tingkat, so kamu juga harus sedia”.
“Aku nggak tega
sebenarnya ngebanting temanku, karena aku tau itu sakit makannya aku sebisa
mungkin selalu banting dia ke dalam posisi yang benar”, dia diam sebentar, “sing sulit dari Judo ki bukan
banting-bantingannya, tapi ki aku harus belajar legowo, nrimo sakit demi
kenaikan sabuk temanku”.
Nggak lama dia keluar dengan wajah murung. Nah nggak tau
kenapa kok gua ngerasa berdosa dia keluar kamar gua mrengut gitu, akhirnya gua
teriakin aja, “mandi lu! Biar seger!”.
After all, tiba-tiba gua keinget omongan teman gua lewat
Whatsapp. Intinya, “lo harusnya ngasih
applause dong untuk newbie, kita sih ngeliatin aja dan kasih selamat karena dia udah naik tingkat”. Kira-kita
begitu lha ya, Nyit? (udah, iya-in aja!) Tapi sekarang kalau posisinya di adek
kost gua itu gimana? Kita harus sakit dulu demi “kenaikan kelas” seseorang?
As a human being, gua nggak muna. Gua bisa merasa sakit,
bahkan seringnya menyalahkan Tuhan daripada harus introspeksi diri. Padahal belum
tentu, Tuhan menurunkan derajat hidup gua. Jeleknya, gua suka telat nyadar
kalau mungkin aja Tuhan sedang ingin menaikkan tingkat gua. We never know cara
Tuhan untuk menaikkan kelas manusia, then mungkin dari rasa sakit itu lah Tuhan
mau mendewasakan gua.
Mungkin juga dengan sakitnya kita bisa mendewasakan orang
lain. Yes, we never know. Kita ini cuma tangan kedua Tuhan. Mungkin di depan
akan dipertemukan dengan yang master sehingga harus belajar dari mereka. Mungkin
juga dipertemukan dengan newbie sehingga harus mengajarkan mereka. Tapi yang
namanya gua ya, nggak lengkap kali otak ini nangkep pelajaran kalau nggak ada
nyinyirnya. So I’m blessed ketika menunda nonton DVD dan mantengin timeline.
Dari game of “Beginner – Pro-League” akhirnya gua sadar
kalau harus tertawa. Yes, betapa gobloknya gua kalau sampai terus menyalahkan
Tuhan dan tidak bersyukur atas ini semua. Dari sana gua paham kalau gua ini
menjadi bagian dari pembelajaran orang-orang yang ada di sekitar gua. Begitu
pun mereka, mereka adalah media-media Tuhan untuk gua agar bisa lebih legowo. Whether
gua memposisikan diri sebagai Beginner atau pun Pro-League, seharusnya gua
sekarang standing applause untuk Tuhan yang so incredible dalam mendewasakan
seseorang. Aku. Kamu. Dia. Mereka. Kita.
*Judul terinspirasi dari tweet-nya @amnestimarta
0 comments: